
Jam istirahat waktu itu, kantin penuh dengan murid-murid yang mungkin sudah kelaparan. Di antara ramainya mereka, Elsa sedang duduk dengan bosan sambil mengaduk minuman es jeruknya.
"Lo kenapa dari tadi cemberut terus?" tanya Anna yang kini duduk di sampingnya.
"Males gue.." jawab Elsa.
"Udah, gak usah dipikirin soal kemaren. Lo masih bisa perbaiki keadaan."
Tiba-tiba Elsa berdiri yang membuat Anna sedikit bingung, "Yah, lo benar." Elsa segera membeli minuman dan makanan. Semua itu untuk Elang. Tidak mungkin buat Elang melewatkan istirahatnya tanpa jus jeruk dan cilok mang Maman. Setelah terbeli, Elsa segera menuju kelas. Tapi, dan lagi saat sampai di depan pintu kelas, langkahnya terhenti ketika melihat sudah ada Dea di dalam kelas dan duduk di samping Elang, lengkap dengan makanan dan minuman seperti yang dibawa Elsa.
Entah mereka melihat atau tidak atau bahkan hanya berpura-pura tidak melihat Elsa. Yang jelas percakapan mereka begitu bisa ditangkap di telinga Elsa.
"Lo tau banget kesukaan gue."
"Kan lo tiap hari jajan itu."
"Ciee, ngamatin gue terus," Elang sedikit mencubit hidung Dea.
"Ih, gak usah diamatin kali. Kan lo sering ajak gue ke kantin cuma beli ini. Oiya, PR lo udah selesai."
Elang tersenyum sambil menggaruk kepalanya, "Kalau soal ini, gue malu sama lo. Masak iya, lo yang ngerjain PR gue."
"Gak papa kalau cuma sekali, lain kali gak akan lagi biar lo berusaha sendiri.."
Elsa seperti tidak sanggup lagi menahan air matanya. Kenapa juga dia sekarang jadi mudah terbawa perasaan dengan Elang. Dia balikkan badannya dan berjalan cepat ke belakang sekolah. Hanya ada beberapa teman kelas lain di sana. Dan makanan yang tadi dia beli, akhirnya dia beri pada Rere, adik kelasnya yang kebetulan dia temui. Dia melanjutkan langkahnya dan duduk di bawah pohon agar tidak ada yang melihat air matanya. Gue lupa, kalau sekarang lo udah punya Dea. Apa kita gak akan bisa kayak dulu lagi, Lang??
Bayangan masa lalunya bersama Elang terus terlintas di benak Elsa yang membuat Elsa semakin terisak. Tangisnya terhenti sesaat ketika ada sebuah tangan yang mengulur dan memberikan tisu pada Elsa.
"Fandi?" Elsa melihat Fandi sudah duduk di sampingnya. Elsa tak juga mengambil tisu itu dan akhirnya Fandi-lah yang menghapus air mata Elsa dengan perlahan.
"Kamu kenapa? Masih memikirkan soal kemaren?"
Elsa menggeleng.
"Lalu?"
"Elang sekarang udah sama Dea dan kita gak mungkin bisa kayak dulu lagi. Apalagi sekarang, aku sama sekali gak bisa lakuin apa-apa buat Elang." Cerita Elsa sambil melanjutkan tangisnya.
Fandi mengusap pelan rambut Elsa. Apa Elsa cemburu dengan Elang?
"Terus aku harus gimana, Fan? Aku gak mau Elang anggap aku kayak orang gak saling kenal. Udah sejak kecil kita bersama, mana mungkin aku bisa jauh dari Elang."
"Mungkin Elang butuh waktu tanpa kamu, dan mungkin juga ini adalah waktu buat kamu untuk mengartikan semuanya."
__ADS_1
Mendengar perkataan Fandi, seketika Elsa menatapnya. "Mengartikan?"
Elang bukan saingannya, anggap Fandi. Jika Elsa benar-benar tidak bisa kehilangan Elang, dia akan mengalah. Cinta itu bukan larangan tapi cinta itu berhak memilih. "Yah, mengartikan perasaan kamu. Antara cinta yang sesungguhnya dan kekaguman sesaat."
"Tapi gak mungkin, Fan. Elang, sahabat aku.."
"Dan kamu hanya berpatok pada itu. Sa, aku memang cinta sama kamu. Sama, aku juga gak mau kehilangan kamu. Tapi cinta itu berhak memilih. Aku gak bisa memaksa untuk terus memiliki kamu."
