Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 33


__ADS_3

Semalaman Lisa didera mimpi buruk hingga ia tiba-tiba terbangun dan berguling telentang di tempat tidur, berusaha melarikan diri dari mimpi. Dalam mimpinya ia berdiri di halaman sebuah gereja yang dikelilingi ratusan batu nisan, pada setiap batu nisan itu tertera nama ayahnya, kakeknya atau suaminya.


Ketika ia berusaha membuka mata, kelopak matanya terasa amat berat seperti diganduli pemberat besi, namun ketika ia berhasil membuka mata, ia berharap tidak membukanya. Kepalanya berdentam-dentum seakan-akan ada palu terkubur di dalamnya, dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela membuat matanya sakit. Sambil menyipitkan mata, ia memalingkan wajahnya dari arah sinar matahari, matanya beralih ke sosok wanita kurus memakai seragam hitam, bercelemek putih dan memakai topi, yang tidur di kursi di samping tempat tidurnya. Pelayan kamar, pikir Lisa muram.


"Mengapa kau ada di sini?" tanya Lisa dengan suara lemah dan parau yang nyaris tak dikenalinya sebagai suaranya sendiri. Pelayan kamar itu tetap tidur sambil sedikit mendengkur. Lisa mengangkat kepalanya yang berdenyut-denyut dari bantal. Dengan bingung ia melihat meja nakas di sebelahnya, di sana ada sendok dan gelas tergeletak di samping sebuah botol.


"Apa itu?" tanyanya lirih, kali ini lebih keras dari pada tadi.


Pelayan yang letih itu tersentak bangun, dilihatnya mata Lisa sudah terbuka dan ia pun melompat dari kursinya. "Obat tidur, My Lady, kata dokter Anda harus makan begitu sudah sadar. Saya akan membawakan makanan dan kembali tidak lama lagi."


Terlalu mengantuk untuk memahami semua itu, Lisa membiarkan kelopak matanya yang berat menutup. Ketika ia membuka matanya lagi dilihatnya ada nampan makanan di samping tempat tidur, dan matahari sudah mulai condong ke arah barat. Sudah sore, pikir Lisa, merasa bingung dan gamang, namun segar.


Pelayan kamar kali ini tidak tidur, wanita itu sedang memperhatikan Lisa dengan cemas. "Ya ampun, anda tidur seperti orang mati!" katanya, lalu menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ketakutan.


Lisa melirik wanita itu dengan penasaran, lalu dengan gerakan canggung berusaha duduk agar pelayan itu dapat meletakkan nampan di atas pangkuannya. Di atas nampan sarapan itu, seperti biasa, diletakkan mawar merah dan surat kabar yang dilipat dua.


"Kenapa aku diberi obat tidur?" tanya Lisa, kesal karena suaranya seperti menggumam dan ia tidak bisa berkonsentrasi penuh.


"Karena kata Dokter anda harus diberi itu."


Lisa mengerutkan dahi tak mengerti, lalu secara otomatis ia menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakannya setiap pagi sejak ia tiba di rumah ini. "Apakah Sir Choi sudah datang ke..." Rasa nyeri melandanya dan ia mengerang pilu ketika pikirannya mulai bekerja dan teringat pada kunjungan terakhir Scoups selasa lalu. Ia menggelengkan kepalanya yang pusing, berusaha mengenyahkan bayangan yang melintas di kepalanya, suara-suara yang berkata, ".....dengan sedih saya memberitahukan bahwa semua awak di kapal itu tidak ditemukan.... Cepat, panggilkan dokter.... Pihak yang berwenang sudah diberi tahu.... Will bawa dia ke tempat tidur...."


"Tidak!" Lisa berteriak dan memalingkan wajahnya dari si pelayan, tapi surat kabar itu tetap tergeletak di pangkuannya. Ia menatap judul berita yang dicetak tebal di halaman depan.


"Ada apa, My Lady?" Apa katanya?" tanya pelayan yang ketakutan itu, menatap tak mengerti pada tulisan yang tak bisa dibacanya karena ia tak pernah belajar membaca.


