Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
EPILOG


__ADS_3

"Udah sehat lo!?" Bagas sedikit memukul lengan Elang saat Elang baru saja melewati gerbang sekolah setelah hampir 3 minggu tidak masuk. Kepalanya pun masih diperban.


"Alhamdulillah sehat." Elang tertawa sambil berjalan pelan. "Sebenarnya gue masih belum boleh masuk tapi kalau lama-lama libur gue bisa ketinggalan pelajaran. Bentar lagi kan udah ujian kenaikan."


"Ya, mulai sekarang lo jangan sakit-sakit lagi. Biarin tuh kepala sembuh dulu. Tapi soal hati udah sehat dong pastinya."


Elang tertawa keras. "Haha, lo apaan sih." Langkah Elang tiba-tiba terhenti saat dia berpapasan dengan Dea.


Dea tersenyum pada Elang, walau sedikit memaksa. "Lo udah baikan?"


"Wah, gue duluan aja yah." Bagas merasa tidak enak, dia ingin meninggalkan mereka berdua tapi dicegah oleh Dea.


"Gak usah," cegah Dea. "Gak ada yang terlalu privasi kok."


"Ya, seperti yang lo lihat gue udah baikan. Sorry yah, gue belum bisa ke rumah lo."


"Iya, gak papa kok. Gue juga gak jenguk lo lagi di rumah sakit setelah lo sadar."


"Gak papa, gue ngerti. Lo emang cewek yang kuat, bisa melalui semua ini dengan tegar."


Mendengar perkataan Elang, Dea tersenyum lagi. "Gue gak sendiri."


Beberapa saat kemudian terlihat Fandi berjalan cepat ke arah Dea sambil memanggilnya, "Dea!" Fandi berhenti di sisi Dea dan melihat Elang. "Elang lo udah masuk." Fandi memeluk sesaat Elang dan menepuk punggungnya sebagai tanda persahabatannya dimulai. "Gimana? Udah baikan?"


"Udah. Thanks lo udah bolak-balik ke rumah sakit jenguk gue."


"Iya, sama-sama." pandangan Fandi kini beralih pada Dea yang akan melangkah pergi. "Lang, gue duluan yah." Fandi kini mengikuti langkah Dea. "Dea, ada yang mau gue tanyain....."


Elang memandang mereka berdua yang terlihat dekat. "Sejak kapan mereka dekat?" tanya Elang pada Bagas sambil melanjutkan langkahnya.


"Hmm, sejak ibu Dea meninggal. Mereka jadi kompak dan gue juga sering liat mereka belajar bareng. Kenapa? Lo cemburu juga?"


"Mana mungkin gue cemburu sama Dea. Gue ikut seneng kalau lihat Dea bahagia."


Bagas kini merangkul Elang sambil berjalan, "Iya, yang sekarang udah pacaran sama Elsa. Cieee.."


"Pacaran? Gak ada status pacaran buat gue. Kita tetep sahabatan tapi dengan rasa yang berbeda." Elang menimpali tertawa Bagas.


"Ciuman lo ampuh juga yah bisa buat Elsa langsung meleleh. Ajarin gue dong?" Bagas memelankan suaranya.

__ADS_1


Elang melepaskan rangkulan Bagas dan sedikit memukulnya, karena saat itu juga ada Elsa yang berjalan. Kalau Elsa sampai mendengar kalimat Bagas barusan pasti dia langsung marah.


"Elang," Elsa kini mengatur napasnya. "Lo ngomongin apa sih, dari tadi gue panggil gak denger."


Bagas menyenggol lengan Elang lalu meninggalkan Elang. "Untuk yang ini gue gak ganggu..."


"Lo kenapa? Keliatannya capek banget."


"Ojol gue, mogok di perempatan sana. Gila, gue jalan sampai sini. Capek banget. Langsung gue kasih bintang satu deh tuh orang."


"Eh, lo gak kasian. Nanti dia bisa kena suspend."


"Biarin! Biar tuh motor dibuang aja sekalian."


Elang tertawa karena Elsa sudah kembali ke wujud asalnya yang sangat cerewet. "Ya udah, besok gue jemput lo."


"Loh, emang lo udah sembuh. Luka lo aja masih diperban. Gue gak mau lo kenapa-napa lagi."


"Gue udah gak papa. Makasih yah, lo sekarang perhatian banget sama gue." Elang tersenyum lalu menggandeng tangan Elsa masuk ke dalam kelas.


***


"Terus, next kita gimana?"


Elang menatap Elsa menggoda. "Kita nikah."


Satu cubitan di dapat Elang. "Kita SMA aja masih kurang setahun, udah mikirin nikah. Ogah gue."


Elang tertawa, "Habis maksud pertanyaan lo apa? Lo mau kita pacaran gitu?"


"Hmmm.. Hmmm..."


Elang merangkul Elsa dan menjelaskan apa yang dipikirkan, "Kita akan tetap jadi sahabat walau dengan rasa yang berbeda. Gue gak mau hubungan kita rusak hanya karena kita pacaran terus putus. Sampai kapan pun bahkan sampai status kita berubah pun nanti kita masih tetep sahabat. Tapi dengan perlakuan yang lebih dari segalanya." Elang menatap Elsa sambil tersenyum.


"Ya, gue ngerti." Elsa membalas tatapan Elang dan tersenyum.


"Kalau liat lo sedekat ini, gue jadi ingin lakuin yang kedua kalinya."


Pipi Elsa terasa memerah, tapi dia tidak menjawab. Itu tandanya Elsa setuju dengan apa yang akan dilakukan Elang.

__ADS_1


"Woy!!" teriakan itu membuat Elang gagal mendekat. Terlihat Bagas dan Anna berjalan mendekati mereka.


"Bagas, lo apaan sih!" Elang kesal dan akhirnya menjauh dari Elsa.


Bagas kini malah duduk di samping Elang dan berbisik. "Lang, lo ajarin gue lah caranya."


Elang seketika tertawa cukup keras. "Itu ilmu alam." Dia berdiri dan menarik tangan Elsa. "Yuk Sa, kita pulang aja. Biarin mereka berdua di sini."


Elsa sebenarnya bingung tapi melihat tampang konyol Bagas dia jadi ikut tertawa. Lalu mereka berdua pergi.


"Lo bisik-bisik apaan sih?" tanya Anna dan duduk di samping Bagas.


"Enggak. Hmmm, mulai sekarang kita pacaran aja yuk. Tuh, Elang udah sama Elsa dan roman-romannya Fandi juga sama Dea. Terus kita udah deket cuma jadi teman rasa pacar aja dari dulu."


"Soal itu?" Anna terdiam sesaat. "Ya, oke."


"Oke?"


"Oke kita pacaran."


Bagas tertawa kegirangan dan dia ingin memeluk Anna tapi Anna menghindar.


"Kita bukan muhrim."


Bagas memperkecil suara tawanya. Dia bahagia setelah sekian lama digantung akhirnya sudah ada status yang pasti. Yah, Anna kan lumayan alim. Gak mungkin gue macem-macem sama dia. Mending gue sekarang belajar rajin terus kuliah dan buka usaha, biar cepat nikahi Anna. Bagas manggut-manggut sendiri dengan pemikirannya.


Cinta itu indah tapi akan lebih indah jika cinta itu dinikmati setelah berjuang mendapatkannya......




***Thank u udah ngikutin Elang dari awal sampai akhir. Maaf nih kalau kurang puas dengan ceritanya...



See you later di 7 tahun kemudian yah***....


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2