Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
Sesuai Rencana


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 pm.


Sesuai dengan rencana Febby dan juga Rizal pada pagi tadi, mereka berdua sudah berencana akan pergi ke toko buku lalu makan bersama atau lebih tepatnya Febby lah yang akan mentraktir cowok tampan dari fakultas hukum yang satu itu.


Setelah lima belas menit Febby menunggu, akhirnya Rizal keluar dari ruang kelasnya.


"Elo yakin Ras, nggak mau ikutan kita makan bareng?" Tanya Febby kepada Larasati.


Mereka tengah berada di area parkir saat ini.


Larasati tersenyum canggung mendengar pertanyaan dari Febby.


"Nggak deh. Kalian aja, gue ada urusan ama nyokap nih, kapan kapan deh gue baru ikut" balasnya dengan gamblang namun hanya berkilah saja.


Bagaimana mungkin Larasati akan ikut, sedangkan semua ini adalah ide nya yang dia ajukan kepada Rizal, untuk tujuan tersembunyi yaitu menyatukan mereka, sebut saja dirinya sedang menjadi ratu comblang saat ini.

__ADS_1


Ini merupakan ujian terberat baginya. Disisi lain dia senang akhirnya Rizal mau mendengar bujukannya yang mungkin sudah ke ratusan kalinya, untuk mulai mendekati Febby. Namun disisi lainnya, dia merasa bersalah kepada Ryan yang sudah lebih dulu meminta bantuan kepadanya.


"Beneran nih. Ntar nyesel loh?!" Sekali lagi Febby bertanya apakah sahabat baiknya itu akan ikut bersama mereka atau tidak.


"Yap. Kalo gue nyesel, besok gue ajak kalian hang out bareng dahh!" Laras meringis diakhir jawabannya. Dirinya melirik Rizal yang saat ini tengah sibuk memakai helm nya, tanpa menggubris percakapan diantara Febby dan juga Laras sama sekali, alias seolah tak mendengar ucapan mereka.


"Buruan gihh, udah ditunggu noh" imbuh Laras sembari menggerakkan dagunya ke arah Rizal agar cewek tomboy itu segera menaiki jok belakang nya.


Dengan santai Febby mulai mendekati motor metik milik Rizal dan segera duduk di jok belakang cowok itu duduk.


"Why not? Ini nggak butut tau, lagian kenapa elo merendah gitu sih. Motor elo masih bagus kok nggak butut." Febby memang tidak pernah sama sekali memandang seseorang dari bagaimana dan apa yang orang itu miliki.


Tetapi berbeda dengan Rizal yang selalu merendah dan minder dari awal, selain takut kalah kece dengan Febby, dia juga merasa tidak pantas jika harus bersanding dengan cewek yang sudah dirinya kagumi sejak 7 tahun yang lalu tersebut.


"Ehmm hemm. Udah bincang bincangnya nanti aja. Ntar keburu sore lho. Sampe pada lupa masih ada nyamuk disini!!" Larasati mengerucutkan bibirnya, merasa di kacangi. Sebab Rizal dan juga Febby malah asik berdua saja.

__ADS_1


Keduanya pun tergelak dan tersenyum canggung.


"Nggak pa-pa kan balik sendiri.!" Rizal akhirnya membuka suara.


"Iya.. iya udah sana. Gue udah gede kali, bisa balik sendiri. Lagian gue bawa mobil sendiri" balas Laras.


Rizal mengusak rambut Laras sebelum menarik gas pada stang motor metiknya "Duluan ya!"


"Ok bye..." Laras melambaikan tangan sebagai pengantar keduanya. Febby pun membalasnya.


Canggung. Itulah yang dirasakan Rizal saat ini.


Memang bukan pertama kalinya Rizal membonceng kan Febby dengan sepeda motor. Tetapi berbeda keadaannya dengan sekarang dan ketika dia membantu Febby yang saat itu ban motor Febby bocor beberapa waktu lalu.


Degup jantung Rizal pun sulit diajak berkompromi, membuat perasaannya bercampur aduk saat ini.

__ADS_1


Selama perjalanan hanya diam yang terjadi diantara keduanya.


__ADS_2