
Tak mampu menatap yugyeom, Lisa berjalan ke jendela lalu berkata, "Musim ini sungguh menyenangkan, dan selalu ada kegiatan dimana-mana, tapi sepertinya semua orang bekerja terlalu keras untuk bersenang-senang. Aku akan merindukan London jika aku pergi dari sini, dan aku tahu aku akan berharap dapat kembali lagi, tapi ada sesuatu yang kurang. Ku rasa aku ingin melakukan suatu pekerjaan. Di sini aku merasa gelisah, meskipun aku tidak pernah benar-benar sibuk. Apakah yang ku katakan ini masuk akal?"
"Perkataanmu selalu masuk akal, Lisa,"
Terhibur oleh nada lembut Yugyeom, Lisa membalikkan badan lalu menatap pria itu lurus-lurus. "Paus Alexander berkata bersenang-senang adalah kegembiraan yang dilakukan orang yang tidak bisa berpikir. Aku tidak sepenuhnya setuju dengan pendapatnya. Menurutku bersenang-senang hanyalah untuk bersenang-senang. Kesenangan menjadi tidak terlalu memuaskan kalau kita terlalu berusaha mengejarnya. Yugyeom, apakah kau tidak pernah letih pada semua kesenangan yang tak berguna dan tak pernah berakhir ini?"
"Tahun ini, aku nyaris tak bisa pergi kemana-mana." sambil menggeleng, ia mengibaskan tangannya dan dengan kesal berkata, "Kau tahu, aku biasanya iri pada Mingyu yang memiliki semua ini, rumah, tanah, semua investasinya. Sekarang setelah semua ini menjadi milikku, mereka bagaikan perhiasan yang beratnya satu ton. Terlalu berharga untuk ditinggalkan, dan terlalu berat untuk dipikul. Kau tak kan menyangka berapa beragamnya investasi yang dia miliki atau berapa banyak waktu yang ku perlukan untuk mengetahui apa yang harus ku lakukan terhadap setiap investasi itu. Sewaktu Mingyu mewarisi ini semua, saat itu ia berusia dua puluh tahun, saham Kim sudah cukup besar tapi tidak sebesar sekarang. Dia meningkatkannya hingga sepuluh kali lipat dalam tujuh tahun. Mingyu bekerja seperti kesetanan, tapi dia tetap punya waktu untuk bersenang-senang. Aku sepertinya tidak akan pernah bisa menyeimbangkan waktuku."
"Itukah sebabnya kau selalu tidak mengacuhkan para wanita, yang mengerubungi aku untuk menarik perhatianmu, berusaha mencari tahu kau akan pergi kemana setelah ini supaya mereka juga bisa berada di sana?"
Yugyeom tertawa. "Tidak. Aku tidak mengacuhkan mereka karena alasan yang sama dengan kau saat tidak mengacuhkan para pria. Aku tersanjung, tapi tidak tertarik."
"Apakah tidak ada gadis yang kau anggap cocok selama ini?"
"Satu," aku Yugyeom sambil menyeringai.
"Siapa dia?" desak Lisa.
"Dia putra seorang bangsawan," jawab Yugyeom, ekspresinya menerawang.
"Apa yang terjadi dengannya?" selidik Lisa, "Atau apakah ini terlalu pribadi untuk dibicarakan?"
"Sama sekali tidak. Bahkan ini pun bukan cerita yang menarik. Dia sepertinya menyukaiku sama seperti aku yang menyukai dirinya. Aku melamarnya, tapi orang tuanya ingin menunggu sampai musim debut selesai sebelum menerima lamaran pria yang tak begitu menjanjikan seperti aku. Kau tahu, pria dari keturunan terhormat, dari keluarga baik-baik, tapi tidak punya gelar, dan tidak punya kekayaan seperti aku? Jadi kami sepakat untuk merahasiakan perasaan kami sampai akhir musim."
"Lalu bagaimana seterusnya?" tanya Lisa, merasa Yugyeom ingin membicarakan itu.
"Lalu seseorang yang mempunyai gelar, kekayaan, serta kediaman di lokasi elegan melihatnya. Pria itu mengajaknya berdansa di beberapa pesta, mengunjunginya satu atau dua kali, Jihyo jatuh cinta padanya begitu saja."
Suara Lisa merendah menjadi bisikan penuh simpati. "Jadi dia menikah dengan pria itu dan bukan denganmu?"
