
"Elang?" Elsa seperti tidak percaya, Elang kini menyusulnya dan telah berjongkok di sampingnya.
"Lo ngapain ujan-ujanan, Sa?"
"Elang.." Elsa mengatur napasnya. "Lo jangan jauhi gue.." suara Elsa bergetar, dia masih saja menangis walau kini air matanya tidak terlihat karna air hujan.
Elang hanya mampu menatap Elsa. Hatinya begitu sangsi. Apa Elsa memang sudah menyadari perasaannya? Elang yang saat itu hanya memakai kaos berlengan pendek dan tanpa memakai jas hujan membiarkan dirinya basah. Dia harus bisa menahan dirinya agar tidak tumbang karena kepalanya semakin terasa pusing dan tubuhnya diserang rasa dingin yang begitu hebat.
"Lang," Elsa melepas jaket yang menutupi kepalanya tapi Elang mencegahnya dengan gelengan kepala. "Tapi lo sakit, Lang. Lo harusnya gak ujan-ujanan, lo harusnya gak perlu nyusulin gue."
"Lo gak perlu mikirin gue. Yang penting sekarang kita harus cepat pulang ke rumah." Elang membantu Elsa berdiri.
"Lo gak pakai jas hujan?" tanya Elsa sebelum naik ke boncengan Elang.
"Gue buru-buru barusan. Lo tutupin kepala lo pakai jaket gue. Jangan lo lepas." Setelah Elsa naik ke boncengan Elang, Elang melajukan motornya. Ingin dia mempercepat laju motornya tapi hujan saat itu menghalangi pandangannya. Dengan kecepatan sedang, akhirnya Elang sampai di depan rumah Elsa. Mereka segera turun dan berlari masuk ke teras Elsa.
Elsa mengambil kunci dan membuka pintu rumahnya. "Lang, ayo masuk."
Elang menggeleng dan malah duduk di anak tangga teras. "Gue basah semua. Gue tunggu ujan reda di sini aja. Lo cepat ganti baju ntar lo masuk angin."
Elsa tahu, Elang pasti kedinginan. Bahkan kini Elang nampak menggigil dan melipat tangannya sendiri. Elsa masuk ke dalam rumahnya, hanya sebentar kemudian keluar dan sudah membawa handuk untuk mengeringkan rambut Elang. "Lo kenapa gak pakai helm sih, Lang?" Karena Elang masih sibuk dengan rasa dinginnya akhirnya Elsa yang membantu mengeringkan rambut Elang.
"Gue gak kepikiran." Elang kini melihat Elsa yang masih mengenakan baju basahnya. "Lo kenapa gak ganti baju? Ntar lo masuk angin dan lo kenapa juga malah handukin gue. Yang penting lo dulu, Sa. Gue gak papa nunggu di sini sendiri."
Elsa menghentikan usapan handuknya lalu kini duduk di sisi Elang. Elsa menyentuh tengkuk leher Elang yang semakin terasa panas. "Lang, badan lo panas banget. Lo istirahat yah di dalam."
Elang menggeleng, "Gue gak papa. Lo gak usah khawatir sama gue. Justru gue yang khawatir sama lo, makanya gue suruh lo masuk dan hangetin badan lo di dalam." Badan Elang semakin menggigil. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa dingin itu. Bibir Elang pun mulai terlihat membiru.
"Lang, maaf... Maaf selama ini gue cuma bisa nyakitin lo. Maafin gue yang gak pernah ngerti perasaan lo."
"Lo gak usah terlalu baper sama gue." Elang masih saja menunduk, dia tidak menatap Elsa yang berada di sampingnya. "Gue gak papa."
"Lo kenapa selalu bilang gak papa sama gue. Lo itu bukan malaikat Elang. Lo juga bisa down."
Elang kini beralih menatap Elsa. Dan Elsa pun kembali menangis.
"Lo kenapa nangis lagi?" Elang ingin menghapus air mata Elsa tapi tangannya terlalu kaku untuk digerakkan. Rasa dingin itu benar-benar tidak bisa dilawan Elang. Elang semakin menunduk dan melipat dalam tangannya.
