
"Ngapain gue mikirin perkataan Elang dengan serius. Gue lupa kalau ada Dea. Bisa aja kemaren itu cuma kerjaan Elang buat ngisengin gue.." Elsa mendumel sendiri dan duduk di sebuah batang pohon yang telah roboh dan mengering.
"Ngapain bicara sendiri di sini?" spontan Elsa menoleh dan melibat Fandi yang sudah duduk di sampingnya.
Elsa terdiam, mungkin Fandi telah mendengar semua.
"Aku ngerti, aku masih belum bisa jadi orang yang kamu percaya untuk dengerin semua cerita kamu. Aku juga belum bisa gantiin posisi Elang di hati kamu."
Untuk kalimat terakhir, Elsa akhirnya menyahut, "Kamu dan Elang itu beda posisi. Elang itu sahabat aku."
"Iya, aku tau. Tapi bukan tidak mungkin ada sedikit rasa di hati kamu buat Elang. Kamu gak akan pernah sadar, Sa. Aku baru datang di hidup kamu sedangkan Elang, dia sudah bersama kamu sejak kecil. Posisi Elang daripada aku jauh lebih penting di hati kamu. Dan apa yang aku bilang kemaren, kamu gak perlu balas sekarang. Aku tau kamu butuh waktu untuk mastiin perasaan kamu sendiri."
"Aku udah bisa ngerti perasaanku sendiri. Sejak pertama kali ketemu kamu, ada rasa yang berbeda. Aku tau, Elang adalah salah satu orang yang penting di hidupku tapi dari dulu aku anggap dia udah kayak kakak aku sendiri. Sebenarnya,, aku juga cinta sama kamu." Elsa menatap Fandi dan tersenyum. Begitu juga dengan Fandi dan sejak saat itu kisah mereka berdua dimulai.
Semenjak acara camping saat itu, hubungan Elsa dan Elang kian menjauh. Bahkan mereka tidak saling tegur sapa. Setiap pagi dan pulang sekolah pun Elsa selalu bersama Fandi, begitu juga dengan Elang, dia selalu menjemput dan mengantar Dea. Sebenarnya Elang sangat merindukan Elsa yang dulu.
Sa, gue kangen banget sama lo. Hari-hari Elang terasa berbeda. Meskipun sekarang ada Dea yang ada di dekatnya, entah kenapa Elang masih tidak bisa menghilangkan perasaannya. Seperti malam ini, walau bukan malam minggu tapi Elang mengajak Dea untuk berjalan-jalan sekedar mencari angin malam.
"Lang, kita mau kemana?" tanya Dea yang berada diboncengan Elang.
Elang tidak menyahut. Entah karena Elang terlalu fokus atau karena dia memang sedang melamun.
"Lang," panggil Dea lagi sambil menepuk pundak Elang.
Elang kini menyahut tapi justru bukan jawaban dari pertanyaan Dea, "Lo pegangan aja gak papa."
Dea bingung, pegangan? Masa' iya gue harus meluk Elang. Dea begitu ragu. Tangannya ingin memeluk tapi lalu dia urungkan.
Entah apa yang dipikirkan Elang, tiba-tiba saja Elang menarik tangan Dea dan melingkarkan ke pinggangnya.
Dea begitu gerogi. Hanya satu tangan yang Elang tarik itu tandanya tangan satunya juga harus menyusul. Tapi ini nanggung jika tidak diteruskan Dea. Akhirnya Dea sedikit memajukan badannya dan melingkarkan kedua tangannya di perut Elang. Ini pertama kalinya dia memeluk Elang saat dibonceng dan dapat dipastikan ini adalah satu kenangan yang tidak akan dilupakan Dea. Bahagia, yah walaupun Elang bukan sepenuhnya miliknya. Gue seneng berada di dekat lo walau gue tau hati lo bukan milik gue. Berharap waktu berhenti berputar sesaat agar gue bisa ngerasain ini semua lebih lama.
Elang melihat sesaat tangan Dea yang melingkar di perutnya. Biasanya hanya tangan Elsa yang berada di sana dan memeluknya dengan manja. Elang sedikit menggelengkan kepalanya saat terlintas lagi bayangan Elsa. Ini baru awal, gue pasti bisa gantiin Elsa di hati gue. Elang berputar-putar di area alun-alun kota untuk menikmati suasana jalanan malam itu. Setelah cukup, Elang akhirnya membelokkan motornya ke sebuah parkir mall.
Dea turun dari motor Elang dan melepas helmnya. "Lo mau nyari apa ke mall?"
Setelah memakir motornya dengan benar, Elang turun dan melepas helmnya. "Yah, kalau lo mau sesuatu lo bilang aja sama gue."
__ADS_1
Dea menggeleng, "Gue gak pengen apa-apa."
Elang mendekat dan menoel hidung Dea, "Iya, gue lupa. Lo kan cuma pengen gue."
"Ih, gak lebay gitu juga kali." Padahal sih sebenarnya iya banget.
"Ya udah, kita ke food court di atas aja. Yuk!" Elang langsung menggandeng tangan Dea dan mengajaknya berjalan.
Dea melihat sesaat genggaman tangan Elang. Terasa begitu hangat dan nyaman. Lang, gue akan nikmati saat-saat bersama lo yang mungkin gak bisa gue rasakan lagi suatu saat nanti.
