Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Balapan


__ADS_3

Jalan yang luas dan cukup sepi karena hanya ada gudang-gudang di sekitar, kini mulai ramai oleh anak SMA. Walau hari itu sudah mulai sore, mereka tidak bergegas untuk pulang.


"Gimana lo terima gak tantangan gue?! Gue gak mau adu fisik sama lo, gue cuma mau balapan sama lo. Kalau lo menang, gue gak akan gangguin cewek lo lagi!" David mengulang tantangannya lagi pada Fandi.


Fandi berdiri di dekat David yang sedang mengendarai motornya. "Oke, tapi gue pakai mobil."


David dan teman-temannya tertawa dengan keras. "Lo kalau mau sombong jangan berlebihan. Gue pakai motor. Gue ngerti lo gak punya motor sekarang, itu pasti karna lo takut naik motor lagi. Lo tenang aja, lo bisa pinjam motor temen gue."


"Gue gak pernah takut!" Fandi semakin emosi, dia menarik jaket David dan ingin menjatuhkannya dari motor tapi di saat itu juga suara Elsa menghentikan tindakan Fandi.


"Fan, kamu gak akan ikut balapan ini kan?" Elsa bertanya dengan sangat khawatir.


Fandi kini beralih menatap Elsa. "Kamu kenapa bisa ke sini?"


"Bagus kalau cewek lo ke sini. Jadi bisa lo ajak juga ikut balapan." Perkataan David begitu menusuk hati Fandi. Memorinya berputar kembali pada kejadian setahun yang lalu. Badan Fandi mulai bergetar dan keringat dingin pun mengalir di pelipisnya.


"Elsa, gak akan ikut!" tegas Fandi. Meski sebenarnya dia sendiri tidak tahu apakah dia masih bisa untuk naik sepeda motor lagi ataukah tidak.


"Fan, jangan terima tantangan ini. Please..." Elsa sangat khawatir dengan Fandi. Dia tahu betul, Fandi begitu trauma dengan kecelakaan itu. Elsa takut kejadian serupa terulang lagi pada Fandi.


"Sa, kalau Fandi emang cowok sejati, dia gak akan pernah mundur." Elang menghentikan motornya tepat di sisi Fandi dan Elsa.


David menepuk tangannya, "Baguslah kalau semua udah kumpul."


"Elang, Fandi gak akan ikut!" Elsa masih saja melarang Fandi.


"Elsa, kamu tenang aja. Ini demi kamu. Aku pasti akan memenangkan balapan ini." Fandi ingin meyakinkan Elsa. Tapi sebenarnya dia ingin meyakinkan dirinya sendiri dan menghilangkan trauma itu.

__ADS_1


"Sa, lo harusnya seneng cowok lo mau buktiin cintanya sama lo." Elang turun dari motornya. "Nih, lo pake motor gue. Gue jamin lo pasti akan menang."


Elsa semakin was-was. "Fandi gak usah!" larang Elsa lagi.


Tapi Fandi justru menuruti apa kata Elang. Dia pegang stir motor Elang.


"Bagus!" David menutup kaca helmnya dan langsung menghidupkan motornya.


Fandi belum juga naik ke atas motor Elang. Badannya bergetar hebat. Tangannya pun kini berkeringat. Dia gelengkan kepalanya sesaat ketika bayangan kecelakaan itu terus terlintas.


Elang melihat wajah pucat Fandi. Yang ada dipikiran Elang, hanyalah Elsa. Jika tidak ada yang memenangkan balapan itu, David akan terus menganggu Elsa. "Lo minggir!" Elang menarik Fandi untuk minggir dari motornya. Elang bergegas naik ke atas motornya. Menghidupkan motornya dan menutup kaca helmnya.


"Jadi lo yang mau balapan sama gue. Gue gak takut sama lo!"


"Lo liat aja. Lo gak bakal menang lawan gue!" Elang yakin, dia pasti bisa mengalahkan David.


Penonton semakin banyak. Update di chat grup kelas semakin menjadi. Baik di kelas Elang maupun kelas lainnya, hingga mengundang Bagas dan juga Dea. Dea menerobos kerumunan agar bisa melihat lebih dekat. "Elang!" panggil Dea saat motor Elang sudah melesat. Dea hanya  bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Elang.


"Aku emang cowok yang pengecut! Selalu gak bisa berbuat apa pun buat lo." Fandi menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa tidak bisa menjaga Elsa.


Tatapan Elsa kini beralih pada Fandi. "Nggak Fan! Kamu jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri. Jangan pernah memaksakan keadaan, kalau kamu memang gak bisa nanti bisa berakibat fatal."


"Tapi Sa, sekarang yang ikut balapan justru Elang. Elang yang sama sekali gak ada hubungannya dalam masalahku. Dan satu lagi, memang hanya Elang yang bisa jaga kamu." Fandi begitu putus asa. Semangat hidup yang baru dia dapat pun hilang.


"Kamu pasti bisa lakuin apa pun yang kamu inginkan asal kamu yakin." Elsa berusaha memberi keyakinan pada Fandi agar dia tidak merasa putus asa lagi. Tatapan mata Elsa memang pada Fandi tapi sebenarnya dia juga memikirkan Elang. Elang yang sedang berjuang melawan David.


