
'Mesin yang tak mau berhenti bergerak,' yang sedang digendongnya di lekukan tangan kanan itu ternyata adalah bola bulu berwarna coklat dan putih.
Mingyu menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, Will, letakkan binatang itu di sini. Tidak, kami akan membawanya berjalan-jalan dulu."
"Biar aku yang membawanya," Lisa menawarkan diri, dan Mingyu juga ikut melangkah turun dari kereta, berjalan bersamanya ke padang rumput kecil di tengah hutan di sisi jalan. Lisa menoleh dan matanya yang berbinar-binar menatap mata kelabu suaminya yang berkilat geli. "Menurutku kau adalah orang paling baik sedunia," bisiknya.
"Selamat ulang tahun," kata Mingyu sambil mendesah pasrah.
"Terima kasih banyak," balas Lisa, hatinya membincah penuh rasa terima kasih karena tampak jelas pria itu sebenarnya tidak begitu menyukai hadiah yang sangat diidamkan Lisa itu. "Anak anjing ini tidak akan merepotkan, lihat saja nanti."
Mingyu melemparkan tatapan tak percaya ke arah anak anjing yang sekarang sedang mengendus-endus setiap jengkal tanah, buntutnya yang pendek bergoyang-goyang gembira. Tiba-tiba binatang itu menggigit sebatang ranting pohon dan mulai menariknya.
"Bocah pemiliknya mengatakan dia sangat cerdas."
"Oh, tapi dia bukan anjing kampung," kata Lisa, membungkuk untuk memetik beberapa bunga liar berwarna merah yang mekar di bawah kakinya. "Dia anjing gembala Inggris."
"Apa?" seru Mingyu terkejut.
"Anjing gembala Inggris," Lisa menjelaskan, mengira rasa terkejut Mingyu disebabkan pria itu tidak mengerti mengenai ras anjing. "Mereka sangat ecrdas dan tubuhnya tidak akan terlalu besar." Ketika pria itu menatapnya seolah-olah Lisa sudah kehilangan akal sehat, Lisa menambahkan, "Bocah baik itu menceritakan semua hal tentang anjing itu kepadaku."
"Bocah baik, yang 'jujur' itu?" tanya Mingyu sinis. "Bocah yang sama dengan yang mengatakan padamu bahwa anjing ini keturunan ras murni?"
"Ya, tentu," jawab Lisa, menelengkan kepala ke samping, bingung mendengar nada suara Mingyu. "Bocah yang sama."
"Kalau begitu mari kita berharap dia juga berbohong mengenai rasnya."
"Apakah dia membohongiku?"
"Jelas sekali," Mingyu menegaskan. "Kalau anjing ini benar anjing gembala Inggris, dia akan sebesar kuda poni dan telapak kakinya akan sebesar piring tatakan. Mari kita berharap bapaknya anjing terrier kecil."
Mingyu tampak sangat kesal sehingga Lisa cepat-cepat memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya lalu berlutut untuk mengangkat anak anjing itu.
Rok gaun bepergiannya yang berwarna biru berkelebat membentuk lingkaran cerah di atas rumput hijau lembab ketika ia berlutut, mengangkat anak anjing yang tak mau diam itu ke pelukannya, dan dengan tangannya yang bebas memegang bunga liar berwarna merah yang tadi dipetiknya. Mingyu menatap gadis kecik yang baru saja menikah dengannya itu, memperhatikan bagaimana semilir angin mempermainkan rambut coklatnya itu hingga menerpa pipinya yang halus ketika wanita itu berlutut di rumput, menggendong anak anjing dengan satu tangan dan tangan yang satunya lagi memegang bunga. Sinar matahari menerobos lewat celah-celah pohon di atas, mengelilingi Lisa seperti sinar 'halo'. "Kau tampak seperti lukisan Gainsborough," ujar Mingyu lembut.