Lisa dengan sedih mengerti tiap patah kata. Surat kabar itu mengatakan bahwa Mingyu Kim telah wafat.

__ADS_1


Lisa kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal lalu memejamkan mata, tak sadar akan segala sesuatu di sekelilingnya kecuali rasa sakit yang menyiksa pikirannya.


"Oh, Your Grace, saya tidak bermaksud membuat anda sedih," ujar si pelayan dengan lirih sambil *******-***** tangannya sendiri. "Akan saya panggilkan dokter. Her Grace sudah dibawa ke tempat tidur, dia sakit parah sehingga dokter tidak berani meninggalkannya..."


Kalimat terakhir itu perlahan-lahan memasuki benak Lisa. "Aku akan menjenguknya sebentar lagi," katanya kepada pelayan yang kebingungan itu.


"Oh tidak, Your Grace, anda sendiri juga sedang sakit, lagi pula itu tidak ada gunanya. Kata Will, Her Grace tidak mau bicara... Tidak dapat berbicara. Dia tidak mengenali siapa pun, dia hanya menatap kosong."


Kesedihan Lisa seketika berubah menjadi kecemasan, dan tanpa menghiraukan protes si pelayan, ia mengayunkan kakinya ke sisi tempat tidur, memegang tiang tempat tidur agar tidak sempoyongan, lalu memakai jubah kamarnya.


Ketika Lisa mengetuk pintu kamar tidur sang nenek, dokter langsung membukakan pintu dan melangkah ke koridor. "Bagaimana keadaannya?" tanya Lisa dengan cemas.


Dokter itu menggeleng. "Tidak baik, tidak baik sama sekali. Dia sudah tidak muda lagi dan mengalami shock hebat. Her Grace tidak makan ataupun berbicara serta hanya berbaring di sana, menatap ke kejauhan."


Lisa mengangguk, teringat pada perilaku ibunya ketika istri simpanan ayahnya datang ke rumah mereka tak lama setelah ayah Lisa meninggal. Ibunya juga waktu itu hanya berbaring di tempat tidur, tidak mau makan ataupun berbicara, dan tidak mau dihibur oleh siapa pun. Ketika akhirnya ibunya keluar dari kerangkeng yang dibuatnya sendiri, dia sudah tidak sama seperti dulu. Seakan-akan duka dan nestapa masih bertumpuk di dalam dadanya, mengacaukan pikirannya.


"Tentu saja tidak! Para wanita yang punya status seperti Her Grace tidak akan menangis. Sebagaimana yang selalu saya dan Will katakan kepadanya, dia harus tegar dan melihat sisi terangnya. Lagi pula, dia masih punya cucu satu lagi, sehingga gelar ini tidak akan jatuh ke tangan orang lain."


Pandangan Lisa yang selama ini rendah terhadap para dokter, kali ini menjadi lebih rendah lagi ketika ia menatap pria congkak tak berperasaan di depannya.


"Saya ingin bertemu dengan beliau, tolong permisi."


"Cobalah menghiburnya," kata sang dokter, tak menyadari ekspresi masam di wajah Lisa. "Jangan berbicara tentang Mingyu."


Lisa berjalan masuk ke ruangan yang gelap itu dan jantungnya berdetak keras karena iba dan cemas melihat wanita yang biasanya sehat dan penuh semangat itu berbaring dengan tubuh disangga bantal, tampak seperti hantu. Di bawah rambutnya yang putih, wajah sang nenek tampak seputih kapas dan matanya yang pucat seperti berkaca-kaca karena sedih, serta tampak cekung dan gelap. Matanya tak memperlihatkan tanda-tanda mengenali Lisa ketika ia berjalan di depan tempat tidur wanita itu, lalu duduk di sisi tempat tidur di sebelahnya.


Dengan ketakutan, Lisa mengulurkan tangan dan meraih tangan sang nenek yang penuh urat-urat kebiruan, yang sekarang tergeletak lemah di atas penutup tempat tidur berwarna krem. "Oh, Ma'am, kau tidak boleh terus seperti ini," bisiknya dengan suara bergetar lirih dan penuh perasaan, sorot matanya memohon kepada sang nenek agar mendengarkannya.

