
"Aku rasa..." ucap Lisa.
Menyadari Lisa akan menolak tawarannya lagi, sang nenek memotong kalimatnya, "Lisa, kau sekarang seorang Kim, dan tempatmu adalah bersama kami. Terlebih lagi, sudah menjadi kewajibanmu untuk menghormati keinginan suamimu, dan dia secara khusus memintamu untuk menyandang nama besarnya.'
Keragu-raguan Lisa segera sirna ketika kalimat terakhir sang nenek masuk ke benaknya. Sekarang namaku Kim, bukan Bruschweiler, ia menyadari dengan rasa bangga sekaligus senang. Ia tidak kehilangan apa pun ketika pria itu meninggalkannya, Mingyu telah memberikan namanya. Sebagai balasannya, kenang Lisa dengan pilu, ia telah bersumpah sepenuh hati kepada Mingyu untuk menghargai pria itu dan menjalani permintaannya. Sepertinya Mingyu ingin ia menjadi wanita anggun yang pantas menyandang namanya dan bisa mendapat tempat di kalangan bangsawan. Apa pun artinya, hati Lisa membuncah ketika ia mengangkat matanya untuk menatap sang nenek dan dengan lembut berjanji, "Aku akan melaksanakan apa pun yang dia inginkan."
"Bagus," kata sang nenek parau. Ketika Lisa sudah pergi untuk mengemas barang-barangnya, Yugyeom bersandar di kursi dan menatap neneknya lurus-lurus, wanita itu langsung bereaksi dengan menegakkan tubuh di kursi dan membalas menatap tatapan itu dengan tenang. Usahanya gagal.
"Coba katakan padaku," kata cucunya dengan nada malas dan geli, "sejak kapan kau jadi bersemangat ingin memperkerjakan pelayan tua?"
"Sejak aku menyadari itu satu-satunya cara agar Lisa tidak pergi," jawabnya terus terang. "Aku tidak akan membiarkan anak itu mengasingkan diri di dusun terpencil dan mengenakan pakaian berkabung seumur hidupnya. Dia baru delapan belas tahun."
***
Rumah utama, estat peninggalan dua belas generasi keluarga Kim terdiri atas 50,000 hektar, taman, perbukitan dan ladang subur. Gerbang besi tinggi berwarna hitam yang berhiaskan lambang keluarga Kim menghalangi jalan masuk. Seorang penjaga gerbang berseragam keluar dari gardu batu untukĀ membuka pintu gerbang yang berat itu agar kereta bepergian yang anggun itu dapat lewat.
Lisa, yang duduk di sebelah sang nenek, menatap keluar jendela ketika kereta tersebut bergulir di jalan mulus dan berliku-liku melewati berhektar-hektar pekarangan berumput hijau. Pohon-pohon besar berbaris di kedua sisi jalan, merentangkan dahan-dahan besar mereka laksana payung daun menaungi kereta. Meskipun Rumah utama ini sekarang menjadi milik Yugyeom, di dalam hati Lisa menganggap tempat itu masih milik Mingyu. Ini adalah rumah pria itu, tempat dia dilahirkan, dan tumbuh dewasa. Di sini ia akan mempelajari segala sesuatu tentang suaminya dan mengenal pria itu karena ia tak sempat melakukannya ketika suaminya masih hidup.
Hanya berada di tempat ini saja sudah membuatnya merasa lebih dekat dengan Mingyu. "Rumah ini lebih indah dari pada yang pernah ku bayangkan selama ini," desahnya.
Yugyeom menyeringai melihat kekaguman Lisa, "Tunggu sampai kau melihat rumahnya," kata pria itu, dan dari nada suaranya Lisa tahu rumah itu amat sangat megah. Meskipun sudah diperingatkan terlebih dulu, ia tetap terkesima ketika kereta membelok di lingkungan jalan masuk. Delapan ratus meter di depan sana, dengan segala kemegahannya, terbentang mansion tiga lantai yang terbuat dari batu dan kaca. Mansion itu memiliki lebih dari dua puluh kamar dengan latar belakang berbukit-bukit hijau, sungai yang jernih, dan taman yang bertingkat-tingkat. Di bagian depan, di seberang jalan masuk rumah, angsa-angsa berenang di danau luas yang sangat tenang, dan di sebelah kanannya, tampak gazebo putih yang cantik dengan tiang-tiang anggun bergaya Yunani menghadap ke danau dan taman.
"Cantik sekali," bisik Lisa, "amat sangat cantik."
Enam orang pelayan berdiri tegak di undakan tangga landai yang lebar yang mengarah ke jalan masuk ke pintu depan. Sambil menekan perasaan bahwa dirinya bersikap tidak sopan, Lisa mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh sang nenek ketika keluar dari kereta dan berjalan melewati para pelayan itu seolah-olah mereka tidak ada.
