
Pada pukul delapan keesokan malamnya, Lisa meninggalkan wanita tua itu tidur dengan lelap lalu turun ke ruang duduk biru alih-alih kembali bersedih di kamarnya sendiri. Berusaha menghalau perasaan kehilangan, ia mengambil sebuah buku.
Di ambang pintu, Will berdeham untuk mengumumkan kedatangan seorang tamu, "His Grace...."
Pekik gembira keluar dari bibir Lisa ketika bangkit berdiri dan bergegas maju. Will melangkah ke samping, Yugyeom muncul di ambang pintu, dan langkah Lisa langsung terhenti. Yugyeom Kim berjalan menuju ke arahnya. Yugyeom yang menggantikan posisi Mingyu Kim sebagai kepala keluarga Kim.
Amarah yang tak masuk akal dan tak terkendali bergelora di dada Lisa karena pria itu begitu lancang memakai gelar Mingyu padahal Mingyu belum lama meninggal. Yugyeom Kim mendapat keuntungan dari tragedi ini, pikir Lisa, dan dia mungkin bergembira.
Yugyeom serta merta berhenti melangkah dan menatap amarah di wajah pucat Lisa. "Kau keliru, Lisa." ujarnya tenang. "Aku saat ini bersedia memberikan apa pun agar dapat melihat dia berjalan masuk ke ruangan ini. Kalau aku tahu Will akan mengumumkan kedatanganku seperti itu, aku akan memintanya untuk tidak melakukan itu."
Amarah Lisa dengan cepat mereda mendengar ketulusan dalam suara tenang itu serta kesedihannya yang terpancar dari matanya. Karena ia terlalu jujur untuk menyangkal apa yang ada dalam pikirannya, ia berkata, "Tolong maafkan saya, Your Grace."
"Yugyeom," ralat pria itu, mengulurkan tangannya ke arah Lisa sebagai tanda perkenalan dan persahabatan.
"Apa kabar nenekku?"
"Dia sedang tidur, tapi waktu tidurnya semakin normal setiap hari."
"Kata Will kau amat berjasa karena telah menghibur dan memberinya dukungan. Aku berterima kasih padamu untuk itu."
"Dia sangat tegar, dan bisa menjaga dirinya sendiri."
"Dan kau?" tanya pria itu sambil berjalan ke meja di sisi ruangan lalu menuang anggur ke gelas. "Apakah kau menjaga dirimu sendiri? Kau tampak payah."
Sepercik sifat jahil berkelebat di mata Lisa, "Ingatanmu sangat pendek, Your Grace. Wajahku tidak pernah lebih dari biasa-biasa saja."
"Yugyeom." pria itu berkeras lalu duduk di hadapan Lisa sambil menatap api yang berderak-derak.
__ADS_1
"Nenekmu tidak ingin menetap di London dan terpaksa menerima ratusan tamu yang ingin mengucapkan bela sungkawa," kata Lisa setelah beberapa menit. "Dia lebih suka mengadakan upacara pemakaman sederhana lalu setelah itu berangkat ke Rosemeadi."
Yugyeom menggelengkan kepala mendengar kata Rosemeade. "Ku rasa sebaiknya dia tidak mengurung diri sendirian di Rosemeade, tapi aku tidak bisa tinggal di sana lebih dari sepuluh hari. Rumah ini adalah estat yang sangat besar, yang memiliki ribuan pelayan dan penyewa yang semuanya membutuhkan arahan dan dukungan jika mereka mendengar berita meninggalnya Mingyu. Aku terpaksa meninggalkan pekerjaanku dalam mempelajari bagaimana mengelola investasi Mingyu dan membiasakan diri mengelola semua estat dan bisnisnya. Aku amat suka kalau nenekku mau menemaniku di London dan tinggal di sana lebih lama."
"Itu akan jauh lebih baik baginya," Lisa sependapat. Agar Yugyeom tidak mencemaskannya, Lisa memberitahu pria itu bahwa ia bermaksud pulang ke rumah setelah upacara pemakaman. "Ibuku berencana akan bepergian dan bersenang-senang setelah pesta pernikahanku," ia menjelaskan. "Dia sudah berjanji akan menulis surat dan memberitahuku dimana dia berada, jadi kalau kau menerima surat darinya tolong kirimkan ke rumahku, aku akan menulis surat kepadanya dan memberitahu bahwa suamiku..." ia berusaha mengatakan 'meninggal' tapi tak bisa. Ia tak bisa percaya tampan dan sehat yang menikahinya sudah tiada.
***
Sambil memasang ekspresi cemberut dan Will membuntuti di belakangnya, sang nenek berjalan perlahan memasuki ruang duduk keesokan paginya, di sana Yugyeom sedang membaca surat kabar dan Lisa duduk di sebrangnya, termenung menatap kejauhan.
Ketika sang nenek melihat wanita berani, berwajah pucat, dan berpipi cekung yang telah menariknya keluar dari lubang kesedihan, ekspresinya melembut, namun seketika itu juga berubah keras ketika melihat Henry, yang sedang mengejar-ngejar buntutnya sendiri atau menarik-narik ujung gaun berkabung Lisa.
"Diam!" Perintahnya kepada binatang yang tidak tahu disiplin itu.
