Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Ekstra Part (1)


__ADS_3

“Elsa mana?” Setelah melihat papan pengumuman kelulusan di sekolahnya pagi itu, Elang tak melihat Elsa di dekatnya. “Pasti dia...” Elang berbalik dan berlari.


“Lang, mau kemana?” Pertanyaan Bagas sudah tidak dihiraukannya lagi.


Elang tahu betul, dan pasti apa yang Elsa lakukan saat ini sama persis dengan apa yang dia pikirkan. “Elsa, Elsa, tiap kelulusan pasti kayak gini.” Elang kini berjalan pelan saat sudah mendapati Elsa yang tengah duduk melamun. Dia duduk di sampingnya lalu merangkulnya. “Kenapa ngelamun? Harusnya seneng dong, kita udah lulus SMA dan kita udah semakin dewasa.”


Elsa mengerutkan dahinya. Dia menoleh sesaat Elang lalu meluruskan kembali pandangannya. “Gue udah terus belajar tapi selalu aja dapat juara 20 an, lah elo jarang belajar dan suka ngasal selalu aja masuk 5 besar.”


Elang terkekeh mendengar pernyataan Elsa. Dia sedikit mencubit pipi cubby Elsa yang semakin menggembung karena wajah cemberutnya. “Jadi ceritanya lo iri sama gue. Lucu banget sih. Gue cuma lagi hoki aja bisa masuk lima besar.”


“Ih, ngasal.” Elsa melepas rangkulan Elang karena rasa kesalnya kini bertambah.


“Udah dong. Jangan ngambek. Bentar lagi kita kuliah, lo mau masuk jurusan yang sama gak kayak gue?”


Elsa terdiam dan kini melipat kedua tangannya sambil bersandar.


“Gue mau ambil jurusan kewirausahaan. Gue mau nerusin usaha bokap gue. Kalau bisa sih, gue juga mau buka usaha lainnya juga.”


Elsa kini menoleh dan menatap Elang. “Ternyata lo udah punya rencana yang matang ya buat masa depan lo.”


Elang tersenyum dan menatap Elsa. “Iyalah. Ini semua juga buat lo.”


“Buat gue?”


“Karena gue gak mau lo susah setelah lo hidup sama gue nanti. Gue harus bisa bahagiain lo. Gue...”


Belum selesai Elang berbicara, Elsa mencubit lengan Elang. Karena jujur dia merasa malu setiap Elang mulai membicarakan masa depannya. “Ih, Elang. Kita aja baru lulus. Semua itu masih lama.”


“Kenapa gak? Lo gak mau sama gue?” Elang berpura-pura marah.

__ADS_1


“Elang, bukan gitu. Gue malu. Dan gue juga masih mikirin soal kuliah gue.” Elsa menghadap Elang dan mulai menunjukkan wajah seriusnya.


Elang menangkup kedua pipi Elsa, hanya untuk sekedar menenangkannya. “Gak usah bingung. Lo mau bareng kuliah sama gue lagi? Gak papa atau lo bisa ambil jurusan boga. Gue kira itu lebih cocok sama lo. Lo bisa ngembangin usaha catering nyokap lo.”


Elsa memutar bola matanya sambil tersenyum. Kenapa hal seperti itu saja tidak dipikirkan olehnya. “Lo bener juga.” Elsa meraih tangan Elang yang ada di pipinya dan menggenggamnya. “Makasih. Lo selalu ada buat gue.”


“Hidup gue kan emang udah didedikasikan buat lo.” Elang tertawa sambil mengeratkan genggaman tangan Elsa. “So, besok ke malam perpisahan bareng gue?”


“Kalau gak sama lo terus sama siapa lagi?” Kini Elsa bergelayut manja di pundak Elang.


Dari kejauhan, diam-diam ada seseorang yang terus memandang kebersamaan mereka. Sambil tersenyum dan meredam segala rasa yang mungkin sudah hampir terkubur. Sudah hampir setahun setengah gue lupain perasaan gue. Gue ikut seneng liat kebahagiaan kalian. Tapi kini satu tepukan tangan di pundaknya berhasil membuyarkan lamunannya.


