
Hari-hari berikutnya, Lisa menjalankan tugasnya dengan penuh tekad dan kecerdasan yang ia miliki menghafal seluruh halaman Debreet's Peerage, sebuah buku panduan yang sangat diperlukan untuk hubungan timbal balik, perkawinan dan warisan yang telah membentuk aristokrasi Inggris. Lalu membaca berbagai buku mengenai tata krama, perilaku, kebiasaan, dan protokol yang diberikan oleh sang nenek kepadanya. Ketekunannya dengan cepat merebut hati sang nenek, begitu pula segala hal yang dilakukan Lisa, dengan dua pengecualian penting, yang akhirnya membuat sang nenek harus memanggil Yugyeom ke ruang duduknnya seminggu setelah keluarga itu tiba di rumah ini.
"Lisa berteman dengan Lee, si pelayan dan Yoon si kepala pengurus kuda," kata wanita itu dengan nada suara bingung dan prihatin.
"Dia mengobrol dengan mereka lebih sering daripada yang kulakukan selama empat puluh tahun terakhir."
Yugyeom mengangkat alisnya dan dengan lancang berkata, "Dia menganggap pelayan sebagai bagian dari keluarga. Buktinya dia bertanya kepada kita apakah kepala pelayan dan istrinya yang tua boleh datang ke sini. Itu tak berbahaya."
"Kau tak kan menganggap Boo dan istrinya berbahaya kalau kau sudah melihat mereka," tukas sang nenek sengit. "Mereka tiba tadi pagi."
"Mereka tuli dan buta!" sang nenek keras kepala itu berseru.
"Kepala pelayannya tak dapat mendengar apa pun yang tidak diteriakkan di kupingnnya, dan istrinya berjalan menabrak pintu lalu menabrak Ramsey! Meskipun menjaga perasaan Lisa, kita harus menjauhkan mereka bila ada tamu yang datang. Kita tidak bisa membiarkan para tamu melihat mereka saling bertabrakan dan berteriak di aula depan dan memarahi dinding."
__ADS_1
"Ah dan tentang kau yang selalu bertanding anggar dengannya. Sama sekali tidak pantas bagi seorang wanita muda, kecuali terpaksa, mengenakan, celana ketat!"
Ketika Yugyeom tampak geli bukannya cemas, sang nenek merengut ke arahnya. Yugyeom tidak ingin berpihak pada neneknya untuk masalah yang satu ini, begitu juga dengan masalah berteman dengan pelayan.
"Demi kebaikanku dan Lisa ku harap kau tidak melarangnya bertanding anggar denganku. Itu toh tidak berbahaya dan dia menyukainya. Dia bilang itu membuatnya bugar."
"Dan demi kebaikanmu?" tanya sang nenek kesal. Yugyeom menyeringai.
"Dia lawan yang tangguh, dan dia membuatku tetap prima. Aku dan Mingyu boleh dibilang dua pemain pedang terbaik di Inggris, tapi aku harus bekerja keras untuk mengalahkan Lisa, dan dia masih bisa mengalahkan aku setengah jumlah dari seluruh pertandingan."
Tak menyadari bahwa apa yang dilakukannya telah membuat sang nenek merasa tak nyaman, Lisa membiasakan diri terhadap rutinitas kehidupan yang kaku di mansion ini. Sementara musim semi beralih ke musim panas, ia terus belajar dan menghabiskan waktu luangnya berjalan-jalan di halaman yang indah atau mengunjungi istal kuda keluarga Kim yang besar, di sana Yoon akan menceritakan kisah indah tentang masa kecil dan masa remaja Mingyu. Sebagaimana Lee si pelayan, Yoon pun juga pengagum setia Master Mingyu, dan dalam beberapa minggu, yoon sudah menyukai gadis menawan yang dinikahi Master Mingyu.
Bagi Lisa sendiri, hari-harinya dijalani dengan penuh kesibukan, tapi Mingyu tak pernah lepas dari ingatannya. Sebulan setelah meninggalnya Mingyu, atas permintaan Lisa, sebuah prasasti pualam mungil bertuliskan nama Mingyu, tanggal lahir dan tanggal kematiannya ditempatkan, bukan di makam keluarga seperti biasanya, namun diujung danau di pinggir hutan dekat paviliun.
