
Karya: ~Kay Scarlet~☘️
Illustrated: Ishiba Aoi
.
.
.......
...~Chapter 38~...
.
.
.
Hari itu matahari tinggal separuh, seorang remaja perempuan tergopoh-gopoh menghampiri adiknya yang sedang bermain api.
"Nina mau api yang Becal!"
"Baiklah kita buat api yang besar!" Ucap anak kecil laki-laki setuju. Api tersebut terlihat menari dengan indah sehingga Jhon dan Nina kegirangan. "Api! Api!" Mereka mengelilingi api sambil menari-nari membentuk bayangan yang terpantul dari matahari kemerahan.
"Ayo, lebih besar lagi!" Seru Nina dan Jhon kegirangan.
Remaja perempuan yang bergegas itu berteriak sembari berkacak pinggang mendekati Nina dan Jhon. "Ya ampun! Nina! Jhon! Cepat matikan apinya!" Serunya cemas.
"Tapi kita baru main ... kak .... " Jawab Nina dan Jhon yang tampak sedih melihat kakaknya yang langsung menendang pasir ke arah api tersebut sehingga apinya padam. Dan tersisa kayu bekas bakaran yang masih berasap.
"Nanti kalian terbakar tahu!!!" Teriak remaja itu emosi. Nina dan Jhon tertunduk sedih melihat kakaknya yang menginjak-injak kayu bakaran mereka yang apinya telah hampir padam.
Georgia melewati jalan itu sendirian. Menatap heran asal suara ribut-ribut yang terasa janggal baginya, dan mendekat.
"Ukh! Menyebalkan, cepat mati api sialan! Dasar anak-anak menyebalkan! Api yang menyebalkan!!!" Gerutu remaja perempuan tersebut seraya menghentakkan kakinya memadamkan api.
Georgia terdiam kaku, menatap remaja perempuan dan kayu bakar yang diinjaknya .
Sekonyong-konyong remaja perempuan tersebut terlihat seperti caolin! Suku api pengkhianat yang membunuh orang tua nya.
"Menyebalkan! api yang menyebalkan! Warga api menyebalkan! Cih!!! Enyah saja kalian!!!"
Seketika tanda Suku api di kening Georgia timbul, matanya berubah dan amarah di hati Georgia tersulut.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Lucia yang tidak menemukan orang yang membuatnya terkejut tadi siang, masih mencari-cari orang tersebut kesana kemari. Ia masih merasa penasaran pada orang tersebut.
Ketika itu dilihatnya Georgia mengeluarkan aura kemerahan dan api yang menyelimutinya.
"Georgia?! " Ucap Lucia pelan sembari melihat ke arah sesuatu yang di tatap Georgia penuh kemarahan. "Eh??? Kenapa?.... "
Tiba-tiba api yang telah padam di injak remaja perempuan tersebut kembali menyala dan membesar.
"Agh! Dia menyala lagi! Cepat mati api bodoh! Cepat mati!!! " Teriak remaja itu kesal.
" Kak, kenapa apinya tidak mau mati? " Tanya Nina dan Jhon kebingungan.
Georgia sangat marah melihat perempuan itu kembali melemparkan pasir dan menginjak-injak api.
Lucia menatap waspada Georgia dan melihat dibelakang remaja itu ada dua anak kecil yang kebingungan menatap api yang tidak kunjung padam. "Dia marah?! Apinya ... jangan!" Gumam Lucia cemas.
Georgia mengeluarkan kekuatan api dari tangan sebelah kanan nya.
"Kalianlah yang harus di enyahkan IBLISS!!!" Teriak Georgia murka.
Api yang sangat besar berwarna merah menyala menerjang ke arah remaja wanita beserta dua anak kecil di belakang nya.
BLARRR!!!
Lucia reflek merapelkan kekuatan airnya.
Kekuatan air Lucia tidak menyakitkan tapi membentuk dinding yang tidak bisa di tembus api Georgia. Membuat basah kuyup keempat orang yang ada dihadapannya.
"Air?!" Gumam Georgia terkejut dan mencari siapa yang mengganggunya.
"Fiuh ... Selamat." Ucap Lucia lega, menghentikan kekuatan airnya yang telah mencuci bersih Nina, Jhon dan kakaknya yang mematung bingung karena tidak tau apa yang terjadi pada mereka.
"Apa ... yang terjadi barusan?? " Tanya remaja perempuan shock. "Nina nggak tau. " , "Jhon juga nggak tau." Jawab adik adiknya polos.
Lucia mandang tajam ke arah Georgia yang terkejut bahwa kekuatan air itu berasal dari Lucia. Perempuan yang ia temui tadi pagi bersama Green.
"Apa yang kamu lakukan?! Mereka cuma manusia! Tidak punya kekuatan seperti kita! Mengapa kamu begitu jahat!!!" Tegur Lucia dengan nada marah.
Georgia sangat terkejut dan sekali lagi memandang remaja wanita yang ia hampir bakar dangan kekuatan api nya.
