
Dea duduk di depan ruang ICU selama Ibunya diperiksa. Dia masih begitu sangat khawatir bahkan air matanya tidak mau berhenti mengalir. Dia sekarang tidak sendiri tapi dengan seseorang yang masih berseragam SMA sama dengannya.
"Makasih lo udah bawa Ibu gue ke rumah sakit. Tadi lo ketemu Ibu gue dimana?"
"Gue ketemu Ibu lo pingsan di jalan." Fandi mulai menceritakan kronologinya.
Waktu itu Fandi mengendarai mobilnya dan melintasi jalan menuju rumahnya seperti biasa. Dia melihat ada seorang ibu yang pingsan di pinggir jalan. Fandi menghentikan mobilnya dan menolongnya. Awalnya Fandi tidakĀ tahu jika ibu itu adalah Ibu Ratih, Ibunya Dea. Dia segera meluncur menuju rumah sakit. Baru saat Fandi akan membantu Bu Ratih turun, Bu Ratih sedikit tersadar.
"Saya kenapa?"
"Ibu tadi pingsan. Sekarang Ibu periksa dulu saja di rumah sakit."
"Kamu teman sekolah Dea?" Bu Ratih tanggap dengan lokasi sekolah yang tertera di baju Fandi.
Fandi teringat akan satu Dea. Melihat wajah Ibu itu yang mirip dengan Dea pasti ini Dea yang sering bersama Elang.
"Iya." Fandi langsung memapah Bu Ratih masuk ke dalam rumah sakit yang segera disambut dengan beberapa suster dan sudah membawa alat dorong karena nampaknya Bu Ratih memang sudah tidak kuat untuk berjalan lagi.
"Tolong kamu kabari Dea. Kasian nanti dia nyariin Ibu," pesan Bu Ratih sebelum masuk ICU.
"Iya." Fandi berpikir. Bertanya pada siapa nomor Dea. "Elang?" Fandi menggelengkan kepalanya. Lalu dia memanggil nomor Riko, teman ekskul basketnya yang sekelas dengan Dea. Setelah mendapatkan nomor Dea, Fandi segera menghubunginya lewat WA tapi hanya menyambung. Sampai beberapa kali, akhirnya dia telepon lewat panggilan selular biasa. Menyambung, sampai beberapa kali dan akhirnya baru dia angkat.
Fandi menghela napas panjang saat pada akhirnya Dea sekarang sudah bersamanya. "Ibu lo sebenarnya sakit apa?"
Dea terdiam sesaat, "Paru-paru."
"Kanker?" tanya Fandi lagi dengan serius.
__ADS_1
Dea menggeleng cemas sambil menggigit bibir bawahnya. Sampai beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan. "Siapa keluarga dari pasien?"
Dea segera berdiri dan menghampiri Bu Dokter yang sudah paruh baya itu. "Bagaimana keadaan Ibu saya dokter?"
Fandi berdiri dan juga menghampiri Dea. "Dokter Farah?" Ternyata Fandi mengenal sosok Dokter itu. Yah, dialah Dokter yang menangani penyakit Mamanya dulu.
"Ini Fandi, putranya Ibu Ambar?"
"Iya, Dok. Saya tadi yang bawa Ibu Ratih ke sini."
Dokter Farah sedikit menggelengkan kepalanya. "Apa Ibu Ratih tidak pernah periksa lagi setelah pulang dari rumah sakit pada awal kambuh?"
Dea menggeleng pelan. "Kita terkendala biaya."
Dokter Farah menghela napas panjang, "Ibu kamu sekarang mengidap kanker paru-paru dan sudah di stadium akhir."
Dea memekik tertahan, "Mana mungkin, Dok. Hasil pemeriksaan Ibu saya yang terakhir bukan kanker."
Lutut Dea terasa begitu lemas. Rasanya dia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Badannya bergetar hebat dengan isak tangis yang semakin menjadi.
