
Karya:~Kay Scarlet~☘️
...~Chapter 31~...
.
.
.
Saat kantuk menyerang Havana,tiba-tiba saja kereta yang ia tumpangi berhenti!
Havana segera mengintip keluar melalui jendela kereta.
Ia tidak percaya pada apa yang ia lihat.
Tiba-tiba saja mereka sampai di sebuah hutan yang lebat.
Pemandangan ini membuat Havana membelalakan matanya.
Freya memandang Havana sekilas di sertai senyum.
"Ini adalah dimensi buatanku."Ucap Freya menjawab pertanyaan di hati Havana.
"Di ... Dimensi buatan?"Ucap Havana gugup.
Freya menunjuk ke depannya.
"Lihatlah ... Apakah kamu bisa mengenalinya?" Kekeh Freya.
Sekali lagi Havana membelalakkan matanya. Di depan mereka, berdiri gerbang suku api seperti sebelumnya.
Prajurit penjaga suku api utusan ayahnya, berdiri dengan tegap menjaga gerbang.
Havana mengusap-usap matanya dengan tidak percaya.
"Apakah aku bermimpi?Apakah yang kulihat ini nyata?"Teriak Havana gembira.
Freya menggelengkan kepalanya dengan senyum yang masih tetap mengembang.
"Ini dimensi buatanku ,semua ini adalah imajinasi ciptaanku."
Ucapan Freya membuyarkan khayalan indah Havana.
__ADS_1
Dimensi buatannya?Apakah seorang manusia bisa sekuat ini?
Bathin Havana gugup.
Havana melihat di saku jubah yang di kenakan Freya ,kotak tempat menyimpan jiwa Georgia tersembul.
Havana segera mengulurkan tangannya dan hendak mengambil kotak tersebut.
Tapi saat tangannya berhasil menyentuh kotak itu,Freya menangkap tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?"Tanya Freya datar.
Havana ketakutan ,dan segera menarik tangannya kuat-kuat.
"Kamu bukan nenek Georgia!!!" Teriak Havana histeris. Freya masih memasang wajah datar.
"Kamu hendak mencuri kotakku?Ada apa nak?"Tanya Freya khawatir.
Havana terkejut dan mulai meragukan kecurigaannya.
"Kita ada di mana?Bagaimana bisa manusia seperti mu membuat dimensi sebesar ini?Bahkan kepala suku api terkuat sekalipun tidak bisa membuat dimensi buatan seperti ini!"
Ucap Havana lantang.
Freya tertawa ,bukan seperti tawa seorang nenek renta. Tawanya seperti seorang pria!
Tiba-tiba saja suara bising terdengar dari kedua belah telinga Havana.
Mereka telah memasuki gerbang suku api.Suara familiar terdengar di telinga Havana.
"Havana adikku!Apakah kamu baik-baik saja?" Teriak seorang wanita, suaranya sangat keras.
Havana mencari arah suara tersebut dan ia melihat Athena!
Athena terlihat berdiri di benteng kecil belakang mereka. berseri-seri dengan megaphone kecil di tangannya, tangan sebelahnya melambai ke arah Havana.
Kebiasaan Athena yang paling tidak di sukai Havana.Memanggilnya menggunakan megaphone.Sehingga seluruh orang perkampungan suku api menatap Havana.
Havana mencubit tangannya keras-keras.
Apakah aku bermimpi?Sadarlah Havana!Sadarlah kumohon!Ini tidak nyata!
Bathin Havana bimbang.
__ADS_1
Kereta kuda itu berhenti tepat di depan rumah Athena.
Freya turun dari kereta dan hendak mengetuk pintu ,ketika tiba-tiba saja pintu dibuka oleh Anthony dari dalam.
"Ayah!"Teriak Anthony gembira dan segera memeluk Freya.
Havana menatap pemandangan itu dengan kaku.
"Ayah?Apakah Anthony sudah tidak waras?Tidak kah ia bisa melihat bahwa yang dipeluknya adalah ibunya?"Bathin Havana dengan kening berkerut.
Freya terlihat tertawa dan menepuk pundak Anthony, mendorong Anthony mundur darinya.
"Masuklah nak ..."Ucap Freya pada Havana.
"Siapa dia ayah?"Tanya Anthony antusias.
Havana terbatuk. Ia tidak percaya pada pendengarannya.
"Apakah kepala Anthony terbentur sesuatu?Masa ia tidak mengingat adik iparnya?!" Bathin Havana lagi.
Freya tertawa terbahak-bahak.
Lalu ia menatap Havana dengan senyum yang terlihat sengaja ditahan.
"Apakah kamu masih belum sadar bahwa aku bukan nenek Georgia ?" Tanya Freya pada Havana.
Havana mengerjapkan matanya dengan bingung.
Tiba-tiba pundaknya di pukul dari belakang sehingga Havana terkejut.
"Adikku!!!"Teriak Athena antusias.
Ia berhasil menyusul Havana dan Freya yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Ayah!Kenapa kamu sangat lambat?Kami sangat khawatir!" Protes Athena pada Freya.
Ayah Lagi?
gumam Havana bingung.
Freya yang sejak tadi memerhatikan ekspresi Havana , tergelak.
"Lihatlah baik-baik siapa kami nak."Ucap Freya yang kemudian mengusap kedua mata Havana.
__ADS_1
Seperti sihir, Havana melihat pemandangan yang berbeda!
To be continued ....