__ADS_1
Pintu depan dibuka lebar-lebar oleh pelayan yang dari sikap angkuhnya membuat orang segera tahu bahwa dia adalah kepala pelayan dan pemimpin semua pelayan yang ada di rumah itu. Sang nenek memperkenalkan pria itu sebagai Ramsey, lalu berjalan masuk ke aula dengan Lisa di sisinya.
Sebuah tangga pualam yang lebar meliuk ke atas membentuk setengah lingkaran dari selasar ke lantai dua, lalu melewati balkon dan naik ke lantai tiga. Lisa dan sang nenek menapaki tangga itu bersama-sama, lalu Lisa diantar ke kamar tidur besar yang didekorasi dengan nuana pink.
Setelah pelayan meninggalkan mereka, sang nenek menoleh ke arah Lisa, "Apakah kau mau beristirahat? Kita melalui hari yang berat kemarin."
Ingatan Lisa tentang upacara pemakaman Mingyu kemarin begitu samar dan menyakitkan. Suasana sendu yang dihadiri ratusan wajah muram yang meliriknya penuh curiga sementara ia berdiri diam di sebelah Nyonya Kim di dalam gereja yang sangat besar. Ibu Yugyeom yang telah menjanda serta adik laki-lakinya yang lemah, berdiri di sebelah ibunya, wajah mereka pucat dan tegang. Setengah jam yang lalu, kereta mereka telah masuk ke kediamannya Yugyeom sebelumnya. Lisa menyukai mereka dan senang mereka akan tinggal di dekat sini.
"Dari pada beristirahat, bolehkah aku melihat kamar Mingyu, Ma'am? Soalnya, aku menikah dengan Mingyu, tapi aku tak diberi kesempatan untuk bernar-benar mengenalnya. Dia pernah menjalani masa kecil di rumah ini, dan dia tinggal di sini sampai seminggu sebelum aku bertemu dengannya." Gumpalan air mata yang sudah tak asing itu mencekat tenggorokan Lisa dan ia menyelesaikan kalimatnya dengan suara bergetar, "Aku ingin mengenal dia, mempelajari segala sesuatu tentang dia, dan itu bisa ku lakukan di sini. Itulah salah satu alasan mengapa aku setuju untuk ikut bersamamu."
Hati sang nenek dilingkupi rasa sayang, ia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Lisa yang pucat, tapi kemudian ia mengendalikan diri dan buru-buru berkata, "Aku akan memanggil pelayan untuk menemuimu."
Seorang pelayan paruh baya yang lincah, muncul beberapa saat kemudian dan membawa Lisa ke ruangan yang disebutnya "Master room", sebuah ruangan yang sangat besar di lantai dua, yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca patri dari lantai sampai ke langit-langit dan menghadap ke taman.
Begitu Lisa melangkah masuk ke ruangan ini, ia samar-samar mencium aroma yang tak asing, parfum Mingyu yang beraroma rempah, aroma yang sama dengan yang biasa tercium di rahang dan dagu pria itu bila Lisa tertidur dipelukannya pada malam hari.
Ia menoleh dan membiarkan matanya menikmati tiap jengkal kamar itu, dari gipsum berukiran rumit di langit-lagit sampai ke permadani Persia yang indah berwarna biru gelap dan kuning keemasan di bawah kakinya. Dua perapian yang sangat besar dari pualam berwarna putih gading berada di sebrang ruangan itu, lubang perapainnya begitu besar sehingga ia bisa dengan mudah berdiri di dalamnya. Sebuah tempat tidur lebar dengan penutup tempat tidur dari kain satin biru gelap nampak mewah di atas panggung rendah yang berada di sebelah kiri Lisa, di bawah kanopi biru yang digantung di langit-langit yang tinggi. Di sebelah kanan Lisa, sepasang sofa sutra berwarna keemasan diletakkan berhadapan di depan perapian.
"Saya ingin melihat-lihat," jelasnya kepada pelayan itu, suaranya tak lebih dari bisikan, seakan-akan ia berada di suatu ruangan yang suci dan keramat, dan ia memang merasa seperti itu. Ia berjalan ke meja rias dari kayu rosewood, lalu dengan penuh kerinduan menyentuh sikat rambut Mingyu yang berpunggung marmer, sisir itu masih tergeletak seakan-akan menunggu tangan Mingyu untuk memegangnya, lalu Lisa berdiri berjinjit, berusaha melihat bayangannya di cermin di atas meja. Cermin Mingyu. Cermin itu digantung sesuai tinggi tubuh pemiliknya, dan bahkan meskipun sudah berjinjit Lisa hanya dapat melihat setengah dari kepalanya. Betapa tingginya pria itu, pikirnya sambil tersenyum simpul.
Ada tiga ruangan lagi yang menyatu dengan kamar tidur itu, ruang pakaian dan kamar kerja yang berisi sofa kulit yang lembut dan dinding penuh deretan buku, serta sebuah ruangan lain yang membuat Lisa terkesiap. Di hadapannya terdapat ruangan yang terbentuk setengah lingkaran, dinding dan lantaianya terbuat dari marmer hitam dengan urat-urat berwarna emas, dan di tengah ruangan terdapat lubang dari pualam.
