
"Elsa, semua gak kayak apa yang lo liat." Elang masih saja mengejar Elsa di belakangnya sampai di depan gerbang sekolah.
Elsa akhirnya berhenti dan menengok Elang sesaat. "Lo ungkapin semua perasaan lo sama gue tapi lo justru pelukan sama cewek lain. Terus maksud lo itu apa? Lo terus terang aja sama gue kalau lo itu pacaran sama Dea, gue gak papa."
"Gue sama Dea itu gak ada apa-apa Elsa!" Ingin Elang menjelaskan tapi Elsa justru kembali berlari bahkan kini dia menyeberang jalan tanpa melihat kanan dan kiri. "Elsa!" Sebuah mobil box melaju cukup kencang dari belokan barat. Entah karena pikiran kalut Elsa, dia seperti tidak menyadari teriakan Elang bahkan mobil yang sudah semakin dekat.
"Elsa!" Elang berlari dan segera mendorong tubuh Elsa ke pinggiran.
"Ckiittt..." rem mendadak mobil box itu justru menabrak Elang yang gagal menghindar. Tubuhnya terpental ke aspal jalan yang membuat kepalanya terbentur cukup keras.
"Elang!" teriak Elsa cukup histeris. Dia segera berdiri dan mendekati Elang. Dia berjongkok di sisi Elang yang kini memegangi kepalanya dengan darah yang mulai merembes.. Sayup-sayup dia masih bisa membuka matanya. Elang berusaha untuk bangun tapi rasanya badannya teramat berat dan terasa sakit di sekujur tubuhnya. Hanya pelukan dari Elsa yang mampu menahan tubuh Elang.
"Elang, maafin gue..." Elsa menangis histeris saat meraba kepala Elang yang sudah berlumuran darah.
Tubuh Elang sudah terasa tidak berdaya bahkan untuk menarik napasnya pun terasa sesak. "Lo tenang aja, gue pasti gak papa." suara Elang begitu lirih. Setelah itu Elang sudah tidak sadarkan diri.
"Elang!!!" Elsa semakin histeris. Dipeluknya Elang dengan erat tidak peduli lagi dengan darah Elang yang menempel di seragam putihnya.
Beberapa teman dan orang di jalan sudah bergerombol sampai mobil Fandi ikut berhenti dan Fandi langsung turun dari mobilnya. "Elang!" Fandi cukup terkejut yang disusul juga dengan Bagas. "Kita harus cepat bawa ke rumah sakit." Fandi membuka pintu mobilnya dan beberapa temannya membopong Elang memasuki mobil.
"Elang, semoga lo gak kenapa-napa," ucap Bagas setelah menutup pintu mobil Fandi. Dan lagi, Bagas harus mengurus motor Elang.
Elsa ikut di dalam mobil Fandi yang kini sudah melaju cukup kencang menuju rumah sakit. "Elang, please buka mata lo." Elsa masih terus menangis sambil memangku kepala Elang. "Elang, kenapa gak lo biarin gue aja yang ketabrak. Udah cukup lo nyakitin diri lo hanya gara-gara gue."
"Elsa, kamu tenang yah." Sambil tetap berkonsentrasi pada jalan, Fandi ingin menenangkan Elsa. "Elang itu kuat, pasti dia gak apa-apa."
Elsa terdiam sambil terus terisak. Setelah sampai di rumah sakit, Elang segera dibawa ke IGD. Ingin Elsa menemani Elang tapi dia hanya bisa menunggu di depan. Dia duduk dengan lemas sambil menghubungi orang tua Elang dan juga ibunya sendiri.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara gue..."
"Elsa ini murni kecelakaan. Lebih baik sekarang kamu berdo'a agar Elang gak kenapa-napa. Elang pasti gak mau lihat kamu nangis kayak gini."
Elsa mengusap air matanya yang masih terus mengalir. Rasa menyesal itu begitu terasa. Andai saja dia tidak marah pada Elang semua ini tidak akan terjadi.
Beberapa saat kemudian Bagas dan Anna datang. "Elsa," Anna langsung memeluk sahabatnya. "Lo sabar yah, Elang pasti gak kenapa-napa."
Elsa hanya bisa mengangguk.
"Elang, lo gak boleh kenapa-napa." Bagas juga sangat khawatir dengan sahabatnya. Dia sampai berjalan mondar mandir tidak karuan.
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Elang dan juga ibu Elsa datang. "Mama.." Elsa langsung berdiri dan memeluk ibunya. "Ini semua gara-gara aku, ma. Elang sekarang jadi ngerasain sakit gara-gara ngelindungi aku."
Bu Difi mengusap pelan rambut Elsa. "Udah sayang, udah. Kita berdoa supaya tidak terjadi apa-apa pada Elang."
