Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
Pacar


__ADS_3

Kedua bola mata Febby membulat seketika, ia ingin senang dan juga kesal secara bersamaan.


"Ayo sini sayang, sarapan dulu. Udah ditungguin loh daritadi sama pacar kamu!!" Wanita itu tersenyum sembari terus fokus membuat jus alpukat kesukaan Febby .


Ryan segera bangun dari duduknya saat wanita paruh baya itu mendengar kata pacar, atau bisa dibilang dirinya merasa sebutan itu ditunjukkan kepadanya.


Sudut bibir cowok itu melengkung, membuat sebuah garis senyum.


"Elo..." pekik Febby, ketika menyadari siapa cowok yang berada rumahnya sepagi ini. Air muka Febby berubah sinis seketika.


Tanpa ragu mami Siena menuntun gadis tomboy itu untuk duduk di kursi miliknya.


"Ayok duduk" wanita paruh baya itu seolah tak melihat ketidaksukaan diwajah Febby.


"Mam...." ucap Febby lirih. Dirinya masih terkejut dengan pemandangan dipagi ini. Ditengah kebingungan nya atas kehadiran mami Siena, ditambah lagi kehadiran Ryan dirumah itu sepagi ini, dan bahkan maminya sendiri sangat menerima kehadiran cowok tampan yang sangat dirinya hindari akhir-akhir ini.


Dapat ia hitung, berapa kali mereka akan bersarapan bersama. Salah satunya ketika gadis itu mendapatkan handphone barunya ketika itu (baca part 23).


Banyak tanya dalam benak Febby akan semua ini, namun ia memilih diam dan menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh ibundanya.


"Kok diem dieman gitu sih kalian?? lagi marahan ya?" Tanya Mami Siena memecah keheningan.

__ADS_1


Gadis tomboy itu mendengarnya, segera menghentikan aktivitas mengunyahnya, dan menatap cowok yang duduk dihadapannya itu, menanti jawaban apa yang hendak ia dengar dari mulut Ryan.


"Ahh... biasa tante" tanpa ragu Ryan menjawab, lalu melanjutkan kegiatan sarapannya yang tertunda.


Kedua bola mata Febby membulat membulat, mendengar perkataan Ryan. "Apa maksudnya ini?".


Febby menatap tajam pada Ryan dan juga mami Siena secara bergantian, seolah mencari jawaban dari keduannya. Namun nihil. Keduanya seolah olah tak peduli dengan Febby.


Seusai sarapan mami Siena mengantar Febby dan juga Ryan ke depan rumah, untuk melihat mereka berdua pergi kekampus bersama.


"Loh sayang, kan udah dijemput sama Ryan. Kok masih naik motor sendiri sih??" Tanya wanita paruh baya itu dengan lembut, saat mendapati Febby yang justru meraih helm dan juga si merah (motor sport miliknya).


Tentu saja, dia butuh penjelasan dari cowok itu.


Mami Siena berusaha menangkis tangan Febby yang hendak memakai helm tersebut, lalu meletakkan nya kembali di atas motor.


"Nggak boleh gitu dong, nggak sopan sayang. Kalo marahan harus dibicarakan dengan baik. Jangan jauh-jauhan gitu".


Mendengar itu, darah Febby semakin berdesir kencang.


Ini adalah sebuah kesalahan fahaman, batinnya.

__ADS_1


Berbeda dengan gadis tomboy itu yang tengah menyimpan amarah, Ryan justru tersenyum menang karena akhirnya Febby mau duduk dalam satu mobil dengan dirinya.


Terus saja mami Siena mendorong anak gadisnya itu untuk masuk kedalam mobil Ryan.


"Kita berangkat dulu tante" sapa Ryan sebelum menstarter mobil miliknya itu.


Febby tetap diam meski mereka tengah dalam perjalanan menuju kampus, mencoba menetralisir degup jantungnya.


Bukan sebab dirinya jatuh cinta dengan cowok itu, namun sebab menahan emosi yang memuncak saat ini. Tentu saja sambil memikirkan kata-kata apa yang akan dirinya ungkapkan kepada cowok tidak tahu malu seperti si Ryan itu.


🐞to be continue


*Hello... author balik lagi.


Maaf ya baru bisa update, saking sibuknya dan banyak hal yang aku urus.


Yang kangen sama Febby, mana nih suaranya. πŸ˜„


Sabar ya... aku pelan-pelan nulisnya.


Buat yang mau kasih kritik dan juga saran, silahkan dibawah ini. *salam author*

__ADS_1


__ADS_2