Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 55


__ADS_3

Perkiraan Lisa salah dua-duanya, Mingyu tidak tidur dan tidak sedang menikmati malam hari. Pria itu sedang berada di ruang duduk di town house neneknya dengan kaki dijulurkan ke depan dan ekspresi datar bersama tiga temannya yang datang untuk menyambut kepulangannya. Di ruang itu juga ada Seungkwan yang sepertinya datang untuk menghiburnya dengan cerita-cerita 'lucu' mengenai petulangan Lisa.


Setelah mendengarkan cerita Seungkwan selama nyaris satu jam, Mingyu sama sekali tidak jengkel, atau sebal, atau terganggu. Ia pucat. Sewaktu dirinya terbaring nyalang di malam hari, mengkhawatirkan istri tersayangnya akan gila karena sedih, wanita itu ternyata menjadi sumber perbincangan di kota London. Sementara ia mendekam di penjara, disiksa, dan hampir mati, Lisa menjalin afair terbuka dengan nyaris selusin pria. Sementara  ia terbaring sambil dirantai, Lisa ternyata memenangkan perlombaan adu balap kuda di Gresham Green, dan juga bertanding pedang dengan pria lain sambil memakai celana pria yang ketat yang kata orang sangat ampuh mengalihkan perhatian lawan-lawannya sehingga pemain pedang yang paling handal sekalipun kalah. Wanita itu berpetualang di pasar malam dan ikut serta melakukan eksplorasi dengan seorang pendeta di Southeby, yang Mingyu berani bersumpah, pendeta itu telah berusia setidaknya tujuh puluh tahun. Dan itu baru setengahnya!


Jika Seungkwan dapat dipercaya, Yugyeom sepertinya mendapat enam lusin lamaran dari para pria yang hendak mempersunting Lisa, dan para pengagumnya yang ditolak mula-mula tidak terima, lalu marah-marah, dan akhirnya salah satu dari mereka mencoba menculiknya. Lalu seorang pria muda telah menerbitkan sebuah puisi yang memuji kecantikan Lisa dan diberi judul 'Ode untuk Lisa'. Sedangkan seorang pembudi daya mawar menamakan varietas mawar barunya 'Glorious Lisa'.


Sambil duduk bersandar di kursi, Mingyu menyilangkan kakinya yang panjang di mata kaki, mengangkat gelas anggur ke bibirnya, dan mendengarkan cerita Seungkwan, wajahnya dengan hati-hati hanya menunjukkan sedikit rasa geli terhadap tingkah laku istrinya.


Ia tahu, itu adalah reaksi yang sudah diperkirakan ketiga temannya, karena di antara para bangsawan mereka sama-sama paham bahwa para suami dan istri bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan, selama mereka melakukannya tidak dengan terang-terangan. Di lain pihak, di antara para pria yang bersahabat karib, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang suami harus diberi tahu oleh sahabat karibnya, dengan cara sehalus mungkin, apabila kelakuan istrinya nyaris melewati batas kewajaran dan bisa mempermalukannya. Mingyu curiga, itulah sebabnya mengapa teman-temannya tidak berusaha membungkam Seungkwan malam ini.


Kalau Seungkwan tidak datang bersamaan dengan teman-temannya Mingyu, pria itu tidak akan diizinkan masuk ke rumah. Bagi Mingyu, pria itu hanyalah kenalan jauh dan penyebar gosip yang menyebalkan, tapi ketiga pria lain di ruangan itu adalah teman-teman Mingyu. Dan meskipun mereka beberapa kali memaksa Seungkwan membicarakan hal lain selain kelakuan Lisa namun dari ekspresi datar mereka tampak jelas bahwa apa yang dikatakan Seungkwan sebagian besar benar.


Mingyu melirik sambil menimbang-nimbang ke arah Seungkwan, bertanya dalam hati mengapa pria itu mau repot-repot kemari untuk cepat-cepat menceritakan semua ini padanya. Semua masyarakat golongan atas tahu Mingyu tidak pernah menganggap wanita lebih dari sekedar penghangat ranjang yang menyenangkan. Dia pria terakhir di dunia yang menurut mereka bisa kehilangan akal sehat karena wanita cantik dan tubuh molek. Mereka akan terkejut kalau tahu dia telah kehilangan akal sehatnya karena wanita mungil berambut gelap yang sangat menarik itu dan peristiwanya terjadi jauh sebelum wanita itu menunjukkan tanda-tanda akan menjadi wanita dengan badan indah yang mengagumkan seperti hari ini.