__ADS_1
"Lang," Elsa kini melingkarkan tangan kanannya di badan Elang sampai menyentuh tangan kirinya. Dia dekap Elang dengan erat. "Gue tau lo kedinginan banget. Gue gak bisa lakuin apa-apa buat lo." Elsa semakin mendekatkan tubuhnya dan mendekap Elang semakin erat.
Awalnya sedikit, tapi kelamaan kehangatan itu semakin dirasakan Elang. Elsa tidak pernah memeluknya seperti ini, ditambah lagi baju mereka yang masih basah membuat Elang semakin bisa merasakan tubuh Elsa.
Ada perasaan yang mulai berbeda dirasakan Elang. "Sa, gue itu cowok. Lo jangan peluk gue kayak gini."
"Kenapa? Biasanya gue juga sering peluk lo." tanya Elsa. Apa Elsa terlalu polos atau memang berpura-pura tidak mengerti dengan naluri seorang lelaki.
"Karena..." Elang mana mungkin bisa menjelaskan pada Elsa. Apalagi saat menatap wajah Elsa dengan jarak sedekat ini, seolah akal dan hati Elang berperang. Seperti ada daya tarik sendiri yang menuntun Elang untuk semakin mendekat ke wajah Elsa. Akal Elang menolak tapi rasa Elang mendukung.
Elsa tahu apa yang akan dilakukan Elang. Dia tidak menghindar, dia justru memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat bibir Elang berhasil menyentuh bibirnya. Elsa seperti tersengat listrik dan butuh aliran oksigen lebih. Ini memang gila! Elsa mendapatkan ciuman pertamanya justru dari Elang, sahabatnya.
Elang sebenarnya ragu untuk memulai. Dia begitu kaku karena ini juga pertama kalinya buat Elang. Perlahan dan dengan lembut, sekali, dua kali dan ketiga Elang langsung melepaskan pagutannya. Dia sedikit menjauh dari Elsa. Mengusap wajahnya untuk membuang pikiran negatifnya.
Elsa masih saja melongo dan menatap Elang. Panasnya napas Elang masih sangat terasa di bibirnya.
"Lo kenapa gak tampar gue biar gue sadar. Gak seharusnya gue lakuin ini sama lo!" Elang mengacak rambutnya karena merasa bersalah pada Elsa. Dia masih saja salah tingkah. "Maaf. Gue bener-bener minta maaf. Lo boleh marah sama gue, lo boleh pukul gue sekarang karena gue udah kurang ajar sama lo."
"Elang, gue ngerti ini diluar akal kita. Lo gak perlu minta maaf sama gue. Yah, setidaknya hari ini dan di jam ini, kita punya satu kenangan yang gak bisa kita lupakan selamanya." Perkataan Elsa membuat Elang tenang dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi ini bukan kenangan terakhir kita kan?" Elang menatap sendu Elsa. Dia mengartikan lain maksud dari perkataan Elsa.
Elang masih menunggu apa yang akan dikatakan Elsa.
"Sebenarnya gue ada jaket lo yang dulu lupa gak gue balikin." Elsa tiba-tiba berdiri dan masuk ke dalam.
Sahabat gue, cinta pertama gue. Bersama lo gue bisa merasakan semua hal yang belum pernah gue rasakan. Tapi apa yang gue lakuin barusan?? Elang menghela napas panjang lalu berdiri. Pandangannya kabur beberapa saat, pertanda dia juga kurang darah. Sebenarnya rasa pusing itu masih ada, meski sekarang masih dapat dia tahan setidaknya sampai di rumah.
"Lang, ini lo pakai," Elsa datang dan memberikan jaket pada Elang. "Ujannya udah reda, lo cepet pulang dan istirahat."
"Jadi sekarang gantian lo yang usir gue?" goda Elang sambil memakai jaketnya.
"Elang, lo sakit kan? Suruh istirahat di dalam gak mau terus..."