Semua ini semakin membuat kepala Elsa terasa pusing. "Jangan bahas soal ini lagi, Elang sudah bersama Dea dan aku juga sudah bersama kamu."
Elsa berdiri dan diikuti Fandi berjalan menuju kelas yang sebelumnya dia usap sisa-sisa air matanya agar tidak terlihat. Tepat saat mereka berdua masuk ke dalam kelas, pandangan Elang tertuju pada mereka.
Elang mengepalkan tangannya yang bersembunyi di bawah meja. Dia bisa menangkap tatapan nanar Elsa. Semua ini memang butuh proses untuk benar-benar tidak peduli dengan Elsa. Tenang Elang, tenang.. Elsa pasti lebih bahagia tanpa gue... Elang meyakinkan dirinya sendiri sambil mengalihkan pandangannya.
Hari-hari pun berlalu, masih tetap sama. Elang tidak pernah lagi berbicara dengan Elsa, bahkan sampai kakinya sembuh. Elang hidup dengan dunianya sendiri. Bahkan beberapa chat dari Elsa pun tak pernah dibalas Elang.
Semakin hari Elsa merasa semakin kehilangan Elang. Hari-harinya tidak lagi bersemangat meskipun ada Fandi yang selalu menemaninya. Seperti siang itu, raga Elsa memang ada di sebelah Fandi saat Fandi sedang melajukan mobilnya tapi pandangannya tertuju pada Elang yang berhasil menyalip mobil Fandi dan belok di pertigaan. Elang mau kemana?
"Sa?" panggil Fandi. Tapi Elsa tidak menyahut. "Hei," Fandi akhirnya menyentuh pipi Elsa agar Elsa mau melihatnya.
"Ya?" Elsa menoleh Fandi. Meski sebenarnya dia masih terus memikirkan Elang.
"Kita ke taman yuk?" ajak Fandi yang hanya dibalas anggukan dari Elsa. Fandi pun membelokkan mobilnya menuju taman. Sebelum sampai di taman, ada sebuah motor yang menyalipnya dengan kencang.
Karena David melajukan motornya terlalu cepat, dia tak melihat ada lubang di jalan dan entah karena dia tidak fokus akhirnya motornya oleng dan dia pun terjatuh.
Melihat itu, Fandi menghentikan mobilnya. Dia turun dan segera menolong David. Menegakkan motor David terlebih dahulu lalu menjagraknya. Kemudian Fandi mengulurkan tangannya pada David untuk membantunya berdiri.
David hanya melihat Fandi. Dia malah melepas helmnya, "Lo kenapa masih mau nolong gue?!"
"Karena lo teman gue," jawab Fandi.
David justru minggir dan duduk di trotoar. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Gue ingin masalah kita selesai. Jangan ada lagi orang yang jadi korban karena masalah kita." Kini Fandi ikut duduk di samping David. Sedangkan Elsa hanya melihat mereka di samping mobil Fandi.
"Elang kemaren nemuin gue. Gue kira dia udah laporin gue ke polisi dan nuntut gue karena kecelakaan itu tapi ternyata dia cuma minta agar gue gak ganggu Elsa lagi dan baikan sama lo," cerita David sambil menatap lurus ke depan tanpa melihat Fandi.
"Elang?" Gue udah rebut Elsa dari dia, tapi Elang masih saja sebaik ini. Fandi menatap sesaat Elsa yang mulai menautkan alisnya lagi.
"Nasib Elang sama kayak gue, cuma bedanya Elang bukan sahabat lo. Elang bisa saja jadi musuh besar lo dan dia juga harusnya bisa rebut cewek lo. Tapi dia relain semuanya, bahkan dia ingin lo yang bahagiain Elsa. Gue harusnya bisa contoh Elang. Gue sadar, kalau lelaki hebat bukan hanya kuat secara fisik tapi juga kuat secara hati."
Pikiran Fandi kini tertuju pada Elang. Tidak seharusnya Elang yang sakit hati. Fandi beralih lagi menatap Elsa. Gue harus bisa menyadarkan perasaan Elsa. Walau gue harus kehilangan Elsa, gue rela asal Elsa bisa kembali pada pemilik hatinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Gue tunggu lo di Bandung. Nyokap gue udah berulang kali nanyain lo."
Fandi merangkul David sesaat sambil menepuk punggungnya sebagai tanda perdamaian mereka. "Gue pasti ke sana, nunggu libur semester ini. Tapi kenapa lo gak sekolah?" tanya Fandi pada akhirnya.
