Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
UNTUNG APA BUNTUNG?


__ADS_3

"Ada apa ya bu??" tanya Mirna yang melihat bosnya keluar dari ruangan nya. Padahal tadi bosnya bilang kalau dia akan membahas sesuatu dengan klien nya. Sedang kan kliennya saja sudah datang beberapa menit yang lalu.


"Mir, 10 menit lagi anak saya mengantarkan berkas bahan meeting hari ini. Kamu tunggu dia diluar ya. Ambil berkasnya!" Ucap Siena dengan tegas.


"Iya bu. Siap" pantas saja bosnya itu keluar lagi dari ruangan nya padahal sudah ada kliennya didalam sana, batin Mirna.


Mirna segera berlari keluar menyambut Febby yang sudah datang membawakan berkas bahan meeting untuk hari ini. Setelah mami Siena menginstruksi dirinya dan tepat 10 menit gadis itu sampai disana.


"Kak Mirna. Ini berkasnya" Febby mengeluarkan berkas dari dalam tasnya yang diminta oleh maminya tadi.


"Makasih neng. Eneng nggak masuk dulu" ungkapnya sembari menerima berkas dari tangan gadis itu.


"Nggak deh kak. Mami juga sibuk kan? Aku balik dulu ya. Bye"


"Ya sudah hati-hati"


Febby melambaikan tangan dan segera berbalik menuju dimana motornya terparkir dan pulang. Hari ini dia sedang malas melakukan apapun. Dia akan menonton tv dirumah bersama cemilan-cemilan yang sudah menantinya untuk dimakan.


🌳🌳🌳


Ryan melongo melihat cewek diatas motor yang berada di sampingnya saat ini. Banyak pertanyaan yang berlalu lalang dalam benaknya. Karena penasaran, dia segera keluar dari mobilnya. Bukan untuk mengejar cewek itu yang sudah menjalankan motornya dan semakin menjauhi area itu, tapi untuk masuk kedalam bangunan yang ada dihadapannya.


Dia menghampiri wanita yang tadi dia lihat menerima sesuatu dari cewek itu.

__ADS_1


"APA!! TADI ITU ANAK DARI PEMILIK BUTIK INI?" Luar biasa terkejutnya ketika ia bertanya siapa gadis tomboy itu kepada wanita dihadapannya. Febby anak dari teman mommy nya?? tunggu, teman yang mana. Kenapa bisa kebetulan sekali?. Terus saja otaknya berputar.


"Iya betul. Tuan ini siapa ya? Ada perlu apa?" Ucap Mirna. Meski sempat terkejut mendengar seorang lelaki muda dihadapannya berteriak tapi dirinya harus bersikap profesional. Dan bertanya dengan hati-hati.


"Ng... Nggak. Gak pa-pa. Makasih ya" Ryan meninggalkan Mirna yang masih bingung ditempat nya. Sesempit ini ternyata dunia.


Karena penasaran dan tidak ingin kehilangan moment penting dia setia menunggu mommy nya yang ada didalam sana. Tidak tahan rasanya ingin sekali dia masuk dan melihat siapa ibu dari gadis tomboy itu, tapi ia urungkan. Sabar, sabar, pikirnya sembari bolak-balik masuk dan duduk didalam mobilnya lalu beberapa menit kemudian dia keluar dan bersandar pada mobilnya lalu masuk lagi dan keluar lagi. Sudah seperti setrikaan saja dia.


Sampai akhirnya mom nya keluar dan diantar oleh temannya itu sampai depan pintu bangunan itu. Dia mengingat kembali wajah wanita yang ada di samping mommy nya, seperti tidak asing baginya.


"Bukannya itu ibu-ibu yang nyeret si cewek tomboy waktu di pesta ke ruang makeup. Itu juga temen mom yang mau ngenalin anaknya malam itu kan?" Ryan bicara pada dirinya sendiri. Dia mengingat lagi video yang sempat dia tonton berulang kali kemarin bersama Melisa.


Astaga. Ternyata Cinderella nya itu sangat dekat dengannya. Bodohnya dia tidak menyadari kalau wanita yang menyeret Febby kala itu bukan hanya sekedar teman mom nya yang membantu dalam pesta waktu itu tapi juga ibu dari gadis yang selama ini dia cari.


Ryan bernapas lega. Anggap saja untung. Untung saja dia tidak menolak untuk mengantar mommynya kesini. Dan disini dia mendapatkan banyak petunjuk soal gadis tomboy itu. Meskipun belum sempat berkenalan dan mendapatkan nomornya tapi sekarang dia tahu dimana dia akan mencari gadis itu jika dalam keadaan darurat. Seringai nya mengembang di ujung bibirnya.


"Ngapain kamu senyam senyum gitu. Habis menang lotre??" Diva sudah duduk disamping anaknya saat ini.


"Ehh mom. Udah kelar meeting nya?"


"Udah. Ayo pulang. Katanya mau kencan kamu? Sampe cengar-cengir gitu"


"Ihh mommy. Siapa juga yang bilang kalo Iyan mau kencan. Mom sok tahu" Ryan mulai menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Anak temen mom juga satu kampus sama kamu lho"


"Masa sih??"


"Iya, tadi dia bilang siapa ya namanya. Lupa mommy..." Diva mengingat percakapan di antara mereka tadi tapi saking banyaknya hal yang dibicarakan membuatnya lupa apalagi sudah lama tidak bertemu jadi berasa bernostalgia. Karena mereka teman satu jurusan saat kuliah membuat mereka menjadi teman dekat dan bahkan menjalin bisnis kerja sama sekarang.


"Mom udah lama temenan sama tante itu"


"Tante Siena. Udah dong, kan temen kuliah mom"


Banyak lagi yang Ryan tanyakan kepada ibunya itu. Sampai tidak terasa sudah berada dipelataran rumahnya.


Setelah ini dia akan kembali kekamarnya dan melanjutkan tidurnya yang terganggu. Anggap saja balas dendam karena tidak tidur nyenyak semalam karena memikirkan Febby. Dia sudah mendapatkan petunjuk dan latar belakang gadis itu. Meskipun tidak banyak. Yah pelan-pelan saja lah, pikirnya.


"E eh. Kemana kamu? Katanya mau kencan kok malah naik sih?"


"Tidur mom. Masih ngantuk"


"Gimana sih ni bocah. Katanya mau kencan kok malah tidur lagi" gerutunya.


Diva lebih senang jika anaknya mempunyai kegiatan lain. Terserah dia mau kencan atau pergi dengan teman-teman nya. Daripada hanya tidur dan main PS saja dirumah.


Bagaimana dia akan maju. Berinteraksi dengan yang orang lain hanya dikampus nya saja.

__ADS_1


__ADS_2