"Gue bercanda," Elang tersenyum sesaat lalu berjalan menuju motornya dan menaikinya. Rasa gerogi itu masih ada. Bagaimana jika dia ketemu dengan Elsa besok, apa masih gerogi?
"Lang, hati-hati."
__ADS_1
Elang menganggukkan kepalanya lalu mulai melajukan motornya sedang.
Elsa masuk ke dalam rumahnya dan tak lupa menguncinya dari dalam. Dia menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi dengan air hangat. Elsa masih saja teringat kejadian barusan. Kenapa gue mau ciuman sama Elang? Apa itu memang secara naluri atau.... Elsa menggigit sendiri bibir bawahnya. Kalau malam ini gue gak bisa tidur, berarti memang ada sesuatu di hati gue.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Elsa keluar. Ingin makan, tapi rasanya tidak *****. Tapi kalau tidak makan, dia bisa sakit. Hanya sedikit akhirnya dia makan. Tak berapa lama setelah beberes sesaat, dia masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan badannya dan menarik selimutnya.
Biasanya, jika sudah tercium bau bantalnya, Elsa langsung tertidur tapi tidak untuk saat ini. I can't to sleep.. Tulis Elsa di status Whatsapp-nya.
Beberapa saat kemudian sudah ada yang melihat statusnya. Elang.... Tapi Elang tidak membalas status itu. Elang justru membalasnya lewat status Whatsapp-nya juga.. Don't think about me..
"Ih, Elang... Tanya kek lewat chat. Ngapain nulis status juga. Yah, lo berhasil buat gue gak bisa tidur malam ini dan terus kepikiran lo. Dasar rese banget lo." Elsa terbangun lagi dan duduk sambil memanyunkan bibirnya. Ingin dia menelepon Elang, tapi.. "Gak ah, ngapain gue nelpon Elang lagian dia juga lagi sakit ntar gue ganggu dia." Elsa meniup rambutnya yang teracak ke depan.
Beberapa saat kemudian Bu Difi masuk ke dalam kamar Elsa, "Sayang, kamu belum tidur?" Dia berjalan dan duduk di samping Elsa.
Elsa menggeleng. "Mama udah pulang dari tadi?"
"Baru 15 menit. Mama kira kamu udah tidur. Tadi mama mampir dulu ke rumah tante Dian. Ternyata Elang lagi sakit. Tadi tante Dian buru-buru manggil dokter."
Elsa menghela napas panjang, "Untung Elang udah berobat."
"Emang kamu tahu kalau Elang sakit?"
"Hmmm, tahu Ma tadi Elsa ketemu sama Elang." Elsa kini memeluk Mamanya, dia ingin bertanya tentang suatu hal. "Ma, menurut Mama cinta itu kayak gimana sih?"
Bu Difi mengusap rambut Elsa sambil tersenyum. "Kenapa kamu tanya Mama soal cinta. Cinta itu gak bisa dijelasin dengan kata tapi cuma bisa dirasakan lewat hati."
Elsa semakin bingung, jujur saja dia butuh penjelasan secara mendetail agar dia benar menyadari perasaannya.
"Kamu lagi jatuh cinta? Sama Fandi?" tanya Bu Difi lagi karena Elsa belum bersuara lagi.
"Yah, dulu Elsa kira itu cinta. Tapi..." Elsa menghentikan perkataannya.
"Kalau masih seumuran kamu itu namanya cinta monyet. Yah, masih suka berpindah dan belum nemuin cinta sejati. Nanti kalau kamu udah dewasa pasti kamu akan mengerti dengan sendirinya."
Elsa kini melepaskan pelukannya dan menatap Mamanya. "Cinta sejati itu seperti apa, Ma?" tanya Elsa lagi.
Bu Difi tersenyum karena Elsa masih saja bertanya tentang arti cinta. "Cinta sejati itu, saat kamu benar-benar merasa takut kehilangan seseorang."
__ADS_1
Takut kehilangan seseorang? Satu kalimat lagi yang membuat rasa kantuk Elsa ambyar. Entah sampai jam berapa Elsa akhirnya tertidur. Yang jelas, malam itu seperti malam yang panjang buat Elsa.