__ADS_1


"Kau tidak boleh seperti ini. Mingyu tidak akan suka melihatmu seperti ini."


Ketika tidak ada reaksi sama sekali, keputusasaan Lisa meningkat dan ia meremas tangan yang rapuh itu erat-erat. "Apakah kau tak tahu betapa kagumnya dia akan semangat dan ketegaranmu? Apakah kau tahu itu? Aku tahu, karena ia selalu membanggakan hal itu kepadaku."


Mata pucat itu bergeming. Tidak yakin apakah sang nenek mendengarkannya, atau tidak percaya pada perkataannya, atau tidak peduli, Lisa meningkatkan usahanya untuk meyakinkan wanita itu.


"Itu benar. Aku ingat dengan baik kejadian itu. Setelah upacara pernikahan kami bersiap meninggalkan Rosemeade, dan dia bertanya kau dimana. Ku katakan padanya kau ada di atas dan aku takut kau sangat terpukul atas pernikahan kami. Dia tersenyum mendengar perkataanku, kau tahu bukan, salah satu senyumnya yang istimewa, yang membuat kita ingin balas tersenyum? Lalu kau tahu apa yang dikatakannya?"


Sang nenek diam saja.


"Katanya," kata Lisa keras kepala, "Perlu lebih dari sekedar pernikahan kita untuk membuat nenekku jatuh sakit. Nenekku bisa menundukkan Napoleon seorang diri dan kalau dia sudah menghajarnya habis-habisan, Napoleon akan memohon ampun kepadanya karena telah berperang dengan kita. Dia mengatakannya tepat seperti itu..."


Mata sang nenek terpejam, jantung Lisa berhenti berdetak, tapi tak lama kemudian dua bulir air mata perlahan-lahan mengalir di pipinya yang pucat, Lisa tahu air mata adalah pertanda baik, dan ia dengan penuh semangat melanjutkan, "Dia tahu kau berani dan tegar, serta setia. Dari apa yang dikatakannya kepadaku, kurasa dia tidak percaya wanita bisa setia, kecuali dirimu.'


Sang nenek membuka mata dan menatap Lisa dengan pandangan memohon dan tak percaya.


Lisa menempelkan tangannya di pipi wanita yang bersedih hati itu, berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan bahwa ia mengatakan hal yang sejujurnya, namun kendali dirinya sendiri dengan cepat mulai goyah sehingga ia nyaris tak dapat bicara.


"Itu benar. Dia yakin kau akan setia kepadanya, dia bilang meskipun kau tidak merestui pernikahan kami, kau akan menyiksa orang yang berani mengkritikku, hanya karena aku menyandang nama Mingyu."


Air mata mengambang di mata pucat itu dan sekarang mulai mengalir turun dengan deras di pipi sang nenek dan jemari Lisa. Beberapa menit yang hening berikutnya, sang nenek menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap wajah Lisa. Dengan suara lirih ia bertanya, "Apakah Hawk benar-benar berkata seperti itu, tentang Napoleon?"


Lisa mengangguk dan mencoba tersenyum, namun kata-kata sang nenek berikutnya membuat air matanya mengalir dan menetes dari bulu matanya.


"Tahukah kau, aku mencintai anak itu lebih dari pada anakku sendiri?" wanita itu terisak. Sambil mengangkat tangannya, sang nenek melingkarkan tangannya di tubuh Lisa yang juga menangis namun berusaha keras menghiburnya dan menariknya agar mendekat.


"Lisa," ujarnya sambil terisak, "Aku tak pernah mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Dan sekarang sudah terlambat."

__ADS_1


Sepanjang sisa hari itu dan juga hari-hari berikutnya, Lisa terus bersama dengan sang nenek, yang sepertinya ingin terus menerus mengobrol tentang cucunya, Mingyu Kim, karena sekarang dinding penghalang kesedihan itu sudah runtuh.


__ADS_2