Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Patah Hati Dea


__ADS_3

...Ini tentang sebuah rasa yang terasa begitu sulit diartikan....


Sesekali Elsa menguap saat jam pelajaran dimulai. Rasa kantuk itu begitu memberatkan matanya. Ditambah lagi dengan pelajaran Sosiologi yang sangat membosankan buat Elsa. Pikirannya tidak lagi berkonsetrasi pada pelajaran tapi justru pada Elang yang saat ini tidak masuk sekolah. Satu jam, dua jam sampai pelajaran selesai, Elsa kini menyandarkan kepalanya di meja.


"Lo kenapa, Sa? Dari tadi lo gak fokus," tanya Anna sambil mengemasi bukunya.


"Ngantuk gue."


"Lagian lo semalam ngapain gak tidur. Mikirin Elang?"


Tiba-tiba Elsa langsung bangun dengan pipi yang memerah. Eh, Anna kan gak tau apa-apa soal kemaren.


"Lo kenapa sih? Baru juga ditinggal Elang sehari udah aneh." Anna masih saja menggoda Elsa.


"Anna, please deh, jangan buat gue semakin kepikiran Elang!" Elsa sedikit mengeraskan suaranya yang membuat beberapa temannya mendengar termasuk Fandi. Elsa langsung menutup bibirnya. Sebenarnya dia ingin cerita pada Anna soal kemaren tapi dia terlalu malu.


Anna tersenyum melihat tingkah konyol sahabatnya ini. "Ya udahlah, yuk kita ke kantin."


"Nggak. Lo aja, gue nitip." Elsa bercengir pada Anna.


"Terus gue sama siapa?"


"Sama Bagas." Elsa menunjuk Bagas yang memang sedang menunggu Anna.


Anna menoleh ke arah Bagas, tersenyum sesaat. "Oke, ntar kita makan di kelas aja. Gue temenin lo." Anna berdiri dan berjalan bersama Bagas.


Tempat Anna langsung tergantikan oleh Fandi, "Sa, kamu udah baikan sama Elang?" tanya Fandi. Belum juga Elsa menjawab, kini pandangannya tertuju pada Dea yang menemui Bagas di depan pintu kelas.


"Gas, Elang mana?" tanya Dea. Elsa bisa mendengar jelas karena keadaan kelas saat itu yang sudah cukup sepi.


"Elang gak masuk. Dia sakit. Emang lo gak dikabari sama dia?"


"Gue lagi gak punya kuota. Ya udah kalau gitu." Sebelum berbalik Dea sempat menatap Elsa dan Fandi. Dea akhirnya pergi dengan Bagas dan Anna. Entah apa yang dibicarakan mereka selanjutnya.


Ada satu hal yang harusnya gue pikirkan, ini tentang perasaan Dea. Elsa menautkan alisnya dan nampak berpikir.


"Hei, udah jangan ngelamun," Fandi membuyarkan pemikiran Elsa. "Kalau kamu udah yakin dengan perasaan kamu. Kejar Elang sebelum dia benar-benar melupakan perasaannya."


Elsa tersenyum. "Kenapa kamu sekarang malah dukung aku sama Elang. Padahal sebelumnya kita kan.."


Elsa menghentikan kalimatnya karena dipotong Fandi. "Berulang kali aku bilang sama kamu. Kamu hanya butuh waktu untuk mengartikan perasaan kamu. Dari awal kamu itu milik Elang. Tapi aku seneng, walau cuma sesaat kamu adalah salah satu kenangan terindah buat aku."


Elsa masih saja terdiam dan tersenyum tipis.


"Nanti kamu mau ke rumah Elang? Aku bisa anterin kamu."


Elsa menggeleng. "Gak usah. Aku bisa sendiri kok."


"Ya udah, cepet baikan sama Elang. Aku mau ke lapangan basket dulu." Fandi berdiri setelah ada anggukan dari Elsa.


Lebih baik seperti ini, merasakan kehilangan yang terindah dari pada kehilangan yang menyakitkan seperti dulu. Karena aku bahagia, kamu dimiliki seseorang yang tepat seperti Elang.

__ADS_1


***


"Untung hari ini gue udah enakan. Badan dan juga hati gue," Elang menghirup udara di dekat jendela kamarnya yang berada di lantai dua setelah membuka sebuah chat dari Fandi tentang berakhirnya hubungannya dengan Elsa.


