
"Aku mengira," ujarnya dengan sinis, "biasanya ada masa berkabung selama satu tahun jika anggota keluarga terdekat meninggal."
"Tentu saja, dan kami sudah menjalankannya!" tukas sang nenek membela diri. "Kami bertiga tidak kelaur menemui siapa-siapa sampai April, ketika Lisa melakukan debutnya, dan aku tidak..."
"Dan dimana istriku yang berduka itu tinggal selama periode berkabung tersebut?" tanyanya ketus.
"Di kediaman orang tuamu, bersama aku dan Yugyeom, tentu."
"Tentu," ulang Mingyu seperti beo. "Aku sungguh heran melihat Yugyeom tidak puas hanya dengan mendapatkan gelarku, tanahku, uangku, dia bahkan ingin mendapatkan istriku juga."
Wajah sang nenek memucat, tiba-tiba sadar bagaimana peristiwa ini dilihat dari sudut pandang Mingyu, dan ia juga paham bahwa dalam suasana hati seperti ini adalah kesalahan besar kalau ia menjelaskan bahwa popularitas Lisa-lah yang membuat pernikahan ini terpaksa diadakan.
"Kau salah, Hawk, Lisa...."
"Lisa," putus Mingyu, "sepertinya suka menjadi Nyonya Kim muda sehingga dia bersedia melakukan apa pun untuk mempertahankan posisi itu selamanya. Dia memutuskan untuk menikah dengan kepala keluarga Kim yang sekarang."
"Dia..."
"Oportunis licik?" usul Mingyu sinis, amarah dan muak membakarnya seperti asam. Sementara ia meringkuk di dalam penjara, terbangun di kala malam karena cemas Lisa menyia-nyiakan hidupnya dalam pengasingan, tersiksa oleh rasa sedih dan putus asa, Yugyeom dan Lisa menikmati smeua kenikmatan duniawi. Dan setelah itu menikmati tubuh satu sama lain juga.
Sang nenek melihat ekspresi Mingyu mengeras dan ia mendesah, pasrah. "Aku tahu betapa mengerikan semua ini terlihat olehmu, Mingyu," ujarnya dengan sedikit nada bersalah dalam suaranya yang parau, "dan aku dapat melihat bahwa kau belum siap atau mampu mendengarkan penjelasan. Meskipun begitu, aku akan senang jika kau setidaknya menjelaskan padaku apa saja yang telah kau lakukan selama ini."
Mingyu menceritakan dengan rinci peristiwa yang ia alami, tanpa menceritakan hal-hal yang terburuk, namun menceritakan semua itu malah membuatnya semakin marah terhadap keadaan ironis ini. Sementara ia dirantai di penjara, disiksa sedemikian rupa, berusaha bertahan antara hidup dan mati, Yugyeom dengan senangnya mendapat gelar, estat, dan uangnya, lalu akhirnya memutuskan untuk mendapatkan istri Mingyu juga.
__ADS_1
Di belakang mereka, di dalam kereta bersimbol emas, lambang yang tidak berhak lagi digunakan oleh Yugyeom, Lisa duduk tak bergerak di sebelah Paman Monty dan di depan Yugyeom, yang sedang menatap keluar jendela. Benaknya berpacu dalam lingkaran tak berakhir, kacau balau. Mingyu masih hidup dan sehat, namun lebih kurus dari pada yang ada dalam ingatannya. Apakah pria itu sengaja menghilang karena ingin melarikan diri dari gadis menyedihkan yang dinikahinya, dan kembali hanya karena ia mengetahui sepupunya akan melakukan bigamy? Kegembiraan Lisa melihat pria itu masih hidup dan sehat berubah menjadi kebingungan. Tentunya Mingyu tidak sejijik itu padanya, bukan?
Tak lama setelah pikiran itu menghibur hatinya yang gundah, pikiran yang lebih menusuk mulai menghujamnya dengan cepat dan bertubi-tubi. Pria yang kepulangannya ia sambut dengan gembira ini adalah pria yang sama dengan yang mengasihaninya dan membencinya. Pria itu telah mengolok-olok Lisa di depan para simpanannya. Mingyu Kim, seperti yang ia ketahui sekaran dan tak boleh ia lupakan, adalah pria yang tak bermoral, tak berprinsip, tidak setia, dan tak berperasaan. Dan ia menikah dengan pria itu!