Yugyeom terkekeh dan menggeleng. "Bagi bangsawan itu, selingan bersama Jihyo tak ada artinya selain taktik menggoda yang konyol, hampa dan tanpa tujuan."
"Pria itu, pria itu bukan Mingyu, bukan?" tanya Lisa merasa agak mual.
"Dengan senang hati ku katakan bukan dia."
__ADS_1
"Kalau begitu dia tidak baik untukmu," ujar Lisa dengan setia kawan. "Dia sepertinya sangat mata duitan dan genit." Salah satu senyum memikat dan hangat milik Lisa tersungging di bibirnya yang lembut lalu wanita itu tertawa. "Sekarang karena kau telah mewarisi kerajaan bisnis Kim beserta segala gelarnya, aku berani bertaruh dia menyesal karena berpaling darimu."
"Mungkin."
"Well, aku harap dia menyesal!" serunya, lalu ia tampak merasa bersalah. "Aku jahat sekali merasa seperti itu."
"Kita berdua memang jahat." Yugyeom tertawa. "Karena aku juga sebenarnya berharap dia merasa demikian."
Selama sesaat mereka hanya saling menatap dengan rasa persahabatan yang selama ini mereka nikmati. Akhirnya Yugyeom menarik napas dengan hati-hati dan berkata, "Yang ingin ku sampaikan dari perbincangan tadi adalah terlalu banyak bekerja juga tidak terlalu menyenangkan sama halnya dengan terlalu banyak bersenang-senang."
"Kau benar, tentu. Aku tadi tidak mempertimbangkan itu."
"Ada satu hal lagi yang harus kau pertimbangkan," kata Yugyeom lembut.
"Apa itu?"
"Kau harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa perasaan yang tak bisa kau jabarkan itu mungkin cinta."
Tawa Lisa yang tidak disangka-sangka ketika mendengar usul itu membuat tangan Yugyeom terdiam ketika hendak mengambil sejumput tembakau. "Demi Tuhan, aku benar-benar berharap itu tidak ada!" serunya, dan suara tawanya pun mengalir, memenuhi ruangan dengan sedikit sentuhan kemarahan untuk meyakinkan Yugyeom bahwa reaksinya itu hanyalah salah satu ungkapan kebencian terhadap perlakuan Mingyu.
Tapi wanita itu sungguh-sungguh, Yugyeom menyadari ketika ia menatap wajah cantik yang menengadah menatapnya. Lisa bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dan kesadaran akan hal itu memenuhi diri Yugyeom dengan kemarahan yang nyaris tak terkendali terhadap Mingyu. "Kau baru mencicipinya sedikit."
"Sudah cukup banyak untuk tahu bahwa aku tidak menyukainya."
"Lain kali kau akan lebih menyukainya."
"Cinta membuatku takut. Seperti ketika akan makan belut." ia tertawa. "Aku...."
Sumpah serapah yang menyembur dari mulut Yugyeom membuat Lisa terdiam. "Mingyu brengsek! Kalau dia masih hidup, aku yang akan mencekiknya dengan tanganku sendiri."
"Tidak, kau salah paham!" tukas Lisa, bergegas menghampiri pria itu, matanya yang bercahaya menatap pria itu lekat-lekat, berusaha membuat Yugyeom mengerti.
"Bahkan meskipun aku dengan bodohnya mengira dia sayang padaku, entah mengapa aku tetap merasa tidak nyaman. Aku terus-menerus takut salah bicara. Aku ingin membuatnya senang, dan boleh dibilang berusaha mati-matian untuk melakukannya. Ku rasa itu cacat turunan. Para wanita di keluargaku selalu jatuh cinta dengan orang yang salah, lalu memuja mereka membabi buta, berusaha mati-matian untuk menyenangkan mereka." Ia tersenyum lebar. "Sebenarnya itu agak memuakkan."
Tawa keluar dari mulut Yugyeom dan sedetik kemudian ia menarik Lisa dalam dekapannya, tertawa di atas rambutnya yang harum. Ketika rasa gelinya mulai menghilang, Yugyeom menatap wanita itu dan dengan tulus berkata, "Lisa, apa yang kau inginkan dalam hidupmu?"
__ADS_1
Mata Yugyeom menatapnya lekat-lekat, memeluknya hingga tak bisa bergerak. "Entahlah," desah Lisa, berdiri diam ketika pria yang selama ini dianggapnya kakak laki-laki menangkup wajahnya dengan tangannya yang besar. "Katakan padaku apa yang kau rasakan di dalam hatimu, karena sekarang kau telah menjadi Reigning Queens of Society."