Terpesona dengan suara Mingyu yang parau dan sorot aneh yang nyaris serius dalam mata kelabunya, Lisa perlahan-lahan berdiri. "Aku tidak terlalu cantik."
__ADS_1
"Benarkah?" Nada suara Mingyu seperti orang tersenyum.
"Aku berharap begitu, tapi sepertinya aku akan menjadi biasa-biasa saja."
Seulas senyum dengan enggan mulai mengembang di sudut bibir Mingyu yang sensual lalu ia menggelengkan kepala dengan perlahan. "Tak ada satu hal pun yang biasa-biasa saja dalam dirimu, Lisa," jawab Mingyu.
Keputusan untuk menjauhi Lisa sampai usia wanita itu beberapa tahun lebih tua dan mampu bercinta sesuai caranya, tiba-tiba dikalahkan oleh keinginan yang kuat untuk merasakan bibir yang lembut itu di bawah bibirnya. Satu kali lagi saja.
Ketika dilihatnya Mingyu berjalan dengan maksud tertentu ke arahnya, jantung Lisa mulai berdegup kencang menunggu ciuman yang ia rasa akan diberikan pria itu. Belum apa-apa, ia sudah mengerti apa arti sorot mata Mingyu bila telah berubah sayu dan suaranya berubah rendah dan parau.
Sambil menangkup wajah Lisa dengan kedua tangannya, Mingyu menyisipkan jemarinya ke helai-helai rambut ikal wanita itu. Pipi Lisa terasa halus bagai satin, dan rambutnya seperti sutra ketika ia mengangkat wajah wanita itu. Dengan kelembutan yang amat sangat, ia mengecup bibir wanita itu, mengatakan kepada diri sendiri bahwa ia pasti sangat gila karena melakukan ini, tapi ketika bibir wanita itu melembut dan merespon ciumannya, ia mengabaikan peringatan itu. Bermaksud memperdalam ciumannya, ia mulai meletakkan tangannya melingkari tubuh Lisa, namun anak anjing yang digendong wanita itu menggonggong keras tanda tak senang dan Mingyu segera mundur.
Lisa masih berusaha keras menekan kekecewaannya atas ciuman yang terlalu singkat itu ketika kembali masuk ke kereta.
Meskipun demikian, mingyu malah amat lega karena ciuman itu tidak mengarah ke hal lain, yang tentunya akan membuahkan satu lagi pernyataan cinta dari gadis romantis yang ia jadikan istri ini. Ia merasa mengatakan terima kasih untuk yang kedua kalinya tidak akan membuat hati Lisa senang, padahal ia tidak ingin menyakiti hati wanita itu dengan diam saja atau menakutinya dengan ceramah. Aku akan menunggu setahun atau dua tahun lagi untuk membawa Lisa ke tempat tidur, ia memutuskan dalam hati, menunggu sampai wanita itu masuk ke pergaulan bangsawan dan memiliki pandangan yang lebih realistis terhadap pernikahan mereka.
Karena sudah mengambil keputusan dan ditambah dengan kejadian di hutan tadi, suasana hati Mingyu mulaiĀ membaik. "Apakah kau sudah memikirkan nama untuk anak anjing ini?" tanyanya ketika kereta itu sekali lagi sedikit terombang-ambing.
Ia mengawasi anak anjing yang sedang sibuk mengendus-endus lantai kereta, dengan gembira mempelajari lingkungan barunya.
Mingyu memutar bola matanya dengan gaya jijik khas pria.
"Daisy?"
"Kau pasti bercanda."
"Petunia?"
Mata Mingyu berkilat-kilat menahan tawa. "Annjing jantan itu tak kan dapat mengangkat kepalanya di antara anjing-anjing lain."
Lisa menatap suaminya dengan bingung. "Bocah itu bilang anjing ini betina."
"Sudah jelas dia bukan betina."
