Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Menjauhi Elsa


__ADS_3

...Semua pengorbanan itu tidak ada yang sia-sia.....


Elang hanya duduk menunduk di ruang tamu rumahnya saat Ibu Dian mulai berceramah dengan banyak kosa kata. Di dekat Elang ada Bagas dan Dea yang sedang berdiri. Mereka sudah menceritakan semua kronologi kejadian pada Ibu Dian agar tidak salah paham dengan Elang.


"Apapun alasannya Elang, mama sudah larang kamu untuk balapan. Untung kamu gak kenapa-napa, kalau sampai parah gimana?" Elang hanya terdiam dan masih dengan wajah muram yang semakin berlipat ganda. "Ya udah Bagas dan Dea terima kasih sudah membantu Elang. Hari sudah malam, kalian pulang saja."


"Iya tante, kita pamit pulang dulu." Secara bergilir mereka besalaman lalu keluar dari rumah Elang.


Ibu Dian kini duduk di samping Elang dan merangkulnya. "Janji sama Mama kamu jangan balapan lagi."


"Tapi ini semua demi Elsa." jawab Elang datar bahkan masih menatap kosong tanpa arah pandangan.


Bu Dian menghela napas panjang, "Iya Mama ngerti, kamu pasti akan lakuin apa pun demi Elsa. Untung Papa kamu ada meeting di luar kota, jadi gak tau kejadian ini. Besok motor kamu biar dibawa ke bengkel. Kaki kamu masih sakit?"


"Udah mendingan," dan lagi Elang masih tanpa ekspresi.


Bu Dian mengusap rambut Elang. Separah ini luka hati Elang. Biasanya dia lebih cerewet dari pada Mamanya. "Kamu kalau mau cerita sama Mama, cerita aja jangan malu. Meskipun kamu udah dewasa sekali pun Mama tetap mau dengerin masalah kamu. Mama udah pernah bilang, jadiin Mama temen kamu. Mama tau, walaupun kamu seorang lelaki pasti juga ada saatnya kamu down."


Elang menyandarkan kepalanya di pundak Mamanya. Dia ingin menangis, tapi tidak bisa. Hanya mata yang memerah dan isakan dari dalam.


"Kamu cinta sama Elsa?" tanya Bu Dian karna Elang masih saja membisu. Hanya ada anggukan kecil dari Elang. "Mama sebenarnya sudah tau kalau akhir-akhir ini Elsa sedang dekat dengan teman cowoknya." Bu Dian jadi ikut terbawa perasaan saat merasakan isakan tertahan dari Elang. Air matanya tiba-tiba mengalir. "Mama jadi ingat, dulu waktu kalian masih kecil, Mama, Papa, dan orang tua Elsa berniat untuk menjodohkan kamu dengan Elsa. Bahkan Om Vian sebelum meninggal sempat berpesan, bahwa dia ingin kamu yang jadi pendamping Elsa kelak. Dia ingin kamu terus menjaga Elsa. Kita semua sangat berharap itu semua benar terjadi. Tapi kalau salah satu di antara kalian tidak saling cinta, tidak mungkin kita memaksakan keadaan."


"Ya, Elsa mana mungkin mau sama Elang. Biarkan saja dia bahagia dengan pilihannya," jawab Elang dengan suara seraknya.


Bu Dian menghentikan tangisnya agar Elang tidak semakin sedih. "Kamu tenang aja, perjalanan kamu masih panjang. Siapa tahu Elsa beneran jodoh kamu. Biarkan dia sekarang memilih pilihannya. Kamu juga harus bisa bahagia-in diri kamu sendiri. Anak mama gak boleh sedih terus."


"Mam, i need hug."


Bu Dian tersenyum lalu memeluk Elang. Memang sudah lama, semenjak Elang beranjak remaja Bu Dian tidak pernah lagi memeluk putranya itu karena Elang malu diperlakukan seperti anak-anak. Tapi kenyamanan pelukan seorang Ibu sangat dibutuhkan Elang saat ini. Rasanya Elang seperti ingin tertidur dalam pelukannya. Semua beban hatinya terasa hilang.


"Jangan tidur dulu, kamu udah gede. Berat mama gak akan kuat."


"Elang capek, ma." Elang masih memejamkan matanya.