Lisa tidak dapat bergerak meskipun ada orang yang berteriak bahwa di rumah itu kebakaran. "Hampa," akunya sambil mendesah putus asa, "Dan dingin,"
"Menikahlah denganku, Lalisa."
"Aku... Aku tidak bisa."
"Tentu saja kau bisa," jawab pria itu, tersenyum melihat penolakan Lisa, seakan-akan ia sudah menduganya dan mengerti. "Aku akan memberimu sesuatu yang benar-benar kau inginkan dan membuatmu bahagia. Aku tahu apa itu, meskipun kau tidak tahu."
"Apa itu?" gumam Lisa, matanya menelusuri wajah Yugyeom seakan-akan baru melihat pria itu untuk pertama kalinya.
"Hal yang sama dengan ku inginkan, anak, keluarga, seseorang yang kau sayang," kata Yugyeom parau.
"Jangan," isak Lisa ketika merasakan perlawanannya mulai melemah dan runtuh. "Kau tak mengerti yang kau katakan. Yugyeom, aku tidak mencintaimu, dan kau tidak mencintaiku."
"Kau tidak sedang jatuh cinta dengan orang lain kan?"
Lisa menggeleng sepenuh hati lalu Yugyeom tersenyum lebar. "Nah, lihat kan, itu membuat keputusan ini lebih mudah dibuat. Aku juga tidak sedang jatuh cinta dengan siapa pun. Kau sendiri sudah berjumpa dengan calon-calon terbaik untuk kau jadikan suami dalam beberapa waktu ini. Mereka yang tidak datang juga tidak ada yang lebih baik lagi, Kau boleh memegang kata-kataku."
Ketika Lisa menggigit bibir dan tetap ragu-ragu, Yugyeom mengguncang tubuhnya sedikit. "Lisa, berhentilah bermimpi. Ini kehidupan yang sebenarnya. Kau kan sudah melihatnya. Yang tertinggal kurang lebih sama, kecuali kalau kau punya keluarga."
Keluarga. Keluarga sungguhan. Lisa tidak pernah benar-benar memiliki keluarga sesungguhnya. Keluarga dengan ayah, ibu dan anak-anak, dengan sepupu-sepupu, bibi dan paman. Tentu saja, anak-anak mereka nantinya hanya punya satu paman, yaitu adik Yugyeom, tapi tetap saja.
Apa lagi yang diinginkan wanita selain tawaran yang diajukan Yugyeom tadi? Terpikir oleh Lisa untuk pertama kalinya, meskipun ia sering mengolok-olok pikiran romantis Roseanne, dirinya sendiri sudah bertingkah seperti anak sekolah yang romantis. Yugyeom sayang padanya. Dan terpulang kepadanya untuk membuat pria itu bahagia. Pemahaman itu menghangatkan hatinya dan membuatnya merasa lebih baik, merasa dirinya lebih baik daripada yang dirasakannya bertahun-tahun. Dia bisa mengabdikan diri untuk membuat pria itu bahagia, membesarkan anaknya.
Anak... Bayangan memeluk seorang bayi dalam gendongannya menjadi motivasi yang kuat untuk menikah dengan pria yang baik hati, lembut dan tampan itu. Dari semua pria yang pernah ditemuinya di London, sepertinya Yugyeom satu-satunya orang yang memiliki kesamaan pandangan tentang kehidupan dengan dirinya.
***
Dengan usaha keras, Mingyu membantu temannya yang letih untuk berdiri dan menarik tangan pria itu ke bahunya, mendukung bobot pria itu sambil setengah mengangkat, setengah menyeret Minghao menyebrangi anak sungai yang dangkal. Mingyu menyeringai lebar dan kelelahan melihat ke atas, berusaha memperkirakan waktu dengan menggunakan matahari, yang saat ini sudah tergantung rendah di langit, terhalang dari pandangannya oleh bukit dan pepohonan. Ia ingin tahu pukul berapa sekarang, ini sangat penting baginya. Pukul lima sore, ia memutuskan.
Pada pukul lima sore, ia pertama kali melihat pasukan berseragam mengendap-endap di antara pepohonan di depannya. Pasukan Inggris. Kebebasan. Pulang.
Kalau beruntung, ia bisa berada di rumah tiga atau empat minggu lagi.
__ADS_1