
"Ya bagus dong. Tandanya elo ada kemajuan. Udah ngerasain rasanya ciuman. Gimana, enak nggak??"
"Gilak ya elo Ras. Elo sahabat gue bukan sih? Bukannya nge_hibur gue malah bikin kesel" Febby memanyunkan bibirnya mendengar tanggapan Larasati.
Derap kaki terdengar dari dalam toilet.
Seorang gadis dan ketiga temannya berjalan memasuki toilet dengan beriringan.
Salah satu diantara mereka melangkah maju.
Ketika mereka sudah berhadapan dengan Febby yang tengah asik mematut dirinya didepan cermin.
Dengan angkuhnya cewek berambut sepanjang pinggang yang sedikit bergelombang itu mengangkat kedua tangannya, bersedekap didepan dada.
"Wah... wah... wah... tampang begini aja bisa bikin heboh warga satu kampus. Pake pelet apaan elo bisa bikin Ryan nembak elo depan banyak orang begitu" ucap cewek itu sinis.
Febby sempat menghentikan gerakan tangannya yang masih merapihkan rambut pendeknya. Lalu melanjutkannya lagi tanpa melirik cewek disampingnya yang tengah mengoceh ria.
Meski dirinya tahu, itu sindiran untuknya.
Sedangkan Laras yang disampingnya tengah mencuci tangan dan ikut menyimak. Apa yang akan cewek itu katakan.
"Elo kalo belok ya belok aja. Nggak usah godain cowok juga. Kasih kesempatan buat yang lain dong. Jangan rakus. Sama cewek mau. Ada cowok deketin juga mau. Cih. Nggak tau malu" cibirnya lagi tanpa rasa takut.
Febby hanya diam menyimak dan memutar bola matanya, tanpa minat sedikitpun untuk dirinya menjawab ataupun membalas perkataan cewek yang dia kenal bernama Prysila itu.
Ya. Cewek itu geram dan tidak tahan dengan kejadian yang baru saja terjadi ditengah halaman kampus dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Selama ini dia main bicara di belakang tetapi karena kecemburuannya yang sudah tidak dapat ia bendung lagi. Dengan berani dia menemui cewek tomboy itu yang sudah dia anggap sebagai rival.
"Apa'an dia ini. Kurang kerjaan aja" batin Febby.
Laras yang disampingnya sudah mulai terbawa emosi dan hampir melangkah mendekati Prysil, namun Febby segera menarik lengan Laras untuk segera keluar dari toilet agar tidak lagi mendengar ucapan prysila yang bisa saja membuat mereka adu jambak rambut nantinya.
"Heh. Gue lagi ngmong sama elo. Budeg ya elo. Main se-enaknya aja pergi" namun Prysila mencekal lengan sebelah kanan Febby, membuatnya berhenti.
__ADS_1
"Mau elo apa?? emang elo siapanya si Ryan Ryan itu sih?? Mau gue belok kek mau gue lurus kek. Apa urusannya sama elo." Febby berjalan mendekati Prysil sehingga cewek itu berjalan mundur.
"Oh, atau elo ngerasa tersaingi. Karena bukan elo yang dia tembak depan umum? Iya?" Febby berhenti sejenak lalu berkata lagi
"kayaknya dia lebih suka cewek tomboy kayak gue deh. Mendingan elo balik, terus kesalon. Potong nih rambut elo (memegang rambut panjang Prysila) biar sama kayak gue. Siapa tau dia bakal berbalik suka sama elo gitu." Prysila terus berjalan mundur hingga punggung dirinya menyentuh washtafel dan berhenti disana.
"Atau jangan jangan elo nyamperin gue karna elo mau gue cium" refleks Prysil mendorong Febby menjauh.
Laras yang menyaksikan adegan tersebut hanya dapat menahan tawa. Sedangkan dua teman Prysil bergidik ngeri. Tidak menyangka ketua mereka akan berhasil ditakuti oleh Febby yang selama ini mereka buly dibelakang.
Febby menyeringai bangga lalu berkata "Ahh dan lagi. Kayaknya Ryan nggak suka sama yang feminim tapi NORAK KAYAK ELO" dia menekankan setiap katanya setelah melihat warna lipstik Prysila yang berwarna merah cerah.
Kemudian Febby melangkah keluar meninggalkan Prysila yang menggertakkan giginya akibat kesal dan merangkul Laras yang sudah berada diambang pintu.
Sesampainya diluar toilet Laras tertawa terbahak-bahak mengingat adegan didalam tadi.
