Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Elang Sembuh


__ADS_3

Samar-samar mulai terlihat seberkas cahaya. Perlahan Elang membuka matanya. Pandangannya masih kabur. Dia lihat sekeliling, dia sadar sedang berada di rumah sakit dan di sampingnya ada Elsa yang sedang tertidur. Ingin dia mengusap rambut Elsa tapi tangannya terasa begitu berat. Bahkan sekujur tubuhnya masih terasa begitu lemas.


"Elsa," panggil Elang pelan dengan mulut yang masih tertutup dengan alat bantu pernapasan. Elsa tidak mendengarnya. Elang berusaha menggerakkan tangannya hingga sedikit menyentuh ujung jari Elsa.


Elsa pun terbangun. Seketika dia tersenyum saat Elang sudah membuka matanya. "Elang, akhirnya lo bangun." Elsa meraba pipi Elang dan mengusap pelan. "Gue udah ketakutan setengah mati Lang liat lo gak sadar-sadar. Tunggu dulu, gue harus panggil dokter." Elsa memencet tombol dan beberapa saat kemudian Dokter datang yang diikuti kedua orang tua Elang.


Wajah mereka cukup serius saat mendapat panggilan darurat tapi seketika Bu Dian tersenyum saat kini Elang melihat mamanya dengan mata terbuka.


"Alhamdulillah Elang, akhirnya kamu sadar sayang."


Elang masih tidak bersuara dan hanya menatap mereka satu persatu. Selama Dokter melakukan pemeriksaan, mereka keluar dan menunggu hasil dengan cemas.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar sambil tersenyum. "Putra Anda sudah melewati masa kritisnya."


Semua tersenyum lega dan mengucap syukur. Mereka kembali masuk ke ruangan Elang. "Elang, jangan pingsan-pingsan lagi yah. Mama khawatir banget sama kamu." Bu Dian mengusap lembut lengan Elang. Elang hanya bisa mengangguk pelan.


"Anak papa itu harus kuat. Gak boleh lemah kayak gini. Tapi papa bangga sama kamu. Kamu sudah berhasil jagain orang yang kamu sayang."


Elang kembali mengangguk sambil tersenyum lalu kini pandangannya tertuju pada Elsa yang berdiam diri di belakang kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Elang mengerti walau hanya dari pandangan Elang. "Kalian mau bicara berdua, mama sama papa keluar dulu yah."


"Tidak usah tante." Elsa menjadi tidak enak sendiri.


"Tidak apa-apa, Elsa." Kedua orang tua Elang keluar meninggalkan Elsa berdua dengan Elang.


Elsa berjalan mendekat dan duduk di kursi sisi ranjang Elang. "Lang, makasih." Elsa menarik napas panjang menenangkan perasaannya yang tidak karuan. "Makasih lo udah nyelamatin gue dan gue minta maaf. Ini semua salah gue. Kalau saja gue gak marah sama lo mungkin ini semua gak akan terjadi."


Elang menggeleng. "Gue udah pernah bilang sama lo, gue akan terus jagain lo," jawab Elang pelan yang kini bibirnya sudah tidak tertutup alat bantu pernapasan lagi.


Elsa kini justru menangis, "Gue belum bisa balas apa yang lo lakuin selama ini ke gue. Gue bisanya cuma buat lo kecewa dan sakit hati. Gue egois, gue gak pernah peduliin lo."


Elang menggeleng, "Lo salah, semua yang gue lakuin itu tulus, gak mengharap balasan apa pun dari lo."


"Ya, gue tau." Elsa kini mengusap sendiri air matanya. "Waktu terasa begitu lama mengartikan perasaan gue. Gue sebenarnya punya perasaan yang sama kayak lo dan sayangnya gue baru menyadarinya." Elsa terdiam lagi beberapa saat. "Hmm, sebenarnya gue juga cinta sama lo. Gue sadar, saat gue merasa begitu takut kehilangan lo dan gue gak rela perhatian lo terbagi sama cewek lain." Elsa sedikit merasa lega saat dia sudah berhasil mengungkap semuanya.


Elang tersenyum. Jika saja dia tidak sakit saat itu pasti dia sudah memeluk Elsa. "Makasih."


Elsa juga tersenyum lalu dia sedikit memeluk tubuh Elang dan menyandarkan kepalanya di dada Elang. "Jangan pernah tinggalin gue."


"Iya, tapi sekarang lepasin pelukan lo gue gak bisa napas. Nanti kalau gue udah sembuh lo boleh peluk gue sepuasnya."


"Sorry," Elsa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Gelang ini?" Elang melihat gelang yang Elsa pakai saat Elsa memegang tangan Elang.


"Dea yang ngasih ini. Dia ambil gelang ini dari tempat sampah karena lo buang."


Elang terdiam sambil menghela napas.


"Udah jangan mikir yang berat dulu. Sekarang lo fokus aja dengan kesembuhan lo."


Beberapa hari berlalu, keadaan Elang semakin membaik dan saat itu juga dia baru tahu tentang kematian ibu Dea.


"Lalu bagaimana Dea sekarang?" tanya Elang pada Elsa.