"Dokter, tolong lakukan pengobatan yang terbaik pada Bu Ratih."
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik. Kalian berdo'a saja semoga Allah memberikan kesembuhan pada Bu Ratih. Saya akan melakukan pemeriksaan lagi, baru kalian boleh menemui Ibu Ratih setelah dipindahkan ke ruang rawat." Dokter Farah kembali masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Dea masih saja terisak. Hampir saja dia ambruk jika badannya tidak ditahan oleh Fandi.
"Dea, kita duduk dulu." Fandi menuntun Dea agar kembali duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Dea mengusap wajahnya. Matanya kini sudah memerah dan begitu sembab. "Apa yang harus gue lakuin?"
"Lo berdo'a, semoga saja Ibu lo cepat sembuh." Meski sebenarnya Fandi sendiri juga ragu dengan penyakit mematikan itu. "Dulu Mama gue juga sakit kanker paru-paru dan Dokter Farah juga yang menangani."
Seketika Dea menoleh pada Fandi. "Mama lo udah sembuh?"
Dan lagi Fandi menghela napas panjang mengingat masa kelam itu, "Mama gue udah gak ada. Allah berkehendak lain. Yang jelas kita sudah berikhtiar dan soal hasil itu diluar kuasa manusia."
Pikiran Dea bercampur aduk. Dia sangat takut jika harus kehilangan ibunya untuk selamanya.
"Tapi lo jangan berpikiran buruk hanya karena cerita gue. Semua keajaiban itu bisa saja terjadi. Dan yang paling penting, lo harus terus kasih semangat pada Ibu lo untuk sembuh jangan tunjukin kesedihan lo."
Dea terdiam sesaat sambil terus mencerna omongan Fandi.
"Lo tenang aja, gak usah mikirin soal biaya. Gue akan bantu lo."
"Tapi, Fan. Gue gak mungkin bisa nerima bantuan lo gitu aja."
"Gue mau lakuin ini karena ini keinginan Mama gue." Dea terdiam lagi dan kemudian Fandi melanjutkan ceritanya. "Dulu waktu gue masih SMP dan sebelum Mama meninggal, Mama pengen gue jadi seorang dokter agar bisa menyembuhkan orang yang mengidap kanker. Tapi sekarang gue malah masuk IPS." Fandi tersenyum mengejek dirinya. "Untuk jadi dokter masih butuh banyak proses buat gue. Makanya itu gue ingin bantu lo. Gue ingin mewujudkan keinginan Mama selama gue masih bisa." Fandi anak seorang pengusaha dan juga penanam saham di beberapa rumah sakit membuatnya begitu mudah untuk mengurus biaya pengobatan Bu Ratih.
Dea akhirnya mengangguk pelan. Dia hanya ingin ibunya sembuh. "Gue cuma bisa bilang makasih sama lo. Sebelumnya kita gak pernah deket bahkan kita itu cuma.. Ah, sudahlah gue gak mau mikirin yang lain selain ibu." Dea menghentikan perkataannya saat handphonenya berbunyi. Dia melihat ada panggilan masuk dari Elang. Dia biarkan saja dan hanya menatap.
Fandi tak sengaja melihat nama yang tertera di layar handphone Dea. "Kenapa gak lo angkat?"
Dea justru sekarang mereject panggilan Elang lalu menggenggam kembali handphonenya. "Jika sudah ada dua orang yang saling mencintai lalu buat apa lagi ada cinta yang lain." Dea mengusap sisa air matanya dan menguatkan dirinya.
"Yah, lo benar."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pemeriksaan pada Bu Ratih selesai dan kini telah dipindahkan ke ruang rawat. Dea segera mengikuti ibunya ke ruang rawat sedangkan Fandi mengurus administrasi.
Dea genggam tangan Ibunya yang saat itu sedang tertidur karena pengaruh obat. "Ibu cepat sembuh. Dea gak mau kehilangan Ibu...."