Lisa terkejut, Yugyeom terlonjak, tapi Henry hanya menggoyang-goyangkan ekornya menyambut sang nenek lalu meneruskan permainannya, tak terpengaruh. Terkejut melihat pembangkangan terang-terangan itu, sang nenek mencoba memelototi anak anjing yang hiperaktif itu agar diam, ketika itu pun tidak berhasil ia membalikkan badan menghadap kepala pelayan yang berwibawa itu.
"Baik, Your Grace. Segera dilaksanakan," ujar kepala pelayan yang berwibawa itu, kembali membungkukkan badan, ekspresinya tetap datar. Sambil membungkuk ia mengambil anak anjing itu dengan memegang tengkuknya memakai tangan kanan lalu meletakkan tangan kirinya dibawah bokong berbulu anak anjing itu, dan membawa anak anjing yang meronta-ronta itu sejauh mungkin dari badan selama itu masih dimungkinkan tangannya.
"Nah, sekarang," ujar sang nenek ringan, dan Lisa lekas-lekas menahan diri agar tidak tersenyum. "Yugyeom memberitahuku bahwa kau ingin pulang ke rumah."
"Ya, Aku ingin pulang besok, setelah upacara pemakaman."
"Kau tidak akan melakukan itu, kau akan menemani aku dan Yugyeom ke rumah utama di London."
Lisa selama ini memang takut harus kembali ke kehidupannya yang dulu dan berusaha menjalani hidup seakan-akan Mingyu tidak pernah ada, tapi ia tak pernah terpikir untuk pergi ke rumah utama.
"Mengapa aku harus begitu?"
__ADS_1
"Karena kau adalah istri sah Mingyu Kim, dan tempatmu adalah bersama keluarga suamimu."
Lisa ragu-ragu, lalu menggeleng. "Tempatku adalah di rumahku."
"Omong kosong!" tukas sang nenek keras kepala, dan Lisa mau tak mau tersenyum melihat wanita yang lebih tua itu sudah kembali ke sikapnya semula yang otoriter, itu jauh lebih baik daripada menutup diri di dalam cangkang kesedihan.
"Pada pagi yang sama ketika kau menikah dengan Mingyu," lanjut sang nenek penuh tekad, "dia secara khusus mempercayakan tugas mendidikmu kepadaku, agar kau nantinya bisa mendapat tempat yang layak di kalangan bangsawan. Meskipun cucuku sudah tiada, aku percaya kau cukup setia." ia menekankan kata setia itu, "untuk menjalankan permintaannya."
Penekanan pada kata setia membuat Lisa teringat, sebagaimana yang diharapkan sang nenek, bahwa ia pun pernah mengatakan kepada wanita itu bahwa cucunya mengagumi sifat itu dalam diri neneknya. Lisa ragu-ragu sejenak, terperangkap rasa bersalah, tanggung jawab, dan peduli pada kesejahteraannya sendiri seandainya ia terpaksa tinggal di rumah utama, terpisah dari segala sesuatu dan semua orang yang ia kenal dan cintai.
Sang nenek dengan gagah berani berusaha mengatasi kesedihannya, ia tidak dapat membantu Lisa memikul bebannya. Di lain pihak, Lisa tidak yakin dirinya dapat memikul beban itu seorang diri, seperti waktu kakek dan ayahnya meninggal.
"Kau sungguh baik karena telah mengusulkan aku tinggal bersamamu, Ma'am, tapi sepertinya aku tidak bisa," Lisa menolak setelah memikirkannya masak-masak. "Karena ibuku sedang bepergian, aku punya tanggung jawab terhadap orang lain, dan itu harus ku jadikan pertimbangan."
"Tanggung jawab terhadap siapa?" tanya sang nenek.
"Boo dan istrinya. Karena ibuku pergi, tak ada yang mengurus mereka. Aku bermaksud ingin meminta suamiku membuatkan tempat tinggal untuk mereka di rumahnya, tapi...."
"Siapa?" sela sang nenek dengan suara menggelegar, "Boo dan istrinya itu?"
"Boo adalah kepala pelayan kami, dan istrinya adalah pelayan kami."
"Setahuku," kata sang nenek tak sabar, "pelayan itu tugasnya untuk menjaga majikan, dan bukan sebaliknya." Ia sudah cukup mengalah untuk mengatakan, "Meskipun demikian, aku hargai rasa tanggung jawabmu. Kau boleh membawa mereka ke rumah utama," wanita tua itu memutuskan. "Aku merasa kita masih bisa menambah satu atau dua pelayan lagi."
"Mereka sudah sangat tua," Lisa lekas-lekas menjelaskan. "Mereka tidak bisa bekerja yang berat-berat, tapi mereka punya harga diri, dan ingin masih merasa berguna. Well, aku yang menanamkan ilusi itu kepada mereka."
"Sebagai umat kristen aku pun merasa sudah menjadi tugasku untuk menjamin para pelayan yang sudah tua dapat terus bekerja selama mereka mau dan sanggup." dusta sang nenek terang-terangan sambil melayangkan lirikan maut ke arah cucunya yang keheranan.
__ADS_1
Mengubah Lisa menjadi bangsawan muda yang terpelajar adalah tugas yang akan dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Itu adalah suatu tantangan, kewajiban, tujuan. Ia tidak mau mengakui bahwa gadis berani berambut coklat yang cantik, yang telah mengeluarkannya dari kungkungan kesedihan itu spertinya telah mendapatkan tempat permanen di hatinya, dan ia tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepada gadis itu.