Mendengar suara motor berhenti, kini arah pandangan Elang tertuju pada teras rumahnya dan melihat ada Elsa yang turun dari motor tukang ojek lalu berjalan cepat menuju pintu rumah Elang. "Elsa!" Elang kembali ke atas tempat tidurnya. "Elsa mau ke sini, gue pura-pura tidur aja."


Elang kembali merebahkan badannya dan menarik selimutnya. Memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur. Sorry Sa, gue terlalu nervous buat ketemu lo sekarang.


Beberapa saat kemudian terdengar Bu Dian masuk ke dalam kamar Elang bersama Elsa.


"Yah, ternyata Elang lagi tidur, Sa."


"Iya gak papa tante. Biarin aja."


"Ya udah. Kamu tunggu Elang di sini aja yah. Pasti bentar lagi bangun. Tante buatin kamu minum dulu. Pasti kamu haus kan?"


"Iya, tante."


Bu Dian keluar dari kamar Elang. Elsa kini duduk di samping Elang yang masih saja memejamkan matanya. Jujur saja, Elsa sebenarnya juga gerogi saat itu. Dia juga bingung harus ngapain. Akhirnya Elsa memberanikan diri untuk menyentuh kening Elang yang sudah bersuhu normal. "Syukur, kalau lo udah sembuh." Elsa tersenyum walau Elang tidak melihatnya.


Elang merasa semakin gelisah. Dia takut Elsa bisa mendengar suara detak jantungnya yang semakin terasa kencang. Akhirnya Elang menggeliat dan berpindah posisi memunggungi Elsa. Dia masih melanjutkan kepura-puraannya.


"Lang, gue kangen sama lo. Gue ingin kita kayak dulu lagi." Elsa kini mengusap pelan rambut Elang. "Lo tidur yang nyenyak yah. Semoga besok saat gue punya keberanian, gue bisa bilang kalau sebenarnya gue sayang sama lo dan gak mau kehilangan lo."


Seketika mata Elang terbuka tapi tetap Elsa tidak bisa melihat wajah Elang. Elsa sayang sama gue dalam artian apa?


Bukan hanya Elang yang terkejut, tapi juga Bagas, Anna, dan Dea yang juga datang menjenguk yang saat itu berada tepat di depan pintu kamar Elang yang terbuka.


"Kalian ke sini juga?" Elsa kini melihat mereka dan berjalan mendekat. Elsa sempat melihat Dea yang tiba-tiba pergi pasti ini karena dia mendengar perkataannya. "Gue balik duluan yah." Elsa pun pergi. Ingin dia menyusul Dea tapi ternyata Dea sudah mengendarai sepeda motornya.


Kini Elang bangun dan hanya melihat Anna dan Bagas. "Kok kalian ada di sini? Elsa jadi pulang kan!?"


Bagas mendekat dan duduk di sisi ranjang Elang. "Eh, lo dari tadi pura-pura tidur. Dasar! Bukan cuma Elsa yang pergi, tapi juga Dea."


"Dea ke sini juga?"


"Yah, dia tadi gak sengaja dengerin omongan Elsa. Lagian lo ngapain sih tadi pura-pura tidur segala."


Elang berpikir sejenak. "Gue malu sama Elsa," jawab Elang dengan entengnya.


"Malu?" Bagas sebenarnya tidak mengerti. Sejak kapan Elang punya rasa malu sama Elsa. "Biasanya lo tuh malu-maluin. Gak ada sejarahnya Elang jadi pemalu apalagi sama Elsa."


Elang melirik Anna yang masih terdiam. Elang membisikkan sesuatu pada Bagas yang membuat Bagas tertawa lebar dan menjotos lengan Elang.


"Lo gila! Dasar otak mesum lo!"


Elang langsung mencubit perut Bagas agar berhenti mengatainya. Kalau cuma mereka berdua sih, wajar bahkan biasanya juga lebih parah tapi kali ini ada Anna, cewek yang terlalu polos.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Anna yang mulai tidak nyaman saat melihat dua cowok yang sudah berbicara secara pribadi.


