Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
GARA-GARA RAMBUT


__ADS_3

Ryan sangat kesal pagi ini. Dia sudah berjalan mengitari area kampus tapi tetap tidak menemukan keberadaan Febby dimana. Bukan hanya kesal saja, dia juga merasa cemas sebab sejak tadi malam nomer hp nya tidak dapat dihubungi sama sekali. Selalu saja diluar jangkauan, sedang apa sebenarnya cewek itu, apa terjadi sesuatu padanya?. Ryan mengusak rambutnya frustasi.


"Sial" gerutu Ryan berkali-kali. Dia menyesal kemarin tidak mengikuti cewek itu sampai rumahnya. Jadi sampai hari ini dia belum juga tahu cewek itu tinggal dimana.


"Gimana? Ketemu nggak?" Andre dan Aziz datang dari arah berlawanan dengan Ryan.


Air muka Ryan sudah hitam padam, dia hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Lo udah nanya sama anak yang satu jurusan sama dia?? dia ada jadwal kuliah nggak hari ini?"


"Gue tahu semua jadwalnya ndre. Dan harus nya hari ini dia ada kelas jam 10. Tapi sampe sekarang masih belom sampe juga" berbicara saja Ryan sudah tidak ada tenaga. Seperti ayam kehilangan induknya.


Berkali-kali Ryan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Keresahannya semakin memuncak.


"Terus rencana lo apa?? dia gak berangkat kali hari ini?" Aziz angkat bicara. Dia semakin tidak tahan melihat sahabatnya seperti itu. Belum juga pacaran. Tapi sudah seperti orang yang patah hati karena diputuskan oleh Febby.


Ryan melihat sosok yang dia kenali berjalan menuju area parkir kampus itu. Tanpa berpikir panjang Dia berlari meninggalkan teman-temannya, mendekati sosok itu yang sudah membuka pintu mobilnya dan bersiap masuk.


'Laras' ya, gadis itu pasti tahu dimana Febby berada, pikirnya.


Ryan menahan pintu itu sehingga membuat sang pemilik menoleh ke arahnya.


"E lo lagi. Minggir deh gue lagi buru-buru" Laras mencoba menutup paksa mobilnya. Namun tangan Ryan menahannya dengan kuat.


"Dimana Febby?" Ryan langsung menodongnya dengan pertanyaan yang membuat dahi Laras berkerut.


"Gue gak tau dia dimana. Minggir gue mau balik" Laras terus mencoba menutup pintu mobilnya namun tangan Ryan terlalu kuat menahannya.


"Lo kan temen dia. Masa gak tau dia ada dimana"


"Gue temennya bukan baby sister nya. Lo cari aja sendiri"

__ADS_1


"Gue udah cari di seluruh kampus. Tapi gak ada. Please Laras. Kasih tau gue, Febby ada dimana sekarang. Kenapa dia nggak ngampus hari ini, nomernya juga nggak aktif dari semalem. Bukannya bentar lagi kalian ada kelas. Terus, lo sekarang mau kemana??"


"Crewet banget sih lo. Kayak perempuan. Pak Toto tuh hari ini nggak dateng. Dan sekarang gue mau balik. Gue nggak tau si Febby ada di mana"


"Kalo dia ampe tau si Febby lagi pergi ama Rangga apa nggak panas tuh bocah" batin Laras.


"Please Ras. Kasih tau gue dimana rumah dia. Gue gak tau mau cari dia kemana lagi"


"Minggir deh. Gue lagi buru-buru nih. Kemarin gue kasih nomer dia sama lo aja itu udah kesalahan terbesar gue sabagai sahabat dia. Lo cari tau aja sendiri deh. Gue gak mau disebut pengkhianat sama sahabat gue sendiri. Jangan bikin gue tambah susah"


Yap, kemarin Ryan meminta nomer hp Febby kepada Larasati. Hampir sama dengan situasi saat ini. Tapi sebelumnya Febby sudah melajukan motornya meninggal kan area kampus. Dan ketika Laras akan pulang Ryan menahannya dan meminta nomer sahabatnya itu. Ryan tahu, jika dirinya meminta langsung kepada cewek itu pasti tidak akan memberikannya, mengingat kejadian ketika dia mengajak Febby berkenalan saat dikantin saja dia sudah ditolak mentah-mentah apalagi meminta nomernya. Awalnya Laras menolak memberikan tapi dia berpikir lagi, tidak ada salahnya kan? Toh sudah lama temannya itu tidak didekati oleh seorang cowok.


