
Part 49
SAHABAT DAN PENGHIANATAN
“gue tuh
nggak ngerti aja Ras, gue risih kalau dia ngikutin gue mulu. Bahkan sampai
berbuat gini segala. Please deh” gadis tomboy itu berkata dengan gusar.
Entah mengapa
hatinya masih belum bisa ia buka untuk siapapun, dan yang anehnya lagi Febby
sangat membenci Ryan sejak pertama kali cowok itu mendekatinya, seolah olah telah
terjadi suatu dendam diantara keduanya dikehidupan sebelumnya.
“dia itu
suka sama elo Fe. Kalau enggak, ngapain juga dia ngejer elo sampe segitunya. Iya,kan?”
Larasati memutar bola matanya ,berusaha menyembunyikan bahwa dirinya tahu semua
yang Ryan rencanakan untuk mendekati sahabatnya itu.
Laras mulai
menyedot kembali minuman miliknya.
Sedangkan Febby
mendesah panjang, lelah.
“gue tuh
nggak mahu Fe, kalau elo masih aja hidup dalam bayang-bayang masa lalu” ucap
gadis berambut gelombang itu dengan lembut sembari mengusap punggung tangan
Febby.
“elo nggak
bisa bohong kalau jauh dalam lubuk hati elo masih ada dia. Makanya elo belum
bisa ngebuka hati elo buat orang lain. Ayolah Fe, sadar . Ini udah berapa tahun
berlalu bukan lagi sehari dua hari setelah kejadian itu berlalu. Elo harus
nyoba buat move on.”
Febby terlihat
termenung mendengar perkataan sahabatnya. Memang benar penghianatan itu sudah
lama berlalu. Namun luka dihatinya masih terasa pedih , bahkan untuk memulai
semuanya kembalipun enggan. Ia merasa masih belum saatnya.
__ADS_1
Cinta,
sahabat, dan penghianatan memang begitu dekat. Ia harus lebih selektif dalam
hal itu.
Belum lagi
ada Rangga sebagai kakak sepupu yang ekstra protektif pasca kejadian 7 tahun
lalu.
DI’H’ GROUP
Usai drama
perdebatan antara ayah dan anak , yang pada akhirnya tetap tidak dapat Ryan
bantah sama sekali.
Perkataan
yang keluar dari mulut sang Daddy adalah sebuah titah baginya. Tidak ada
penawaran sedikit pun.
Tiga mobil
mewah dengan warna senada berhenti secara bersamaan didepan gedung megah nan
tinggi.
Tuan besar
,memasuki area ‘H’ Group ,tentu saja bersama dengan putra semata wayangnya.
Derap
langkah memenuhi pintu resepsionis, semua staff menundukkan kepalanya tanda
hormat , tanpa terkecuali hingga tuan mereka memasuki lift khusus itu.
“apa rencana
hari ini Han” tuan besar Handoko mulai bersuara begitu pintu lift tertutup
dengan rapat. Berdirinya tegap pandangannya tetap kedepan menunjukkan sikap
wibawanya, Ia bicara tanpa menoleh lawan bicaranya. Tanda bahwa beliau lah yang
berkuasa.
Sikapnya
seakan memberi contoh kepada putra semata wayangnya. ‘beginilah caramu
berkuasa’ batin Tuan Handoko.
Lelaki itu
__ADS_1
segera membuka agenda yang ia simpan dalam notebooknya. Sama angkuhnya dengan
Tuannya “hari ini setelah makan siang ada pertemuan dengan klien untuk proyek
besar di Prancis ,Tuan. Setelah itu rapat direksi pada pukul 3 sore” dia
Burhanudin , sekertaris sekaligus tangan kanan Tuan Handoko.
Tuan besar
Handoko menyimak dan tampak berpikir sejenak “ajari Ryan ,tugas apa saja yang
harus dia kerjakan” lagi-lagi berbicara tanpa menoleh lawan bicaranya.
“baik tuan”
Ting, pintu
lift terbuka pertanda mereka telah sampai dilantai yang mereka tuju.
Tuan Handoko berjalan
mendahului , menuju ruangan direktur miliknya. Sedangkan Burhanudin menuntun
Ryan menuju ruangan lain “mari tuan muda” lelaki itu mempersilahkan dengan telapak
tangannya ,agar Ryan berjalan terlebih dahulu menuju ruangan khusus yang telah
dipersiapkan untuk dirinya.
Asik memperhatikan
tata ruang pada ruangan miliknya, Ryan segera duduk dikursi berputar itu.
“ini tuan muda
,silahkan dipelajari terlebih dahulu. Anda bisa bertanya jika ada yang tidak
paham” Burhanudin menyodorkan setumpuk berkas kepada Ryan sesuai perintah bos
besarnya.
Cowok itu
hanya mengangguk. Sejujurnya ia masih belum siap untuk melakukan hal ini,
tetapi mahu bagaimana lagi,jika sang ayah sudah bertitah ,siapapun takkan mampu
membantah, bahkan dirinya yang statusnya sebagai seorang anak.
“kalau
begitu saya permisi tuan, jika ada apa-apa panggil saya saja” menunduk hormat
,kemudian melenggang pergi.
Ryan
menghela napas panjang lalu berputar pada kursinya.
__ADS_1
“akhirnya
hari ini datang juga”