
Pagi itu, Elang terjebak kebisuan dengan Elsa sepanjang jalan menuju sekolah. Sebenarnya Elang sudah tidak sabar untuk bertemu Fandi dan meluapkan emosinya semalam. Sedangkan Elsa sendiri bingung apa yang harus dia lakukan jika Elang benar-benar buat perhitungan dengan Fandi.
Motor Elang sudah parkir dengan mulus di parkiran sekolah. Kebetulan, saat itu Fandi sudah bejalan ke arah Elsa.
"Fandi!" Melihat wajah marah Elang, Elsa berusaha menahan Elang.
"Elang, udah lo gak usah bahas lagi soal kemaren." Elsa menarik tangan Elang saat Elang akan mendekati Fandi.
"Masalah ini harus diselesaikan. Kalau gue biarin Fandi terus kayak gini, itu tandanya gue gak akan biarin lo dekat dengan Fandi lagi!" Elang melepas tangan Elsa, dia melangkah cepat dan langsung mendorong Fandi cukup keras.
Meski sempat mundur beberapa langkah, tapi Fandi masih bisa menahannya. "Lo mau apa!"
"Lo gak sadar dengan perbuatan lo! Lo kemaren udah bawa Elsa dalam bahaya!"
Fandi tidak mengerti karena Elsa sengaja tidak menceritakan kejadian semalam pada Fandi. "Gue gak nyakitin Elsa sama sekali."
"Lang, udah." Elsa menarik tangan Elang tapi Elang masih bersikeras ingin menghajar Fandi.
"Jadi lo belum tahu, oke gue ceritain sama lo! Kalau lo ajak keluar Elsa harusnya lo bisa tanggung jawab mengantar Elsa pulang, tapi nyatanya lo tinggalin Elsa sendiri di jalan, dan kemana lo? Pulang?"
"Lang, kemaren bokap gue itu.."
"Gue gak mau tahu alasan lo apa! Yang jelas David hampir saja mencelakai Elsa. Seandainya gue gak datang waktu itu, gue gak bisa bayangin apa yang dilakuin teman lo itu pada Elsa."
Fandi membelalakkan matanya. Dia kaget. Apa benar David berniat melukai Elsa? "Sa, kenapa kamu gak cerita soal itu kemaren?"
"Lo gak usah basa-basi, kalau lo memang gak sanggup jagain Elsa, lo gak usah deketin Elsa lagi!"
"Oke, gue salah! Gue pasti akan jagain Elsa."
Rasanya belum puas jika Elang belum menghajar Fandi, "Dengan mudahnya lo bilang salah!" Elang mengepalkan tangannya dan akan mendaratkan pukulannya di wajah Fandi tapi dengan cepat Bagas menangkisnya.
__ADS_1
"Elang stop!! Kendaliin emosi lo! Ini di sekolah." Sebagai seorang teman, Bagas tidak mau Elang terkena masalah.
Napas Elang masih tidak teratur.
"Lang, udahlah. Yang penting gue gak papa."
Elang kini beralih menatap Elsa yang sedari tadi terus menarik tangannya agar menjauh dari Fandi.
"Oke, lo belain Fandi aja terus!! Jangan panggil gue lagi kalau lo butuh sesuatu." Elang membalikkan badannya dan pergi dengan Bagas. Sebenarnya Elang tidak bermaksud berkata demikian. Itu tidak sungguh-sungguh hanya sebatas emosi sesaat Elang.
"Jadi David beneran mau nyelakain kamu tadi malam?" tanya Fandi sambil berjalan pelan menuju kelas.
Elsa mengangguk, "Tapi aku gak papa."
"Itu karena Elang yang nolong kamu. Bodohnya aku ninggalin kamu kemaren." Fandi sangat menyesal dengan kejadian semalam.
"Udahlah, semua udah terjadi. Sebenarnya aku ingin masalah kamu sama David selesai biar gak ada dendam lagi."
"Itu gak mungkin! Aku buat perhitungan sama David. Kalau gak bisa secara baik-baik, aku juga bisa lakuin apa yang dia mau." Dulu Fandi tidak pernah menganggap David itu musuhnya, tapi tidak sejak saat ini. Fandi ingin bertemu David, ingin membalas apa yang telah dilakukannya pada Elsa. Dia tidak akan lagi mengalah. Walau mungkin David bisa saja menghabisinya. Fandi tidak akan membiarkan David benar-benar berhasil melukai Elsa.
Fandi berhenti dan menutup mulut Elsa dengan telunjuknya. "Kamu tenang aja, aku cowok dan aku harus bisa ngelindungi kamu. Kalau aku gagal jagain kamu sekali lagi, aku akan relain kamu sama Elang." Fandi serius dengan perkataannya.
Sesuatu terlintas dipikiran Elsa. Selama ini memang selalu Elang yang menjaganya. Apa memang Elsa tidak bisa hidup tanpa Elang?
***
Gue gak mungkin bisa gak peduli lagi sama lo. Gue gak mau lo kenapa-napa, Sa. Elang melamun di taman belakang sekolah sambil memutar-mutar gelang yang harusnya sudah diberikan pada Elsa. Gue udah berusaha move on dari lo tapi gak bisa.