"A ... Apa?!! Dia .... DIA BUKAN CAOLIN!!!"
Gumam Georgia tergagap ketakutan. Ia tidak menyangka bisa di butakan oleh amarahnya sendiri. Bahkan sampai salah melihat sosok manusia sebagai iblis yang pernah memusnahkan keluarga Suku api nya.
Georgia memandang Lucia dan berkata lemah, "Maaf .... "
__ADS_1
"Apa?! Cuma maaf?! Kamu hampir membunuh mereka tahu!!!" Ujar Lucia sewot.
Dengan tubuh gemetar ketakutan akan dirinya sendiri, Georgia berusaha meyakinkan Lucia agar tidak salah paham akan dirinya.
"Tapi aku tidak melihat dia ... Dia itu ... Manusia?! " Ucap Georgia lirih.
Lucia yang menatap marah pada Georgia mulai melunak. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi aku percaya kalau kamu tidak punya niat jahat pada manusia." 'Ucap Lucia merangkul Georgia yang tampak ketakutan.
Georgia kembali menatap ketiga manusia yang hampir ia bunuh dengan kekuatan apinya menjauh pergi dengan kikuk dan basah kuyup. Perasaan menyesal dan takut akan amarah yang meledak dalam diri nya membuat Georgia menggigil.
"Sudahlah, toh mereka baik-baik saja. Untunglah aku lewat jalan ini dan melihat kalian." Ucap Lucia menepuk bahu Georgia dan tersenyum cerah.
Georgia mengangguk lemah.
"Boleh aku bercerita padamu? Aku memendam ini semua sendirian. Bahkan aku tidak bisa menceritakan ini pada Green. Aku takut Green memganggapku banyak berkhayal. Dan aku tahu dia dan aku berbeda. Dia hanya manusia biasa." Ucap Georgia tampak penuh beban.
Lucia mengangguk. "Aku akan mendengarkanmu." Ucap Lucia mengangguk mengerti seraya kembali menepuk bahu Georgia.
Georgia menceritakan ingatannya yang amat sangat jelas mengenai musnahnya Suku api dan orang tuanya yang dibunuh oleh iblis yang bernama Irnest dan pengkhianat bernama Caolin. Lucia menatap Georgia dengan kagum karena ia bahkan tidak tahu bagaimana Suku airnya bisa musnah dan kedua orang tuanya bisa meninggal apabila ia tidak masuk ke dalam portal milik Mary.
Lucia tertegun saat ia mengingat Mary. Bukankah Mary mencari Seseorang yang memiliki kekuatan api?
"Aku akan mempertemukan kamu dengan sahabatku yang bernama Mary." Ucap Lucia memandang Georgia dengan antusias. "Siapa dia? Mary?" Tanya Georgia kebingungan. Lucia tidak menanggapi ceritanya tapi malah ingin mengenalkan sahabatnya yang bernama Mary?
Lucia mengangguk dan tersenyum. "Mary adalah Suku tanah. Ia mencarimu Suku api. Jangan khawatir Georgia. Kami akan membantumu. Ini adalah tugas kita bersama. Aku berharap kamu tidak fokus pada dendam." Ucap Lucia menenangkan.
"Kamu tidak mengerti perasaanku. Seandainya nasibmu seperti aku, tentu kamu tidak akan tidak dendam." Ucap Georgia agak tersinggung.
Lucia menghela nafas dan muram. Ia memandang langit yang dihiasi awan seperti serabut kapas putih dan tebal. Mereka sama-sama terdiam. Georgia menatap wajah Lucia yang tiba-tiba muram dan merasa bersalah akan ucapan nya.
Ia tidak tahu masa lalu Lucia dan sembarangan berbicara seperti itu.
Tiba-tiba saja Lucia memecahkan keheningan mereka berdua.
"Bukankah Green selalu ada di sisimu Georgia? Biarlah dendam mu menjadi tugas kita bersama.
Menurutku, asal orang yang mengasihi dan kita kasihi ada disisi kita, itu cukup." Ucap Lucia membuat Georgia tersadar.
"Kamu benar. Masih ada Green di sisiku." Ucap Georgia bersyukur. "Terimakasih mengingatkanku Lucia." Ucap Georgia lega.
mereka berpisah dan berjanji akan bertemu lagi bersama Mary. Lucia terus berjalan pulang dengan hati yang kusut. Menatap langit yang seakan mengikutinya sepanjang perjalanan pulang. Lucia kembali menghela nafas. "Sejujurnya aku tidak seberuntung Georgia." Gumam Lucia sendu.
Lucia sampai di rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Mary yang sedang memasak melihat Lucia pulang dan menatap khawatir Lucia yang tampak muram, bahkan tidak menyadari keberadaan Mary. Ia langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kalau orang yang kita kasihi ada disisi kita ... Pasti .... " Ucapan Lucia terputus. kerongkongan nya terasa seperti tercekat. Lucia memeluk bantalnya dan berbaring tertidur karena lelah. "Robert .... "
__ADS_1
...~To be continued~...