
...~Chapter22~...
.
.
Georgia menatap kembali Havana yang terlihat ragu-ragu.
" Semua warga suku api yang memiliki kekuatan mengendalikan api,di musnahkan oleh Sky. Termasuk Athena ibumu,ayahmu, dan kakekmu."
Ucap Havana yang merenung jauh ke atas langit biru.
" Saat kejadian itu terjadi, aku sedang berada di bumi ini atas perintah ibumu. Sehingga aku selamat."
Havana terlihat menghembuskan nafas penyesalan. " Tapi sudah lama sebelumnya Sky memusnahkan kekuatan kami. Yang tersisa hanyalah mata ini,tanda bahwa kami adalah suku api. Dan kudengar, Sky juga memusnahkan suku tanah, suku tumbuhan, suku angin, suku api,, dan kemudian menyusul suku air."
Havana tiba-tiba terdiam .
Georgia menatap Havana yang kemudian menolehkan wajah menatap mata Georgia.
" Tapi Athena selalu percaya.
Keajaiban itu selalu ada. Dan ia benar, saat dia memilikimu Georgia." Ucap Havana yang kemudian memeluk Georgia.
Tiba-tiba saja saat itu terdengar suara berkelebat di kepala Georgia saat api membakar seluruh warga suku api.
"Caolin! Tolonglah!!! Keluarkan kami.
kami sudah memberikan kekuatan kami untuk tuan Sky! Apa itu tidak cukup?!" (Suara ibu)
" Georgia ... tetaplah bertahan hidup! Georgia ... Kami akan memeluk dan melindungi mu ... "
Air mata Georgia membendung di pelupuk matanya , membayangkan betapa ayah dan ibunya sangat menyayanginya.
Mereka melindungi Georgia sampai tetes darah terakhir. Dan keajaiban itu benar adanya.
Disaat semua terbakar habis, Georgia di dalam pelukan orang tuanya bisa hidup dan selamat tanpa cacat apapun.
Bahkan ia sama sekali tidak merasa pernah membuka matanya saat kejadian itu terjadi. Semua itu hanya seperti mimpi buruk baginya.
Seolah-olah semua itu tidaklah nyata.
Havana membelai lembut rambut Georgia.
" Kita adalah makhluk yang kuat Georgia. Sang maha pencipta menciptakan kita lebih , dan itu bukan tidak ada alasannya. Tidak ada yang akan mengalahkan kehendakNYa.... Tidak satupun makhluk yang bisa mengalahkanNYa . Termasuk Sky."
Ucap Havana tegas.
Pandangan mata Havana melembut menatap Georgia.
" Nah ... sekarang pejamkan matamu dan rasakan , temukan api dalam tongkat itu. Biarkan api itu memenuhi seluruh tubuhmu.. Sampai bola itu menyala."
Havana memakaikan gelang ke tangan Georgia.
Georgia terkejut.
" Ini ... gelang yang sama dengan tongkat bola api ?"
Gumam Georgia menatap heran gelang yang memiliki dua bola kristal ,sama seperti bola kristal di tongkatnya tapi dalam ukuran mini.
" Fokuskan pikiran mu nak. Temukan api dalam tongkat itu." Ucap Havana menyadarkan Georgia.
Georgia menutup matanya , dan memusatkan pikirannya kembali.
Ia tiba-tiba merasakan tubuhnya mengeluarkan energi yang besar.
"Mama , papa , Georgia berjanji akan melindungi bumi ini !" Batin Georgia dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
Api yang mengelilingi Georgia semakin besar.
Blaaarrr ... !!!
Havana menatap kening Georgia yang mengeluarkan tanda kekuatan suku api.
" Ternyata kehidupanku tidak sia-sia."
Gumam Havana tersenyum lega.
Georgia masih memusatkan pikirannya untuk memenuhi tubuhnya dengan kekuatan api yang besar tapi membuatnya merasakan semangat membara.
" Bagus, sedikit lagi Georgia!" Ucap Havana antusias.
Georgia mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya.
Kekuatan api Georgia semakin besar,
sehingga api di dalam tongkat bola kristal menyala terang .Havana merasakan dirinya ikut terbakar. Tersenyum menatap Georgia yang tampak bersinar.
