
Sang kapten dan mualim satu berdiri tegak dalam sikap militer dengan seragam lengkap di geladak kosong kapal yang dilarang berlayar, mengamati sebuah kereta hitam datang mendekat lalu berhenti tepat di depan jembatan mereka.
"Itu dia?" tanya mualim satu tak percaya, menatap sosok langsing bertubuh tegak yang sedang berjalan menyebrangi jembatan. Tangan wanita itu memegang tangan Sir Choi, salah satu orang paling berpengaruh di angkatan laut. "Kau mau mengatakan bahwa wanita tua berambut putih itu cukup punya pengaruh untuk membuat perdana menteri menahan kapal dan mengkarantina kita? Hanya supaya dia bisa datang ke sini dan mendengar penjelasan kita?"
Lisa terlonjak mendengar suara ketukan di pintu kabinnya, jantungnya berdebar keras kereta takut dan penuh harap, seperti yang selalu terjadi selama lima hari ini setiap kali dia mendengar suara di luar. Tapi bukan Kim Mingyu yang berdiri di depan pintunya, melainkan nenek Mingyu. Mereka belum pernah bertemu lagi sejak hari pernikahan itu. "Ada kabar?" bisik Lisa putus asa, terlalu cemas sehingga tidak menyapa wanita itu dengan semestinya.
"Kapten dan mualim satu tidak tahu apa-apa," jawab sang nenek singkat. "Ikut aku."
"Tidak!" Nyaris berteriak histeris, yang sudah ditahannya selama dua hari dua malam ini, Lisa menggelengkan kepala kuat-kuat lalu mundur. "Dia pasti ingin aku tetap di sini..."
Sang nenek menegakkan tubuh lalu menatap wanita pucat dan ketakutan itu dari atas hidung bangsawannya. "Cucuku," ujarnya dengan suara yang teramat dingin, "akan mengharapkan kau bersikap penuh harga diri dan bisa mengendalikan diri sehingga pantas disebut sebagai istrinya."
Mendengar itu, Lisa merasa wajahnya seakan-akan ditampar, dan sebagai akibatnya, ia kembali berpikir logis. Suaminya pasti berharap ia bersikap seperti itu. Berusaha mengendalikan rasa paniknya, Lisa menggendong anak anjingnya, menegakkan tubuh, lalu melangkah kaku di sebelah sang nenek dan Sir Choi ke kereta, namun ketika kusir kereta memegang sikunya untuk membantunya naik, Lisa menyentakkan tangannya, matanya untuk terakhir kali melihat dengan panik deretan kedai minum dan gudang di dermaga yang sibuk itu. Suaminya berada di suatu tempat di sini. Sakit atau terluka. Pasti seperti itu... Benak Lisa tidak mau memikirkan kemmungkinan lain selain itu.
Beberapa jam kemudian, laju kereta melambat dan dengan gagah melintasi jalan-jalan kota London. Lisa mengalihkan tatapannya yang kosong dari jendela ke sang nenek, yang duduk di depannya. Wanita itu duduk dengan punggung tegak, ekspresi wajahnya begitu dingin dan datar sehingga Lisa bertanya-tanya apakah wanita itu tak merasakan apa pun. Di dalam kereta yang hening bagai kuburan itu, suara berbisik Lisa terdengar bagaikan teriakan keras. "Kita mau kemana?"
Sengaja tidak segera menjawab untuk menunjukkan ketidaksukaannya karena harus menjelaskan tujuan mereka kepada Lisa, sang nenek dengan dingin berkata, "Ke town house ku. Will pasti sudah tiba di sana bersama sepasukan kecil pelayan yang akan menutup tirai-tirai dan memberitahu para tamu bahwa kita di Rosemeade. Berita tentang menghilangnya cucuku sudah terpampang di semua surat kabar, dan aku tidak ingin diganggu para tamu dan orang-orang yang ingin tahu.
Nada suara tegas sang nenek sepertinya menimbulkan simpati pada sang menteri, yaitu Sir Choi, karena pria itu untuk pertama kalinya mulai berbicara dan berusaha menenangkan wanita itu, "Kami akan memindahkan langit dan bumi untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap Kim Mingyu," ujarnya lembut. "Kementrian punya ratusan orang yang bisa dikirim ke dermaga, melakukan penelitian resmi, dan penasihat hukum keluarga Kim sudah memperkerjakan ratusan detektif yang diindtruksikan untuk menggunakan segala cara demi mendapatkan informasi. Sampai saat ini belum ada orang yang meminta tebusan, jadi kami merasa ini bukan kasus penculikan."
