
Elsa keluar dari toilet rumah sakit untuk mengganti bajunya dan membersihkan diri. Setelah itu buru-buru dia kembali dan kini sudah melihat dokter yang menangani Elang. Elsa sangat berharap Elang baik-baik saja.
"Dokter, bagaimana keadaan putra kami?"
"Putra Anda masih dalam masa kritis. Kita tunggu sampai besok, jika masih belum sadar juga terpaksa kita harus melakukan operasi karena kemungkinan ada sedikit pendarahan di otak."
Perkataan Dokter itu begitu terngiang di telinga Elsa. Dia takut, Elang tidak bisa melewati masa kritisnya.
"Boleh saya menemui Elang."
"Boleh, asal tidak lebih dari dua orang."
Elsa sempat mematung. Dia ragu untuk melihat Elang. Dia sangat tidak tega jika harus melihat Elang yang tidak berdaya. Sampai kedua orang tua Elang keluar, Elsa masih saja menatap kosong dan berdiri di sisi pintu.
"Elsa, kamu temenin Elang gih. Dia pasti ingin kamu yang nemenin," suruh Bu Dian saat melihat Elsa ragu.
"Hmm, Elsa gak sanggup liat Elang tante."
"Udah, gak papa. Elang pasti seneng kalau kamu ada di sampingnya. Kamu masuk yah."
Akhirnya Elsa menuruti perkataan Bu Dian. Dia melangkahkan kakinya pelan masuk ke dalam ruangan Elang. "Elang," Elsa menutup mulutnya setelah melihat langsung keadaan Elang dengan kepala yang di perban dan alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya serta jarum infus yang terpasang di tangannya. "Elang, maafin gue." Elsa duduk di kursi sebelah ranjang Elang. Dia lihat sekujur tubuh Elang yang tidak bergerak sama sekali. "Lang, cepet bangun. Jangan diam terus gini, lo biasanya usil kan sama gue." Air mata Elsa seperti tidak bisa berhenti. Dia genggam tangan Elang dan mengusapnya. "Lang, gue sayang sama lo..."
...***...
Dea kini hanya menatap gundukan tanah yang bertabur bunga sambil memegang nisan yang bertuliskan nama ibunya.
"Dea, udah. Ayo kita pulang," ajak Om Dirga tapi hanya di balas gelengan dari Dea.
Fandi kini berjongkok di samping Dea. Selama proses pemakaman Fandi terus membantu Dea. "Gue tahu, lo gak mau ninggalin ibu lo sendiri di sini. Dulu gue juga lakuin hal yang sama kayak lo. Tapi lo harus yakin, ini adalah takdir Allah. Mungkin ini jalan yang terbaik buat ibu lo."
Seolah tidak mendengar perkataan Fandi tapi sebenarnya Dea mendengar. Dia mengusap air matanya dan menatap Fandi. Ada satu hal yang harus dia selesaikan. "Anterin gue ke rumah sakit sekarang."
"Lo mau liat keadaan Elang?"
Dea terdiam.
"Lo gak nemuin tamu lo di rumah dulu? Lo juga butuh istirahat."
Dea menggeleng. "Kalau lo gak mau anterin, biar gue ke rumah sakit sendiri."
"Gue gak mungkin biarin lo bawa motor sendiri dengan keadaan kayak gini. Ayo!" Fandi berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Dea untuk membantunya berdiri.
Menatap tangan itu sesaat lalu meraihnya. Dea memang merasa lemas dan kakinya pun sudah kesemutan. Tak pernah terbayang oleh Dea, justru Fandi yang ada di saat dia terpuruk saat ini.
__ADS_1
***
"Sa, kamu dicari Dea." Bu Dian berkata pelan saat memberi tahu Elsa yang masih duduk di dekat Elang.
Hanya mengangguk lalu dia berdiri. Setelah keluar dari pintu, Elsa melihat Dea bersama dengan Fandi. Elsa menghampirinya dan duduk di samping Dea. Fandi begitu peka, dia berdiri dan ijin untuk menjenguk Elang.
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya ibu lo. Sorry, gue belum bisa ke rumah lo."Elsa memulai pembicaraan saat hanya tinggal berdua.
"Gak papa. Sebenarnya gue ke sini mau ngasih ini." Dea memberikan gelang dengan inisial E&E yang Elang buang waktu itu. "Gelang ini harusnya dikasih sama Elang buat lo udah lama. Tapi karena Elang sakit hati sama lo, dia buang gelang ini lalu gue ambil karena gue yakin Elang gak sungguh-sungguh buang ini."
Elsa menggenggam gelang itu dan menatapnya. Dulu dia sempat mencari gelang seperti itu. Elsa kini mulai menangis lagi, kenapa juga dia menyia-nyiakan saat-saat bersama Elang dan hanya membuatnya kecewa.
"Elang itu cuma cinta sama lo. Gue mana mungkin bisa gantiin lo di hati Elang. Buat Elang, lo itu segalanya. Untuk jagain lo, dia gak peduli dengan dirinya sendiri. Lo harus cintai Elang seperti dia mencintai lo. Buat dia bahagia. Tertawa bahagia Elang hanya ada di saat dia bersama lo."
Elsa mengangguk lalu dia memeluk Dea. "Makasih, lo udah buat gue sadar dengan perasaan gue. Dan maafin gue karena gue, lo sama Elang jadi..."
"Udah gak papa." Dea memotong perkataan Elsa. "Dari awal gue juga tau perasaan Elang cuma buat lo."
Elsa melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Lo gak pengen liat Elang?"