"Apa ini?" tanya Lisa
"Kamar mandi, Your Grace," jawab sang pelayan sambil kembali membungkuk.
__ADS_1
"Kamar mandi?" ulang Lisa, menatap keheranan ke keran-keran berwarna emas dan tiang-tiang anggun dari pualam yang menjulang dari tengah bak mandi raksasa itu sampai ke langit-langit bundar beratap kaca.
"Master Mingyu menyukai modernisasi, Your Grace," pelayan itu menjelaskan dan Lisa menoleh ketika mendengar nada bangga dan sayang dalam suara pelayan tua itu.
"Aku lebih suka dipanggil Miss Lisa saja," ujarnya sambil tersenyum ramah. Pria itu tampak begitu terkejut hingga Lisa meralat, "Lady Lisa kalau begitu. Apakah kau mengenal suamiku dengan baik?"
"Lebih baik daripada pelayan mana pun, Kecuali Mr. Yoon, dia kepala pengurus kuda." Merasa dia mendapat perhatian Lady Lisa, pelayan itu langsung menawarkan diri memberi tur keliling rumah dan halaman, yang berlangsung selama tiga jam, termasuk kunjungan ke pondok favorit Mingyu ketika kecil, serta berkenalan dengan Yoon, kepala pengurus kuda, yang menawarkan diri menceritakan segala sesuatu tentang Master Mingyu, kapan saja Lisa datang ke istal.
Siang hari mendekati sore, tur pelayan yang ramah itu berakhir dengan membawa Lisa ke dua tempat, yang salah satunya segera menjadi tempat favoritnya. Tempat itu adalah sebuah galeri panjang dengan dua baris potret dari sebelas kepala keluarga Kim yang terdahulu dalam bingkai emas yang mirip satu sama lain, digantung di sepanjang dindingnya yang panjang, bersama potret istri dan anak-anak mereka.
"Suamiku yang paling tampan di antara mereka semua," cetus Lisa setelah memperhatikan setiap potret.
"Saya dan Mr. ramsey mengatakan hal yang sama."
"Tapi potretnya tidak ada di antara para kepala keluarga yang lainnya."
"Saya pernah mendengar dia mengatakan kepada Master Yugyeom bahwa dia punya hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan daripada berdiri diam dan terlihat berwibawa dan penting." Pria itu mengangguk ke arah dua potret yang berada di baris atas. "Itu dia, di sana, sebagai bocah cilik, dan itu waktu usianya enam belas tahun. Di fotonya yang terakhir itu ayahnya berkeras agar ia berdiri, dan Master Mingyu luar biasa marah karenanya."
Seulas senyum tersungging di wajah Lisa yang pucat ketika ia menatap bocah berambut cepak yang berdiri dengan khidmat di samping wanita pirang yang cantik dan bermata kelabu sayu. Di sisi wanita itu, di depan kursi beludru merah yang mirip singgasana bersiri seorang pria tampan namun tanpa senyum, bahunya bidang dan ekspresinya adalah ekspresi terangkuh yang pernah Lisa lihat.
Tempat terakhir yang ditunjukkan pelayan itu adalah sebuah ruangan yang agak kecil di lantai tiga yang udaranya seperti ruangan yang sudah lama tak pernah dibuka. Tiga meja kecil menghadap ke sebuah meja yang lebih besar berada di bagian depan ruangan, dan sebuah bola dunia tua berdiri di atas penyangga terbuat dari kuningan.
"Ini ruang kelas," Kata pelayan tua itu. "Master Mingyu kecil menghabiskan lebih banyak waktu untuk keluar dari sini daripada berada di dalam. Lalu Master Mingyu dipukul dengan tongkat oleh gurunya lebih dari satu kali karena lupa belajar. Meskipun demikian, dia mempelajari semua yang perlu ia ketahui. Otaknya sangat encer."
Mata Lisa menyapu ruangan kecil yang sepi itu, lalu tiba-tiba menghentikan langkahnya di meja di sebelah kanannya. Di permukaan meja itu terukir huruf M-K. Singkatan nama Mingyu. Ia menyentuh huruf-huruf itu dengan penuh kasih sambil memperhatikan sekeliling ruangan dengan campuran rasa senang dan gelisah. Ruangan ini sungguh berbeda dengan ruang kelas kakek Lisa yang ceria dan acak-acakan tempat ia belajar dengan penuh semangat. Sungguh tak terbayangkan bagaimana dipukul oleh guru, alih-alih mengaguminya.
__ADS_1
Ketika akhirnya berpisah dengan sang pelayan, Lisa sekali lagi berhenti di galeri untuk melihat kemiripan suaminya dengan bocah berusia enam belas tahun itu. Sambil menatap foto itu ia berbisik lirih, "Aku akan membuatmu bangga padaku, Sayang, aku berjanji."