Sesuatu Yang Indah

Sesuatu Yang Indah
Bab - 41


__ADS_3

Menjelang berlangsungnya pesta dansa yang diadakan oleh seorang bangsawan, selama seminggu ketiga sejak debut pertamanya, Lisa merasa begitu merana dan tegang, sehingga hatinya kelu. Ia merasa tidak akan pernah lagi bisa tertawa gembira atau menangis sedih. Pada malam yang menentukan itu, ia melakukan keduanya.


Atas permintaan sang nenek, Lisa dengan sopan namun enggan bersedia berdansa dengan seorang bangsawan yang cukup tua dan bertubuh gempal. Pria itu memiliki suara yang halus, berpakaian seperti merak, dan sambil berdansa dengan congkak memberi tahu Lisa bahwa dirinya terkenal sebagai orang yang sangat cerdas. Malam ini pria itu memakai celana selutut berbahan satin oranye yang ketat di bagian perut, rompi astin ungu, dan mantel brokat panjang berwarna kuning. Kombinasi warna yang membuat Lisa teringat akan setumpuk buah-buahan busuk setiap kali ia melihat ke arah pria itu.


Alih-alih mengembalikan Lisa ke arah sang nenek ketika mereka telah selesai berdansa, Pria itu yang Lisa dengar membutuhkan istri kaya raya untuk menebus kekalahannya dalam jumlah besar dalam permainan judi, dengan keras menarik Lisa ke arah yang berlawanan.


"Anda harus menemani saya ke relung cantik di sebelah sana, Your Grace. Nenek anda semalam mengatakan pada saya bahwa anda tertarik pada filsafat, itulah sebabnya saya ingin menghibur anda sedikit dengan membicarakan seorang filsuf terbesar di masa lalu, Horace."


Lisa serta-merta menyadari bahwa sang nenek tentulah sangat cemas melihat ia tak kunjung memiliki pasangan sehingga beliau akhirnya menyombongkan kecerdasan Lisa pada pria paruh baya ini.


"Tolong anda jangan cemas," desak pria itu salah mengira penyebab kecemasan Lisa. "Saya tidak akan lupa bahwa anda wanita, sehingga, tidak mampu mengerti kompleksitas dan kesulitan cara berpikir logis. Yakinlah saya akan membuat pembicaraan ini amat sangat simple."


Lisa sudah terlalu kesal untuk merasa tersinggung mendengar penghinaan pria itu terhadap kecerdasan wanita dan terlalu tak berdaya untuk merasakan apa pun selain kesal karena diperlakukan seperti itu oleh pria yang tak berakal sehat yang memakai pakaian seperti senampan buah-buahan.

__ADS_1


Sambil dengan sopan menunjukkan ekspresi tertarik, ia membiarkan pria itu menggiringnya ke pojok ruangan yang dipisahkan dari ruang dansa utama oleh tirai beludru merah yang ditarik ke belakang dan diikat dengan tali beludru berwarna sama. Begitu berada di ruangan itu, Lisa melihat ternyata di sana ada orang lain, seorang wanita berpakaian indah, berwajah aristokrat, dan rambut lebat bagaikan benang-benang emas. Wanita itu berdiri di depan pintu Prancis yang terbuka dengan punggung sedikit menghadap ke arah mereka, sepertinya berusaha menikmati kesendirian dan udara segar.


Wanita muda itu menoleh sedikit ketika Lisa dan pria itu masuk, dan Lisa langsung mengenali wanita itu, Lady Jeon. Wanita jelita itu baru saja tiba di London awal bulan ini dari pedesaan, dimana ia mengunjungi adiknya. Lisa hadir di pestanya, dimana ia memulai debutnya. Lisa ingat, ketika Lady Jeon muncul pertama kali dalam pesta itu, dan dari jauh ia memperhatikan bagaimana para tamu yang terhormat bergegas pergi ke sisi Lady Jeon, menyambut kedatangannya sambil tersenyum dan memeluk. Wanita itu jelas sudah masuk bagian dari mereka, pikir Lisa.


Menyadari dirinya dan pria tambun itu mengganggu privasi Lady Jeon, Lisa tersenyum kikuk, tanda meminta maaf karena telah mengganggu. Sang Lady membalas senyuman itu dengan anggukan sopan lalu dengan anggun membalikkan badan ke arah pintu Prancis.


