
"Lo yakin Ndre, rencana ini bakal berhasil" terpampang gurat cemas dan juga khawatir pada wajah Ryan.
"Yakin..." Andre menjawab dengan santai, tanpa keraguan sedikitpun.
"Udah sob. Yakin aja" Aziz menepuk pundak Ryan, berusaha meyakinkan cowok itu.
🌳
Ms. Joanna berjalan meninggalkan ruangan anak didiknya. Yang pertanda semua mahasiswa jurusan Desain sudah diperbolehkan untuk pulang, sebab ini adalah jam mata kuliah terakhir untuk hari ini.
"Lo mau balik jam berapa Ras?" Febby melihat sahabatnya seperti enggan mengangkat bokongnya dari kursi yang ia duduki.
"Bentar lagi deh" balasnya dengan ringisan.
Dahi Febby berkerut tipis "Nunggu Rizal lagi?" Cewek itu penasaran. Tidak biasanya Laras bertingkah aneh. Seperti menunggu sesuatu, tapi apa? Apa karena menunggu si Rizal yang notabenya tegangga rumah sekaligus teman dekatnya dari kecil.
"Ah.... i... iya. Gue nunggu Rizal. Belum keluar deh kayaknya jam segini" lidah cewek itu kelu, terasa berat untuk berucap. Perasaannya mulai gelisah.
Febby merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya itu, namun ia menepis pikiran itu kuat-kuat. Mungkin memang benar cewek itu menunggu Rizal seperti biasanya, mereka memang selalu bersama.
"Gue balik duluan yah" Febby mulai berdiri dan memakai tas slempangnya.
"Oke. Ati-ati. Bye-bye" Laras melambaikan tangannya kepada sahabatnya. Ia hanya mengangguk sebagai balasan.
Seperti biasa, dengan langkah panjangnya Febby berjalan tanpa menghiraukan apapun yang ada disekilingnya termasuk mahasiswa lain yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan. Ia tidak akan peduli orang lain menganggapnya seperti apa. Toh dia tidak meminta makan pada mereka.
__ADS_1
Cewek itu mulai menaiki si merah motor sport kesayangannya dan memakai helm.
Tapi tunggu, Febby merasa ada yang aneh dengan si merah.
Dia segera turun dan memeriksa, mengapa sepeda motornya itu sepertinya lebih tinggi bagian belakang.
"Sial" Febby menendang ban motornya yang terlihat kempes tanpa gas sama sekali. Mengapa bisa begini, padahal dia selalu mengecek kondisi motornya sebelum dia berangkat ke kampus.
Cewek tomboy itu mulai mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dan akan mengetik pesan kepada Rangga, namun suara bariton menghentikan kedua ibu jarinya beraksi.
"Kenapa Fe?? Ban motor lo kempes?" Seorang cowok berbadan tinggi atletis berparas tampan menghampirinya.
Febby masih diam belum menjawab pertanyaan si cowok itu. Dia memang kenal baik dengan cowok itu tapi mereka jarang berbicara jika hanya berdua saja. Saking menutup dirinya si Febby ini. Tidak akan dia mau meladeni anak cowok yang mendekati nya dikampus.
Tanpa menunggu instruksi dari sang pemilik cowok tampan itu segera menurunkan tubuhnya, berjongkok dan jemarinya memencet-mencet ban motor itu yang terlihat tanpa adanya gas yang tersisa didalamnya.
"Duh" hanya itu yang keluar dari bibir mungil cewek itu. Dan dia mulai membuka lagi flash hpnya dan hendak meneruskan acara mengetiknya yang tertunda tadi. Mana mungkin dia berjalan membawa motor segede itu sendirian, oh dia bahkan sampai melupakan kehadiran cowok yang berada didekatnya saat ini.
"Ayok. Gue bantu ke bengkel deket sini?" Ucapnya tegas dan lembut.
"Hah" cewek itu lagi-lagi berhenti mengetik setelah mendengar ucapan cowok disampingnya.
"Kok hah sih. Ayok, gue bantu bawa motor lo ke bengkel. Deket sini ada bengkel deh kayaknya" ucapnya namun masih belum ada tanggapan. Febby terlihat mengerjapkan bola matanya berkali-kali, mungkin dia belum percaya dengan apa yang dia dengar.
