Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
CEMBURU


__ADS_3

"Hah. Kok jadi lo yang bayar sih. Nggak, nggak, gue nggak mau hutang budi sama lo. Ini kan motor gue. Harusnya gue yang bayar" Febby terus saja menolak ketika Rizal mengatakan bahwa dirinya sudah membayar biaya ban sepeda motor cewek tomboy itu yang bocor.


"Ya kali. Masa gue minta duit ama cewek. Gengsi dong. Gimana sih nih bocah. Nggak peka banget" gerutu cowok itu dalam hatinya.


Rizal mengangkat sebelah alisnya saat Febby mulai mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. "Mending gini deh. Sini-in hp lo" Rizal menengadahkan tangannya tanda meminta hp milik Febby.


"Hah?" Febby terlihat bingung disela-sela dirinya mengambil dompet tetapi malah cowok itu meminta hpnya.


Tanpa menunggu lama Rizal langsung saja merebut ponsel cewek itu yang kebetulan berada ditangan kirinya. Terlihat cowok itu mengetikkan sesuatu pada layar android milik Febby tersebut. Dan tak lama kemudian ponsel milik cowok tampan itu yang berbunyi, pertanda jika cowok itu baru saja mendial nomer hp nya sendiri dari hp Febby.


"Nah. Itu nomer gue. Disave aja. Lain kali lo bisa traktir gue buat ganti hari ini" Rizal menyodorkan hp milik cewek itu kepada pemiliknya. Meski terlihat bingung Febby segera memasukkan kembali dompet yang dia ambil dari dalam tasnya dan segera mengangguk kan kepalanya berkali-kali tanda setuju sembari menerima hpnya dari tangan cowok tampan didepannya itu. Dia memang paling tidak suka berhutang budi. Jangankan pada orang lain seperti si Rizal yang baru kali ini mereka dapat mengobrol berdua, sedangkan dengan Rangga ataupun Larasati, Febby juga akan mengganti apa yang telah mereka lakukan dan mereka berikan kepadanya, meskipun dengan cara yang berbeda. Persis seperti yang diajukan oleh cowok itu, untuk Febby mentlaktir dirinya suatu saat nanti.


Tentu saja Rizal senang, terulas senyum kemenangan disudut bibirnya. Seperti habis menang lotre, andai boleh meminta, mengapa tak sedari dulu saja kejadian hari ini terjadi, alias motor Febby bocor dan dirinya yang datang sebagai pangeran penolong nya. Jadi-kan dia akan dari dulu juga berkesempatan mendekati cewek itu dengan mudah, meski tanpa di sengaja.


Satu fakta yang baru saja dia ketahui hari ini, ternyata cewek yang selama ini terlihat dingin dan cuek adalah sosok yang cerewet dan bawel. Sebab sedari tadi Febby lah yang selalu bertanya kepadanya dan membuka topik pembicaraan.


"Lo balik naik apa?" Tanya Febby setelah memasukkan hpnya kedalam tas dan sudah siap dengan kunci motor ditangannya.


"Motor gue ada, di kampus. Lo balik aja dulu. Gue mau balik kampus ngambil motor gue"


"Nggak bisa"


"Nggak bisa gimana. Kan motor lo udah beres?"


"Lo mau balik kampus jalan kaki??"

__ADS_1


Rizal meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya nggak pa-pa. Lo balik aja duluan. Deket ini kok, jalan juga nyampe" balasnya santai.


"Nggak bisa gitu dong. Lo udah bantuin gue. Masa gue ninggalin lo gitu aja. Gue anter lo ke kampus dulu deh. Baru habis itu gue balik" Febby menyodorkan kunci motor sport nya kepada cowok tampan dihadapannya, sebagai tanda jika Febby memberi ijin kepadanya untuk mengendarai si merah. Namun hanya ditatapnya saja kunci tersebut oleh Rizal, mungkin otaknya masih mode mencerna apa yang baru saja dia dengar dari bibir mungil Febby.


"Ayok. Atau gue yang didepan, lo yang bonceng?" Mendengar kalimat tersebut Rizal terkesiap dan langsung merebut kunci simerah dari tangan Febby.


Dan Rizalpun mengendarai si merah menuju kampus mereka untuk mengambil motornya sendiri yang masih terparkir disana.


"Rizal" panggil Febby ketika cowok itu sudah mulai melenggang untuk menuju area parkir kampus. Sontak membuat cowok itu menghentikan langkahnya dan menoleh. "Iya" sahutnya.


"Thanks" ucap cewek tomboy itu sebelum ia meninggalkan halaman kampus, dan dibalas anggukkan oleh Rizal.


Febby mulai melajukan si merah meninggalkan pelataran kampus menuju rumahnya.