Havana batuk darah.
" Uhuk...huk..uhuk."
" Gawat badanku terasa sakit sekali."
Batin Havana.
" Tapi ,Georgia ... Anak ini bisa menghidupkan bola api sendirian. Athena pasti bangga sekali ."
Havana tersenyum puas menatap Georgia dan dengan sisa kekuatannya ia berkata,
" Shield ... untuk melindungi orang yang kita sayangi ... "
"Fire ... untuk menyerang"
Ucap Havana semakin lirih .
Georgia membuka matanya ,
dan terlihat olehnya Havana memudar menjadi serpihan cahaya.
Pyasssh ....
Pyasssh ....
" TANTE HAVANAAAAA!!!!!"
Teriak Georgia berusaha menggapai Havana.
...***...
...Gelap...
Crrssh ... crrssh ....
" Eh?" Georgia menatap sebuah cahaya kecil. " Api ?"
Georgia menatap tangannya yang ternyata sedang menggenggam tongkat bola api yang menyala.
" Api di tongkat bola kristal ini sudah menyala? Syukurlah ... " Batin Georgia lega.
Tapi tiba-tiba tongkat bola api itu menghilang.
"Hilang ?"
__ADS_1
" Kemana hilangnya tongkat itu?"
Gumam Georgia bertanya-tanya.
" Hiks ... " ( terdengar suara isakan anak laki-laki).
Ah ... dia ... kenapa dia menangis?
Bukankah dia adalah anak laki-laki yang selalu ku lihat saat angin berhembus di Padang rumput?
Batin Georgia menatap seorang anak laki-laki berambut putih perak yang sedang bersedih.
Setetes air menetes ke kelopak mata Georgia,dan Georgia membuka matanya.
" Ah ... aku dimana?" Gumam Georgia bertanya-tanya.
Seorang anak laki-laki menatap Georgia dengan wajah yang sembab, basah oleh air mata.
Dia, anak laki-laki yang kulihat dalam mimpi? Kenapa sedih sekali menatapku?
" Jangan sedih ... aku baik-baik saja." Ucap Georgia tersenyum menatap anak laki-laki di sampingnya.
Eh ... kenapa ingin sekali memberinya semangat?
Anak laki-laki itu terkejut dan tiba-tiba angin meniup rambut nya yang berwarna putih keperakan itu.
Ah ... angin itu selalu ada di saat matanya terlihat hampa.
Georgia berusaha bangun.
" Akh ... kenapa kepalaku sakit sekali?" Rintih Georgia.
" Tunggu! Jangan bergerak dulu!" Seru anak laki-laki itu terkejut. Dan melarang Georgia beranjak dari tempat tidurnya.
Georgia menatap sekelilingnya.
Ia ada di dalam sebuah kamar?
Rak buku di sudut kamar itu penuh oleh buku-buku tebal yang berjejer rapih.
Georgia menggerakkan kepalanya menatap keseluruhan kamar itu.
Kamar yang bersih,dengan jendela yang terbuka lebar,membuat gordyn putihnya bergoyang-goyang.
Tidak ada yang lain selain kasur kecil , meja belajar kecil, dan buku yang berjejer rapih di hampir seluruh ruangan kamar itu.
" Aku ... ada di mana?Kenapa aku bisa disini?" Tanya Georgia kebingungan.
" Ini adalah rumahku. Aku melihatmu hampir terbakar api, dan segera menyelamatkan mu dan membawamu kesini.Tapi kamu tidak segera bangun hingga membuatku berfikir aku salah tidak membawamu ke rumah sakit."
Ucap anak laki-laki itu dengan sedih.
" Maafkan aku membuat kamu kebingungan." Ucap Georgia merasa bersalah.
Anak laki-laki itu mengangguk cepat.
" Aku ... namaku Green, Siapa namamu?" Tanyanya lagi.
" Terimakasih karena menyelamatkan ku Green, namaku Georgia." Ucap Georgia tersenyum.
...Green? Akhirnya aku tahu namanya....
...☘️...
Apa yang terjadi dengan Tante Havana? Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali. Bahkan Green tidak pernah melihatku bersama Tante Havana. Tante ....
...Apa yang sebenarnya terjadi?...
__ADS_1
...🍃...
To be continued...