
Laras merasa kesal, pasalnya sedari tadi ponselnya terus saja bergetar. Yang dia sudah tahu pasti, siapa yang mengirimnya pesan WhatsApp berkali-kali.
Siapa lagi kalau bukan Ryan si cowok pengganggu itu.
Ryan berdiri bersandarkan sebuah tiang pondasi bangunan kampus, menatap kearah Laras yang duduk didalam kelasnya, yang kebetulan posisi duduknya di barisan paling depan dan deretan ke 3 dari arah pintu, jadi dapat terlihat dari posisi cowok itu berdiri saat ini.
Cowok itu hanya ingin melihat gadis pujaan hatinya tapi tidak bisa dan dia hanya melihat ujung rambutnya saja dari posisi dia berdiri dan dia hanya dapat melihat Laras.
Ryan tidak mungkin berpindah ke posisi lain sebab kelas Febby sedang ada dosen saat ini. Bisa-bisa dia akan ditegur nanti jika tidak sengaja dosen itu melihatnya, kan berbahaya, pikirnya.
Meski status dirinya sebagai tuan muda konglomerat, tidak seharusnya juga dia berbuat seenaknya sendiri.
Puluhan kali dia mengetik pesan dan mengirimnya kepada Laras. Dia tahu, pasti cewek itu sudah berada pada titik jenuh dan kesal sekarang . Biar saja namanya juga usaha batin Ryan, berusaha menepis rasa tidak enak hatinya terhadap Laras.
Dengan hati-hati Laras membalas chat cowok itu, takut jika dosen yang tengah menerangkan didepan akan memergoki nya.
Ryan: ras, please suruh si febby pindah ke kursi yang lo duduki sekarang. Gue gak bisa liat mukanya dari sini
Laras: ogah. Pasti dia gak bakalan mau, Ryan.
Ryan: ayo dong. Masa gue cuma bisa liat ujung rambut nya doang. Tega lo
Laras: ganggu aja sih lo. Lagi ada dosen nih. Udah ahh tunggu jam istirahat aja. Lo bisa sepuas lo liat muka dia nanti.
Kesal Laras sudah di ubun-ubun. Yang benar saja, benar-benar menggangu si Ryan ini.
"Yang PDKT tuh si Ryan sama Febby, apa Ryan ama gue sih. Malah gue yang sibuk" batin Laras kesal. Menyesal dia sudah membantu cowok itu kemarin, Kini dirinya malah masuk dan terjebak diantara mereka berdua dan akan sulit untuk dirinya mundur, jika Ryan membutuhkanya lagi.
Mengapa tidak langsung chat saja dengan orangnya malah mengganggu Laras.
Tentu saja Ryan masih takut dengan kejadian ketika dia tahu kalau Febby sampai merusak hp nya sendiri gara-gara Ryan menerornya dalam sehari dengan banyak chat dan telepon kepada cewek itu beberapa hari lalu.
Dan akan sangat disayangkan jika hp berharga belasan juta yang sengaja dia berikan kepada cewek itu melalui mami Siena, akan dirusak lagi olehnya.
__ADS_1
Yap. Ryan lah yang memberikan hp itu. Dan tentu saja Febby tidak tahu menahu soal ini. Jika saja dia tahu. Pasti akan ditolaknya mentah-mentah dan akan bernasib sama dengan orang nya yang ditolak Febby ketika mengajak gadis itu berkenalan. Cowok itu tersenyum getir. Sesusah ini menaklukkan gadis itu.
Padahal dia hanya ingin semuanya terlihat natural. Akan sangat aneh kan jika dirinya mengenal cewek tomboy itu dengan amat sangat baik dan tiba-tiba menyatakan cinta nya, sedangkan cewek itu sama sekali tidak mengenalnya bahkan sekedar tahu namanya saja tidak, apalagi akan membalas cintanya nanti.
Bukankah sebuah pepatah mengatakan 'Tak kenal maka tak sayang'.
🌳
Jemari tangan Febby asik memainkan ponsel nya yang berharga belasan juta, sembari menunggu Larasati memesan makanan.
