
Gadis yang sudah hampir 25 tahun selalu menemaniku. Dia sahabat sekaligus teman hidup aku. Meski pun aku sudah bersama dia sejak kecil tapi aku tak pernah bosan memandang dia. Tak pernah bosan mendengar cerewetnya. Tak pernah bosan berbagi cerita dan bercanda dengan dia. Apalagi, aku merasa semakin dewasa dia semakin cantik meski kadang masih kekanak-kanakan. Tapi aku suka, dengan sifat manjanya.
“Kenapa senyum-senyum gitu?” Tanya Elsa sambil mengaduk minumannya. Saat itu mereka ada di sebuah cafe untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.
“Cantik.” Jawab Elang masih dengan senyumnya.
Elsa sudah biasa dengan kata-kata Elang itu. “Hmmm, pasti muji gini ada maunya.”
“Mau apa? Iya, aku kan emang mau sama kamu terus. Dari dulu sampai nanti.” Elang kini menggenggam tangan Elsa.
Tangan Elang begitu hangat. Elsa membalas genggaman tangan Elang.
“Tapi, sampai kapan kita kayak gini?”
“Maksudnya?”
“Hubungan kita kan belum resmi secara agama dan negara. Kamu tau gak, nyicil mobil aja cuma 3 tahun masak hubungan kita bertahun-tahun belum dapat surat resmi juga.”
Elang tertawa renyah mendengar keinginan Elsa. “Kamu takut jadi perawan tua?” Elang justru menggoda Elsa.
Elsa mulai marah. Dia berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman tangan Elang lebih kuat.
“Jangan marah. Maaf ya. Nanti kalau udah saatnya pasti aku akan melamar kamu secara resmi. Kita perbaiki dulu sifat dan ego kita masing-masing. Nanti kalau kita sudah menikah pasti bakal banyak masalah yang kita hadapi gak cuma kita mau jalan kemana, kita mau makan dimana. Kita harus lebih dewasa. Dan aku juga masih banyak kerjaan penting, aku gak mau nanti setelah kita nikah waktu kita jadi terpotong karena harus ngurus pekerjaan.”
“Kayak sekarang ini, iya kan? Kita keluar bareng kayak gini aja satu bulan mungkin cuma dua kali.”
“Iya, kan kamu juga bisa ke kantor aku. Aku juga sering ke rumah kamu.”
__ADS_1
Elsa menghela napas panjang. “Dulu waktu kita masih sekolah, banyak banget waktu buat kita berdua. Kangen gak sih?”
“Ya jelas kangen. Tapi ini kan yang harus kita lalui. Katanya pengen cepet nikah.” Elang mendekatkan wajahnya sambil berkedip menggoda.
Elsa tidak bisa menahan tawanya. “Apaan sih? Jangan gitu, malu diliatin orang.”
Elang kembali ke posisi duduknya lalu mencium punggung tangan Elsa yang sedari tadi di genggamnya.
Elsa tersipu malu menerima perlakuan Elang.
“Lang, ini tempat umum. Malu.” Elsa perlahan menarik tangannya lalu memegang gelas yang dingin karena memang cafe saat itu lumayan ramai.
“Malu, kenapa? Apa kita berasa tua di sini.” Elang memelankan suaranya sambil melihat sekeliling yang memang pengunjung cafe itu rata-rata para remaja SMA dan kuliah.
Elsa tersenyum lagi. “Iya, kayaknya kali ini kita salah pilih tempat. Besok-besok jangan milih cafe yang lagi viral deh.”
“Kita balik aja yuk. Kita ngadem aja di taman.”
Terdengar mereka sesekali masih tertawa sambil berjalan menuju tempat parkir.
“Itu anak-anak muda pake duit siapa yah ke cafe?” tanya Elsa yang masih tidak habis pikir dengan gaya nongkrong anak jaman sekarang.
“Yah, orang tua mereka lah dengan alasan butuh dana buat ngerjain tugas. Iya, kalau aku dulu, gak ada dana buat nraktir. Pengennya malah aku yang di traktir.” Kelakar Elang sambil masuk ke dalam mobil.
“Emang dasar! Dulu uang saku kamu cuma buat maen futsal sama beli kaset PS.” Elsa kini duduk di jok depan sambil menutup pintu mobil.
“Yang penting sekarang kamu mau apa pun bisa aku beliin.” Elang memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
“Beliin apa pun? Bisa beliin pulau?”
Elang kini menatap Elsa. “Bisa, pulau di monopoli.” Elang tersenyum.
Elsa sedikit cemberut meski sebenarnya dia sudah biasa dengan jawaban asal Elang.
“Ada satu hal yang gak bisa dibeli dengan uang.” Elang kini mendekatkan wajahnya.
“Apa?” Elsa juga kini mendekatkan dirinya.
“Rasa cinta.” Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Elsa.
Elang kini meluruskan duduknya dan bersiap untuk melajukan mobilnya.
Sedangkan Elsa menggigit kecil bibir bawahnya setelah menerima perlakuan Elang.
“Kalau mau yang lama, nanti aja cari tempat yang aman. Di sini tempat parkir, nanti ada yang klakson kayak dulu.”
Mendengar ucapan Elang, Elsa langsung mencubit pinggang Elang. “Gak kebalik.”
“Aduh, ampun bu bos.”
Elsa kini duduk anteng sambil melipat tangannya. Sedangkan Elang kini fokus dengan jalanan saat mobilnya mulai meninggalkan tempat parkir.
“Elsa, entah masalah apa yang akan kita hadapi selanjutnya, janji ya, kita akan selalu bersama.” Ucap Elang sambil menunggu lampu merah di perempatan.
“Janji. Kita akan selalu bersama. Dulu, sekarang, dan nanti...”
__ADS_1
💞💞💞
Niatnya mau lanjut S2 di sini, tapi sekarang masih fokus di cerita lain jadi lanjut di halaman baru saja yah.. S1 aku end di sini.. 🙏☺️