
"Elsa, lo...” Elang terpesona menatap Elsa yang baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu. Elsa terlihat sangat cantik dan anggun malam itu. Apalagi kini dia tersenyum manis pada Elang. “Lo cantik banget.”
“Emang biasanya gue gak cantik.”
Elang berdiri dan mendekati Elsa. Di cubit sedikit pipi Elsa karena gemas. “Biasanya sih, biasa aja.” Goda Elang yang membuat Elsa sedikit cemberut.
“Ih, Elang..”
“Udah, udah jangan cemberut.” Elang meraih tangan Elsa dan menggenggamnya. “Bagaimana pun lo, gue tetep sayang sama lo.”
Senyum Elsa merekah. Dia mengalihkan wajahnya dari pandangan Elang.
“Udah pada mau berangkat sekarang?” pertanyaan Bu Difi membuyarkan pandangan Elang.
Elang tersenyum dan melepas tangan Elsa. “Iya tante. Kita berangkat dulu.” Mereka berpamitan pada Bu Difi lalu keluar dari rumah.
“Elang, lo bawa mobil?”
“Yah, mumpung dibolehin sama bokap. Biasanya kan pelit sama anak sendiri.” Elang membukakan pintu mobil untuk Elsa.
“Tapi lo bisa nyetir kan?” Elsa sempat ragu akan kemampuan menyetir Elang.
“Elsa, lo pikir gue bawa mobil ke sini gak gue setir. Gini-gini gue udah bisa nyetir kali dari dulu. SIM juga udah punya meski baru beberapa bulan.”
Elsa tersenyum ringan lalu masuk ke dalam mobil yang disusul oleh Elang.
“Tapi gue kok gak pernah liat lo nyetir mobil?”
“Bokap gue gak pernah ngijinin gue bawa mobil sendiri. Ya, ntar kalau gue udah punya mobil, kita jalan-jalan.” Elang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah malam itu.
...***...
__ADS_1
Ternyata teman-teman udah banyak yang datang. Aduh gimana nih? Gue gak pede banget. Dea menunduk dan meremas tangannya sendiri saat mobil Fandi sudah berhenti di tempat parkir sekolah.
Fandi bisa menangkap kegelisahan Dea. “Kenapa? Lo tegang banget.”
“Gue, gue gak pede dandan kayak gini. Gue kayak gak pantas aja.”
Fandi tersenyum sambil mengambil hapenya dan membuka kamera depannya. Lalu dia arahkan pada Dea. “Lo lihat. Lo itu cantik. Lo beda banget hari ini. Lo harus bisa percaya dengan diri lo sendiri. Seperti apa yang selalu lo bilang sama gue.”
Dea menjauhkan hape Fandi. “Tapi Fan, gue...”
“Udah, kan ada gue. Lo tenang aja.” Fandi mengusap pundak Dea sesaat lalu dia beralih membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Berjalan cepat dan membukakan pintu untuk Dea.
Dea mengernyitkan dahinya sambil memandang Fandi. Ada sedikit keraguan saat dia menerima perhatian Fandi.
“Tinn!!Tinn!!” Suara klakson mobil cukup keras membuat Dea dan Fandi terkejut. Dea keluar dari mobil dan melihat ke arah mobil yang akan terparkir.
“Lama banget tatapannya. Dari tadi gue tungguin. Nih, mau parkir juga.” Elang membuka kaca mobilnya sambil teriak. Dia sebenarnya hanya berniat menggoda mereka.
“Kalian nungguin kita?” tanya Elsa setelah keluar dari mobil.
“Dea?” Elang kini menatap Dea dengan saksama. Dia berjalan mendekat di samping Elsa. “Lo beda banget malem ini. Sumpah! Lo cantik banget.”
Dea hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Elsa melirik tajam Elang lalu berjalan mendahuluinya.
“Elsa! Yee, gue kan cuma bercanda.” Elang segera menyusul Elsa. Elang meraih tangan Elsa dan menggenggamnya. “Apa ada yang diragukan lagi soal gue?”
Elsa berhenti sambil memutar bola matanya. “Gak ada sih, berarti lo masih normal bisa lihat cewek cantik.” Elsa tersenyum dan hal tadi hanyalah gurauan.
“Jadi, lo barusan bercanda. Hmmm, jadi pengen gigit. Sumpah!” mereka berpandangan sesaat yang membuat dua orang di belakangnya sedikit iri.
“Lo masih ada rasa sama Elang?” Sebenarnya Fandi ragu menanyakan hal itu pada Dea. Bahkan ini sudah kesekian kalinya pertanyaan itu terucap.
__ADS_1
Dea terdiam sesaat lalu dia tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan Fandi, dia berjalan perlahan.
Fandi menyusul langkah Dea. “Kenapa gak jawab? Iya?”
Tepat saat melintasi lorong kelas menuju aula, Dea menghentikan langkahnya. Kini dia beralih menatap Fandi yang ada di sampingnya. “Menurut lo?”
Fandi menggelengkan kepalanya.
Dea tersenyum lagi. Tersenyum tanpa beban karena entah kenapa hari ini dia merasa sangat bahagia. “Mengharapkan seseorang yang jelas mencintai orang lain itu menyakitkan. Rasa itu sudah tertutup jauh sejak...”
“Sejak?” Fandi menunggu kalimat dari Dea.
Pipi Dea terasa memerah. “Sejak gue deket sama lo.” Jantung Dea berdebar. Sama, dengan apa yang dirasakan Fandi.
Fandi tersenyum sambil menghela napas panjang. Satu cerita yang begitu dramatis saat dia merasakan kehadiran cinta yang mengalir dengan sendirinya untuk Dea. Dia menggenggam kedua tangan Dea. “Apa gue boleh sebut ini semua cinta?”
Dea tersenyum sambil mengangguk pelan dan membalas genggaman tangan Fandi.
“Ciee. Jadian nih..” Sorak mereka secara bersamaan yang membuat Fandi dan Dea melepaskan tangannya.
“Elang! Bagas! Kasian kan mereka jadi malu.” Elsa menarik Elang agar tidak mengganggu mereka.
“Iya nih, mereka juga butuh privasi. Gak baik nguping.” Anna juga menarik tangan Bagas agar ikut menjauh.
Fandi dan Dea tertawa bersama melihat teman-temannya. Lalu Fandi menggandeng tangan Dea dan berjalan menuju aula.
💞💞💞
Makasih udah mengikuti cerita Elang, Elsa, dan teman-temannya.. Sudah sekian lama gak update cerita. Perlahan mau saya lanjut ke sesion dua.. Sabar yah, soalnya sambil momong anak.. 👩👧..
See u.. 💋💋
__ADS_1