Bu Dian melepaskan pelukannya dan menahan pundak Elang. "Kamu mandi dulu terus makan. Nanti kita periksa ke dokter."


"Gak usah periksa lah ma. Udah gak papa."


"Eh, nanti kalau ada yang retak gimana.."


"Mama berlebihan." Elang berdiri dan berjalan perlahan karena jujur saja kakinya masih sakit.


"Sini, mama bantu. Masih sakit gini diperiksain gak mau." Bu Dian membantu Elang berjalan menuju kamarnya.


"Iya ma, iya..." Akhirnya Elang menurut apa kata sang mama.


***

__ADS_1


Malam itu, Elsa terus kepikiran Elang. Dia sangat khawatir dengan keadaan Elang. Sedari tadi dia ingin menanyakan keadaannya tapi tidak ada keberanian. Dia terus membuka Whatsapp-nya. Tidak ada chat sama sekali dari Elang.


"Elang, lo gak papa kan?" Elsa bolak-balik membuka whatsapp-nya. Dia ingin menanyakan kabar Elang tapi ragu. Melihat status online Elang, Elsa memberanikan diri untuk mengirim pesan.


Lang, gimana keadaan lo? Maaf... Dan terkirim dengan dua centang tapi tidak juga berwarna biru sedangkan status Elang masih online. Sampai lama, pesan itu masih saja tidak dibaca Elang.


...***...


"Gue gak papa, Sa. Justru gue khawatir sama lo. Mulai sekarang lo gak perlu lagi bagi pikiran lo buat gue karna gue gak akan ganggu lo lagi dengan Fandi. Semoga Fandi bisa jagain lo," hanya dari dalam hati Elang sambil menatap layar whatsapp tanpa membuka chat dari Elsa. Dia justru membuka pesan dari Dea.


"Gimana? Kaki lo masih sakit?"


"Lumayan sih, untung gak patah. Cuma hatinya aja yang patah 😁 Makasih ya lo udah nolong gue..."


"Sama-sama.. Lo besok berangkat sama siapa? Gue bisa jemput lo. Kalau lo mau?"


Elang berpikir sejenak sambil sedikit memaksakan senyumnya. "Yah, harusnya gue memang peduli sama orang yang peduli sama gue."


"Oke. Gue tunggu yah. Mbak tukang ojek. 😃😁"


"Dasar lo!! 👊"


Elang tidak membalas lagi chat Dea. Matanya terasa begitu berat. Tapi beberapa saat kemudian Dea mengirim chat lagi. Dan Elang membukanya.


"Gitu dong senyum, walau cuma emoticon. Jangan mikir yang berat-berat ntar cepet tua."


Elang tersenyum lagi. "Oke, buk.. Udah yah gue mau tidur.😴😪😪*"


...***...


"Elang, kamu beneran kuat masuk sekolah hari ini? Kan kata dokter gak boleh banyak gerak dulu kakinya." Bu Dian membantu Elang berjalan ke depan rumahnya.


"Mama gak usah berlebihan, ini juga udah gak terlalu sakit. Entar di kelas Elang biar duduk aja, gak pecicilan kayak biasanya."


Bu Dian tersenyum. "Dasar anak bandel. Kamu jadi dijemput Dea?" tanya mamanya sambil melihat jalanan depan yang masih belum ada seseorang yang menjemput.


"Yah, bentar lagi pasti nyampe. Biasa macet di perempatan depan."


"Dea itu cewek yang mandiri banget yah." Baru kali ini Bu Dian menyatakan penilaiannya tentang Dea.


"Ya, kasian dia udah ditinggal ayahnya sejak kecil. Jadi dia harus bisa hidup mandiri berdua dengan ibunya."


Beberapa saat kemudian orang yang dibicarakan datang juga. Dea menghentikan motornya di depan rumah Elang. Sedikit gerogi karena Elang menunggunya bersama mamanya. Dea turun dari sepeda motor dan bersalaman dengan Bu Dian.


"Dea kamu kuat bonceng Elang?"


Dea tersenyum malu. "Bisa tante."

__ADS_1


"Mama ini, Dea kan biasa ngojek."


Dea membelalakkan matanya pada Elang lalu dia kembali ke motornya dan naik.


Elang mencium tangan mamanya lalu berjalan perlahan ke motor Dea dan menaikinya pelan.


