
Karya:~Kay Scarlet~☘️
...~Chapter 35~...
.
.
.
Taman kota manusia bersimbah darah.
Cahaya yang di selubungi asap pekat itu semakin lama semakin membesar.
Havana yang berada dalam balon pelindung milik Freya, menghentikan tangisnya dan menatap lekat cahaya dan asap pekat tersebut.
Tiba-tiba saja di sebelah cahaya pekat itu, muncul Franc dan Eagle!
Seharusnya Franc dan Eagle bukanlah hal yang mengejutkan.Karena Freya telah mengatakan bahwa mereka memang menunggu Franc.
Tapi Hal itu membuat Havana kesal. Seandainya saja Freya tahu bahwa Franc dan Eagle datang sebelum Georgia keluar dari dimensinya.
Mungkin Freya tidak harus mengorbankan dirinya!
Eagle menatap lurus ke arah Havana terkurung dalam balon pelindung.
"Havana!Apa yang terjadi?" Teriak Eagle menatap sekeliling nya dengan bingung.
Bau anyir darah yang di hembuskan angin membuat Eagle mual.
"Hoeeek!!! Ugh, kenapa di sini banyak darah?" Tanya Eagle yang memperlambat langkahnya ke arah Havana.
"Dimana Kakakku Freya, nak?" Tanya Franc yang menjangkau Havana terlebih dahulu, dan membebaskan Havana dari balon pelindungnya.
Havana yang berhasil keluar terduduk lemas dan kembali bersedih,"Freya ... Dia ...," Franc mencengkram pundak Havana. "Dia kenapa? Katakan padaku." Ucap Franc tidak sabar.
"Prajurit sky datang mengepung kami, dan ... Nenek Freya meledakkan dirinya,dan mengurungku di balon itu." Ucap Havana sembari menahan Isak tangisnya yang akan pecah.
Havana tidak sanggup kehilangan seseorang yang sangat ia pedulikan terus menerus.
Franc menghela nafas dan melepaskan cengkeramannya dari Havana. "Apakah ini rajutan milik Freya?" Tanya Franc memungut dan menggenggam rajutan yang gosong hampir semua bagiannya, pada Havana.
Havana mengangguk pelan.
Franc mengangkat kedua tangannya.
Dari tangan Franc, keluar sebuah cahaya biru yang mengeluarkan bunga es besar.
Havana menatap kekuatan es Franc dengan takjub.
Kemudian Franc memukul es besar tersebut dengan kekuatannya hingga es tersebut hancur!
Dan dari dalam es tersebut Freya keluar dalam keadaan utuh!!!
"Bodoh!" Teriak Franc pada Freya yang di sambut dengan senyum lebar nenek tua renta tersebut.
Havana yang terkejut, langsung berlari memeluk Freya.
"Maaf membuatmu terkejut nak."
__ADS_1
Ucap Freya membelai rambut Havana.
"Kamu mencoba peruntungan? Dan kalau ramalanmu tentang waktu kedatanganku salah, kamu benar-benar tamat!" Ujar Franc sewot, sembari menatap Tajam Freya.
"Ramalanku hampir tepat, tapi perkiraan kedatangan prajurit sky benar-benar di luar prediksiku! Aku mengira ia punya peramal ulung di sisinya." Ucap Freya mengusap-usap hidungnya.Franc mendengus kesal.
"Bagaimana bisa? Bukankah Anda katakan bahwa anda adalah manusia? Tapi tadi itu ...." Tanya Havana bingung.
Freya dan Franc berpandangan dan tersenyum penuh misteri.
Belum sempat menjawab apapun, cahaya besar yang di selubungi asap itupun membelah!
Seorang gadis kecil dengan posisi memeluk lututnya dalam keadaan masih terpejam keluar dari dimensi pelindung yang menyelubunginya.
Freya memeluk Eagle dan Havana.
"Akhirnya aku bisa bertemu cucu ku!" pekik Freya senang.
Havana melihat gadis kecil berambut merah yang masih di dunia mimpi nya itu dengan takjub.
Gadis kecil itu mirip Athena! Dan Georgia terlihat sangat bersinar.
Mereka ber empat gembira menyambut kedatangan Georgia.
"Selanjutnya, kami akan serahkan padamu nak!" Ucap Franc pada Havana.
Havana terkejut.
"Benar,Kami harus kembali ke suku es. Dan Freya harus ikut kali ini. Havana, tinggallah di perkampungan manusia ini bersama Georgia. Maukah kamu merawatnya?"
Tanya Franc kembali.
Havana mengangguk walaupun ia merasa terkejut dengan semua yang ia alami dan mencoba mencerna semuanya satu persatu.