Rizal yang masih berjalan santai menuju area parkir, disudut bibirnya tak luput dari senyum yang sedari tadi mengembang. Dia tidak pernah memiliki keberanian untuk mendekati cewek itu karena banyak alasan yang membuatnya seolah gadis itu sulit untuk digapai. Tetapi hari ini dewa cinta seakan sedang menguji kembali tembok pemisah yang selama ia bentengi sendiri dari gadis tomboy itu, meskipun Larasati selalu memergoki dirinya memperhatikan Febby tapi belum ada niatan sama sekali dihatinya untuk mulai beraksi. Dia takut. Banyak hal yang ia takutkan. Akankah ketakutan itu dapat diruntuhkan hanya karena kejadian hari ini.


Berbeda dengan Syah Rizal Fauzi yang tengah tersenyum bahagia saat ini. Semua yang Rizal dan Febby lakukan, tak luput dari penglihatan Ryan. Cowok yang tak kalah tampan dari Rizal bahkan anak seorang konglomerat bisa dikalahkan oleh seorang Rizal yang bukan siapa-siapa.


Jemarinya meremas stir mobil, bukan hanya mereka berdua yang mengobrol dan bercanda tawa dan yang membuatnya lebih geram ia melihat gadis pujaannya dibonceng motor oleh cowok lain. Kesal, cemburu pasti.


"Sial" umpatnya berkali-kali.


Menyesal dirinya telah menganggap jika semua akan berjalan murni sesuai dengan apa yang ada dalam angan-angannya. Tahu akan begini jadinya dia akan lebih cepat bertindak dari dulu. Lalu kini ia harus bagaimana?. Hanya untuk sekedar mengobrol saja gadis itu enggan, bahkan menghubungi melalui hp pun tidak dihiraukan. Dan tadi, baru saja ia menyaksikan gadis pujaannya memberikan nomer hp nya kepada cowok lain. Benar-benar keterlaluan si Febby ini.


Sayang nya apa yang Ryan rasakan hanya dia yang tahu. Gadis itu bahkan tidak peduli sedikitpun. Ia harus ekstra bersabar dalam hal ini. Dia akan merebutnya kembali dari Rizal. Bagaimanapun caranya. Itulah tekadnya dalam hati.

__ADS_1


🌳


Febby tengah sibuk dengan tablet nya saat ini, dengan beberapa cemilan yang dia beli di minimarket dekat rumahnya tadi sebelum ia kembali kerumah. Ms. Joanna memberinya tugas design busana yang bertema muslim untuk nilai semesternya kali ini.


Buku-buku berserakan diatas meja makan bercampur dengan beberapa bungkus cemilan.


Kedua manik gadis itu tak luput dari tabletnya dan sebuah pen ditangan kanannya yang asik ia goreskan pada layar tab nya.


Bibir mungilnya berdesis ketika suara ponsel mengejutkannya sehingga membuat sedikit coretan pada gambar desain yang dia buat.


"Ganggu aja sih" gerutu Febby.


Suara ponselnya membuat konsentrasi nya buyar seketika. Diraihnya benda tipis tersebut yang sempat tertindih tumpukan buku. Dahinya berkerut, benaknya bertanya-tanya, siapa gerangan yang tak hentinya mengganggu aktivitas nya sejak tadi.


Dilihatnya nomer asing yang mengirim pesan melalui WhatsApp, senyumnya sedikit menembang disudut bibirnya, ia mengira jika yang mengirim pesan adalah Rizal, sebab dia ingat jika siang tadi ia memberi nomernya kepada cowok itu. Namun sedetik kemudian senyumnya berganti dengan kerutan heran di dahinya.


* Febby angela


* ini gue Ryan. Save ya nomernya


Begitu pesan yang dia dapat dari nomer asing tersebut. "Dia lagi. Darimana dia tau nomer gue" gumamnya curiga. Memang cowok itu pernah menghubungi dia sebelum nya hingga membuat Febby merusak hpnya tanpa ampun dengan mencelupkan kedalam air. Tapi inikan ponsel baru. Dan yang mengetahui nomernya juga hanya orang terdekat saja.


Febby segera menghapus rasa penarasan dalam benaknya dan segera melanjutkan lagi aktivitas nya yang tertunda.


Namun lagi-lagi ponsel itu berbunyi, diraihnya lagi hp tersebut, ia berniat untuk memode senyap pada hpnya agar tidak mengganggu konsentrasi nya, ia akan berpikir dua kali untuk kembali mencelupkan hpnya kedalam air, mengingat harga hp itu yang mencapai belasan juta, apalagi yang ia tahu hp itu adalah pemberian dari sang mami. Namun ekor matanya melihat ada pesan video yang masuk. Akhirnya ia pun membuka pesan itu terlebih dulu karena rasa penasaran.

__ADS_1


Kedua bola matanya membulat sempurna seakan hendak keluar dari tempatnya saat dia melihat video yang dikirim oleh cowok bernama Ryan tersebut...


__ADS_2