Lisa menahan diri agar tidak menangis karena hal itu pasti tidak disukai oleh sang nenek mertua, ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang sangat ditakutinya, "Seberapa besar kemungkinan dia akan ditemukan?" Suaranya menghilang. Ia tak dapat mengucapkan kata 'hidup'.
"Saya..." Pria itu ragu-ragu menjawab. "Saya tidak tahu."
__ADS_1
Dari nada suara pria itu dapat diketahui kemungkinannya tidak bagus. Air mata Lisa mengembang dan buru-buru disembunyikannya dengan membenamkan pipinya di bulu Henry yang lembut sambil menelan gumpalan kesedihan yang mencekat ternggorokannya.
***
Selama empat hari yang panjang, Lisa tinggal dirumah sang nenek mertua, yang ngotot memperlakukannya seolah-olah ia tidak ada, tidak berbicara kepadanya dan tidak juga melihatnya. Pada hari ke lima, Lisa sedang berdiri di depan jendela kamar tidurnya ketika melihat Sir Choi keluar dari rumah. Terlalu cemas untuk menunggu dipanggil, ia berlari menuruni tangga menuju ruang duduk dan langsung bertanya kepada sang nenek.
"Aku melihat sang menteri baru saja pergi. Apa yang dia katakan?"
Sang nenek mendelik untuk menyatakan ketidaksenangannya melihat Lisa masuk tanpa permisi seperti itu. "Kunjungan Sir Choi sama sekali bukan urusanmu," jawabnya dingin lalu membuang muka dengan kasar, isyarat agar Lisa segera keluar dari tempat itu.
Kata-kata sang nenek mematahkan kendali diri yang selama ini berusaha dijaga Lisa. Sambil mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, ia berkata dengan suara gemetar karena frustasi dan marah. "Meskipun kau merasa seperti itu, aku bukan anak bodoh, Ma'am, dan suamiku adalah orang yang paling berharga bagiku di dunia ini. Kau tidak bisa, tidak boleh, menyembunyikan informasi dariku!"
Ketika sang nenek dengan keras kepala hanya terus menatapnya sambil berdiam diri, Lisa mengubah taktiknya menjadi memohon. "Akan jauh lebih baik jika kau memberitahuku hal yang sebenarnya daripada menyembunyikannya dariku. Aku tidak sanggup untuk tidak tahu.. Ku mohon jangan lakukan ini padaku. Aku tidak akan mempermalukanmu dengan menjadi histeris... Sewaktu ayahku meninggal dan ibuku tidak mampu meneruskan hidupnya, aku mengambil alih urusan rumah tangga saat usiaku masih empat belas tahun. Dan ketika kakekku meninggal, aku...."
"Tak ada kabar!" bentak Nyonya Kim, nenek mertua Lisa. "Bila ada kabar, akan ku pastikan kau mendengarnya."
Mata sang nenek menatapnya lurus-lurus dan berkilat penuh kebencian. "Kau cukup pandai bersandiwara. Meskipun begitu, kau bisa berhenti mencemaskan kesejahteraanmu. Cucuku sudah membuat perjanjian dengan ibumu dan memberinya cukup banyak uang untuk menikmati kehidupan mewah seumur hidup. Dia punya banyak uang untuk dibagi denganmu."
Lisa ternganga ketika menyadari sang nenek mengira ia mengkhawatirkan suaminya demi masa depan dirinya sendiri, dan bukan karena suaminya saat ini mungkin sudah terbaring di dasar laut.
Tak mampu berkata-kata saking marahnya, Lisa mendengar Nyonya Kim menyelesaikan kalimatnya dengan penuh kebencian, "Pergilah dari hadapanku! Aku tidak sudi melihatmu berpura-pura mencemaskan keselamatan cucuku, tidak satu menit pun. Kau sama sekali tidak mengenalnya, dia bukan apa-apa bagimu."
"Berani-beraninya kau!" Lisa berteriak. "Berani-beraninya kau duduk di situ dan mengatakan semua itu kepadaku. Kau... Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaanku kepadanya, karena kau sendiri tidak punya perasaan! Meskipun kau punya, kau terlalu tua untuk mengingat bagaimana rasanya cinta!"