Cowok tampan itu tersenyum dan mulai menarik penggelangan tangan Febby "Tenang aja. Gue yang bawa, lo yang dorong"
__ADS_1
Dari kejauhan di ujung area parkir kampus terlihat ada trio Ryan yang menatap interaksi antara Febby dengan cowok tampan itu. Kedua telapak tangan Ryan mengepal geram. Cemburu sudah membakar setitik darahnya sehingga membuatnya berdesir dengan begitu cepat hingga ubun-ubun.
"Wah. Gagal kita sob. Belum juga mulai udah ada rival didepan mata lo" ucapan Aziz yang di samping nya menambahkan percikan api yang tengah membakar seluruh aliran darahnya. Membuat detak jantung Ryan semakin kencang berderu, apalagi melihat cewek pujaan hatinya bersama dengan cowok lain.
Memang mereka yang merencanakan semua ini. Entah ide brilian dari mana yang keluar dari otak mereka, untuk membocorkan ban motor cewek itu dan ketika Febby kebingungan nanti, disaat itulah Ryan akan beraksi menjadi seorang pangeran berkuda putih yang menyelamatkan cewek itu.
Awalnya memang Ryan tidak setuju dengan ide mereka. Mana mungkin dia mau menyakiti gadis pujaan hatinya, dan dengan bujukan rayuan teman-temannya itu akhirnya dia setuju.
Namun kini semuanya sia-sia sudah dan malah memberikan kesempatan bagi pangeran lain yang datang menghampiri Cinderella nya.
Dari kejauhan Laras berlari menghampiri dimana tempat Ryan and friends berdiri, ia yang belum tahu kondisi sebenarnya dengan santai bertanya, "Gimana? Berhasil nggak?" Tanya cewek itu.
Tidak ada jawaban dan akhirnya, ekor mata cewek itu melihat dimana Febby dan juga cowok tampan yang menolongnya itu berada. Tentu saja hal ini membuat bibirnya otomatis tertarik keberbagai sudut, melongo membentuk O dengan sempurna.
Laras menepuk keningnya sendiri "Bego banget gue. Bisa-bisanya gue lupa kalo si Rizal juga suka sama si Febby" batinnya menjerit.
Cowok tampan itu adalah Rizal. Dan Bisa-bisanya Larasati melupakan hal sepenting itu. Kalau Rizal juga menyukai Febby sejak lama. Dan malah dirinya membantu orang lain yang baru saja dia kenal untuk mendekati sahabatnya nya.
Laras menepuk pundak Ryan yang masih berkecamuk dengan segala umpatan dalam hatinya, dengan tatapan masih tajam melihat sepasang manusia diujung sana Laras berkata "Kayaknya percintaan lo di tahun ini lagi nggak berpihak sama lo deh Yan"
"Kenapa? Kenapa sama gue untuk sekedar ngobrol aja lo nggak mau. Tapi sama cowok lain mau" batin Ryan. Kalau saja dia tahu yang sebenarnya. Bahkan Febby tidak membalas ucapan Rizal sama sekali.
"Bener tuh" sahut Aziz membenarkan ucapan Laras. Namun Andre segera menyikut temannya yang otaknya sedikit lamban berfikir itu, jelas-jelas temannya sedang dilema malah ditambah lagi dengan celotehan yang akan menambah percikan api dalam darah cowok itu.
Laras, Aziz dan Andre bingung melihat Ryan yang masih diam tanpa bergerak sedikit pun dengan tatapan masih tertuju pada Febby dan juga Rizal yang hendak meninggalkan area kampus, mereka bertiga saling tatap seolah berkata satu sama lain 'gimana nih'. Laras hanya menggedikkan bahunya seolah menjawab 'nggak tau gue'.
__ADS_1
Lama, sampai Rizal dan juga Febby tidak terlihat lagi, seolah lenyap di telan oleh gerbang kampus.
"Lo yakin nggak mau ngikutin mereka?" Laras akhirnya berseru. Tidak tega melihat cowok disamping nya diam mematung dengan gurat kesedihan diwajahnya.