Tak mau percaya dirinya sudah dibohongi habis-habisan oleh anak kecil, Lisa ingin mengangkat anak anjing itu dan melihat sendiri jenis kelaminnya, tapi ia tidak cukup berani melakukannya, "Kau yakin?"
__ADS_1
"Sangat yakin."
"Jangan!" Hardik Lisa keras ketika anak anjing itu mengatupkan giginya yang mungil di ujung rok dan mulai menarik. Satu-satunya respons yang diberikan anjing itu adalah menarik lebih keras.
"Berhetin!" perintah sang bangsawan dengan suara dalam dan menggelegar. Anjing itu langsung mengenali suara yang berwibawa dan langsung melepaskan gigitannya, menggoyang-goyang ekornya, lalu segera bergelung di kaki Mingyu, meletakkan kepalanya di salah satu sepatu bot coklatnya yang disemir mengkilat. Pemandangan penuh kasih sayaang yang tak disangka-sangka ini dihadiahi pelototan jijik oleh Mingyu sehingga Lisa mau tak mau tertawa, "kau tidak suka binatang ya, My Lord?" tanyanya, sambil menahan cekikikan yang hendak keluar.
"Aku tidak suka binatang yang tidak terlatih dan tidak disiplin." akunya, namun bahkan ia pun ternyata tidak kebal terhadap tawa merdu Lisa.
"Aku akan menamakannya Henry," Lisa tiba-tiba memberitahu.
"Kenapa?"
"Karena kalau memang benar dia akan menjadi anjing yang besar, dia akan mirip Henry VIII."
"Benar," Kata Mingyu sambil terkekeh, suasana hatinya membaik semakin lama ditemani oleh Lisa yang ceria.
Mereka menghabiskan sisa perjalanan itu dengan mengobrol mengenai segala hal. Lisa dengan senang mengetahui bahwa suaminya yang baru ini sangat suka membaca, pintar, dan sangat sibuk menangani bisnisnya yang luas, dan juga berbagai macam hal yang tidak dipahami Lisa. Sejak itu, ia menyimpulkan Mingyu adalah orang yang memikul tanggung jawab tanpa susah payah dan melakukannya dengan baik. Malah, ia mulai sangat memuja suaminya.
Di lain pihak, Mingyu sendiri sudah memastikan bahwa apa yang diperkirakannya selama ini mengenai Lisa ternyata benar. Wanita itu sensitif dan cerdas. Ia juga menyadari wanita itu sangat naif mengenai hubungan suami-istri daripada yang pernah dibayangkannya. Bukti mengenai hal ini muncul belakangan, ketika mereka selesai menyantap makan malam yang sangat lezat di penginapan tempat mereka menginap malam itu. Semakin lama Mingyu menikmati anggurnya, Lisa tampak semakin gugup dan sibuk. Akhirnya ia melompat dari kursi dan mulai merapikan roknya yang kusut, lalu dengan gaya berlebihan membalikkan badan untuk memperhatikan dengan seksama meja kecil dari kayu yang tampak biasa-biasa saja. "Buatannya sangat bagus, bukan?"
"Tidak juga."
Nyaris pasrah, Lisa melanjutkan. "Bila aku melihat sebuah perabot, aku selalu bertanya-tanya bagaimana sosok orang yang telah bersusah payah membuatnya, kau tahu bukan, apakah dia pendek atau tinggi, berwajah masam atau ramah... Hal-hal seperti itu."
"Masa?" tanya Mingyu sekenanya.
"Ya, tentu saja. Kau tidak seperti itu?"
"Tidak."
Sambil masih memunggungi Mingyu, Lisa berkata dengan hati-hati, "Ku rasa aku sebaiknya mengambil Henry dan membawanya berjalan-jalan."
"Lisa." Kata itu diucapkan dengan nada tenang namun tegas, sehingga Lisa langsung berhenti melangkah dan membalikkan badan.
"Ya?"
__ADS_1
"Kau tidak perlu takut. Aku sama sekali tidak berniat tidur denganmu malam ini."