"Berisik... diem lo"
"Hahaha akhirnya... puas gue liat ekspresi Prysil yang ketakutan gitu. Beraninya ngomong dibelakang giliran didepannya kayak krupuk mlempem"
"Apa mereka udah jadian?"
Suara Rizal menghenyakkan fokus Larasati pada Handphone miliknya. Mereka tengah dalam perjalanan pulang saat ini, dengan menggunakan mobil milik Laras dan cowok berparas tampan itu yang mengambil alih kemudi.
"Hah. A_apa? Siapa??" Cewek berwajah mungil itu menjawab dengan sedikit terbata.
"Febby sama anak baru itu? Apa mereka udah jadian??"
Laras memperhatikan jemari cowok itu seakan meremas stir mobil yang dipegangnya. Dia tahu, bahkan sangat tahu bagaimana perasaan Rizal kepada sahabatnya yang tomboy itu. Dan ini sungguh membuatnya tak enak hati. Apalagi jika cowok itu tahu kalau dirinya lah yang membantu Ryan untuk mendekati sahabatnya.
"Gawat" jerit batin Laras.
"Elo ngmong apaan sih. Gue nggak ngerti?" Balasnya mengalihkan. Dia tidak tahu saja kalau cowok itu juga menyaksikan kejadian siang tadi ditengah halaman kampus, disaat Ryan mencium cewek tomboy tersebut.
"Gue tahu. Elo ada disana saat mereka ciuman tadi siang kan? "
__ADS_1
DEG
Laras terkejut dengan ucapan Rizal. "Apa tadi dia bilang" batin Laras lagi.
"Apa mereka beneran jadian??" Tanya Rizal lagi, karena tidak mendapat jawaban.
"Gue nggak tahu... kalo sekarang sih belum tapi gue nggak tahu apa yang bakalan terjadi nanti sama mereka?"
Rizal diam, tidak menjawab lagi.
"Lagian gue kan udah berkali kali nanya sama elo. Kenapa elo nggak mau gue bantuin buat deketin dia?? Giliran sekarang. Elo juga kan yang susah. Elo mau maju juga udah nggak ada celah" Laras menutup mulutnya yang keceplosan berbicara. Dan sesekali menatap cowok disampingnya yang terlihat sendu.
Cowok itu lagi lagi membisu. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Memang benar. Laras tidak hanya satu atau dua kali menawarkan bantuan untuk membuat dirinya dekat dengan Febby, namun selalu dia tolak. Meski ia merasa malu harus selalu kepergok oleh Laras, ketika dirinya memperhatikan Febby secara diam diam.
Cowok tidak berkata apa-apa lagi sampai ia memarkirkan mobil milik Laras dihalaman rumah cewek itu.
Dirinya diam dan lesu. Bahkan dirinya melupakan ucapan 'terimakasih' yang seharusnya dia ucapkan kepada Laras.
Laras menggaruk kepala yang bahkan tidak gatal, memperhatikan sikap aneh Rizal sedari di perjalanan pulang tadi hingga ia menatap punggung cowok itu yang semakin menjauh.
Rizal mulai membuka pintu rumahnya yang sederhana. Rumahnya dengan rumah Laras memang bersebelahan. Ia patut bersyukur, meski ia dengan cewek bertubuh mungil bernama Laras itu berbeda kasta tetapi orang tua Laras tidak pernah melarang mereka untuk bermain bersama sejak kecil.
Tentu saja rumahnya yang sederhana berbeda dengan rumah Laras yang baru saja ia tinggalkan. Dengan bangunan tinggi, megah berlantai dua dan dengan halaman nya yang luas.
Sedangkan kediaman milik ibunya itu hanya gubug kecil nan sederhana.
Jika dilihat dari kejauhan, mungkin akan terlihat seperti sebuah anak rumah dari rumah megah didampingnya itu.
"Rizal... sudah pulang nak??" Suara seorang wanita yang usianya hampir setengah abad itu membuyarkan lamunan Rizal.
"Ibu" sapa Rizal ketika dirinya menoleh kearah suara dan mendapati sang ibu berada dirumah.
"Kok masuk rumah nggak salam sih. Hemm??" Tanya Wanita itu lembut sembari berjalan mendekati anaknya dan mengulurkan tangannya kepada putra semata wayangnya. Dan Rizal meraih tangan ibunya lalu mengecup punggung tangan wanita tersebut yang sedikit keriput.
__ADS_1
Lalu...