Gue yakin menang! Ini semua demi lo, Sa. Elang terus menambah kecepatannya. Dia berhasil menyalip David tapi beberapa saat kemudian David pun menyalip dari arah kiri. Elang semakin fokus ke depan dan terus menambah kecepatan yang akhirnya berhasil menyusul David. Posisi mereka cukup sejajar. Garis finish tinggal beberapa meter lagi. Gue harus bisa! Gue harus bisa!

__ADS_1


Tim pendukung Elang cukup banyak. Terdengar suara penyemangat dari mereka. Elang semakin bersemangat saat melihat Elsa tersenyum melihat Elang yang sudah hampir sampai di garis finish.


Gue gak akan biarin kalian menang. Di saat Elang sudah mengurangi kecepatannya karena sudah melintasi garis finish, David menghimpit Elang dan menendang dengan keras badan motor Elang sebelah kanan. Motor Elang langsung oleng ke arah kiri tepat dimana Fandi berdiri.


"Bruagghhh!!" Spontan Elsa menarik Fandi hingga mereka berdua jatuh tersungkur. Sedangkan Elang, kaki kirinya tertimpa sepeda motornya.


"Au," Elang nampak kesakitan. Beberapa temannya segera mengangkat motor Elang. Elang melepas helmnya tapi kaki kirinya terasa begitu sakit untuk digerakkan. Justru dia tidak memikirkan rasa sakitnya. Dia hanya melihat Elsa yang sedang membersihkan luka di sikutnya. "Elsa.." Elang berusaha untuk berdiri tapi kaki kirinya teramat sakit hingga Elang hanya bisa mengerang dan terduduk lagi.


"Lang, lo gak papa kan?" tanya Dea sambil jongkok di dekat Elang.


Elang tidak menjawab Dea. Dia masih saja melihat ke arah Elsa. "Gas, tolong bantu gue berdiri. Gue harus mastiin keadaan Elsa."


"Elang, lo sadar gak sih dengan keadaan lo!" Dea memperkeras suaranya menerobos suara hiruk pikuk saat itu. "Kenapa lo selalu peduliin orang yang gak pernah peduli sama lo!" Suasana hening seketika. Semua pandangan mengarah pada mereka berdua termasuk Elsa.


Elang kini menatap Dea dan tidak sanggup berkata-kata saat melihat buliran air mata yang mengalir deras di pipi Dea.


"Lo selalu peduliin orang yang selalu nyakitin lo." Dea melanjutkan perkataannya sambil menunjuk dada Elang. "Oke, lo punya cinta yang tulus! Tapi gue gak mau lihat lo terus kayak gini. Gue peduli sama lo, Lang. Gue itu peduli sama lo." tangis Dea semakin terisak. "Gue gak mau lo terus sakit hati. Gue gak mau..."


Perlahan Elang meraba pipi Dea. Menghapus air mata Dea dengan lembut. Haruskah ada seseorang yang menangisinya seperti ini? "Lo kenapa nangisin gue? Gue bukan apa-apa dan ini cuma kecelakaan kecil."


Dea masih saja terisak. Dea memejamkan matanya sesaat merasakan hangatnya tangan Elang. Karena gue cinta sama lo. Itu yang sebenarnya ingin Dea katakan, tapi bukan saat ini dan bukan juga dihadapan semua orang. "Karna gue peduli sama lo." Dea melepas tangan Elang yang ada di pipinya lalu beralih melihat kaki kiri Elang. Mulai membiru dan sedikit membengkak. "Kaki lo mungkin terkilir. Ibu gue bisa mijit, kita ke rumah buat pertolongan pertama. Kalau masih sakit lo bisa ke rumah sakit. Bagas tolong bantu Elang naik ke motor gue, biar gue bonceng dan lo bawa motor Elang." Dea mengusap sisa-sisa air matanya. Lalu berdiri dan bergegas mengambil motornya.


Elsa hanya terdiam dan menatap kepergian mereka. Jujur saja, dia begitu sangat terbawa perasaan saat itu. Air mata itu perlahan merembes. Kata-kata Dea menyadarkannya akan ketidak-peduliannya pada Elang.  Lo udah lakuin apa pun buat gue. Tapi gue begitu egois, gue hanya mentingin diri gue sendiri. Benar kata Dea, gue emang gak pernah peduli sama lo. Bahkan di saat lo terluka pun, gue bisa apa. Elsa semakin terisak saat dia semakin mendalami pemikirannya.


"Sa, kamu kenapa? Ada yang sakit?" Fandi merangkul Elsa dan mengusap pundaknya.


"Elang, Fan. Aku gak mau Elang kenapa-napa. Dea benar, aku emang egois, yang gak pernah mikirin Elang. Aku gak pernah peduli sama Elang setelah semua yang Elang lakuin buat aku." Elsa terus terisak. Untunglah saat itu teman-temannya sudah bubar.

__ADS_1


Fandi beralih ke hadapan Elsa dan mengusap air matanya. "Kalau kamu mau kasih perhatian kamu ke Elang. Kamu susul dia."


Elsa menatap Fandi, dia begitu bimbang. Tapi hanya gelengan yang bisa dia lakukan. Kenapa gue jadi sangsi gini. Gue, harus mentingin Elang atau Fandi???


__ADS_2