__ADS_1
Lisa merasa latar belakang dekat paviliun itu indah, terutama karena kontras dengan pemakaman yang sunyi di lereng bukit di belakang mansion. Namun, ketika prasasti itu dipasang, ia tidak begitu puas. Ia menemui tukang kebun, yang memberinya beberapa tunas bunga untuk ditanamnya di dalam hutan. Beberapa hari sekali, ia kembali untuk mengambil lebih banyak bunga. Tapi setelah selesai, barulah ia menyadari bahwa secara tak sadar ia meniru padang rumput kecil tempat Mingyu mengatakan ia tampak seperti lukisan Gainsborough.
Ia menyukai tempat ini lebih daripada yang ia bayangkan, dan menghabiskan ratusan jam yang menyenangkan duduk di paviliun, menatap padang rumput mini itu sambil mengenang setiap momen yang mereka lalui bersama.
Bila sedang sendiri di paviliun ia teringat pada kelembutan dalam setiap kebaikan yang ditunjukkan Mingyu kepadanya. Mulai dari membelikannya anak anjing yang sebenarnya tidak disukai pria itu, sampai menikahinya untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Tapi yang selalu dikenangnya adalah ciuman Mingyu yang manis dan penuh gairah, belaian tangannya yang indah namun membuatnya panas dingin. Dan semakin sering ia membayangkan dan mengingatnya, itu membuat Lisa semakin yakin jika Mingyu sebelum meninggal sudah mulai mencintainya.
Dibantu dan didorong oleh cerita Yoon dan Lee yang dibesar-besarkan mengenai keberanian Mingyu semasa kecil dan ketrampilannya sebagai laki-laki, Lisa menjaga Mingyu berada di relung hatinya, memuja kebaikan hatinya yang bagai orang suci, keberanian seorang ksatria, dan ketampanan yang seperti malaikat. Dalam kenangan yang indah itu, setiap kata-kata lembut yang diucapkan pria itu, setiap senyuman hangat, setiap kecupan mesra, ia abadikan, lalu ia lebih-lebihkan.
Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa Lee dan Yoon mungkin buta terhadap keburukan Mingyu atau mereka ingin, atas kesepakatan bersama, berhati-hati untuk tidak menceritakan semua perilaku Mingyu yang bisa membuat pria itu tampak tidak terlalu suci di mata istri resminya. Mereka tak pernah sekali pun menceritakan tentang pacar cantik atau simpanan lainnya yang tak terhitung jumlahnya, atau para wanita yang pernah tidur seranjang dengan Mingyu di rumah ini.
Berdasarkan cerita indah yang didapatnya dari Yoon dan Lee, Lisa tentu saja menganggap suaminya terkenal akan kegagahan, keberanian dan sikap terpujinya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pria itu juga terkenal akan afairnya, penaklukannya terhadap wanita, dan skandalnya dengan para wanita yang hanya punya satu kesamaan, yaitu cantik.
Jadi, dengan antusiasme gadis berusia delapan belas tahun, Lisa setiap hari berlatih piano, menghafal berbagai buku mengenai protokol pergaulan, berlatih percakapan yang sopan dengan tutornya, dan meniru sikap nenek mertuanya yang bisa dijadikan contoh terbaik untuk menjadi bangsawan terhormat berkedudukan tinggi yang angkuh. Ia melakukan semua itu agar bila ia pergi ke pertemuan di kalangan bangsawan, mereka dapat menghormatinya dan menganggapnya pantas menyandang nama besar dan reputasi Mingyu Kim.
__ADS_1
Dan sementara Lisa dengan tekun berusaha mempelajari semua tata krama pergaulan, yang pasti akan membuat Mingyu bosan jika dia masih hidup, alam, yang seakan-akan takjub pada usaha yang tidak dibutuhkan Lisa, dengan murah hati menghujani wanita itu dengan hadiah, sesuatu yang merupakan aset utama dalam pergaulan sosial dan akan menjamin masyarakat kalangan atas menganggap Lisa pantas menyandang nama Mingyu Kim yang tersohor, yaitu kecantikan.