Namun kali ini Laras menyesal telah memberikan nomernya kepada cowok itu. Dia ingat pagi tadi Febby menelepon nya dan mengatakan kalau hp nya rusak. Dia tahu betul bagaimana sifat sahabatnya itu dan pasti nya tidak akan suka jika ada nomer asing yang menghubungi nya. Dan akan melakukan apa saja yang menurutnya benar. Dan mungkin saja cewek itu sudah membanting hp nya sampai hancur berkeping-keping, pikir Laras.


🌳


Rangga dan Febby sudah berada didalam mobilnya saat ini. Dia akan mengantar adik sepupu nya itu membeli hp baru. Tapi sebelum itu Febby meminta Rangga untuk mampir dulu ke sebuah salon.


"Lo mau ikut masuk apa nggak??" tutur Febby saat sudah akan turun dari mobil Rangga.


"Gue tunggu disini aja deh"


"Bener nih. Gak mau ikut masuk. Disini panas tau. Mending didalem dehh adem"


Cowok itu hanya menggeleng.


"Ya udah, gue masuk ya" Febby pun melenggang, memasuki bangunan yang bertuliskan 'LUNA SALON' di hadapan nya.


Cewek itu mendorong pintu kaca tempat itu. Seorang perempuan muda yang mungkin karyawan disana menyapa nya dan bertanya apa yang Febby inginkan.


"Boleh panggil kak Luna nya?" Balas Febby pada perempuan muda itu.

__ADS_1


"Oh miss Luna. Sebentar ya" perempuan muda itu pun berlalu meninggal kan Febby.


Febby melihat dari kejauhan sosok yang di carinya berjalan kearahnya.


Luna si pemilik salon itu sekaligus kenalan Mami Siena, Febby pun mengenal Luna dengan baik karena maminya juga sering datang kesini.


"Ehh kamu Fe. Kirain siapa" Wanita bernama Luna itu menghampiri Febby yang sudah duduk di kursi salon itu tanpa seijin pemiliknya.


"Hai kak. Sibuk ya?"


"Nggak kok, tadi lagi santai aja dibelakang. Mau apa Fe? Potong rambut apa warna'in lagi??" tanya Luna seolah paham dengan yang Febby inginkan.


Setiap kali datang ke salon ini dia memang tidak mahu siapapun yang melayaninya selain Luna meski banyak karyawan disana. Karena Luna yang paling mengerti apa dan bagaimana style Febby.


"Udah agak panjang nih kak.aku mau di rapihin sedikit" ucapnya sembari mengacak-acak rambutnya.


"Siap. Nggak mau sekalian ganti warna nih rambut"


"Nggak deh. Lain kali aja" Luna tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Meski Febby membelakangi Luna tapi dia tetap dapat melihat anggukannya dari pantulan cermin didepannya.


Luna sudah siap dengan gunting dan sisir dikedua tangannya dan akan segera memotong rambut cewek itu namun tiba-tiba saja


PRANG...


Kedua bola mata Febby membulat saat melihat dari pantulan cermin, Rangga meraih dan melempar gunting yang Luna pegang.


"Sory kak" Rangga berusaha meminta maaf kepada Luna yang mematung karena syok.


Cowok itu meraih lengan Febby dan melepas kain yang melekat pada tubuh Febby bagian depan. Lalu menarik cewek itu keluar dari sana.


"Rangga lo apa-apaan sih?"

__ADS_1


__ADS_2