Sesekali ia tersenyum, entah apa yang dilihatnya pada layar hpnya itu.
"Ehmmm hemmm"
Terdengar sebuah deheman dari seberang mejanya, awalnya dia tak menghiraukan Siapa yang tengah mengusik nya.
Tapi kemudian seseorang mengetuk mejanya dan membuat cewek itu mengalihkan pandangannya dari layar hp.
Awalnya Febby bingung, siapa yang berani mengusiknya selain Prysila and the genk. Ups tapi ini laki-laki.
Dia melihat Ryan and friends berdiri didepan mejanya, sama seperti saat ketika cowok itu mengajaknya berkenalan.
"Boleh gue duduk disini?" Tanya Ryan tanpa basa-basi.
Febby terlihat celingak-celinguk entah apa yang dia cari, sebelum akhirnya memberi jawaban.
"Oh. Boleh" jawabnya dingin.
Tanpa menunggu lama Ryan kemudian menarik kursi didepannya dan duduk diseberang cewek itu. Dia pikir cewek itu akan mahu duduk satu meja dengannya sehingga membolehkan Ryan duduk.
Ternyata dia salah. Febby segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja sebelahnya yang masih kosong. Tapi tak lagi menghadap cowok itu berada, dia malas jika harus menatap cowok itu. Posisi duduknya menyamping.
"Wah parah. Lagi-lagi lo di kacangin sob" Aziz menepuk pundak Ryan. Dia mulai jengkel 'sok jual mahal sekali dia itu' batin nya.
__ADS_1
"Nggak pa-pa. Gue masih bisa liat muka dia dari deket kok" ungkapnya sembari tersenyum tipis, sangat tipis.
Cinta memang buta. Semenjengkelkan apapun cewek itu bagi orang lain, tapi bagi Ryan tingkah Febby malah membuatnya gemas.
Laras meletakkan nampan diatas meja yang berisi dua mangkuk bakso dan satu gelas jus alpukat milik Febby juga satu gelas jus mangganya yang baru saja dia beli.
"Kok pindah Fe?" Laras menghampiri dimana sahabatnya itu duduk, yang belum menyadari ada Ryan and friends yang mengambil alih meja yang mereka duduki sebelumnya.
"Liat aja belakang lo'' balasnya tanpa menoleh ataupun melirik orang yang berada di sebelahnya.
Manik Laras membulat sempurna menatap Ryan, dan cowok itu membalas dengan tatapan acuh dengan menarik sebelah alisnya keatas.
"Lo nggak risih apa Fe. Diliatin terus gitu" Laras pura-pura bertanya kepada sahabatnya sembari melirik Ryan yang masih menatap Febby intens dengan telapak tangannya yang dijadikan menyangga dagunya. Sebenernya dia tahu hal ini akan terjadi. Dan herannya lagi kenapa cewek didepannya itu tidak merasa risih sama sekali. Memang tingkat ke-pekaan Febby sudah benar-benar hilang 90 dari 100%.
Cewek itu semakin asik mengunyah bakso yang dipesan Laras untuknya tadi.
"Anggep aja nggak ada" jawabnya santai.
"Dasar nggak peka" batin Laras. Jelas saja dia malah yang jengkel. Sebab semakin lama Ryan menaklukkan Febby akan semakin lama pula cowok itu mengganggu nya.
Laras pun kembali menggigit baksonya dengan geram dan kembali melirik Ryan yang masih setia menatap Febby tanpa berkedip.
🌳
Thanks for your reading. Don't forget to like and koment.
Kalau ada yang kurang puas dengan part yang aku tulis bisa kasih masukan ya guys.
Kritik dan sarannya sangat author butuhkan agar part selanjutnya lebih baik lagi.
Maaf kalau ada salah ketik.
Mohon dimaklum. Mungkin storynya nggak sebagus yang pernah kalian baca. Aku juga masih belajar. Sebagai penulis awam, aku kadang stres mikirin tema apa yang bakal aku tulis di part selanjutnya. 😄
__ADS_1
Salam author