
Elang menghentikan motornya di depan rumah Elsa pagi itu dan kebetulan Elsa memang sedang menunggunya.
"Lo gak nungguin orang lain kan?" tanya Elang setelah membuka kaca helmnya.
Elsa menggeleng, "Gue lagi nungguin lo."
"Yuk." Elang kembali menutup kaca helmnya dan tersenyum. Entah kenapa dia masih saja gerogi pada Elsa. Malah rasanya semakin menjadi. Setelah Elsa naik ke boncengan Elang, motor Elang melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah.
Gerogi itu tidak hanya dirasakan Elang tapi juga Elsa. Ingin dia berpegangan di pinggang Elang seperti biasanya tapi rasanya tangannya begitu kaku. Kenapa gue jadi kayak gini sama Elang. Detak jantung gue bener-bener gak bisa terkontrol. Tenang.. Tenang..
Sampai tiba di sekolah mereka masih saja terdiam. Setelah turun dari motor lalu mereka berjalan bersama menuju kelas.
"Hmmm," Elang ingin memulai pembicaraan. "Sa, kemaren itu sebenarnya..."
Jantung Elsa hampir saja terputus. Entah apa yang akan dibahas Elang, Elsa benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak salah tingkah. "Lang, sorry gue mau ke toilet.." Elsa melangkah cepat mendahului Elang.
"Fiuhhh.." Elang kini memutuskan untuk duduk walau sebenarnya kelasnya masih jauh. "Ini bukan saatnya gue mastiin perasaan Elsa. Gue harus nyelesaiin masalah gue sama Dea dulu."
Setelah Elang membatin beberapa saat terlihat Dea berjalan ke arahnya. Bukan ke arahnya melainkan menuju kelasnya yang memang di wilayah itu. Elang terus melihat Dea sampai mendekat beberapa meter lalu dia berdiri. Sempat bertatap muka beberapa saat sebelum akhirnya Dea memalingkan wajahnya.
"Dea gue mau ngomong sama lo."
Dea menghentikan langkahnya sesaat setelah melewati Elang dan tanpa menoleh Elang lagi, "Buat gue semua udah jelas kok." Dea kembali melangkah menuju pintu kelasnya.
Elang masih melangkah mendekat. Dia sadar dengan mata kodok Dea. "Dea lo kenapa? Lo ada masalah?" tanya Elang lagi tapi Dea malah berlenggang masuk ke dalam kelas.
Tidak enak juga jika dia harus menyusul Dea ke dalam kelasnya. Elang memutar langkahnya dan berjalan kembali menuju kelasnya.
Elsa berkaca pada kaca toilet dan membuang napas dalam.
"Elsa." Suara panggilan itu berhasil membuat kaget Elsa, karena Elsa memang sedang melamun saat itu.
__ADS_1
"Anna, lo ngagetin gue aja."
"Lo tadi kan sama Elang kenapa lo malah ninggalin dia?" tanya Anna sambil mencuci tangannya sesaat.
Elsa menggigit bibir bawahnya. Dia sebenarnya malu harus mengakui perasaannya. "Habisnya gue bingung, tiap kali gue deket Elang bawaannya gerogi terus. Jantung gue juga detaknya lebih cepat dari biasanya, kayaknya ada kelainan deh," cerita Elsa dengan versi lugunya. Meski sebenarnya dia sudah ngeh dengan perasaannya.
Anna tertawa mendengar pernyataan konyol Elsa, "Itu namanya lo jatuh cinta sama Elang atau mungkin lo baru saja ngelakuin sesuatu yang spesial sama Elang yang terus buat lo kepikiran dan gerogi."
"Lo tau?" Elsa membelalakkan matanya dan menarik lengan Anna.
"Tau apa? Tau perasaan lo?"
Elsa menghela napas lagi, "Kirain Elang cerita sama Bagas terus Bagas cerita sama lo."
Anna memutar bola matanya, Elsa memang terlalu berbelit-belit. "Elsa, kalau urusan cowok mana mungkin Bagas cerita sama gue. Yah, kalau lo udah sadar perasaan lo sama Elang harusnya lo jujur aja sama dia."
"Aduh, gue masih malu," jawab Elsa sambil berjalan keluar dari toilet yang diikuti Anna.
Elsa menunjukkan senyum pepsodent-nya pada Anna. "Ada deh." Lalu dia mempercepat langkahnya.
"Elsa, kan lo yang cerita sama gue tapi malah main rahasia." Anna menyusul langkah Elsa menuju kelas.
Hari itu Elang masih saja kepikiran Dea. Rasa bersalahnya mulai muncul. Kalau benar Dea punya perasaan sama gue berarti gue udah nyakitin dia selama ini. Istirahat pun begitu sulit Elang menemui Dea, sampai pulang sekolah saat itu.
"Sa, lo tunggu gue yah. Gue ada urusan sama Dea sebentar." tanpa menunggu jawaban dari Elsa, Elang segera mempercepat langkahnya sebelum Dea pulang terlebih dahulu.
