
...~Chapter 17~...
Wanita berambut pendek itu menolehkan wajahnya.
Ia tersenyum mengerikan, menatap Lucia.
Tiba-tiba Lucia merasa ketakutan .
Tapi melihat jasad ibu dan ayahnya yang tergeletak begitu saja, membuat Lucia membulatkan tekadnya.
"AKU TIDAK TAKUT PADAMU!!!"
Teriak Lucia ,menantang wanita berambut pendek yang kemudian mentertawakan Lucia.
" Kamu tidak takut padaku? Apakah kamu juga tidak takut bila aku akan membunuhmu? Khi Khi khi..." Ucap nya dengan tawa sinisnya.
" Kalau kamu bisa membunuhku, Silahkan bunuh aku!!! Aku tidak takut padamu!!!" Teriak Lucia yang kemudian lari mendekati jenazah orang tuanya.
Visness berdiri , Mundur ,dan menatap Lucia dengan nanar.
" Mama! Papa! Bangunlah kumohon!! Bukankah janji mama dan papa akan baik-baik saja?!!?" Seru Lucia sembari memeluk ibunya yang berlumuran darah. Air mata Lucia membasahi pipinya.
" Sombong! " Ucap Visness ketus.
" Dengan senang hati ,aku akan membunuhmu dan mengambil ujung jarimu. Seperti yang kulakukan pada ayah dan ibumu. Khi Khi khi...."
Visness tertawa sinis.
Ujung jari ibu?!!!
Lucia mencari jari ibunya.
Dan... benar. Jari-jari ibunya hanya tinggal setengah. Satu ruas dari setiap jari terpotong.
" Kau apakan jari ibuku?!!" Teriak Lucia marah.
" Koleksiku tentu saja Khi...khi..khi..."
Jawab Visness bangga.
Lucia marah dan berdiri sembari menggendong ibunya dalam pelukannya.
" Berhenti! Apa yang akan kamu lakukan?!" Teriak Visness .
" Kau akan menerima balasan mu! Aku akan menguburkan jenazah ibu dan ayahku terlebih dahulu. Baru mengurusmu!" Ucap Lucia dingin.
" Wah, percaya diri sekali!" Ejek Visness menatap sinis Lucia yang berjalan menjauh.
Lucia menguburkan ayah dan ibunya . Dan menjadikan dua buah batu besar sebagai nisan ibu dan ayahnya.
__ADS_1
Setelah itu Lucia bangkit dan mendekat ke arah Visness.
" Apakah kamu sudah siap dengan kematian mu?"
Tanya Lucia dengan marah.
Visness tertawa mengejek. " Aku sudah berbaik hati menunggumu menguburkan kedua orang tuamu.
Tapi kau masih menantangku?"
Lucia menatap Visness dengan tatapan dingin. Dan terus melangkah mendekat.
" Berhenti! " Teriak Visness.
Tapi Lucia tetap melangkahkan kakinya mendekati Visness.
" AKU BILANG BERHENTI!!!" Teriak Visness yang langsung menembakkan lima buah bumerang ke kaki Lucia.
Lucia mengernyit menahan kakinya yang terasa sakit.
Ugh...kakiku... ini bukan ilusi??!
Aku pikir... ini...
Ah..ya aku telah melewati garis pelindung Mary... Bodohnya aku.
Batin Lucia.
Dan pemandangan yang Lucia lihat tiba-tiba memudar.
Mayat yang bergelimpangan itu berubah menjadi abu dan menghilang.
Tapi Lucia masih berada di pantai dan wanita berambut pendek di depannya masih tersenyum mengerikan padanya.
Juga...kaki Lucia yang sakit benar-benar nyata.
" Seluruh senjataku dibaluri racun.
Kau akan mengalami kelumpuhan dan jantungmu akan berhenti dalam waktu lima menit. Apakah ...kau masih tidak takut?" Tanya Visness dengan senyum mengejek.
Lucia memaksakan senyum di wajahnya yang sebenarnya menahan kesakitan yang luar biasa. Seakan sesuatu menjalar dan menggerogoti kaki dan jantungnya sedikit demi sedikit.
" TIDAK!!! Aku tidak takut padamu!"
Jawab Lucia.Dan kemudian Lucia terduduk lemas.
Kakinya terasa lumpuh.
Visness tertawa penuh kemenangan.
__ADS_1
...***...
Cana dan Mary masih di belakang garis pelindung .Mengawasi kejadian itu. Cana yang sudah tidak tahan melihat Lucia kesakitan, hendak keluar dari garis pelindung,
" Lucia dalam bahaya! Kita harus segera..." Kata-kata Cana terputus.
Mary menggenggam lengan Cana.
" JANGAN!"
Ucap Mary menahan Cana melangkahkan kakinya.
Cana terkejut dan menoleh menatap Mary .
" Hanya dengan cara inilah Lucia sang air bisa bangkit." Ujar Mary.
" Aku percaya hal itu!" Tambahnya dengan kepercayaan kuat.
Cana hanya bisa pasrah ,
" Kita tunggu sedikit lagi. Tapi aku tidak akan membiarkan iblis itu membunuh Lucia, walaupun aku tidak begitu menyukai gadis bar-bar itu!!"
BRAKK!!!
Debuman keras membuat Cana dan Mary terkejut. Saat menoleh mencari arah suara tersebut, mereka menemukan Lucia sudah rebah dipantai dan kemudian di guyur gulungan ombak pasang.
" LUCIA!!!" Teriak Cana dan Mary bersamaan.
...***...
Seluruh tubuhku tidak bisa bergerak.
Tapi ...air laut ini....
Nyaman...
Batin Lucia, yang masih terbaring kaku dengan mata terbuka.
Gludug....
Gludug...
Tiba-tiba awan mendung datang dan menurunkan hujan gerimis. membasahi Lucia .
Tanpa semua orang ketahui, mata Lucia berubah menjadi hanya satu titik. Kornea matanya mengecil. Lucia hanya menatap ke atas dengan pasrah .
Tapi ia merasa sesuatu menguasai dirinya ,dan luka di kakinya perlahan-lahan sembuh.
__ADS_1
Visnes berjalan lambat mendekati Lucia yang tidak berdaya.
...To be continued.......