Mereka berjalan masuk ke dalam mall sambil melihat keramaian mall malam itu. Dan lagi, Elang teringat Elsa saat melewati penjual aksesoris. Dulu, waktu mereka masih SMP Elsa ingin mempunyai gelang dengan inisial E&E, tapi ternyata gelang itu tidak ada. "Dea, lo gak pengen kalung?" Elang mengajak Dea mendekati toko aksesoris itu.
"Hmm, gue? Gue gak terlalu suka aksesoris."
Terdengar penolakan dari Dea tapi Elang masih tetap memilih bahkan kini menemukan gelang yang Elsa cari dulu. Walau mungkin sekarang Elsa tidak pernah lagi mencarinya.
Dea tersenyum. Yah, tentunya dia mengerti apa yang ada dipikiran Elang. "Cocok buat Elsa. Lo beli aja."
Elang ragu, "Elsa mana mungkin mau."
Elang menatap Dea sesaat lalu ikut tersenyum. Elang kini juga mengambil kalung dengan inisial D, "Dan ini buat lo." Tanpa menunggu jawaban ya atau tidak, Elang langsung memakaikan kalung itu di leher Dea. "Lo gak boleh nolak karena gak mungkin juga gue ajak lo dan gue malah cuma beliin Elsa."
"Elang, tapi gue.."
"Sssttt, lo diem. Biar gue bayar dulu." Elang menuju kasir dan membayar. Karena Elang masih sekolah, jadi yang mampu Elang beli hanyalah aksesoris imitasi.
Senyum Dea mengembang. Thanks, Lang. Setidaknya gue bisa ngerasain indahnya mencintai dan sakitnya patah hati.
***
"Gara-gara kita bingung cari tempat makan, akhirnya kita makan di sini." Malam itu, Fandi dan Elsa juga berkencan. Mereka kini sudah duduk dan memesan makanan di sebuah restoran Jepang.
"Aku malah seneng. Lama banget aku gak ke sini. Elang mah mana mau ngajak ke restoran Jepang. Dia kan gak doyan." Elsa menghentikan perkataannya. "Sorry, aku malah nyeritain Elang."
Fandi hanya tersenyum, "Gak papa. Lain kali kamu bisa ajak Elang buat jalan bareng kita."
Elsa menautkan alisnya. Dia seperti salah mendengar kalimat Fandi. "Kamu bercanda?"
__ADS_1
"Serius." Fandi meraih tangan Elsa dan menggenggamnya. Belum sempat mengatakan sesuatu, tiba-tiba ada suara yang sangat dia kenal memanggilnya.
"Fandi!"
Seketika Fandi melepas tangannya. Dia menoleh. "Papa?!"
"Pantas Papa telpon dari tadi gak kamu angkat. Kamu pulang sekarang sama papa."
Fandi langsung berdiri dan mendekati papanya. "Papa kan bawa mobil sendiri. Fandi masih mau nganterin Elsa."
"Mobil Papa mogok dan sekarang ada di bengkel. Tadi Papa ketemu clien di restoran ini dan ternyata kamu malah asyik pacaran." Pak Rio terlihat emosi. Dia tatap Elsa sesaat yang terlihat takut.
"Tapi Pa,."
"Gak usah tapi-tapian. Papa udah bilang sama kamu, jangan pacaran lagi. Papa gak mau kasus itu terulang lagi. Papa tunggu kamu di tempat parkir, kalau kamu ninggalin Papa. Besok mobil kamu Papa jual!" Pak Rio lalu membalikkan badannya dan keluar.
Elsa mendekat, "Udah, kamu bareng Papa kamu aja. Aku bisa kok pulang sendiri."
"Tapi, Sa? Gimana kalau kamu bareng kita aja?"
Elsa menggeleng, "Udah gak papa. Papa kamu nanti tambah marah."
"Ya udah, nanti kabari aku ya.." Fandi tersenyum lalu keluar dari restoran dan kemudian Elsa.
Elsa memang sedikit kecewa tapi Elsa sudah tahu alasan Papanya melarang Fandi pacaran dari cerita Fandi sebelumnya.
Elsa berjalan di pinggir jalan sambil melihat aplikasi ojek onlinenya. "Gue lupa kalau aplikasi gue belum diinstal ulang. Mana kuota tinggal buat WA aja." Elsa menghela napas panjang lalu duduk di bangku pinggir jalan. "Apa gue WA Elang? Nggak-nggak! Gue gak mungkin minta tolong sama Elang."
Pandangan Elsa masih fokus pada layar handphonenya sebelm tersadar ada beberapa cowok mendekatinya dengan sepeda motor. "Hei, lo cewek yang tadi sama Fandi kan?!"
Elsa tersentak kaget. "David??!!"
"Gak percuma gue ngikutin kalian dari tadi. Kenapa lo ditinggal Fandi? Mending lo pulang bareng kita aja!!"
Elsa melebarkan matanya. Apa maksud David? Elsa langsung berdiri dan berlari. Whatsappnya masih terbuka. Dia hanya bisa share lokasi pada Elang dengan waktu yang singkat.
Lang, gue butuh lo..
__ADS_1