"Anda akan menjenguk dan sekali-kali ke tempat kami kan?" Tanya Havana penuh harap.
Freya menggeleng pelan. "Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi nak. Kami akan perang dengan prajurit sky di perbatasan suku es.
Freya menghela nafas. Aku harus mengikuti takdirku walaupun aku mengetahui resikonya."
"Tinggallah di rumah tokoku. Di perkampungan manusia. Ajarilah Georgia kekuatan api.
Ia juga memiliki kekuatan es dalam dirinya. Tapi kekuatan itu akan keluar dengan sendirinya pada waktunya nanti." Pesan Freya sembari membelai rambut Havana.
Havana terkejut dan menatap gadis mungil yang masih memejamkan matanya. "Georgia juga mewarisi kekuatan es?!" Ucap Havana tidak percaya.
Freya dan Franc mengangguk.
"Anthony tidak mewarisi kekuatan itu. Tapi Georgia mewarisi kekuatan itu.
Ia akan menjadi SHERO yang bersinar nantinya." Ucap Freya tersenyum lebar.
"SHERO?!" Tanya Havana tidak mengerti.
"Ya, SHERO ... Makhluk yang akan mengikuti takdirnya untuk menjadi pelindung dunia ini. Georgia salah satunya." Ucap Freya bangga.
Freya jalan menghampiri gadis mungil yang masih nyenyak tertidur.
Freya merangkul dan mencium kening gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Kami mencintaimu." Ucap Freya sedikit berbisik dekat telinga Georgia.
Freya yang telah puas bertemu dengan cucu nya perlahan mundur dengan hati yang berat.
Havana merangkul lengan Freya.
"Bisakah anda tinggal bersama kami saja disini?" Tanya Havana memohon.
Freya menggeleng.
"Maaf nak ... Kami harus pergi sekarang. Kalau aku tidak di sana, maka nasib dunia akan berubah jadi lebih buruk. Kalau takdirku masih hidup, maka aku akan mengunjungi kalian berdua." Ungkap Freya, memeluk Havana erat.
Havana menangis sedih, melepas kepergian Freya dan Franc.
Eagle merentangkan tangannya ke hadapan Havana ,berharap Havana juga memeluknya dan memintanya tinggal sebelum ia pergi.
Tapi Franc menggeplak kepala Eagle dan menyeretnya agar segera mengikuti mereka.
Freya menoleh sedikit memandang Havana dengan sendu.
"Havana nak, sampai jumpa di dunia yang lain." Ucap Freya Lirih dan sedih.
Franc merangkul pundak kakaknya.
Dan mereka menghilang dalam kepulan asap biru.
Setelah asap biru itu menghilang, tiba-tiba saja Havana terpental menjauh dari Georgia. Ia mendapati dirinya di pagar luar taman kota.
Suara sirine mobil memenuhi telinga Havana yang kebingungan.
Banyak manusia berkerumun di taman kota itu. Mereka melihat Georgia yang baru membuka matanya. Di tengah-tengah kepulan asap bekas ledakan dan mayat-mayat bergelimpangan karena ledakan.
Mereka mengira bahwa Georgia adalah keajaiban, anak kecil yang berhasil selamat dari ledakan dan kobaran api.
Havana berusaha berlari masuk kembali ke taman kota dan menembus kerumunan itu. Tapi manusia berbaju seragam polisi menghalau Havana mendekati Georgia.
"Saya kenal dengan anak itu! Pak izinkan saya mendekat ke sana!" Teriak Havana meminta petugas polisi membolehkan ia mendekati Georgia.
Polisi tidak menggubiris Havana dan mengusir Havana.
"Nama saya Havana, saya kenal dengan anak itu pak! Dia adalah anak kakak saya, Athena!" Teriak Havana .
"Hah, mengganggu! Nanti saja!" ucap petugas polisi dingin.
"Pak?!!!Tolong dengarkan saya!"
Teriak Havana memaksa.
"Baiklah kalau begitu anak itu saya serahkan kepada ibu Havana sepenuhnya." Ucap petugas penyelamat.
Mereka juga bingung menghadapi wartawan, belum lagi mereka tidak mengetahui asal usul ledakan, juga siapa saja korban meninggal ledakan tersebut.
"Terimakasih atas bantuan bapak." Ucap Havana gembira.
Begitulah, Havana merawat Georgia, dan Havana mendengar bahwa suku es hancur.
Freya, Franc, Eagle. Mereka hanya tinggal kenangan.
Havana memejamkan matanya. Ia hanya punya Georgia sekarang.
__ADS_1
...🌿...
To be continued ...