Elsa terdiam sesaat. Dia jadi ragu, apa selama ini Elang dan Dea memang sudah berpacaran? "Hufftt," Elsa membuang pikirannya jauh-jauh.
"Dea!" panggil Elang sambil berlari dan menarik tangan Dea saat Dea akan menuju tempat parkir. "Kalau lo punya masalah sama gue, lo bilang. Gue gak mau lo menghindar kayak gini."
Dea berusaha melepaskan tangannya tapi gagal. "Gue lagi buru-buru Elang."
__ADS_1
"Dea, gue kira kita masih bisa berteman."
Kalimat Elang meluluh-lantah hati Dea. Dengan perasaan yang sekalut ini begitu mudahnya Dea dibuatnya menangis. "Udah, cukup Lang. Gue gak mau lagi jadi cewek cengeng cuma gara-gara lo! Dan lo gak butuh gue lagi kan untuk mengalihkan perasaan lo sama Elsa karena Elsa sekarang udah bales perasaan lo." Dea begitu bersikeras melepas tangannya tapi justru kini Elang berpindah ke hadapan Dea dan menghadang langkah Dea.
"Oke, gue salah, gue minta maaf. Lalu gue harus apa?"
"Lo jauhin gue!!"
Elang terdiam sesaat sambil menatap Dea yang terus mengalihkan perhatiannya.
"Gue tahu, gue salah besar udah bawa lo masuk dalam masalah gue. Kalau itu yang lo mau, oke gue akan turuti apa mau lo. Mungkin lo akan lebih bahagia tanpa gue. Makasih untuk semuanya, gue belum bisa balas semua kebaikan lo. Tapi yang jelas, lo akan tetap jadi seseorang yang spesial buat gue."
"Yang pernah spesial." Dea meralat perkataan Elang. Matanya kini telah basah. Dia tidak sanggup menahan air mata yang kian membanjiri pipinya. Bahkan Dea telah mengusapnya berkali tapi masih saja merembes.
"Please, jangan pernah nangis lagi." Elang akan menghapus air mata Dea tapi tangannya ditepis oleh Dea.
"Gue gak nangis gara-gara lo. Gue cuma nyesel, kenapa gue bisa cinta sama lo yang jelas-jelas mencintai Elsa dari dulu. Bahkan gue juga gak ngerti kenapa gue bisa jatuh cinta sama lo pada pandangan pertama di saat lo belum mengenal gue." Dea sedikit mengeraskan suaranya yang serak karena tertahan isak tangis. Dia luapkan segala emosinya yang terpendam selama ini. Dan untungnya tidak ada orang lain di tempat itu.
Ungkapan Dea membuat Elang membelalakkan matanya. Dia sedikit terkejut. Jadi benar selama ini Dea mencintainya. "Gue bener-bener minta maaf, gue gak bisa balas perasaan lo. Gue memang cowok yang gak peka, yang bisanya cuma nyakitin lo dan beri harapan palsu buat lo. Nyatanya gue memang gak bisa buang perasaan gue buat Elsa. Maafin gue..." Dea sedikit tenang dan kini Elang memegang kedua pundak Dea untuk memberinya keyakinan. "Bukan gue yang harusnya dapetin cinta lo. Lo itu baik, lo itu tulus. Gue yakin pasti akan ada seseorang yang benar-benar mencintai lo dengan tulus." Elang menatap mata Dea yang masih terus menangis. "Jangan nangis lagi." Air mata itu akhirnya mulai menyurut karena perkataan lembut Elang.
"Makasih dengan semua kenangan yang lo beri." Dea dengan tiba-tiba memeluk Elang. Elang cukup terkejut, meski ini adalah kedua kalinya Dea memeluknya. Elang tidak mungkin mendorong tubuh Dea. Apalagi saat sebuah kalimat yang cukup membuat perasaannya begitu terharu terucap di dekat telinganya. "Lo baik-baik sama Elsa. Jangan berantem terus. Biarin gue peluk lo sesaat karena mulai saat ini gue gak akan lagi berharap sama lo."
Tangan Elang ragu-ragu untuk membalas pelukan Dea. Belum juga mendarat di punggung Dea, Elsa muncul dengan mata nanarnya. "Elsa!" Elang segera melepas pelukan Dea saat Elsa berlari menjauh. "Elsa tunggu!" Elang kini mengejar Elsa.
"Kenapa juga gue peluk Elang barusan. Pasti Elsa akan salah paham sama gue." Dea mengusap lagi wajahnya dan bergegas menuju motornya.
"Dea!" Fandi datang dan menghampiri Dea. "Dokter Farah barusan menghubungi gue, katanya Ibu lo kritis lagi."
Perasaan Dea menjadi cemas mendengar berita dari Fandi. Dea buru-buru memakai helmnya. "Apa! Gue langsung ke rumah sakit sekarang." Dea segera mengendarai motornya dan melaju meninggalkan sekolah.
"Gue akan susul lo..."
__ADS_1