Keempat pria di ruang duduk itu juga akan terpana bila tahu Mingyu sebenarnya mendengarkan ocehan Seungkwan dengan serius dan darahnya sedang mendidih. Ia sangat marah kepada Yugyeom karena membiarkan Lisa keluar batas dan marah kepada neneknya karena tidak mengendalikan wanita itu. Tampaknya, kedudukan Lisa sebagai Nyonya Kim muda memungkinkan wanita itu melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa ada hukuman. Mingyu tak dapat merubah masa lalu, namun, ia dapat mengubah masa depan wanita itu dengan drastis. Tapi, bukan kelakuan Lisa yang membuatnya amat marah, dan bukan pula afairnya.

__ADS_1


Meskipun tak masuk akal, hal yang membuatnya sangat marah adalah kenyataan mereka memanggilnya 'Lisa'.


Tampaknya semua orang memanggilnya Lisa. Semua populasi bangsawan sepertinya sangat akrab dengan istrinya, terutama populasi pria.


Mingyu melirik pelayan yang berdiri di ambang pintu dan dengan halus menggeleng, memberi tanda bahwa dia tak perlu mengisi ulang gelas-gelas tamunya. Ia menunggu sampai Seungkwan berhenti sebentar untuk menarik napas, lalu sambil berbohong berkata tegas, "Aku tahu kau akan memaafkan kami, Seungkwan. Tapi aku dan para gentleman ini ingin mendiskusikan masalah bisnis."


Seungkwan mengangguk ramah lalu berdiri untuk pergi, tapi sebelum berangkat pria itu melemparkan satu tusukan terakhir, "Aku senang kau kembali berada di antara kami, Hawk. Meskipun demikian, kasihan Yugyeom. Dia tergila-gila pada Lisa, sebagaimana hampir seluruh pria lajang di London lainnya..."


"Termasuk kau?" Mingyu menduga-duga dengan dingin.


Ketika Seungkwan sudah pergi, kedua teman Mingyu juga berdiri hendak pulang, tampak merasa bersalah dan jengah. Lord Jeon, melihat sekeliling mencari sesuatu untuk dikatakan yang dapat mencairkan ketegangan, akhirnya dia memilih topik pacuan kuda, acara balapan kuda yang akan berlangsung selama dua hari, pada saat itu biasanya semua bangsawan akan berpartisipasi atau hadir.


"Apakah kau akan menunggangi kuda jantanmu yang hitam itu di pacuan kuda pada bulan september, Hawk?" tanya temannya yang memiliki bola mata berwarna lebih coklat.


"Aku akan menunggang salah satu kudaku," jawab Mingyu, pada saat yang sama berusaha mengendalikan amarahnya terhadap Seungkwan sekaligus mengingat betapa menyenangkan ikut berlomba dalam salah satu pacuan kuda paling penting dalam tahun ini.

__ADS_1


"Aku tahu kau akan menungganginya. Aku mempertaruhkan uangku padamu, kalau kau memutuskan akan menunggang kuda hitam itu."


"Apakah kau akan ikut?" tanya Mingyu tak tertarik.


"Tentu saja. Tapi kalau kau menunggang kuda hitam itu, aku akan bertaruh untukmu, bukan untukku. Kuda itu setan tercepat yang pernah ku lihat."


Alis Mingyu berkerut bingung. Satan, kuda hitam muda yang paling berharga di peternakannya, adalah kuda berusia tiga tahun yang susah diatur dan tak bisa diduga ketika Mingyu tertarik padanya dua tahun lalu. "Kau pernah melihat kuda hitam itu berlari?"


"Tentu! Melihat istrimu memacu dia dalam..." kalimatnya tiba-tiba terputus karena salah tingkah dan tahu ketika melihat rahang Mingyu mengeras tak senang.


"Dia... eh... mengendalikan kuda itu dengan cukup baik dan tidak terlalu menekannya, Mingyu," Vernon menjelaskannya dengan putus asa ketika melihat reaksi Mingyu.


"Aku yakin istrimu itu hanya penuh semangat, Hawk." imbuh Vernon dengan nada membujuk yang tidak meyakinkan sembari menepuk bahu Mingyu.


Lord Chwe segera mengangguk. "Penuh semangat, itu saja. Ketatkan tali kekangnya sedikit, maka dia akan jinak seperti domba."

__ADS_1


"Jinak seperti domba!" dukung Vernon lekas-lekas.


__ADS_2