
Di luar, kedua pria, teman Mingyu yang hendak pulang dengan alasan lelah, adalah pria yang juga peternak kuda hebat dan petaruh yang berpengalaman, berhenti sejenak di tangga, saling melemparkan tatapan tak percaya. "Jinak seperti domba?" Joshua mengulangi kata-kata yang diucapkan temannya, "Kalau Hawk mengetatkan tali kekangnya?"
Vernon Chwee menyeringai. "Tentu, tapi pertama-tama tangannya akan kena gigit dulu, dan untuk melakukannya dia harus mengikat wanita itu. Wanita itu akan melawan jika Mingyu berusaha menjinakkannya, camkan kata-kataku. Wanita itu punya semangat yang lebih besar dibandingkan dengan wanita biasa, dan ku rasa juga harga diri yang tinggi."
Joshua memejamkan mata tak setuju namun geli. "Kau mengabaikan pengaruh Mingyu yang luar biasa terhadap wanita. Dalam beberapa minggu, wanita itu akan tergila-gila padanya. Pada hari pacuan kuda diselenggarakan, dia akan mengikat pintanya di lengan baju Mingyu dan menyemangati pria itu. Dua orang gentleman, ku lihat sudah meletakkan taruhan untuk itu. Perbandingan yang tertera di dalam buku taruhan di White sudah empat banding satu untuk Mingyu, dia akan memakai pita yang disematkan Lisa."
"Kau salah, temanku. Dia akan mempersulit Mingyu."
"Tidak akan. Wanita itu mabuk kepayang kepada Mingyu waktu dia datang ke kota ini dulu. Apakah kau sudah lupa betapa dia mempermalukan dirinya sendiri demi Mingyu beberapa bulan yang lalu? Sejak Mingyu berjalan masuk ke gereja pagi ini, hanya itu yang dibicarakan semua orang."
"Aku tahu, dan aku bertaruh wanita itu juga tidak akan lupa," ujar Vernon terus terang. "Aku dekat dengan istri Mingyu dan wanita itu punya harga diri, harga diri akan mencegahnya untuk dengan mudah takluk pada Mingyu, camkan kata-kataku."
Sambil mengangkat alis dengan sikap menantang, Joshua berkata, "Aku akan bertaruh 1,000 poundsterling bahwa dia akan menyematkan pitanya di lengan Mingyu pada hari pacuan kuda."
"Baik," Vernon setuju tanpa ragu, lalu mereka langsung menuju White untuk bersantai dan berjudi di klub pria yang eksklusif itu, tapi bukan untuk mencatat taruhan ini. Taruhan ini akan tetap dirahasiakan untuk menghormati sahabat mereka.
Ketika Vernon dan Joshua sudah pergi, Mingyu berjalan ke meja samping dan mengisi gelasnya. Amarahnya yang dengan hati-hati ia tutupi di depan teman-temannya sekarang tampak jelas pada wajahnya yang tegang dan rahangnya yang mengeras ketika ia melirik sahabat karibnya, Jeon Wonwoo.
"Aku benar-benar berharap," katanya lamat-lamat sambil menyindir, "kau tetap berada di sini bukan karena kau juga tahu beberapa tindakan tercela Lisa, yang mungkin ingin kau sampaikan padaku secara pribadi?"
Jeon Wonwoo tertawa terbahak-bahak. "Sama sekali tidak. Ketika Seungkwan membicarakan perlombaan istrimu di Hyde Park dan pertandingan anggarnya dengan seorang gentleman, dia dengan jelas menyebutkan nama Jisoo. Aku yakin dia ingin memberitahu bahwa Jisoo menyemangati istrimu pada dua kemenangan dalam pertandingan itu."
Mingyu meneguk minumannya. "Jadi?"
"Jisoo," Wonwoo memberitahu, "adalah istriku."
__ADS_1
Gelas di tangan Mingyu berhenti di tengah jalan sebelum sampai ke mulut. "Apa?"
"Aku sudah menikah."
"Yang benar?" tanya Mingyu tak acuh. "Kenapa?"
Jeon Wonwoo menyeringai. "Aku tak dapat menahan diri."
"Kalau begitu, izinkan aku untuk menyampaikan ucapan selamat, meskipun sudah terlambat," sindir Mingyu. Ia mengangkat gelasnya pura-pura bersulang, lalu ia memperbaiki sikapnya sebagaimana hasil didikan baik selama bertahun-tahun.
"Aku minta maaf atas kekasaranku, Wonwoo. Pada saat ini, pernikahan tidak berada di urutan teratas untuk dirayakan. Apakah Jisoo itu seseorang yang ku kenal? Apakah aku pernah bertemu dengannya?"
"Aku amat sangat berharap belum pernah!" tukas Wonwoo sambil tertawa keras. "Dia memulai debutnya tepat ketika kau meninggalkan kota, dan itu ada bagusnya. Kau pasti akan menganggap dia menarik, dan aku terpaksa menantangmu berkelahi sekarang karena kau mungkin juga akan mengincarnya."
"Aku bahkan tak pernah bisa dibandingkan denganmu," gurau Wonwoo, berusaha keras meringankan suasana hati temannya. "Kalau aku melirik seorang nona, ibunya hanya akan menambahkan orang yang mendampinginya. Tapi bila kau yang melakukannya, setiap ibu langsung mati ketakutan sambil berharap setinggi langit. Tentu saja aku tak punya gelar Kim yang bisa ku banggakan, dan itu alasan mengapa mereka begitu cemas sekaligus bersemangat."