Dalam hati Lisa mengumpati pria itu dengan segala julukan yang bisa ia ingat, tapi ketika kereta mereka mulai mendekati Upper Book Street, amarahnya mulai meredup. Marah memerlukan energi dan konsentrasi, sedangkan pada saat ini otaknya yang bingung masih tumpul karena shock.
Yugyeom yang duduk di sebrangnya beringsut di kursi dan gerakan itu tiba-tiba mengingatkan Lisa bahwa ia bukan satu-satunya orang yang masa depannya berubah drastis gara-gara kemunculan Mingyu.
"Yugyeom," ujarnya penuh simpati, "Aku turut menyesal," ia mengakhiri kalimatnya dengan lemah. "Ada baiknya juga ibumu merasa lebih baik tinggal di rumah bersama adikmu. Kepulangan Mingyu yang tiba-tiba pasti akan membuatnya shock."
Dengan takjub dilihatnya Yugyeom tersenyum lebar. "Menjadi kepala keluarga Kim ternyata tidak seenak yang ku bayangkan. Seperti yang ku katakan beberapa minggu lalu, apa enaknya mendapat kekayaan berlimpah tapi tak punya waktu untuk menikmatinya. Tapi, aku jadi terpikir ternyata takdir cukup bermurah hati padamu."
"Mengapa begitu?" tanya Lisa sambil menatap Yugyeom seakan-akan pria itu kehilangan akal sehat.
"Coba pikirkan ini," lanjut Yugyeom, lalu dengan heran Lisa melihat pria itu terkekeh geli. "Mingyu pulang dan istrinya sekarang telah menjadi wanita paling diminatai di seantero Inggris! Jujur saja, bukankah ini tepat seperti yang kau idam-idamkan?"
Yugyeom seketika berhenti tertawa. "Kau pasti bercanda. Apakah kau tahu betapa besarnya skandal yang akan ditimbulkan oleh perceraian? Meskipun kau berhasil minta cerai, dan aku tak yakin akan hal itu, kau akan benar-benar dikucilkan oleh kalangan bangsawan."
"Aku tak peduli."
Ia menatap Lisa dan suaranya melembut. "Aku menghargai perhatianmu terhadap perasaanku, Lisa, tapi kau tak perlu bercerai karena aku. Andai pun kita benar-benar saling jatuh cinta, dan untungnya tidak, kau tak perlu melakukannya. Kau istri Mingyu. Tak ada yang dapat mengubahnya."
"Pernahkah terpikir olehmu dia mungkin ingin mengubahnya?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Yugyeom dengan ceria. "Aku berani bertaruh yang dia inginkan sekarang adalah menantangku berduel dan mengembalikan harga dirinya. Tidakkan kau lihat betapa marahnya dia padaku waktu di gereja? Tapi jangan cemas," lanjutnya, terkekeh melihat Lisa ketakutan, "Kalau Mingyu ingin duel, aku akan memilih menggunakan pedang dan menunjukmu sebagai penggantiku. Dia pasti tidak akan tega menumpahkan darahmu, dan kau punya kesempatan yang lebih besar untuk mengalahkannya dari pada aku"
Lisa ingin membantah dan mengatakan Mingyu sepertinya tidak akan peduli bahwa ia dan Yugyeom tadi akan menikah, tapi membantah perlu otak yang jernih dan rasional padahal ia masih belum bisa menghilangkan kebingungan yang mengelilinginya.
"Biar aku saja yang mengatakan aku ingin bercerai, Yugyeom. Demi ketenangan keluarga di masa depan, dia harus mengerti bahwa ini sepenuhnya usulku dan tak ada hubungannya denganmu."
Terperangkap antara rasa geli dan cemas, Yugyeom mencondongkan tubuh ke depan dan memegang bahu Lisa, tertawa sambil mengguncang pelan tubuh wanita itu. "Lisa, dengarkan aku. Aku tahu kau sedang terkejut, dan aku tentu saja tidak berharap kau jatuh dalam pelukan Mingyu minggu ini atau bahkan bulan ini, tapi menceraikan dia membuat dendam ini jadi berlarut-larut!"
"Dia tidak bisa menolak," jawab Lisa dengan sedikit berapi-api. "Dia tak pernah peduli padaku."