__ADS_1
Sang nenek perlahan-lahan bangkit, sepertinya ingin mengintimidasi Lisa, tapi Lisa sudah terlalu emosional, terlalu marah, untuk menghentikan semburan kata-kata yang tidak dipikirkan masak-masak itu.
"Kau tak kan bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat melihat dia tersenyum atau tertawa bersamaku. Kau tak kan tahu bagaimana rasanya ketika melihat ke dalam matanya...." Isak tangis mulai naik ke tenggorokan Lisa dan air mata mulai mengalir turun ke pipinya yang pucat. "Aku tidak menginginkan uangnya.."
"Aku ingin melihatnya tersenyum." Tanpa disangka-sangka, lutut Lisa tertekuk dan ia jatuh ke lantai, di depan kaki sang nenek, menangis. "Aku hanya ingin melihat matanya yang indah." Lisa menangis terisak-isak.
Sang nenek ragu-ragu sejenak, lalu membalikkan badan dan keluar dari ruangan, meninggalkan Lisa mengeluarkan semua kesedihan dan kesengsaraannya seorang diri. Sepuluh menit kemudian, Will masuk ke ruangan membawa peralatan minum teh dari perak.
"Her Grace berkata tubuh anda lemah karena kelaparan dan ingin sedikit cemilan," ujarnya.
Masih duduk di lantai dengan tangan mencengkram sofa dan wajah yang dibenamkan di sana, Lisa perlahan-lahan mengangkat kepala dan dengan salah tingkah menyapu air matanya.
"Ku mohon, tolong bawa nampan itu. Aku tidak mampu melihat makanan."
Mematuhi perintah sang nyonya dan tidak menghiraukan permintaan Lisa, Will meletakkana nampan yang tak diinginkan itu di meja, lalu ia menegakkan tubuh, dan untuk pertama kalinya sejak Lisa bertemu dengannya, ia tampak bingung dan gugup.
"Saya bukannya ingin bergunjing," ujarnya kaku setelah diam beberapa saat, "tapi saya diberitahu oleh penata rambut Nyonya Kim, bahwa beliau tak makan apa pun selama lima hari. Saya sudah membawa nampan makanan untuk beliau di ruang duduk kecil. Mungkin jika Anda mau mengajaknya makan bersama, anda bisa membujuknya untuk makan."
"Wanita itu tidak butuh makan," Lisa menelan ludah, tak punya tenaga untuk berdiri. "Dia tidak seperti manusia biasa."
Pembawaan dingin Will langsung menjadi benar-benar dingin mendengar kritik tak langsung terhadap majikannya. "Saya sudah bekerja untuk keluarga Kim selama empat puluh tahun. Saya sangat prihatin terhadapnya dan itu membuat saya mengira anda juga merasa prihatin terhadapnya, berhubung anda sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Saya minta maaf kalau saya telah salah menilai."
Pria itu membungkuk lalu dengan kaku keluar dari ruangan, membiarkan Lisa merasa bersalah dan bingung. Will sepertinya sangat setia kepada Nyonya Kim, padahal Lisa tahu persis bagaimana sikap sang nenek kepada para pelayannya. Waktu di Rosemeade sang nenek dua kali memperingatkannya dengan tegas karena mengobrol dengan pelayan, padahal yang Lisa lakukan hanyalah bertanya kepada Will apakah pria itu telah menikah dan bertanya kepada seorang pelayan wanita apakah dia punya anak.
__ADS_1
Dari sudut pandang angkuh Nyonya Kim, berbicara dengan pelayan sama artinya mengobrol dengan mereka. Dan dengan demikian, berarti memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat, dan itu, Lisa mengingat pernyataan keras sang nenek, sebagai tidak bisa diterima. Meskipun demikian, Will sepertinya setia kepada wanita itu. Artinya ada hal-hal lain dalam diri wanita tua itu selain sikap sombong dan congkak yang tidak aku ketahui, Lisa menyimpulkan.
Kemungkinan itu mengarah ke kemungkinan lain. Lisa melirik nampan teh dengan bingung, bertanya-tanya apakah sang nenek bermaksud mengajaknya 'berdamai'. Lima menit yang lalu, sang nenek sama sekali tidak berminat mengetahui Lisa sudah makan atau belum. Di lain pihak, nampan itu mungkin saja dimaksudkan sebagai peringatan keras kepada Lisa agar mengendalikan diri.