
PART 51
Rizal merasa pusing , entah sudah berapa banyak tumpuk buku
yang ia baca sedari pagi. Tugas semester memang selalu membuatnya menguras otak
agar dirinya tidak kehilangan bea siswa kuliahnya.
Akhirnya Rizal memutuskan untuk mengembalikan semua buku
yang ada diatas mejanya dan menyusunnya seperti semula pada ‘rak buku’
sebelumnya.
Bergegas ia mengemas dan meraih tas miliknya lalu berjalan
keluar dari ruang perpustakaan.
Ia merasa suasana taman belakang mungkin akan sedikit membuatnya
lebih rileks setelah berlama-lama bermain dengan ribuan tulisan yang ia baca
hari ini.
Dan benar saja, setelah menghirup asrinya udara ditaman
membuat nya lebih nyaman. Saat kedua bola matanya menyapu sekeliling taman ia
melihat sosok siluit yang ia kenal, dan cowok itu memutuskan untuk berjalan
kearah sosok tersebut.
Senyum kecil dibibir Rizal ketika ia memastikan siapa
pemilik siluit orang tersebut ,
Rizal menepuk kecil dipundak gadis itu.
“hei, sendirian aja “sapanya.
Febby mengukir senyum dibibirnya ketika mendapati siapa
gerangan yang telah mengganggu konsentrasinya membuat sketsa desain. “hei, Zal”
.
“boleh aku duduk?”
“oh, boleh kok. Duduk aja”
“lagi ngapain sih, duduk sendirian disini? Laras mana?”
Rizal mencoba mencari Laras dengan meneliti sekeliling mereka namun nihil.
“iya nih lagi bikin sketsa buat tugas semester, si Laras ke
kantin deh kayaknya.”
“loh, tumben kalian nggak barengan, lagi marahan ?” siapa
yang akan menyangka sahabat karib yang selalu bersama kapanpun ,kini justru
mereka terpisah.
“enggak kok. Suntuk aja , dari kemaren nggak ada inspirasi
sama sekali”
Rizal mendesah lelah seolah merasakan apa yang tengah Febby
alami. “susah banget ya?” Tanya cowok itu lagi.
__ADS_1
“enggak susah sih, cuma butuh putar otak aja buat dapetin
inspirasi , elo gimana? Udah siap buat ujian semesternya?”
“yaah ,gitu deh” desah cowok itu tanpa berterus terang jika
dirinya pun merasa kebosanan saat harus membaca tumpukkan materi ketika
diperpustakaan tadi.
Jelas saja Febby merasa susah untuk mendapatkan inspirasi dalam
tugasnya kali ini , gadis itu merasa
terganggu dengan sikap Ryan Handoko si cowok tidak tahu malu itu, yang terus
saja mengganggu nya , terlebih cowok itu sudah berani mendatangi rumahnya ,dan
bahkan mammy Siena terbuka dengan cowok itu.
‘gara-gara si cowok
rese itu’ geram Febby dalam hati.
Rizal mengerutkan dahinya ketika menangkap ekspresi yang
tidak biasa ia lihat dari gadis pujaannya itu. “kenapa Fe? Ada masalah?”
Gadis itu seketika merubah ekspresi sebalnya menjadi guratan
senyum , Febby tidak ingin mengganggu suasana yang tercipta diantara mereka
berdua.
“nggak terasa yah. Bentar lagi libur semester” Tanya gadis
itu mencoba mencairkan suasana.
‘dan saat itu gue
bakalan lama nggak ketemu elo Fe’tambahnya namun dalam hati.
“oh iya , kamu lagi suntuk kan? Gimana kalo kita pergi ke
suatu tempat,siapa tahu kamu bakal dapet inspirasi disana”
Deg
Ada gelenyar aneh ketika gadis itu mendengar ajakan dari
Rizal ‘gue nggak salah denger kan?’batinnya.
Rizal mengusap tengkuknya ,merasa canggung sebab ia
menyadari dirinya sudah begitu berani ambil inisiatif dari biasanya . “emmh,
itu kalo kamu mau sih, kalo enggak yaaa nggak masalah. Atau mungkin kamu udah
ada janji sama seseorang?”
Febby mencoba menyadarkan dirinya, jika ia bukan lah sedang
bermimpi ,cowok disampingnya itu memang mengajaknya jalan. Mereka memang
mengenal satu sama lain sudah sejak SMA namun baru saja beberapa bulan lalu
cowok itu berani berbicara akrab dan bahkan menolong nya ketika sepeda motornya
bocor kala itu,lalu sekarang cowok itu berani mengajaknya jalan.
Lengang sejenak diantara mereka sebab gadis tomboy itu
__ADS_1
sedang berfikir apakah ia akan pergi dan menerima ajakan Rizal dan mungkin saja
mendapatkan inspirasi setelah otaknya fresh sejenak ,atau dirinya akan menolaknya.
‘oh iya, gue kan dianter sama cowok rese itu dan nggak bawa
motor ‘ Febby teringat ia memang tidak membawa si merah ‘motor kesayangannya’
hari ini karena diantar oleh Ryan, sebelum cowok itu datang menjemputnya lebih
baik dia pergi terlebih dahulu dengan Rizal.
Entah mengapa ia lebih nyaman pergi bersama cowok
disampingnya itu dibandingkan dengan Ryan.
Melihat Febby terus saja diam, Rizal berfikir ‘mana mungkin
Febby mau jalan sama gue’ mungkin itu hanya hayalannya saja yang tidak akan
mungkin tercapai.
“kalo kamu udah ada janji sama seseo---“ ucapan cowok itu terpotong oleh Febby.
“ayuk”
Namun jauh dari perkiraan Rizal yang menyangka gadis itu
akan menolaknya ,justru Febby segera mengemas barang miliknya kedalam tas dan
berdiri.
Rizal yang masih tidak percaya ,masih terdiam dan menatap
dalam gadis tomboy itu.
“ayok jadi nggak?”
“ah ,sory ,aku kira
kamu nggak mahu” cowok itu tersadar dan segera bangkit dari duduknya lalu
mengikuti Febby dari belakang.
“mahu kok, kebetulan gue nggak bawa motor nih, ntar sekalian
anter gue balik ya?” balas gadis itu sebagai alibi. Alasan itu memang benar
tapi alasan sebenarnya yang membuatnya menerima ajakan Rizal karena ia lebih
malas untuk bertemu dan diantar oleh Ryan. Jika ia tidak membawa motor bisa
saja dirinya memesan grab ataupun go car, tetapi dirinya tidak mahu jika Ryan
akan datang terlebih dulu menjemputnya, sekalian saja mumpung ada yang mahu
memberinya tumpangan.
“kamu tunggu di depan gerbang aja Fe, biar aku ambil motor
dulu” ucap Rizal ketika mereka sudah hampir sampai area parkir. Gadis itu hanya
tersenyum dan mengangguk tanda mengerti.
Cowok itupun bergegas mengambil sepeda motor miliknya, ia
merasa seperti mimpi. Bahkan seorang Febby yang dulu ia anggap mustahil untuk
ia dekati kini mereka bahkan semakin dekat .
***
__ADS_1
jangan lupa kasih vote, like dan komen terimakasih.