“Dea? Dari tadi gue cariin lo. Lo di sini ternyata.” Fandi kini melihat apa yang Dea lihat sedari tadi. “Lo liatin mereka?”


“Hmmm, gak sengaja.” Dea membalikkan badannya dan mulai berjalan pelan.


Dea sedikit tersenyum sambil menoleh Fandi. “Ini juga berkat kerja keras lo selama ini.”


“Lo besok datang kan ke malam perpisahan?”


Pertanyaan Fandi menghentikan langkah Dea sesaat. Dea menggeleng lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Fandi.


Dea, lo itu cewek yang keras kepala. Tapi gue pastiin lo akan datang besok. Fandi melanjutkan kembali langkahnya tapi bukan untuk mengikuti Dea.


...***...


Gue mana mungkin ikut ke malam perpisahan itu. Hari itu sudah cukup siang tapi Dea masih saja rebahan di kamarnya sambil menatap layar hapenya yang telah dipenuhi chat grup kelas membahas malam perpisahan nanti malam.


“Pake dress code putih.” Dea bangun dari tidurnya dan membuka almari kecilnya yang kini sudah berada di kamarnya, di rumah Om Dirga yang sudah setahun dia pindah ke rumah itu. Dea menunduk sesaat lalu duduk di depan cermin dan melebarkan senyum terpaksanya. “Ini hal kecil. Gak akan ada kenangan manis juga kalau gue ikut.”

__ADS_1


Tok! Tok! Suara ketuk pintu membuat Dea berdiri. Dia membuka kamarnya.


“Dea ada kiriman buat kamu.” kata Tante Reta, istri Om Dirga.


“Dari siapa tante?”


Tante Reta menggeleng. “Tante, gak tau. Tadi sudah ada di depan pintu dan buat kamu.”


Dea menerima bingkisan kado dengan pita merah itu lalu menutup pintu kamarnya saat Tante Reta sudah pergi. Dea membuka kotak itu perlahan. “Gaun putih.” Mata Dea membulat saat melihat sebuah gaun putih yang terlipat rapi di dalam kotak itu. Dea mengambilnya dan menempelkan di tubuhnya. “Dari siapa?”


Dea, please lo terima pemberian gue. Gue tahu lo pasti ingin datang ke acara nanti malam. Pokoknya lo pakai ini dan gue akan jemput lo nanti malam. Lo tenang aja, gue beli ini dari tabungan gue sendiri. Fandi...


“Fandi?” Dea menghela napas panjang lalu dia segera menghubungi Fandi lewat WA. Tak berapa lama Fandi mengangkat panggilan Dea. “Hallo, Fan..”


“Lo udah terima?”


“Ya, lo gak perlu beliin ini buat gue. Gue gak perlu juga datang ke acara nanti malam.”


“Dea, Cuma ini yang bisa gue kasih buat lo. Pokoknya lo nanti malam harus ikut dan gue akan jemput lo. Kalau lo gak ikut gue juga gak akan ikut.”


Dea mengernyitkan dahinya. “Berasa spesial gue.”


“Ya, emang spesial.” Terdengar jawaban dari Fandi di seberang sana yang membuat Dea memutar bola matanya. Dea tidak ingin terjebak oleh cinta lagi untuk saat ini.


“Apaan sih lo?! Siapa gue juga. Gue itu bantuin lo ikhlas, jadi lo gak usah berasa berhutang budi.” Kata Dea sedikit ketus untuk menutupi hatinya yang lemah. Kini dia berjalann ke depan cermin sambil masih memegang gaun putih itu.


“Pokoknya nanti malam gue tetep akan jemput lo. Oke..” Setelah itu Fandi memutuskan panggilannya.


Dea menaruh hapenya. Dia kini mencoba gaun putih itu. Sangat pas di badannya. Dia berkaca dan berputar sesaat. Dia menatap dirinya dicermin sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2