Sesungguhnya Cinta

Sesungguhnya Cinta
Melindungi Elsa


__ADS_3

Ding dung!!!


Notifikasi Whatsapp Elang berbunyi. Elang langsung merogoh handphone-nya. Dea hanya melirik Elang saat Elang menunjukkan wajah serius sambil menatap layar.


Kenapa Elsa share loc ke gue? Makanan yang tinggal separuh pun seolah enggan Elang sentuh lagi. Perasaan Elang tiba-tiba menjadi tidak enak.


"Lo kenapa?" tanya Dea setelah meneguk minumannya. Baru 10 menit di food court, suasana hati Elang sudah berubah.


Belum juga Elang menjawab ada panggilan masuk dari Tante Difi. Terburu, Elang langsung mengangkatnya.


"Iya, hallo tante.."


"Lang, kamu tahu Elsa ada dimana? Dia tadi pamit keluar sama Fandi katanya cuma sebentar tapi sampai sekarang belum pulang juga. Tante hubungi juga gak diangkat. Perasaan tante tiba-tiba gak enak."


"Jadi Elsa keluar sama Fandi? Barusan Elsa cuma share lokasi ke Elang di WA tanpa ada pesan apapun."


"Elang, tolong cari Elsa yah. Tante takut Elsa kenapa-napa."


"Iya Tante." Elang menutup panggilan teleponnya. Dia hela napas panjang sambil menatap Dea.


"Lo mau cariin Elsa? Gak papa kok. Gue bisa pulang sendiri." Dea peka dengan pembicaraan Elang via telepon barusan.


"Kalau kayak gini gimana gue bisa move on."


"Belum saatnya," Dea begitu santai menjawab. "Mungkin, Elsa memang lagi butuh lo. Lo cepat cari dia. Ini udah malam, lagian gue juga mau pulang."


"Ya udah, gue pesenin lo grab car dulu." Elang membuka aplikasi Grab dan langsung memesan Grab car dengan tujuan rumah Dea.


"Elang, gue bisa ngojek. Gak usahlah."


"Pemesanan udah berhasil. Gue mau lo aman sampai rumah. Yuk, kita turun." Setelah membayar, Elang dan Dea turun dari lantai tiga. Sebenarnya Elang sudah terburu ingin mencari Elsa. Tapi dia juga harus memastikan Dea bisa pulang ke rumahnya dengan aman. "Dea, sorry buat hari ini," ucap Elang sebelum Dea naik ke dalam mobil yang saat itu sudah stand by di depan mall.


"Iya, gak papa. Gue juga makasih buat hari ini."


"Sama-sama. Lo hati-hati."

__ADS_1


Dea tersenyum. Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Dea pun berjalan. Elang segera bergegas mengambil motornya yang dia parkir di depan mall. Sebelum melaju, Elang kembali membuka map. Dia cari jalan terdekat. "Sa, lo tunggu di sana, gue pasti datang buat lo." Elang menutup kaca helmnya dan langsung melajukan motornya cukup kencang. Menyusuri tempat sesuai yang ada di peta, tapi belum juga menemukan Elsa. Elang berhenti sesaat. Melihat sekitar. Jalan di tempat itu memang cukup sepi. Lalu Elang melajukan motornya lagi. Dari jauh terlihat ada tiga motor yang sedang menghadang dan mengitari seseorang. Elang melajukan motornya mendekat. "Elsa!" Elang segera mempercepat motornya dan langsung masuk ke dalam putaran sepeda motor mereka. Elang menarik lengan Elsa. "Sa, lo cepat naik."


"Elang," dengan cepat Elsa naik ke boncengan Elang.


"Kalian jangan beraninya cuma sama cewek!" teriak Elang saat mereka menghentikan motornya dan menghadang Elang.


"Lo lagi!" David menatap tajam Elang. "Lo gak usah ngaku jadi pacar cewek ini. Lo dibayar berapa sama Fandi buat ngelindungi dia!"


"Apa lo bilang! Lo tau apa soal gue! Gue jauh lebih lama kenal Elsa daripada Fandi. Lo kalau punya masalah sama Fandi, lo selesai-in sama dia jangan bawa-bawa Elsa. Sedikit aja lo sakitin Elsa, lo berurusan sama gue!" tantang Elang.


David malah mencibir, "Lo itu cuma cowok yang tolol yang mau-maunya dimanfaatin."


Elang semakin emosi. Ingin dia menghajar David tapi jika itu dia lakukan, dia takut justru itu akan membahayakan Elsa. Akhirnya Elang hanya bersiap melajukan motornya dengan kencang. "Sa, lo pegangan. Gue mau ngebut."