Dea terdiam. Sebenarnya dia ingin melihat keadaan Elang tapi dia tidak tega. "Elang sudah sadar?"
Elsa menggeleng.
"Udah gak papa, lo masuk. Hanya ada Fandi di dalam."
Dea mengangguk lalu masuk ke dalam. Sakit, melihat Elang yang tidak berdaya seperti ini. Perlahan Dea berjalan mendekat. Fandi menoleh ke arah Dea. Dia berdiri agar Dea bisa duduk.
"Lo jangan keluar," cegah Dea saat Fandi akan keluar. Dia takut akan terbawa perasaannya lebih dalam jika sendiri.
"Tapi..." Fandi menghentikan langkahnya dan kembali berbalik.
Dea hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menatap Elang. Semua kenangan seperti berputar ulang begitu saja di otaknya. "Elang lo harus kuat, ada Elsa yang nunggu lo. Kebahagiaan lo udah ada di depan mata. Lo cepat sadar, Lang," kata Dea sambil menangis. "Lo paling gak mau kan liat Elsa sedih. Buat dia tersenyum lagi." Dan tetap tidak ada respon sama sekali dari Elang.
"Dea," Fandi mengusap pundak Dea untuk menguatkannya. Kesedihan itu seperti bertubi-tubi menghampiri Dea. "Tidak akan ada pengorbanan yang sia-sia."
Dea hanya mengangguk. Jika saja Elang tidak kecelakaan mungkin kisah ini telah usai dan Elang akhirnya bisa bahagia dengan Elsa.
"Gue yakin Elang bisa melalui ini semua. Elang itu kuat, dia tidak mungkin dengan mudah menyerah. Udah banyak yang dia lindungi, bahkan gue sendiri yang sempat menjadi rivalnya."
"Ya, gue tahu." Dea meraih tangan Elang dan mengenggamnya sambil tersenyum pahit. "Tangan ini gak akan genggam tangan gue lagi. Makasih Elang. Cepat sembuh." Dea melepaskan tangan Elang dengan perlahan lalu dia berdiri. Pandangannya kabur dan badannya terasa begitu lemas. Dia memegang kepalanya dan seperti akan pingsan.
"Dea," Fandi segera merangkul Dea dan memapahnya keluar dari ruangan Elang dan segera duduk di kursi depan.
__ADS_1
"Dea kenapa?" tanya Elsa yang melihat Dea seperti setengah tidak sadar.
"Dia lagi banyak pikiran dan dengan kondisi yang tidak fit jadinya down gini."
Dea tersadar lagi lalu dia membenarkan duduknya dan melepas tangan Fandi yang menahan tubuhnya.
"Dea, lo belum makan?"
Dea menggeleng. Yah, sedari pagi dia memang tidak ***** makan.
"Dea, lo harus makan kalau gak mau tubuh lo down. Kita makan yuk sekarang."
"Buat apa? Sekarang gak ada juga yang khawatir sama gue."
Elsa melihat mereka sesaat lalu masuk ke dalam ruangan Elang lagi. Sepertinya Fandi memang bisa menenangkan Dea.
"Kalau lo gak mau makan, gue akan suruh dokter buat infus lo."
"Gue gak sakit parah. Lagian gue juga gak akan mati hanya karena gak makan." Dea melipat tangannya dengan pandangan yang lurus ke depan.
Fandi hanya bisa menatap Dea dari samping. Dia merasa kasihan. Akhirnya dia cari cara lain. "Okelah, kalau lo gak mau makan. Lo merasa bener-bener gak ada yang peduli kan sama lo jadi lebih baik gue pulang." Fandi berdiri.
Dea masih saja kekeh. "Lo pulang aja. Gue bisa pulang sendiri." Dan sayangnya, kali ini rasanya Dea sudah tidak punya tenaga untuk berjalan. Dia tutupi itu semua dengan egonya.
Akhirnya Fandi melangkah pergi dan meninggalkan Dea. Dea melihat punggung Fandi yang menjauh. Gue itu siapa? Gak seharusnya juga lo peduli sama gue.
Dea masih mengumpulkan tenaganya beberapa saat. Dia masih saja melamun meski air matanya kini telah surut. Tak berapa lama kemudian Fandi kembali dan langsung duduk di samping Dea. Seketika Dea menoleh dan menatap aneh Fandi. "Lo ngapain balik?"
"Gue gak pulang, gue cuma beliin ini buat lo." Fandi kini sudah membawa sebotol pocari sweat dan satu nasi kotak. Dea hanya menatap saat Fandi menyodorkan itu untuknya. "Ini buat lo." Fandi membukakan tutup botol dn menyodorkan lagi pada Dea. "Lo kan yang bilang, lo sekarang hidup sendirian jadi lo harus bisa jaga diri lo sendiri."
Dea akhirnya mengambil minuman itu dan meminumnya. Dia paham dengan perkataan Fandi.
"Sekarang lo makan, terus kita pulang. Pasti banyak tamu yang cariin lo."
Dea mengangguk dan mengambil makanan yang juga sudah dibuka oleh Fandi.
"Lo kenapa baik sama gue?" tanya Dea sebelum makan.
"Karena nasib kita sama."
"Sama? Lo masih punya bokap dan lo itu kaya. Bedalah sama gue."
"Yah, kalau gue mau bantu orang lain kenapa mesti ada alasan."
__ADS_1
Jawaban yang begitu simple dan dewasa dari Fandi membuat perasaan Dea sedikit membaik. Meski sebenarnya rasa kehilangan itu tidak akan pernah hilang...