"Hati-hati..." Lambaian tangan Bu Dian mengiringi kepergian mereka berdua.


Dea melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya dia masih gerogi, ini kali pertamamya dia menjemput Elang ke sekolah.


"Ciee, sengaja dipelanin yah motornya. Biar lama boncengin gue," goda Elang.


"Nggak, cuma cari aman aja. Takut jatuh, kan sakit."


Sama kayak rasanya jatuh cinta, sakit, batin Elang. Elang akhirnya diam karena takut menganggu konsentrasi Dea. Beberapa saat kemudian motor Dea sudah sampai di sekolah dan berhenti di parkiran.


Elsa yang saat itu berada di dekat gerbang bergegas mendekati Elang. Tapi Elang seperti tidak melihatnya sama sekali.


"Lang, lo bisa turun gak?" tanya Dea, karena kaki Elang yang sakit sebelah kiri dia jadi kesulitan untuk turun. "Sini gue bantu." Dea menjagrak motornya lalu turun. Dea memegangi lengan Elang dan perlahan Elang turun dari motor Dea. Kaki kiri Elang terasa sakit saat harus benar-benar menapak. Dea yang menahan tubuh Elang ternyata keberatan hingga dia harus memeluk Elang saat Elang hampir saja terjatuh. Pandangan sempat tertaut.


Elsa hanya bisa menyaksikan semuanya, dia ingin menolong Elang tapi dia urungkan saat Bagas datang dan langsung menahan Elang.


"Heh, lo tuh berat," Bagas merangkul Elang dan membantunya berjalan. "Gue itu temen lo, lo kenapa gak minta jemput gue. Eh, malah minta dijemput cewek." Mereka berjalan pelan menuju kelas. Bahkan keberadaan Elsa saat itu pun seperti tidak dianggap sama sekali. Elsa juga berjalan pelan di belakang mereka bertiga.


"Kalau lo yang jemput bisa telat gue. Rumah lo kan lumayan jauh dari rumah gue," jawab Elang.


"Kan gue bisa berangkat lebih awal. Kalau sama gue sekalian gue bawain kursi roda nenek gue, jadi gak nyusahin."


Elang menjitak pelan kepala Bagas. "Eh, lo pikir gue terluka parah apa."


"Emang gak parah sih raganya, tapi batinnya.. Hahaha.." Bagas terus saja mengatai Elang. Yah, mereka sebenarnya tahu ada Elsa di belakang Elang.


"Udah lo gak usah ngatain gue. Gue pinjem PR matematika lo aja. Gue kemaren gak sempet ngerjain."


"Waduh, gue juga belum ngerjain."


"Buat jam berapa? Biar gue bantu ngerjain?" tawar Dea.


Bagas mulai mengatai Elang, "Enak yah kalau punya cewek pinter." Bagas langsung membuka tas Elang dan mengambil buku PR matematika tanpa persetujuan dari Elang. "Ini bukunya ntar mapelnya habis istirahat."


"Bagas, ngapain sih lo! Nggak usah, nanti biar gue kerjain sendiri." Elang ingin mengambil ulang bukunya tapi Dea sudah memasukkannya dalam tas.


"Udah gak papa, paling materi lo juga udah selesai di bahas di kelas gue."


"Bukan soal itu, gue gak mau memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan."


Bagas sekarang tertawa lebar. "Lo kalau dibantuin cewek lo itu mau aja, gak usah jaim. Kalau banyak kesempatan gak usah disempitin."

__ADS_1


Mereka bertiga terus berbincang sambil berjalan menuju kelas. Dengan sesekali mereka tertawa keras.


Entah kenapa hati Elsa begitu sangat bergemuruh, seperti awan hitam yang mendung dan akan turun hujan badai. Akhirnya dia duduk di depan kelas. Merenung sejenak sambil menahan air matanya. Dan sekarang, semua orang menganggap gue yang salah. Bahkan seluruh chat grup di sekolah tidak berhentinya membahas kejadian kemaren. Emang gue yang salah, gue larang Fandi balapan dan Elang yang menggantikannya. Gue biarkan Elang jatuh dan justru gue menolong Fandi. Sahabat kayak apa gue. Elang sudah banyak berkorban buat gue, sedangkan gue hanya bisa bahagia di atas penderitaan Elang.....


__ADS_2