Elsa menuruti kata Elang. Dia lingkarkan tangannya di perut Elang dan memeluknya dengan erat. Elang seolah ingin menerobos mereka tapi ternyata Elang justru berputar arah dan langsung tancap gas. David dan temannya mengejar Elang. Elang semakin menambah kecepatannya dan berpindah ke jalan pintas. Masuk ke dalam gang-gang kecil.


David mana mungkin bisa mengejar. Dia masih belum hafal betul daerah itu. Elang pun lolos dari kejaran David. Dirasanya aman, Elang mengurangi kecepatannya. Elsa masih saja memeluk Elang dengan erat. Hangatnya pelukan Elsa masih begitu terasa. Elang tahu, Elsa pasti sangat ketakutan. Perlahan tangan kiri Elang mengusap tangan Elsa yang ada di perutnya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa hilang. Sebuah rasa yang semakin lama semakin mendalam. Apa gue harus mencintai lo selamanya? Apa yang harus gue lakuin? Gue bener-bener gak bisa move on dari lo.


Tersadar akan usapan tangan Elang. Pelukan Elsa merenggang dan tangan Elang kembali menyetir. Elang tahu, Elsa pasti enggan menerima perlakuannya yang lebih dari sahabat.


"Iya, gue gak akan pernah biarin lo kenapa-napa. Tapi sorry, gue pasti akan bikin perhitungan sama Fandi."


"Ini bukan salah Fandi." Elsa membela Fandi yang membuat Elang semakin geram.


"Oke, memang David yang berbuat ulah tapi kalau Fandi gak ninggalin lo, lo gak mungkin dalam bahaya." Elang menghentikan motornya di depan rumah Elsa.


Elsa turun dari motor dan masih menimpali perkataan Elang. "Lo kan gak tau cerita yang sebenarnya."


"Gue gak peduli, yang jelas Fandi salah dan..."


"Elsa!" panggilan Bu Difi menghentikan perkataan Elang. "Kamu darimana baru pulang? Mama khawatir sama kamu dan telepon Mama kenapa gak kamu angkat?"


"Iya ma, maaf."


"Terus kemana Fandi? Fandi yang jemput kamu kenapa gak nganterin kamu."

__ADS_1


Elsa bingung harus menjawab apa, dia takut mamanya semakin marah.


"Mobil Fandi tadi mogok tante, untung Elsa share lokasi jadi tadi bisa langsung Elang jemput," bohongnya Elang. Semua itu agar Elsa tidak dimarahi Mamanya.


Bu Difi menghela napas, "Untung ada kamu, Lang. Makasih yah. Kamu gak masuk dulu."


"Udah malem tante, besok aja."


"Sa, masih mau diluar?"


"Bentar Ma, mau ngobrol sebentar sama Elang."


"Ya udah." Bu Difi masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan mereka berdua.


"Mau ngomong sama gue?"


"Iya, makasih lo selalu lindungi gue dan makasih lo udah belain gue di depan mama gue."


Elang melepas helmnya dan turun dari motor. Wajah Elsa sedikit muram dan menunduk karena terbawa perasaan dengan perkataan Elang pada Mamanya.


"Sa," Elang memegang kedua pipi Elsa agar Elsa mau menatapnya. "Meskipun gue sering ngajak lo bertengkar, tapi gue sayang sama lo. Gue cuma ingin lo bahagia."


"Tapi gue gak bisa ngertiin perasaan lo, Lang.. Gue...."


"Gue gak peduli. Biar gue yang ngertiin perasaan lo, Sa." Elang kini memeluk Elsa. Dia usap pelan rambut Elsa. Dia ingin Elsa benar-benar bisa merasakan cintanya walau Elsa tidak mau menerimanya. "Sa, gue relain lo sama Fandi agar lo bahagia. Tapi kalau Fandi gak bisa jagain lo, gue takut. Gue gak mau lo tersakiti sedikit pun, Sa."


Mendengar kelembutan suara Elang, Elsa tidak mampu berkata-kata. Dia biarkan Elang memeluknya dan Elsa hanya bisa merasakan kenyamanan pelukan itu.


"Untuk sementara, lo besok bareng gue ke sekolah." Elang melepaskan pelukannya.


Elsa hanya mengangguk sambil menatap Elang.


"Gue pulang dulu, lo cepat istirahat." Elang kembali ke motornya, memakai kembali helmnya dan menaikinya. Beberapa saat kemudian motor Elang melaju.


Elsa membalikkan badannya dan berjalan perlahan masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Lang, banyak kata yang gak bisa gue ucapin hari ini. Entah kenapa tiba-tiba gue membisu. Gue merasa berat jika harus kehilangan lo. Gue benar-benar gak mau jauh dari lo. Gue memang egois, gue udah dapetin cinta dari Fandi tapi gue juga masih ingin merasakan cinta lo. Apa maksud hati gue sebenarnya?


__ADS_2