
Part 48
KETAHUAN DADDY
Cetuk
Cetuk
Cetuk
Suara ketukan
sendok memenuhi meja kantin itu membuat gadis berambut gelombang itu mendesah
kesal. “Elo tuh kenapa sih Fe ? Perasaan daritadi berisik banget cetak cetuk
mulu “
Bukannya
menjawab sahabatnya malah Febby asik lagi mengetukkan sendoknya ke piring
berisi siomay dihadapannya.
Lagi-lagi
cewek disampingnya itu mendesah .
Febby
langsung menyambar jus alpukat di hadapannya dan menyeruputnya hingga habis.
Gadis tomboy
itu menghela napas panjang.
“gue tuh
kesel banget Ras.” Kesal dirinya mengingat kejadian dalam mobil pagi ini,dan
bagaimana si cowok tidak tahu malu itu menghantui hidupnya saat pagi buta tadi.
“ya iya gue
tahu elo tuh lagi kesel tapi kenapa” ikut kesal Larasati dibuatnya.
“si cowok
rese itu gangguin gue mulu Ras, dan yang lebih parah lagi pagi ini dia jemput
gue kerumah ,bahkan dia udah deketin mammi lebih dulu.” Napas Febby tersengal
dan menekankan setiap katanya.
Laras
melongo . “ What “ spontannya. Ia bahkan tidak menyangka Ryan akan selangkah
lebih maju tanpa bantuan darinya.
“terus
,terus…” antusias Larasati ,ingin tahu kelanjutan cerita dari sahabat tomboynya
__ADS_1
itu.
Febby
bergidik ngeri membayangkan adegan ketika Ryan memepetnya hingga kepintu mobil
pagi tadi. (bayangkanlah .eps sebelumnya)
Di sisi lain
Pagi itu ,
setelah mengantar Febby Ryan langsung memutar balik kemudi mobilnya untuk
pulang kerumah.
Senyum itu
belum lagi luntur dari sudut bibirnya . Puas dia menjahili gadis itu dan
membuat gadis pujaannya tersipu.
Tentu saja selama
ini dirinya seperti berkomunikasi sekaligus mengejar cinta pada sebuah patung, yang
tanpa balasan dan tanpa respon sama sekali. Bahkan memjawab pertanyaannya pun
gadis itu enggan. Namun kali ini sepertinya dia sudah selangkah lebih maju.
Untung saja dirinya tak malu-malu
mendekati sang ibunda gadis tomboy itu terlebih dahulu , jadi akan lebih mudah
“yes “
Dengan
senyum riang Ryan keluar dari mobil mewahnya itu .
Sesekali cowok
itu berputar sembari pikirannya berkelana , di lemparnya kunci pintar mobil itu
ke udara , bukti bahwa dirinya sedang bahagia , seakan dia ingin agar angin pun
tahu dan merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. ‘ANGIN DENGARLAH AKU SEDANG BAHAGIA ‘ jika dia boleh berteriak mungkin
dia akan berteriak pada angin.
Hap
Tertangkapnya
kunci pintar tersebut dari udara bertepatan dengan
“DARIMANA
KAMU?”
Suara bariton
mengejutkan Ryan yang masih berusaha menggapai kunci pintar tersebut.
__ADS_1
Heran.
Membuat senyum
dibibirnya yang sedang merekah itu luntur dalam hitungan detik dan berganti
kerutan dikeningnya.
“jawab Ryan.
Darimana kamu?” nada bicaranya sudah turun namun masih terdengar tegas.
Tajam sorot
mata laki-laki paruh baya yang tengah duduk dengan gagah disofa ruang tamu
mansion itu seakan membuat Ryan tak berani berkutik, bahkan untuk menjawab sepatah kata saja enggan .
Lelaki paruh
baya tersebut menarik sedikit lengan jas miliknya guna melihat arloji mahal
yang melingkar disana .
“jangan kamu
pikir kalau daddy nggak tahu jadwal kampus kamu Ryan. Darimana kamu jam segini
sudah keluyuran, hah?. Kembali Ia ulangi pertanyaan yang sama dan masih dengan nada yang tidak bersahabat.
Ryan masih
diam, hanya tatapan matanya yang seolah bicara. Memandang lurus pada lelaki
paruh baya itu.
Dia teringat
perkataan Daddy nya malam tadi, seolah memperingatkan dia agar berhenti
main-main, sudah saatnya ia belajar membantu sang ayah untuk mengurus
perusahaan seusai atau selain waktu kuliahnya.
‘habis main dad.’ Bahasa biasa yang ia gunakan ketika
berbicara dengan sang ayah. Sepulang ia mengikuti Febby hingga rumahnya ,cowok
itu diterpa pertanyaan oleh Daddy nya.
‘stop main-main Ryan. Sudah saat nya
kamu bantu Daddy mengurus perusahaan. Kamu itu sudah dewasa bukan anak remaja
SMA lagi.’ Masih terngiang
dikepalanya ucapan sang Daddy malam itu.
‘gini nih kalau jadi anak tunggal ,siapa
bilang jadi anak tunggal tuh enak? mana enaknya sih, yang ada kebebasan gue tuh
dibatasin’
__ADS_1