
Elang?? Gue kangen sama lo... Elsa menyandarkan badannya di kursi taman sambil menghela napas panjang. Dia tidak menghiraukan Fandi yang sedari tadi berdiam di sampingnya.
"Sa," panggil Fandi pada akhirnya.
"Iya, Lang," jawab Elsa yang salah sebut nama.
"Kamu lagi mikirin Elang?"
Elsa tidak menjawab. Dia tidak bisa memungkirinya. Dia alihkan lagi pandangannya dari Fandi.
"Aku juga lagi mikirin Elang." Fandi kini harus mengatakan sesuatu yang sedari tadi ingin dia katakan. "Elang itu cowok yang baik, kamu harusnya sama dia bukan sama aku."
Mendengar Fandi, seketika Elsa menoleh dan menatapnya. Tapi Elsa masih tidak berkata apa pun.
"Aku salah, udah ambil kamu dari Elang. Harusnya aku gak pernah deketin kamu. Dan sekarang, aku ingin kamu sama Elang lagi. Biarkan kisah kita yang sesaat ini jadi kenangan. Aku gak mau jadi penghalang dan membutakan perasaan kamu. Aku yakin, cinta kamu yang sebenarnya itu buat Elang bukan buat aku. Aku hanyalah kekaguman sesaat kamu. Elang pernah bilang sama aku, aku bisa jadi pacar kamu tapi aku gak akan pernah bisa jadi sahabat kamu. Yah, itu memang benar. Elang itu sahabat kamu dan dia pasti bisa jadi seperti apa yang kamu inginkan."
Air mata yang sedari tadi membendung kini mengalir. "Semua udah terlambat. Elang gak akan mau lagi deket sama aku. Dia udah jadi milik Dea. Kita gak akan mungkin bisa kayak dulu lagi. WA aku aja sekarang gak pernah dia balas."
"Kalau kamu yakin dengan perasaan kamu, jangan nyerah. Ini saatnya kamu berjuang buat Elang." Fandi menghapus air mata Elsa sambil tersenyum. Sejujurnya dia ingin memeluknya sebelum benar-benar melepasnya. Tapi Fandi tahu, Elsa enggan mendapat pelukan dari cowok lain selain Elang.
Elsa tersenyum kecil sambil menatap Fandi. Apa yang dikatakan Fandi benar, inilah saatnya dia memperjuangkan Elang walau sebenarnya Elsa masih ragu tentang perasaannya pada Elang tapi yang jelas, Elsa benar-benar tidak mau kehilangan Elang.
Entah kenapa langkah kaki gue mengarah ke tempat ini. Ternyata gue hanya mendapat kesakitan dan gue udah salah menilai Elsa. Dia udah bahagia tanpa gue... Elang mengepalkan tangannya saat melihat kedekatan Elsa dan Fandi. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi bahkan sekarang menjalar ke hatinya.
"Elang?" Akhirnya pandangan mata Elsa tertuju pada Elang yang berdiri beberapa meter dari tempatnya.
Elang segera membalikkan badannya dan berjalan cepat.
"Elang!" panggil Elsa sambil berlari mengejar Elang. "Elang tunggu!" Elsa berhasil menarik tangan Elang dan Elang menghentikan langkahnya. "Gue mau ngomong sama lo."
"Lo gak perlu ngomong apa-apa lagi sama gue. Lo tenang aja, gue gak akan ganggu lo lagi. Lo gak perlu jauhin gue, biar gue yang akan jauhin lo." Elang menarik tangannya yang membuat Elsa melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
Tangan Elang? Elsa merasakan suhu badan Elang yang tidak seperti biasanya. Apa Elang sakit? Setelah tercengang beberapa saat, Elsa kembali mengejar Elang tapi terlambat, Elang sudah naik ke atas motornya dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. "Elang!" panggilan Elsa sudah tidak digubris Elang lagi. Air mata Elsa kembali membasahi pipinya. "Elang jangan pergi."
"Sa, udah.." Fandi mengusap pundak Elsa. "Kita susul Elang."
Elsa menggeleng. "Gak perlu. Aku bisa sendiri." Elsa melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Fandi.
Fandi memandang punggung Elsa yang kian menjauh. "Hati-hati, Sa. Aku hanya ingin kamu mendapat seseorang yang tepat dalam hidup kamu." Fandi pun kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sebenarnya, saat itu Elsa ingin langsung ke rumah Elang tapi Mamanya barusan menelponnya agar cepat pulang. Dengan diantar ojek online, Elsa pun sampai di rumah.
"Sa, untung kamu cepat pulang. Mama mau arisan sudah ditunggu sama Bu Dian," kata Bu Difi menyambut kedatangan Elsa.
Elsa mencium tangan mamanya lalu masuk ke dalam rumah.
"Mama kemungkinan pulang malam soalnya habis arisan mama mau jenguk Bu Retno di rumah sakit."
Masih tidak ada respon dari Elsa.
"Elsa gak papa, Ma. Cuma capek aja. Iya Mama hati-hati."
