
Fix yah... nama Ryan gak akan diganti.
Oke... oke. Dari pada bingung. Udah terlanjur lah ya?. Lain kali author gak boleh ngantuk deh saat nentui nama tokohnya. Hihihi 😝
***
Febby menentukan arah, kemana mereka berdua akan pergi untuk makan malam.
Sebenarnya saat ini belum bisa disebut malam, sebab waktu baru saja menunjukkan pukul 05.30 sore, dan langit pun belum terlalu gelap.
Rizal mengendarai motor nya dengan santai sembari menikmati kebersamaan mereka di sore itu. Anggap saja dirinya sedang mengulur waktu, agar makan bersama dengan Febby kali ini bisa di anggap sebagai dinner dan bukan lah makan sore.
Sesekali mereka mengobrol membahas masa-masa sekolah mereka dahulu.
Rizal berharap kesempatan mereka dapat jalan berdua kali ini, akan memiliki kesan bagi Febby. Meski dirinya belum tahu akhir dari kisah cinta terpendamnya, setelah Rizal menyatakan perasaannya kepada cewek itu, nantinya.
Tiba-tiba dirinya teringat, bagaimana Febby dicium oleh Ryan, pada siang itu.
Apa yang akan terjadi jika ketiganya dipertemukan disuatu tempat yang sama. Atau bisa saja mereka tiba-tiba bertemu dengan cowok bernama Ryan itu, saat ini juga.
Apakah Febby akan pergi dan memilih untuk bersama dengan Ryan??
Rizal menggelengkan kepalanya guna membuang semua khayalan buruknya itu. Apapun dapat terjadi, hanya dirinya harus siap dengan hal tersebut.
"Disini" Febby berteriak girang, saat motor Rizal memasuki area halaman sebuah rumah makan lesehan yang cewek itu tunjukkan.
__ADS_1
"Gimana? Nggak apa-pa kan kita makan disini??" Belum Rizal menjawab Febby kembali bersuara "... Atau elo mau makan ditempat lain??"
"Nggak Apa-apa, dimana pun sama aja kok" jawab nya sembari tersenyum "yang penting sama elo fe..." batin Rizal.
Mereka pun memasuki rumah makan lesehan tersebut.
Bangunannya terbuat dari bambu, agak tinggi atau bertingkat seperti panggung dan setiap meja masing-masing memiliki sekat atau penghalang, sehingga disetiap meja memiliki privasi.
Febby menghela nafas lega dan tersenyum sumringah setelah duduk di salah satu tempat yang kosong.
Tak lama seorang pelayan pun datang dengan menawarkan berbagai menu kepada mereka berdua.
"Ehh... elo mau makan apa Zal. Lo suka ayam atau bebek terus...sukanya goreng atau panggang?"
" Ayam Panggang" jawab nya cepat.
"SAYAP" ucap keduanya bersamaan.
"Oke berati sama ya kak. Ayam panggang yang sayap dua, pake nasi, terus tumis kangkung dan...." Febby menoleh kearah Rizal. "Mau minumnya apa??"
"Samain aja kayak punya kamu!" Jawab Rizal tanpa berpikir lagi.
"Yakin nih??" Febby seolah tak percaya akan pilihan Rizal, namun cowok itu hanya mengangguk sebagai jawaban lalu Febby kembali fokus pada seorang pelayan rumah makan itu lagi. "Ahh.. oke minumnya jus alpukat pake susu ya kak, dua"
Waitress itu pun tersenyum ramah sembari membaca kembali menu pesanan mereka sebelum akhirnya melenggang pergi.
__ADS_1
"Kenapa? Kayak seneng banget makan disini?"
Rizal lagi-lagi memergoki Febby tersenyum sumringah seperti saat pertama mendaratkan bokongnya di tempat ini.
"Iya. Lama banget gue nggak makan disini. Dulu ini tempat favorit gue sama Laras kalo balik sekolah... " tiba-tiba saja raut wajah Febby berubah masam. Dirinya teringat sesuatu yang menyakitkan dibalik rasa sukanya ditempat ini.
Dirumah makan ini pula dirinya bertemu dengan seseorang yang telah pergi dengan menorehkan luka dihatinya.
Rizal menyadari sikap Febby, dia hendak menyentuh tangan Febby, guna menenangkan hati cewek itu namun tiba-tiba saja,
"Permisi..." suara seorang waitress menghenyakkan lamunan Febby dan membuat tangan Rizal yang sudah hampir saja menyentuh tangan Febby, kini dia buang kesegala arah.
Hal tersebut membuat waitress itu tersenyum lucu melihat tingkah Rizal.
"Semangat kak" bisik waitress tersebut kepada Rizal sebelum meninggalkan keduanya, dan itu hanya dapat didengar oleh Rizal.
Rizal yang baru saja memahami kata semangat yang diberikan oleh seorang waitress itu, spontan saja tersenyum.
"Wahh... selamat makan" suara semangat Febby setelah semua menu pesanannya memenuhi meja mereka.
Dengan lahap cewek tomboy itu menyantap makanannya, seolah ingatan menyakitkan yang baru saja terlintas dalam benaknya tiada lagi, yang ada hanya makanan yang sudah lama dirinya rindukan.
Rizal pun turut senang melihat raut wajah Febby yang sempat masam menjadi semangat kembali. Ia pun ikut menyantap makanan miliknya yang sengaja dia samakan dengan Febby.
Bukan sebuah kebetulan, jika dirinya seolah memiliki selera yang sama dengan cewek tomboy dihadapannya itu. Tetapi Rizal memang sengaja menyamakan, sesuai dengan apa yang cewek itu sukai. Tentu saja Rizal tahu apa yang gadis itu suka dan apa yang gadis itu tidak suka. Kekagumannya terhadap Febby selama 7 tahun ini banyak membuatnya menggali hampir semua hal tentang Febby.
__ADS_1
Contoh saja makanan dan minuman kesukaannya seperti saat ini.
Febby menghentikan kunyahannya ketika telapak tangan seseorang mendarat di sudut bibirnya. Karena....