
Prysila and the genk terus memandang kearah Febby yang saat itu memberikan sebuket bunga dan coklatnya kepada Inces si cowok kemayu satu-satunya, dikelas jurusan mereka.
"Dihh makin geli gue ngeliat tingkah tuh bocah" celetuk Prysila sembari ekor matanya melirik Febby yang sudah duduk.
"He'emm" dehem Nana.
"Yap. Belaga sok nggak butuh lagi. Dikasih orang lain segala tuh bunga" sahut Gendis.
"Lagian siapa sih yang mau-maunya ngasih barang begituan sama dia. Bego apa buta tuh orang ya... nggak bisa liat apa disini masih ada yang lebih cantik dari dia. Cantiknya kayak bidadari gini pun nggak keliatan, hah" sungut Prysila, sembari cewek itu mengoleskan bedak pada wajahnya.
Dia tidak tahu saja, jika yang memberikan bunga dan coklat itu adalah Ryan. Jika ia tahu pasti akan kebakaran jenggot cewek itu.
Ketika tahu Febby menolak ajakan Ryan untuk berkenalan saja rasanya geram dalam hatinya. Serasa ingin menenggelamkan si Febby kelautan samudera agar tidak kembali lagi kekampus.
"Udah melebihi bidadari kesleo kan ya?" Nana berucap santai tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponsel yang dia pegang.
Kedua temannya melongo menatap Nana intens. Nana memang sedikit berbeda kadar keunikannya dibanding Prysila dan juga Gendis. Dan dia suka sekali mengucap sesuatu yang mungkin tidak akan pernah ada didalam 'kamus' kedua temannya itu "Apa tadi dia bilang. Bidadari kesleo?" Prysila kesal, darimana dia dapat kata-kata itu, batinnya.
"Iya kayak di lagu dangdut gitu" jawab Nana tetap santai dan masih menatap layar ponselnya.
Karena kesal Prysila mengoleskan spons bedak yang dia pegang pada wajah Nana "Ihh... Prysil. Nana kan udah cantik kok dibedakin lagi sih" ucapnya polos.
Prysila malah semakin banyak mengoleskan bedaknya pada wajah cewek itu dari kening turun kepipi kanan lalu ke pipi kirinya "Biar aja. Biar tambah cantik kayak bidadari yang lo bilang. Enak aja gue dikatain bidadari kesleo"
Sedangkan Gendis yang didekatnya hanya tertawa melihat keduanya.
Namun tawanya berhenti seketika saat spons milik Prysila juga mendarat dipipi kanannya. "Biar cantik kayak bidadari kesleo kayak Nana. Iya kan Na?" Ucap Prysil menoleh pada Nana sebelum Gendis memprotes dirinya. Dia hanya diam saja, disini bosnya adalah Prysil, apapun yang dia lakukan ia hanya bisa diam. Dan kini giliran Nana yang tertawa melihat bedak di wajah Gendis tidak rata seperti anak kecil yang baru saja mandi.
Febby mulai duduk dikursinya dan mengabaikan Larasati yang terus memandang nya heran. Bisa-bisanya si Febby tidak menghargai sama sekali pemberian Ryan.
__ADS_1
"Si Rizal kemana Ras?" Lamunan Larasati terhenti ketika mendengar sahabatnya menyebut nama Rizal.
"Hah?"
"Rizal kemana? Kok hah sih.. kayaknya dia nggak keliatan deh beberapa hari ini?"
Febby mulai mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.
Laras mengerjapkan matanya berkali-kali,mencerna ucapan Febby "sejak kapan lo peduli sama Rizal Fe? Jangan bilang lo..."
"Apaan sih. Gue tuh punya hutang sama dia. Gak usah parno deh" Febby masih ingat dengan hutang ban sepeda motornya yang dibayar oleh cowok tampan itu.
