
...~Chapter 8~...
...-----------------------------...
...Zrrrt!...
Robert sampai ke Hutan Bambu, dan melihat Lucia tampak kewalahan menggali tanah di depannya hanya dengan menggunakan kedua belah tangan nya.
...Sruk.....
...Sruk.....
" Ukh, dalam sekali. Dan tanah ini banyak batu!" Lucia menggumam ,
dan mengelap peluh yang membasahi keningnya. Tangannya terasa nyeri karena tergores batu.
" Apakah seharusnya aku memakai bambu tadi? Rasanya pekerjaan ini tidak selesai-selesai." Keluh Lucia merasa menyesal. Tapi tetap melanjutkan menggali tanah di depannya memakai kedua tangannya.
Pikiran Lucia melayang, dan tiba-tiba saja ada rasa sedih yang melanda hati nya.
Kenapa Robert meninggalkanku ? Mengapa ia pergi tanpa sepengetahuan ku?
Lucia menatap tanah di tangannya dan merasa sedih. Batu- batu di tanah itu membuat tangannya mengeluarkan darah. Utusan apanya? Aku masih bisa terluka dan mengeluarkan darah!
Saat ia hendak menggali lagi tanpa menghiraukan darah yang mengucur dari tangannya, tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menggenggam tangan Lucia.
" Ah!!" Lucia terkejut karena tidak menyadari ada orang selain dirinya di sana. Lucia memandang pemilik tangan kekar dan hangat yang menggenggam tangannya.
...Robert?!!...
Ia mendekatkan wajahnya ke depan Lucia. Hanya beberapa senti saja jarak antara wajah Robert dan Lucia.
" Biarkan aku yang menggali tanah ini Lucia ." Ucap Robert lembut.
Wajah Lucia memerah , tapi ia masih merasa kesal pada Robert yang seenaknya datang dan pergi .
Lucia memalingkan wajahnya dan menjawab dengan nada kesal. " Aku tidak perlu bantuan mu!"
__ADS_1
Robert tersenyum pasrah dan memakaikan mantel titipan Dark pada Lucia. " Ini adalah mantel dari Dark untukmu. Dark titip salam." Ucap Robert lembut.
Lucia terdiam menatap Robert yang tidak memperdulikan sikap menyebalkannya. Dulu Robert selalu panik kalau aku terlihat kesal.
" Duduklah di bawah pohon itu, sementara aku menyelesaikan menggali tanah ini." Ucap Robert yang kemudian menyodorkan botol minuman. " Minumlah , kamu pasti sangat haus dan lelah."
Lucia menatap Robert dalam diam , dan mengambil botol minuman dari tangan Robert tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia terlalu lelah , bahkan untuk mengucapkan terimakasih pada Robert.
Lucia berjalan gontai menuju pohon yang di tunjuk oleh Robert.
Duduk di bawah pohon yang rindang dan meneguk minuman yang diberikan oleh Robert padanya. Kerongkongannya sangat kering , sehingga air yang mengalir masuk membasahi mulutnya terasa segar.
Tidak berapa lama ,Lucia merasa matanya terlalu berat . Hembusan angin yang mengelus rambutnya lembut membuatnya mengantuk. Lucia pun tertidur.
Robert yang sedang menggali tanah, menatap Lucia yang tertidur dari kejauhan . " Pasti kamu sangat lelah, Tidurlah Lucia." Bisik Robert kemudian tersenyum .Ia merasa lega karena ada di saat Lucia membutuhkannya.
Dalam sekejap , Robert telah menggali tanah itu sangat dalam dan besar. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. Ia sangat bingung menatap lubang besar di hadapannya.
" Apa yang kau cari Lucia? Kenapa begitu ingin menggali tanah ini? Bahkan sampai menyakiti kedua tangan mu?"
...Hyuu.......
...Hyuuu.......
Angin menderu , menggesekkan daun-daun pohon bambu yang kemudian bergemerisik. Lucia yang tertidur pulas , membuat Robert juga merasa mengantuk.
Tidak ingin membuat Lucia terbangun , Robert duduk di balik pohon tempat Lucia menyandarkan tubuhnya. Tidak berapa lama, Robert juga tertidur di bawah pohon rindang tersebut. Angin membelai mereka lembut.
Hari semakin gelap , Lucia terbangun dari tidurnya. Ah, aku tertidur.
Lucia menatap tanah yang ia dan Robert gali. Tanahnya , sudah selesai di gali. Robert? Dimana Robert?
Lucia berdiri dengan panik. Apa, apa Robert sudah pergi meninggalkanku lagi ?
Lucia berjalan mendekati tanah yang Robert gali dan mencari-cari sosok pria yang selalu membuatnya rindu sekaligus kesal itu.
Merasa putus asa , Lucia berteriak kencang memanggil nama Robert. Tapi hanya suaranya yang menggema.Tidak terdengar jawaban.
__ADS_1
" Apakah aku tidak berarti bagimu Robert? " Ucap Lucia sedih.
" Lucia sangat berarti bagiku." Jawab sosok di belakang Lucia yang kemudian mendekapnya erat.
" Maaf aku melihatmu tertidur nyenyak, sehingga membuatku juga merasa ngantuk." Ucap Robert lembut. Lucia menoleh menatap Robert yang tersenyum padanya. Wajah Lucia memerah.
Tubuh Robert terasa hangat.
Jantung Lucia berdetak kencang.
" Kali ini , jangan pernah pergi lagi Robert. Aku sungguh kehilangan kamu. Berjanjilah padaku." Ucap Lucia .
Robert mengelus kepala Lucia dengan lembut. " Lucia, cobalah ingat. Lucia harus menjaga bumi dan Robert harus menjaga Saturnus. Aku berjanji akan selalu datang bila kamu membutuhkanku. Dan, jangan lakukan hal bodoh seperti tadi!"
Robert menaruh tangan Lucia di telapak tangannya yang besar. " Lihat, Jarimu terluka Lucia. Berdarah." Ucap Robert khawatir.
" Ah..ini bukan apa-apa." jawab Lucia hendak menarik tangannya kembali. Tapi Robert menggenggam tangan Lucia erat dan mengobati tangan Lucia, kemudian membungkus tangan Lucia yang berdarah dengan perban.
...********...
...Gluduk.....
...Tarr.....
Robert menengadah menatap langit yang menghitam dan mendung. Terdengar olehnya Dark memanggil nya untuk kembali.
Robert menatap Lucia dan menyelesaikan membuat simpul di perban yang membalut tangan Lucia.
" Nah, sudah selesai. Aku harus pergi sekarang. Hanya menunggu kamu bangun dari tidurmu." Ucap Robert kemudian mengelus kepala Lucia dengan lembut.
"Jaga dirimu Lucia. Aku mencintaimu." Robert mengecup kening Lucia.
" Bye Lucia." Ucap Robert yang tersenyum menatap Lucia. " Bye Robert."
Aku tidak mengerti. Walaupun saat itu Robert mau pergi, rasanya hatiku tenang. Robert berubah.Jauh lebih dewasa...
...To be continued......
__ADS_1