Bagas tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Hmm, sorry Na. Ini urusan cowok."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu gue pulang dulu aja," Anna juga mulai ngambek pada Bagas.


"Yah, jangan pulang dulu. Kan gue yang anterin lo."


"Ya udah, gue tunggu aja di bawah. Elang lekas sembuh yah." Anna membalikkan badannya. Berada di kamar dengan dua cowok membuat Anna begitu merasa risih.


"Kalau ada Elsa, bilang yah ditunggu Elang di atas," pesan Bagas saat Anna baru saja melangkah keluar.


"Iya," sahut Anna asal.


Dan kini tinggal Elang dengan Bagas. Saatnya mereka berbicara dengan bebas tanpa harus ada telinga lain yang mendengar.


"Gue masih gak habis pikir sama lo. Elsa itu sahabat lo, kenapa lo bisa lakuin itu.."


"Yah, gue gak sengaja. Justru gue bukan cowok yang normal jika gue gak merasakan sesuatu hal saat ada seorang cewek yang peluk gue dan..."


Bagas langsung memangkas kalimat Elang. "Udah, udah stop lo cerita dan menstimulasi gue. Ada satu hal yang harus lo pikirin sekarang."


"Apa?"


Bagas menepuk jidatnya karena sahabatnya ini sungguh tidak peka. Ingin dimengerti tapi dia tidak bisa mengerti orang lain. Sifatnya sama dengan Elsa. "Kalau Elsa udah bales perasaan lo, terus Dea mau lo taruh mana?"


Elang sebenarnya sudah memikirkan Dea tapi otaknya masih terlalu penuh untuk menemukan solusi. "Iya, tapi gue ama Dea kan gak serius."


"Dan sayangnya Dea itu serius sama lo. Elang, mana ada sih cewek yang mau bela-belain lo kalau dia gak cinta sama lo."


Elang kini menopang kepalanya dengan tangan kanannya. "Terus gue harus gimana?" Hari ini Elang benar-benar tidak bisa berpikir.


"Lo jelasin sama Dea. Lo bicara baik-baik. Gue rasa Dea cewek yang cukup pengertian. Lo yang nyalain api jadi lo sendiri yang harus madamin. Lo gak mau kan bahagia tanpa mikirin perasaan Dea."


Elang mengacak rambutnya sendiri sedikit frustasi. Dia kira, dia akan bahagia setelah Elsa membalas perasaannya, tapi nyatanya masih ada satu hal yang harus dia pikirkan.


Sedangkan di lantai bawah saat Elsa terlambat menyusul Dea, dia malah meminum minuman yang sudah disediakan Bu Dian lalu berpamitan. "Tante Elsa pulang dulu yah."


"Loh, kenapa buru-buru, barusan Dea juga buru-buru pulang. Elang baru bangun kan? Kamu juga gak mau pamitan pulang kan, Na?" tanya Bu Dian pada Anna saat melihatnya turun dari lantai atas.


Anna menggeleng, "Nggak tante, Anna masih nunggu Bagas tapi di sini. Gak enak di atas katanya mereka lagi ngomongin masalah cowok."


Perkataan Anna yang terlalu lugu membuat Bu Dian dan Elsa tertawa.


"Ya gitulah, kalau para cowok pada kumpul. Gak cuma kita aja kan yang suka ngerumpi. Ya udah, Elsa pulang dulu soalnya Mama mau antar pesanan." Elsa mencium tangan Bu Dian.


"Ya udah kamu hati-hati yah."


Elsa mengangguk lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar.


...***...


Di balik kaca helmnya, air mata itu masih saja mengalir membasahi pipinya. Harusnya gue udah siap menerima kenyataan ini tapi kenapa gue masih gak rela.


Beberapa kali handphone Dea terasa bergetar. Awalnya dia abaikan. Tapi sampai beberapa kali akhirnya dia menepi dan menghentikan motornya lalu melihat panggilan itu dengan nomor yang tidak dia kenal. Dia swipe tombol hijau ke atas. "Iya, hallo."

__ADS_1


Wajah Dea berubah menjadi sangat serius. Ini lebih menyakitkan daripada hati. "Ibu masuk rumah sakit!" hanya sesaat lalu dia matikan kembali panggilannya. Dia berputar arah dan langsung menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat.


__ADS_2