Laras bernapas lega. Dia pikir Febby sudah mulai menyukai Rizal, dan jika iya. Akan semakin rumit masalahnya, disisi lain Laras sudah masuk dalam jeratan Ryan yang selalu memintanya membantu dia untuk mendapatkan Febby. Dan disisi lainnya dia sudah tahu bahwa Rizal juga menyukai sahabatnya sejak lama, dan jauh lebih lama sebelum Ryan datang.
Rasa bersalah Laras dan rasa tidak enak hati beradu menjadi satu.
"Sibuk dia Fe. Gak tau juga dia itu ngapain. Beberapa hari ini nggak pernah berangkat bareng gue. Nggak pernah minta ditemenin ke toko buku juga... di chat juga gak di bales. Udah kayak bang toyib"
Febby hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Meski mereka sudah saling tukar nomor hp tetapi cowok itu sampai saat ini belum juga menghubungi nya. Dan sebagai seorang cewek dia memiliki rasa gengsi yang tinggi untuk menghubungi cowok itu terlebih dahulu
"Ehh tunggu . Hutang? Sejak kapan lo hutang sama dia. Kayaknya kalian nggak sedeket itu deh" Laras menatap Febby curiga.
"Lo inget gak. Waktu beberapa hari yang lalu, ban motor gue bocor" Febby melihat Laras mengangguk "Nah waktu itu dia yang bayarin. Gue jadi nggak enak dong sama dia. Motor gue masa dia yang bayar" jelasnya. Dan Laras yang hapal sekali dengan perangai sahabatnya ini, hanya mengangguk paham. Mungkin dia akan mentlaktir cowok itu makan atau yang lainnya sebagai balasan, pikir Laras.
Dikantin
"Balik kampus, elo ngapain Ras?"
"Nggak tau gue. Belom ada plan. Kenapa? mau jalan? Udah lama kan kita nggak pernah pergi bareng. Rizal juga nggak tau kemana ngilangnya tuh anak"
__ADS_1
Febby dan juga Laras tengah mengunyah makanan yang mereka pesan tadi. Mereka duduk berhadapan. Dan Febby duduk menghadap pintu masuk kantin tersebut, jadi dirinya akan tahu siapa saja yang hendak masuk area kantin.
"Lah lo kan tetanggaan ama dia. Samperin kek" Febby mengelap bibirnya dengan tissue pertanda ia telah selesai dengan makanannya.
"Ogah... kayak gue yang butuh aja. Biasa juga dia yang nyari gue"
"Iya... Udah kayak sodara kembar aja kalian berdua, kemana-mana bare..." ucapan Febby terhenti ketika dari kejauhan dia melihat seseorang yang sangat dia hindari. Dan tidak ingin dia temui.
Raut wajah Ryan terlihat sendu, matanya terus menatap lurus pada satu titik.
Hatinya tak menentu sejak pagi, saat Laras mengirimkan video ketika Febby memberikan bunga dan juga coklat nya kepada orang lain.
Ya. Laras diam-diam merecord adegan ketika sahabatnya memberikan benda pemberian Ryan kepada Inces. Dan itu atas permintaan dari Ryan sendiri. Sebab ia ingin tahu, sejauh apa Febby membeci kaum cowok seperti yang Laras pernah ceritakan kapadanya beberapa hari yang lalu.
Kedua tangan Ryan, ia masukan kedalam saku celananya. Tatapannya masih lurus pada satu titik, pada Febby.
Ia bahkan melihat gerakan panik Febby seketika saat tatapan mata mereka bertemu.
Cewek tomboy itu benar-benar membuatnya gila. Semakin hari perasaannya semakin sulit untuk dia artikan. Dan semua usaha yang ia lakukan ditolak oleh cewek itu. Bahkan sekarang chat WA yang ia kirim tak pernah dibaca oleh Febby.
Dan...
To be continued...
Spoiler next EPISODE... Ryan bakalan nembak Febby didepan banyak orang.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like dan koment.
Koment apa aja boleh kok. Aku gak akan marah kalo ada yang berkenan kasih saran dan kritik.
__ADS_1
Thanks. Salam penulis