Yugyeom menggeleng, bibirnya berkedut-kedut karena berusaha menaha diri agar tidak tersenyum namun gagal. "Kau sama sekali tidak mengerti tentang pria dan harga diri mereka. Dan kau tidak mengenal Mingyu kalau kau mengira dia akan melepaskanmu begitu saja. Dia...."
Tiba-tiba mata Yugyeom berkilat geli lalu menjatuhkan kepalanya ke bangku kereta sambil terkekeh. "Mingyu," ia menjelaskan sambil tertawa, "tidak suka berbagi mainannya, dan dia tak pernah mundur kalau ditentang!"
Paman Monty melihat mereka berdua berganti-ganti, lalu meraih ke dalam mantelnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. "Dalam keadaan seperti ini," ujarnya sebelum minum, "diperlukan tonik penambah tenaga."
Sudah tidak ada waktu lagi untuk bercakap-cakap lebih lanjut, karena saat itu juga kereta berhenti di belakang kereta Mingyu di depan rumah utama keluarga Kim di Upper Book Street.
Berhati-hati agar tidak menatap Mingyu, yang sedang membantu neneknya turun dari kereta, Lisa meletakkan tangannya di tangan Yugyeom lalu turun. Tapi ketika Mingyu berjalan menapaki tangga di belakangnya sambil menggandeng neneknya rasa terkejut yang selama ini membuat hatinya yang kelu tiba-tiba menghilang. Kurang dari setengah meter di belakangnya, kaki Mingyu yang bersepatu bot mengetuk-ngetuk lantai tanpa henti sehingga tulang belakang Lisa merinding cemas. Tubuh pria itu yang jangkung dan bahunya yang bidang menimbulkan byaangan yang mengerikan di jalan yang Lisa lewati serta menghalangi sinar matahari. Pria itu sungguh ada, hidup, dan berada di sini, pikir Lisa, tubuhnya mulai gemetar tak terkendali. Ini bukan mimpi, ataupun mimpi buruk.
Mereka serentak membelok menuju ruang duduk. Panca indra Lisa semakin peka ketika ia semakin menyadari ancaman Mingyu terhadap masa depannya. Juga kecemasan Yugyeom mengenai ditantang untuk berduel, ia berhenti sebentar di ruang duduk dan dengan cepat memperhatikan susunan tempat duduk, menimbamh-nimbang keuntungan dan kelemahan psikologis dari tiap tempat. Mencari posisi yang netral, ia memutuskan untuk tidak duduk di sofa dan duduk di salah satu dari kursi berlengan yang diletakkan berhadapan di depan perapian, lalu mengerahkan segenap kekuatannya untuk meredam jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat. Sang nenek sepertinya juga ingin posisi yang netral, jadi dia memilih kursi yang satu lagi.
Berari yang tersisa tinggal sofa, letaknya di sebelah kanan kurdi dan menghadap perapian. Yugyeom, tak punya pilihan selain duduk di sana, diikuti oleh Paman Monty yang bergegas masuk ke ruang duduk karena berharap dapat menikmati sedikit minuman sambil memberi dukungan moral terhadap Lisa. Mingyu menyebrangi ruangan menuju perapian, meletakkan tangannya di atas perapian, lalu membalikkan badan, menatap semua orang yang hadir di ruangan itu dengan sorot dingin dan penuh perhitungan.
__ADS_1
Sementara sang nenek menjelaskan secara singkat dan gugup mengenai keberadaan Mingyu selama lima belas bulan ini, Boo berjalan masuk dengan tersenyum cerah dan membawa senampan sampanye. Tak menyadari suasana tegang di ruangan itu ataupun bagaimana hubungan Mingyu dengan Lisa, pelayan setia itu langsung menuju Lisa lalu mengisi gelas-gelas. Begitu sang nenek selesai berbicara, boo menyerahkan gelas pertama kepada Lisa dan berkata, "Semoga anda selalu bahagia seperti sekarang, Nona Lisa."
Lisa merasa tawa histeris dan bergulung-gulung di dalam dirinya, bercampur rasa panik, ketika Boo kembali ke meja dan menuangkan sampanye ke gelas-gelas lain, lalu membagikannya pada penghuni ruang duduk yang berdiam diri, termasuk Mingyu.