"Gelang itu belum lo kasih ke Elsa?" pertanyaan Dea membuat Elang berhenti melamun dan menggenggam gelang itu lagi.
"Belum sempat." Elang memandang Dea sesaat lalu memberinya tempat duduk.
__ADS_1
Dea pun duduk di samping Elang. "Belum sempat atau lo gak berani ngasih?"
Elang terdiam sesaat lalu mengalihkan pembicaraan, "Sorry, tadi gue gak jemput lo. WA gue kenapa gak lo balas?" Sebelum berangkat sekolah tadi pagi Elang mengabari Dea terlebih dahulu lewat Whatsapp agar Dea tidak menunggunya.
Dea memang sengaja tidak membalasnya. "Iya gak papa. Lagian sepeda motor gue udah balik kok." Dea sedikit tersenyum. Sebenarnya dia memang lagi senang karena tadi pagi om Dirga mengembalikan sepeda motor Dea yang beberapa minggu ini ada di penggadaian.
"Katanya udah lo jual?"
"Belum. Cuma gue gadai-in sih. Ternyata om Dirga nebus sepeda gue. Katanya kasian, mungkin dikira gue jalan kaki kali ke sekolah padahal kan ada tukang ojek gratis."
Elang menyungirkan bibirnya, "Jadi lo anggap selama ini gue cuma tukang ojek."
"Bercanda ding. Lang, makasih yah lo udah banyak bantu gue."
"Yah, gue juga makasih lo selalu hibur gue."
Dea tersenyum. Walau sebenarnya Dea tahu, dia sama sekali tidak bisa menghibur Elang karena hari-hari yang dilalui bersamanya masih saja terlihat ada kesedihan di mata Elang. "Lang, gue tadi liat Elsa sedang duduk sendiri di dekat kelas gue. Lo samperin gih. Lo kasih tuh gelang, siapa tahu hubungan lo sama Elsa bisa membaik."
Elang masih saja berpikir.
"Udah, gak usah mikir lagi." Dea menarik Elang agar berdiri dan berjalan, akhirnya Elang mengikuti apa mau Dea. Benar apa kata Dea, Elsa sedang sendiri dan membaca bukunya. Elang kini menuruti kata Dea dan akan melangkahkan kakinya tapi, dan lagi terhenti saat melihat Fandi menghampiri Elsa dan langsung duduk di sampingnya.
Elang terdiam menatap senyum bahagia Elsa bersama Fandi. Percuma jika dia harus mendekati Elsa dan hanya akan merusak suasana. Elang meremas gelang itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah yang berada di dekatnya. Dia berbalik dan berjalan pergi tanpa berkata apapun lagi pada Dea.
"El,," Dea mengurungkan niatnya memanggil Elang. Gue tau perasaan lo. Pasti sakit banget, sama seperti apa yang gue rasain ke lo. Makanya gue gak mau lo sakit hati, Lang. Gue ingin lo tersenyum lagi. Dea membuka tempat sampah itu. Untungnya hanya berisi kertas. Dia ambil lagi gelang Elang dan dibawanya. Elang pasti gak sungguh-sungguh ingin buang gelang ini.
...***...
"Elang mana sih? Lama banget." Elsa duduk di dekat tempat parkir. Dia sengaja pulang bareng Elang karena Fandi sedang ada urusan, katanya. Beberapa kali Whatsapp Elang masih saja belum di read. "Jangan-jangan Elang beneran marah sama gue. Terus gue ditinggalin." Elsa melihat deretan sepeda motor yang masih berjejer. "Sepeda motornya masih ada mana mungkin ninggalin gue. Mungkin dia lagi kumpul ama temen futsalnya." Elsa kembali memainkan handphonenya sambil menunggu Elang. Tiba-tiba ada sebuah chat grup kelas. Elsa langsung ingin membacanya. Ada sebuah foto, Elsa membuka dan memperbesar foto itu.
Guys, gue liat barusan Fandi ditantang adu balap sama geng motor ini. Kuy yg mau lihat segera merapat ke jalan Pattimura. Keterangan dari foto yang dikirim di laman grup.
__ADS_1
Elsa membelalakkan matanya. "Itu kan David? Ini gak boleh terjadi. Fandi gak mungkin bisa balapan lagi, dia udah trauma." Seketika Elsa berdiri dan berlari menuju pangkalan ojek depan sekolah. Dia langsung mendapat tukang ojek dan segera menuju ke jalan Pattimura.
"Elsa!!" panggil Elang tapi Elsa sudah jauh, mana mungkin dia mendengar suara Elang. "Nunggu gue bentar aja gak mau!!!" dumel Elang sambil menaiki motornya. Sebelum melajukan motornya Elang menyempatkan untuk melihat chat Whatsapp-nya. Ada beberapa pesan dari Elsa dan grup kelas. Elang membuka pesan itu dan membaca pesan Elsa terlebih dahulu. "Elsa bilang nungguin gue, terus kenapa dia tiba-tiba pergi." Lalu Elang membuka grup kelasnya. Membaca dengan serius mulai dari foto Fandi dan beberapa teman yang menimpali. "David dan Fandi? Jangan-jangan Elsa ke tempat Fandi. Gue harus mastiin." Elang memakai helmnya dan langsung melajukan motornya menuju tempat Fandi dengan cukup kencang.