
*SUKANYA DIANCEM HIATUS DULU BARU PADA KOMEN YA?? 😄. NAKAL KALIAN TUH.
GAK USAH MALU. KOMEN ITU GRATIS KOK. GAK BAYAR. MALAH BIKIN AKUNYA JADI SEMANGAT LAGI BUAT NGE-UPDATE HEHE.
Jujur aja aku tuh jadi orang minder-an. Jadi butuh suport. Jangan kira aku gila koment di novel aku ya... aku cuma butuh suport. Walaupun aku tau, meski kalian gak koment juga, pasti kalian baca.
Tapi aku bakal lebih seneng lagi kalo banyak yang koment. 😄
Happy Reading*.
🌳
Febby hanya fokus pada lagu yang dia dengar dari earphone miliknya.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Febby dari belakang.
Refleks gadis tomboy itu membuka earphone_nya dan menoleh kebelakang untuk memastikan siapa yang telah mengusiknya.
Ekspresi datar Febby seketika berubah, garis senyum terlihat dari sudut bibirnya saat mengetahui siapa gerangan sosok tersebut.
"Hai Fe!!" Sapa cowok tampan yang berada dihadapannya saat ini.
"Hai... Zal" balasnya dengan nada sumringah. Seolah lamunan yang melintas di benaknya saat di dalam bus tadi menjadi hilang sirna.
Rizal lah yang menepuk pundak Febby.
"Laras mana? Kok sendirian?"
__ADS_1
Febby memperhatikan sekitar Rizal, tetapi dia tidak menemukan sosok gadis mungil yang telah menjadi sahabatnya sejak SMA itu.
"Dia udah dikelas kayaknya. Tadi gue dari kantin"
Febby hanya mengangguk tanda mengerti kini mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka, kebetulan fakultas hukum memang melewati kelas Febby.
"Gimana entar sore jadi kan?"
"Ahh iya jadi. Elo bawa motor kan?. Ntar pake motor elo aja deh. Gue gak bawa soalnya"
"Hah seriusan elo gak bawa motor?"
"Yap. Kenapa kok kaget gitu?"
"Apa nggak pa-pa kalo elo bonceng pake motor butut gue?" Tanya Rizal dengan gamblang.
Febby sudah sampai didepan kelasnya "Ntar chat aja kalo udah slesei kelas. Gue masuk dulu ya. Bye!" Cewek tomboy itu melambaikan tangan kepada Rizal sebelum memasuki Kelasnya.
Rizal memang menagih janji Febby untuk mentraktir dirinya sebagai balasan atas sepeda motor Febby yang bocor beberapa waktu lalu, dimana cowok itulah yang membayar biaya bengkelnya.
Kembali pada malam hari
Setelah menatap kepergian Ryan yang mendatangi rumahnya.
Ponsel Febby terus saja berdering, awalnya Febby mengira jika itu ulah Ryan, tetapi ketika Febby berencana menonaktifkan hpnya. Nomor lain lah yang tengah menghubungi dirinya, nomor yang sudah tersimpan olehnya.
*Rizal- hai fe. Ini gue rizal.
__ADS_1
Aku- hai. Oh iya udah gue save kok nomer nya.
Rizal- bdw lagi apa? gue ganggu gak nih?
Aku- nggak kok. Lagi santai aja.
Rizal- wahh, tepat dong gue.
Oiya. Soal tawaran traktiran elo waktu itu masih berlaku nggak nih?
Aku- ah iya... masih kok. Gue sampe lupa tau. Karna elo nggak kontek gue. Jadi, mau kapan?.
Rizal- gimana kalo besok sore. Balik ngampus. Temenin gue ke toko buku. Habis itu kita makan.
Aku- oke deal.
Rizal- oke*.
Begitu lah chit-chat antara Rizal dan juga Febby tadi malam. Dan sore nanti mereka pergi ke toko buku dan makan bersama.
Kembali ke pagi hari
Febby pun masuk kedalam ruangannya yang sebentar lagi kelas akan segera dimulai.
Begitu pula dengan Rizal, dengan tubuh yang bergetar akibat degup jantung nya yang begitu hebat, ia terus saja berjalan menuju fakultas nya yang berada ujung bangunan kampus itu, dilantai dua.
Rizal tersenyum senang dan tidak sabar menunggu sore nanti.
__ADS_1
Tanpa sadar dirinya melompat girang sembari berteriak "YES"