Bu Dian juga menangis, dia masih belum tahu bagaimana keadaan putranya sekarang. "Elsa, tante juga khawatir sama Elang tapi tante yakin Elang pasti baik-baik saja. Karena Elang lelaki hebat. Dia gak akan biarin kamu terluka sedikit pun. Dia itu sayang banget sama kamu. Justru tante gak bisa bayangin jika kamu yang terluka." Bu Dian kini ikut memeluk Elsa.
Tidak ada yang menjawab tapi firasat buruk langsung dirasa Dea saat melihat tidak adanya Elang.
Fandi berdiri dan kini mendekati Dea. "Elang kecelakaan."
Dea menutup mulutnya, dia sangat terkejut. Dia tidak tahu dengan kecelakaan itu karena dia lewat jalan samping tempat parkir saat keluar dari sekolah barusan. "Bagaimana bisa? Lalu keadaannya sekarang?"
Hanya ada gelengan dari Fandi. Lutut Dea terasa lemas. Otaknya seperti tidak bisa berpikir lagi, apalagi
saat tiba-tiba om Dirga datang dan langsung menghampiri Dea dengan wajah sedih dan mata merahnya. "Dea, ibu kamu..." om Dirga ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sanggup.
__ADS_1
"Ibu kenapa om?" Dea begitu khawatir saat melihat raut wajah om Dirga yang begitu menyedihkan.
"Ibu kamu udah gak ada."
"Gak mungkin!" Dea berbalik dengan tangis yang tertahan dan wajah yang langsung memucat.
Fandi juga sangat terkejut, dia berdiri dan mendekati Dea yang seperti tidak kuat untuk melangkah. Sesuai dugaan Fandi, Dea pingsan dan langsung ditangkap oleh Fandi. Beberapa pasang mata terkejut. Semua kesedihan saat itu bercampur aduk menjadi satu.
"Astaga Dea!"
"Dea, Dea bangun Dea!" Fandi menepuk pipi Dea agar tersadar tapi Dea tetap memejamkan matanya. Akhirnya Fandi menggendong Dea dan ingin membawanya ke ruang periksa. Baru beberapa langkah Dea tersadar.
"Ibu!" Dea begitu histeris dan melepaskan tangan Fandi hingga dia terjatuh. "Ibu jangan tinggalin Dea sendiri!!" tangis kehilangan itu semakin menjadi. "Dea udah gak punya siapa-siapa lagi selain ibu." Dea hanya menahan tubuhnya di lantai dengan tangannya. Ingin berdiri tapi dia tidak sanggup.
Fandi kini berjongkok di samping kanan Dea sedangkan Om Dirga di samping kiri. "Dea, kamu masih punya Om. Om udah anggap kamu seperti anak om sendiri."
Dea menggeleng keras. Air matanya terus mengalir sampai ke dagunya. "Dea gak mau kehilangan Ibu. Dea masih belum bisa kehilangan Ibu. Bahkan di saat terakhir pun, Dea gak nemenin Ibu. Kenapa Ibu ngotot nyuruh Dea sekolah tadi pagi kalau akhirnya Ibu ninggalin Dea selamanya." Tangis Dea semakin terisak.
"Dea, gue ngerti apa yang lo rasain tapi kalau lo gak ikhlasin, ibu lo gak akan tenang."
"Gue gak mau Ibu pergi, Fan. Gue gak mau..."
"Lo dengerin gue.." Fandi memegang kedua pipi Dea dan meyakinkannya agar dia lebih tenang. "Di setiap hidup manusia itu pasti akan merasakan kehilangan. Entah sekarang atau pun nanti lo harus siap. Allah sudah mengatur semuanya. Allah lebih sayang sama Ibu lo. Lo ikhlasin agar ibu lo tenang. Lo gak akan sendirian, masih ada om Dirga yang sayang sama lo dan juga masih ada sahabat-sahabat lo."
Dea mulai tenang dan hanya ada isakan. Badannya terasa sangat lemas dan dia hampir saja pingsan lagi jika saat itu Fandi tidak menepuk pipi Dea. "Dea lo harus kuat."
"Gue mau nemuin Ibu." Dea berdiri yang kini dibantu oleh om Dirga dan merangkulnya berjalan.
__ADS_1
Fandi mengusap wajahnya. Dia begitu terbawa perasaan dengan Dea. Rasa kehilangam itu sama seperti yang pernah dia rasakan dulu. Dia berdiri lalu mengikuti Dea berjalan di belakangnya.
Hancur hati Dea melihat ibunya sudah terbaring tidak berdaya dengan ditutup kain putih di sekujur tubuhnya dan sudah tanpa alat bantu apapun. Dea peluk tubuh ibunya sambil menangis. "Ibu, jangan mikirin Dea lagi yah. Dea pasti bisa jaga diri. Ibu bahagia di sana. Dan satu hal lagi, Dea janji akan terus belajar dan jadi orang sukses seperti apa yang ibu inginkan. Dea sayang sama ibu...."