"Seingatku aku tak pernah bermain-main dengan gadis baik-baik yang masih polos," kata Mingyu seraya duduk dan menatap gelasnya.
"Kau memang tidak pernah. Tapi jika istrimu dan istriku punya cukup banyak kesamaan untuk menjadi sahabat, aku bisa berasumsi mereka cukup mirip. Dan itu artinya hidupmu akan tersiksa."
"Kenapa?" tanya Mingyu dengan sopan.
"Karena dari hari ke hari kau tak kan tahu apa yang akan dia kerjakan. Dan ketika kau mengetahuinya, kau akan mati ketakutan. Siang ini Jisoo memberitahuku bahwa dia mengandung, dan aku belum apa-apa sudah ketakutan bayi itu akan tertukar olehnya bila lahir nanti."
"Memangnya dia pelupa?" tanya Mingyu, berusaha tampak tertarik mendengar cerita tentang istri baru temannya, namun tak berhasil.
__ADS_1
Alis Wonwoo terangkat lalu ia mengangkat bahu. "Pastinya begitu. Kalau tidak bagaimana mungkin dia lupa memberitahuku waktu aku pulang dari Skotlandia siang tadi, bahwa dia dan istri sahabatku, yang belum pernah ku lihat, sama-sama terlibat beberapa masalah?"
Menyadari usahanya untuk meringankan masalah Mingyu tidak begitu berhasil, Wonwoo ragu-ragu lalu dengan berat hati berkata, "Apa yang akan kau lakukan terhadap istrimu?"
"Saat ini ada beberapa pilihan yang semuanya cukup menarik," kata Mingyu ketus."Aku bisa memuntir lehernya, menempatkannya di bawah penjagaan, atau mengirimnya ke Devon dan membiarkannya di sana, jauh dari mata publik."
"Ya ampun, Mingyu, kau tidak bisa begitu. Setelah kejadian di gereja hari ini, orang-orang akan berpikir..."
"Aku tak peduli apa yang dipikirkan orang-orang," sela Mingyu, tapi sebenarnya itu tidak benar dan kedua pria itu tahu. Mingyu marah membayangkan dirinya menjadi bahan tertawaan orang-orang karena tidak bisa mengendalikan istri sendiri.
"Mungkin dia hanya penuh semangat," Jeon Wonwoo mencoba-coba. "Jisoo mengenalnya dengan baik dan suka padanya." Pria itu hendak pulang dan berkata, "kalau kau berminat, bergabunglah dengan kami di White besok malam. Kami akan berkumpul di sana untuk bersulang karena aku akan menjadi ayah."
"Aku akan datang," kata Mingyu sambil memaksakan diri tersenyum.
Sewaktu Jeon Wonwoo sudah pergi, Mingyu menatap nanar ke lukisan pemandangan di atas perapian, bertanya-tanya berapa banyak kekasih Lisa yang telah membawa wanita itu ke tempat tidur. Ia melihat sosok lugu, penuh khayal itu telah hilang dari mata wanita itu ketika mereka hanya berdua di ruang duduk siang tadi. Suatu saat dulu, mata yang besar itu begitu jenaka, lembut dan polos bilamana wanita itu memandangnya. Sekarang sinar di mata itu telah memudar akibat rasa permusuhan yang dingin.
Amarah berkobar di dalam diri Mingyu bagaikan api yang liar ketika ia merenungkan alasan mengapa Lisa memperlakukannya dengan penuh permusuhan hari ini. Wanita itu menyesal ia tidak mati. Anak yang polos dan memikat hati yang dinikahinya itu sekarang marah karena ia masih hidup? Gadis memikat yang dinikahinya telah berubah menjadi wanita murahan yang dingin, cantik dan penuh perhitungan.
Selama beberapa menit ia mempertimbangkan untuk menceraikan wanita itu, namun akhirnya membuang ide tersebut. Selain menimbulkan skandal, perceraian memerlukan waktu bertahun-tahun untuk selesai, sedangkan ia ingin punya pewaris. Para pria Kim sepertinya dikutuk berumur pendek, dan meskipun Lisa sekarang tampaknya tidak lagi mempunyai martabat dan harga diri, wanita itu masih bisa mengandung anaknya, kalau perlu dalam pengasingan, untuk memastikan bahwa anak yang dikandungnya benar-benar anak Mingyu, bukan anak orang lain.
Sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi, Mingyu memejamkan mata dan menarik napas panjang berusaha mengendalikan amarahnya. Bila ia benar-benar melakukannya, Ia mau tak mau merasa dirinya telah menghakimi Lisa dan menentukan masa depan wanita itu hanya berdasarkan gosip yang beredar. Ia berutang nyawa kepada gadis polos dan cantik yang pernah dinikahinya itu. Tentu saja, ia juga harus memberi kesempatan bagi Lisa untuk membela diri.
Besok aku akan menanyai wanita itu secara terbuka mengenai apa saja yang telah ku dengar dari Seungkwan malam ini dan memberinya kesempatan untuk menyangkal semua itu, ia memutuskan. Lisa berhak membela diri, asalkan dia tidak cukup bodoh dengan berbohong kepadanya. Tapi kalau ternyata wanita itu memang oportunis licik atau wanita murahan, maka ia akan menjinakkan wanita itu dengan kejam, dan wanita itu pantas mendapatkannya.
Lisa harus tunduk pada kemauannya, atau ia akan memaksa wanita itu untuk tunduk, tapi yang mana pun itu Lisa harus belajar bersikap layaknya istri yang baik dan berbakti pada suami, Mingyu memutuskan dengan dingin.
__ADS_1