Pria tambun yang berpakaian mencolok entah tidak melihat sang Lady atau tidak ingin perhatiannya terpecah karena melihat wanita itu mengambil segelas anggur dari nampan di meja sebelahnya. Pria itu lalu berdiri di sebelah pilar pualam yang berada di depan tirai dan dengan pongah namun tidak akurat mengutip disertasi filosofis Horace mengenai ambisi, namun matanya sepertinya tertuju pada dada Lisa.


Semenit kemudian, pria itu dengan gaya sok penting berkata, "Aku sependapat dengan Horace, yang berkata, Ambisi adalah semangat yang sangat kuat di dalam dada manusia sehingga seberapa tinggi pun kita berusaha meraihnya kita tak kan pernah puas..."


Benar-benar gugup karena dipandangi seperti itu dan tidak menyadari, Lady Jeon telah membalikkan badan sepenuhnya dan menyimak perkataan pria itu dengan ekspresi bingung, takjub, dan geli yang cukup kentara, Lisa dengan suara gemetar berkata "Ma-Machiavelli."


"Horace," tukas pria itu, dan dengan ngeri Lisa melihat mahluk yang berpakaian konyol itu menaikkan kacamata, mengalihkan tatapannya ke arah kulit yang terekspos di garis leher Lisa, lalu dengan kurang ajar menginspeksinya sambil berusaha tak acuh dengan menyandarkan bahu ke pilar di belakang. Sayangnya obsesi pria itu terhadap dada Lisa membuatnya tidak sempat melirik ke belakang untuk memastikan letak pilar tersebut.

__ADS_1


"Nah mungkin kau sekarang bisa memahami," cetusnya sambil bersandar ke belakang dan membuka tangannya lebar-lebar, "mengapa kata-kata Horace membuatnya... Aaarhh!" Dengan tangan terentang ia jatuh ke belakang meja di dekatnya terbalik bersama dengan anggur dan tirai pun ikut tertarik lepas. Pria itu jatuh terlentang di kaki tiga tamu pria, laksana semangkuk buah-buahan aneka warna di bawah air terjun dari minuman keras.


Tak mampu menahan tawa, Lisa mengatupkan mulutnya dengan tangan lalu membalikkan badan dan mendapati dirinya menatap Lady Jeon, yang juga mengatup mulut dengan tangan dan menatap Lisa, bahu wanita itu berguncang-guncang karena tertawa, matanya yang lebar membelalak lebar. Kedua wanita muda itu serentak berlari keluar lewat pintu Prancis dan bertabrakan karena buru-buru ingin keluar dari pintu dan lari ke balkon. Sesampainya di sana, mereka bersandar pada dinding rumah lalu tertawa terbahak-bahak.


Sambil berdiri berdampingan, tak merasakan dinding batu yang keras di punggung mereka, kedua wanita itu tertawa terpingkal-pingkal, terengah-engah mencari udara, lalu menyeka air mata yang mengalir ke pipi mereka. Ketika tawa itu telah mereda menjadi cekikan kecil, Lady Jeon menoleh ke arah Lisa dan dengan terbata-bata berkata, "Ja-tuh telentang, seperti itu, di-dia sangat mirip kakak tua macaw raksasa yang jatuh dari pohon."


Lisa yang nyaris tak dapat bersuara karena tertawa berhasil berkata. "Ku-ku pikir lebih mirip semangkuk buah, bukan, bukan, fruit punch." cetusnya, mereka kembali tertawa.


"Pria tua yang malang, dipukul ketika sedang bergaya oleh hantu Machiavelli karena kata-katanya dikutip sebagai perkataan Horace."


"Itu cara balas dendam gaya Machiavelli!" kata Lisa terengah-engah menahan tawa.


Dan di bawah langit beludru hitam bertebaran bintang, dua wanita berpakaian anggun bersandar pada dinding batu yang dingin dan tertawa terpingkal-pingkal bagai dua gadis kecil bertelanjang kaki yang berlari-lari di padang rumput. Bisa dibayangkan suasananya kan?

__ADS_1


__ADS_2