"Setelah kejadian itu, gue sempat down tapi tahun ini rencana gue mau daftar sekolah lagi." David berdiri dan menuju motornya, "Gue harus balik ke Bandung sekarang. Nomor WA gue tetep, ntar blokiran nya gue buka lagi. Salam buat Elang. Ntar lo ajak juga ke Bandung."
Fandi tersenyum. "Iya. Pasti. Lo hati-hati." Lambaian tangan Fandi mengiringi kepergian David. Lalu Fandi dan juga Elsa kembali masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Mereka masih terdiam dan sama-sama sedang memikirkan Elang. Sampai di taman, Fandi langsung memarkir mobilnya.
...***...
"Woy, lo ngajak futsal tapi isinya bengong aja. Rugi dong kita sewa lapangan." Bagas melempar bola pada Elang yang hanya duduk terdiam di pinggir lapangan.
"Kepala gue pusing," jawab Elang sambil melempar kembali bola itu ke lapangan.
Bagas kini duduk di samping Elang. Memang, suhu panas Elang terasa saat itu dengan hanya menyenggol lengannya. "Lo sakit? Badan lo panas banget."
"Kayaknya. Kepala gue pusing banget dari tadi makanya gue ajak futsal siapa tau dengan olahraga gue bisa sehat lagi." Elang kini meminum air mineral yang ada di botolnya. Memang terasa begitu pahit, tanda jika dia sedang sakit.
"Lang, Lang. Lo itu lucu. Mana ada orang sakit dibuat olahraga langsung sehat. Orang sakit itu minum obat terus istirahat. Udah sana lo pulang aja ntar lo tambah parah lagi."
"Lo kenapa jadi ngusir gue?"
Bagas tertawa melihat wajah serius Elang, "Baper lo jangan kelewatan." Bagas merangkul Elang dan menepuk pundaknya. "Lo jangan nyiksa diri lo sampai lo demam kayak gini. Gue tahu, lo masih mikirin Elsa. Lo gak bisa kan jauh dari dia."
"Udah beberapa minggu gue lost contact nyatanya bisa."
"Dan belum pas sebulan aja nyatanya lo udah sakit."
Elang menghela napas panjang. Yah, dia memang tidak bisa berhenti memikirkan Elsa walau hanya sedetik. "Seperti apa yang pernah gue bilang sama lo, gue akan jauhi Elsa bahkan gue gak akan bicara lagi dengan dia agar gue benar-benar bisa melupakan perasaan gue. Rasanya tersiksa banget, Gas. Apalagi sejak saat itu gue udah gak pernah lagi liat senyum Elsa. Padahal biasanya gue bercanda sama dia. Tapi sekarang?? Apa iya gara-gara gue jauhin dia, dia sesedih ini. Lalu gue harus gimana? Tetap bersama Elsa dan biarin perasaan gue semakin besar? Sedangkan Elsa masih juga bersama Fandi." Elang memijat pelipisnya sesaat agar rasa sakitnya hilang. "Gue bingung. Jujur, gue capek. Gue udah gak tau lagi harus gimana? Gue gak mungkin juga terus manfaatin Dea. Bagaimanapun baiknya Dea entah kenapa gue tetep gak bisa ubah perasaan gue buat dia."
Bagas mengerti, tapi soal perasaan itu begitu berat. "Udahlah, lo jangan terlalu mikir. Elsa itu gak bisa jauh dari lo. Lo serahin aja semua pada yang di Atas." Bagas tersenyum lebar menunjukkan gigi pepsodentnya.
"Kalau soal itu gue udah ngerti." Elang beralih menuju tasnya dan berkemas.
"Mau kemana lo? Jadi pulang?"
"Mau ngadem ke taman. Lo mau ikut?" ajak Elang sambil memakai tasnya.
"Ogah gue ke taman sama lo. Gue masih normal. Ntar malem aja gue mau ke taman sama Anna."
"Terserah lo!" Elang membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Ati-ati lo. Jangan sampai pingsan di jalan."
__ADS_1
"Iya!" teriak Elang sambil berpamitan pada teman lainnya. Setelah itu dia keluar dari lapangan futsal dan menuju tempat parkir. Duduk sebentar di atas motornya sambil merasakan kepalanya yang semakin pusing. "Gue jangan sampai tumbang." Elang menghela napas panjang. "Butuh tempat yang adem biar pikiran gue tenang." Elang memakai helmnya dan beberapa saat kemudian motornya mulai melaju. Mungkin saja dia bisa tenang bila duduk dibawah pohon yang sejuk. Mungkin......