Bu Difi tersenyum, "Ya udah kamu nanti malam cepat istirahat. Gak usah nunggu Mama pulang, Mama bawa kunci. Dan jangan lupa makan dulu."
Elsa mengangguk. Bu Difi keluar dari rumah dan Elsa menutup pintu. Dengan lemas Elsa menuju kamarnya. Dia ganti seragamnya, lalu duduk di atas tempat tidurnya. Pikirannya masih saja berkutat tentang Elang.
"Gue harus ke rumah Elang sekarang!" Elsa berdiri dan menyisir asal rambutnya lalu bergegas mengambil tas kecil untuk menaruh handphone dan uangnya. Dan lagi, dia harus memesan ojek online yang selalu siap sedia. Elsa keluar dari rumah dan mengunci pintunya. Beberapa saat kemudian tukang ojek pun sudah menghampiri Elsa.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Elang, karena jarak rumah mereka yang tidak begitu jauh. Elsa segara turun dan membayar. Elsa pandangi rumah Elang yang begitu sepi. Dia sempat ragu dan mengira Elang tidak ada di rumah tapi melihat motor Elang yang parkir di teras rumahnya, Elang pasti berada di rumah.
Elsa berjalan mendekati pintu dan mengetuk pintu pelan. "Tante Dian kan arisan sama Mama." Sampai beberapa kali ketukan tetap tidak ada sahutan. Lalu Elsa membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Dia masuk ke dalam dan langsung menuju kamar Elang yang saat itu terbuka. Terlihat Elang yang sedang memejamkan matanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Elsa berjalan mendekat. "Lang," panggil Elsa pelan tapi tidak ada sahutan. Apa Elang tidur? Elsa menyentuh leher Elang yang terasa begitu panas.
Kemudian Elsa bergegas menuju dapur dan mengambil air untuk mengompres Elang. Sampai dia kembali ke kamar, mata Elang masih terpejam. Dia peras handuk kecil untuk mengompres lalu menempelkannya di kening Elang dan saat itu juga Elang langsung terbangun.
__ADS_1
"Elsa!" Elang mengambil kompres yang ada di keningnya dan duduk. "Lo ngapain ada di sini?"
"Gue, gue tahu lo sakit jadi gue mau liat keadaan lo."
"Gue gak papa." Elang menyingkap selimutnya lalu turun dari tempat tidur. "Lebih baik lo sekarang pulang karena gue lagi pengen sendiri."
Elsa ikut berdiri, "Tapi Elang, badan lo panas banget dan..."
"Peduli apa lo sama gue?! Lo ngasih harapan ke gue, terus lo nyakitin gue lagi. Udah cukup, Sa."
Air mata itu menetes lagi, apalagi saat melihat ekpresi marah Elang. "Gue,." Elsa tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Dia sama sekali tidak bermaksud melakukan seperti apa yang dikatakan Elang.
"Lebih baik sekarang lo pulang! Hari udah gelap dan gue gak bisa nganterin lo!" Elang tidak berani menatap Elsa. Jujur saja, hatinya sakit jika melihat Elsa menangis apalagi karena dirinya.
"Maaf," Elsa mempercepat langkahnya keluar dari kamar Elang dan menuju pintu depan.
Ingin rasanya Elang menahan Elsa pergi, tapi sudah tidak ada alasan lagi untuk Elang menahannya. Setelah Elsa kembali menutup pintu rumah Elang, Elang terduduk dengan lemas. Dia hanya bisa mengusap wajahnya. "Bukan maksud gue usir lo, Sa. Maafin gue..." Elang sebenarnya menyesal dengan perkataannya. "Apa gue udah keterlaluan sama Elsa?"
Tiba-tiba ada kilatan petir diluar dan disusul dengan suaranya. "Elsa!" Elang berdiri dan bergegas mengambil jaket serta kunci motornya.
...***...
Gue salah, gue emang salah. Sepanjang jalan Elsa masih menangis. Dia kini berjalan kaki dan tidak lagi memesan ojek online. Saat suara petir mulai bergemuruh, Elsa justru menengadah dan seperti menanti hujan turun. Gue memang gak pernah ngerasain bagaimana sakitnya perasaan lo. Lo boleh balas gue. Lo boleh sakitin hati gue sekarang. Tapi jangan pernah pergi dari gue. Gue gak bisa tanpa lo. Hujan turun dengan deras mengguyur tubuhnya. Elsa tidak berlari untuk berteduh, dia justru kini jatuh berlutut dan semakin menangis. Gue ingin lo kembali sama gue, Lang. Gue mohon... Tubuh Elsa sampai bergetar karena isak tangisnya.
Sebuah sepeda motor terhenti di dekat Elsa. Hujan yang begitu deras membuat Elsa tidak mendengar suara sepeda motor itu. Elsa tetap menunduk dan menahan tubuhnya dengan tangannya. Tesadar, saat ada sebuah jaket sudah menutupi kepalanya. Elsa mendongak. "Elang??"
💞💞💞💞
Elang.... 😍😍😍
Sini sama author saja. . 🤭
__ADS_1