"Untung ada Fandi yang selalu bantu dan support Dea. Yah, Fandi pernah mengalami hal yang sama pasti dia mengerti bagaimana cara membuat Dea kembali bersemangat. Gue juga terus ngasih kabar ke Dea tentang keadaan lo. Bagaimana pun juga dia pasti kepikiran sama lo."


"Lo udah gak cemburu?" kini Elang sudah bisa duduk dan menggoda Elsa walau masih di rumah sakit.


"Apaan sih? Kayak lo gak pernah cemburu aja." Elsa merangkul Elang dan membantunya turun. Dia seperti belajar berjalan lagi karena kakinya begitu kaku. Sudah beberapa hari tidak menapakkan kakinya di tanah.


"Bersyukur, Allah masih memberi gue kesempatan untuk hidup lebih baik lagi." Elang mulai melangkahkan kakinya.


"Yah," Elsa menemani Elang berjalan pelan menuju taman rumah sakit untuk menghirup udara segar.


***


Dea menyisir rambutnya di kamar. Dia tersenyum saat melihat kiriman foto dari Elsa lewat WA tentang perkembangan Elang. "Akhirnya lo udah membaik Elang." Dea kembali menaruh handphonenya dan kembali berkaca. Dia melihat kalung pemberian Elang yang masih berada di lehernya lalu memegangnya. "Udah saatnya gue melepas ini." Dea melepas kalungnya dan menyimpannya dalam sebuah kotak.


"Iya," Dea mengambil tasnya lalu keluar dari kamar. Sebelumnya Fandi sudah membuat janji dengan Dea untuk mengajaknya keluar.


Baru pertama ini Dea keluar dengan Fandi.


"Kenapa kita ke cafe? Katanya lo mau nyari buku."


Fandi tersenyum sambil memarkir mobilnya di depan sebuah cafe. Dia keluar yang diikuti oleh Dea. "Gue mau minta balesan dari lo karena gue bantuin lo selama ini itu sebenarnya gak gratis."


Dea membelalakkan matanya. "Oke, gue akan cari kerja sambilan buat ganti semua biayanya."


Fandi tertawa renyah. Dia mengajak Dea duduk di meja lalu memesan makanan dan minuman pada pelayan. Setelah itu, dia melanjutkan pembicaraannya. "Bukan ganti rugi materi tapi..."


Dea merasa was-was.


"Gue mau lo ajarin gue seluruh mata pelajaran IPA."


"Buat apa?" Dea cukup terkejut dengan permintaan Fandi.

__ADS_1


"Karena gue mau masuk fakultas kedokteran."


"Bokap lo kaya. Lo tinggal masuk aja beres."


"Uang ada, tapi kalau otak nol buat apa? Lo mau kalau gue jadi dokter nanti pasien gue pada mati semua."


Dea tertawa mendengar lelucon Fandi. "Gue gak pinter kali."


"Mana mungkin kalau gak pinter lo lolos dapet beasiswa."


"Kebetulan," jawab Dea asal.


"Ayolah. Kalau bukan sama lo, gue minta bantuan sama siapa lagi."


"Yah, okelah." Akhirnya Dea menyetujuinya.


"Lo ntar mau masuk fakultas mana? Kedokteran juga? Farmasi? Atau..."


"Haduh, mana mungkin gue masuk. Lo tau kan ke fakultas itu biayanya selangit. Palingan gue juga ambil jurusan administrasi atau gak guru lah. Itu juga ambil jalur beasiswa."


"Lah, lo itu kan pinter, jurusan IPA terus kenapa punya cita-cita dari kalangan IPS."


"Punya otak tapi gak punya uang itu sama aja zonk."


Fandi tertawa. "Gue bisa bantu lo dapetin beasiswa."


Dea seperti mempunyai semangat lagi untuk meraih prestasinya karena Fandi juga memiliki semangat juang yang tinggi. Mereka sudah bersepakat untuk belajar bersama untuk meraih kesuksesan yang mereka impikan.


"Lo masih punya perasaan sama Elang?" tanya Fandi setelah meminum minumannya.


"Masih atau tidak, perasaan itu gak boleh ada."


"Yah, kita sama."


"Dan gue juga gak mau mikirin cowok lagi sebelum gue sukses."


Perkataan Dea membuat Fandi tersenyum. "Kok kita bisa sama sih. Setelah banyak peristiwa yang gue alami, gue juga punya komitmen gitu. Tapi kalau seandainya nanti kita udah sukses dan kita masih sama-sama jomblo, bolehlah kalau kita berjodoh."


Seketika Dea tersedak dengan minumannya yang melewati tenggorokannya.


"Eh, sorry. Gak papa?"


Untung hanya sesaat lalu batuk Dea berhenti. "Gue gak kepikiran sampai sejauh itu. Lo cowok tapi suka ngayal juga ternyata."

__ADS_1


"Maybe? Segala sesuatu itu bisa saja terjadi."


Dea hanya tersenyum sesaat. Untuk saat ini memang masih butuh waktu untuk melupakan semua perasaannya pada Elang.


__ADS_2