
Mobil mewah itu terus melaju dengan kecepatan sedang.
"Maksud elo apa sih? Gue butuh penjelasan! "
Percakapan pertama yang dibuka oleh Febby, ia berusaha mencari titik terang, bagaimana cowok yang tidak tahu malu itu bisa berada dirumahnya sepagi ini dan bahkan kenal dekat dengan maminya.
Ryan hanya tersenyum manis mendengar ucapan pembuka dari gadis tomboy itu.
"Akhirnya dia mau ngomong juga sama gue" batin Ryan.
Senang. Tentu saja, selama ini cewek itu tidak pernah mau bicara dengan dirinya.
Satu menit, dua menit, bahkan di puluhan menit selanjutnya Febby tak kunjung mendapatkan jawaban dari cowok menjengkelkan itu.
Ryan hanya fokus menyetir, membelah keramaian ibukota pagi itu.
Bayangkan saja bagaimana jika kalian ada diposisi Febby, jengkel pasti.
Febby berdecak lirih karena jengah dengan sikap cowok tampan yang satu ini.
"Heh. Gue lagi ngomong sama elo" nada bicara Febby mulai meninggi.
"Apa sih beb?. Aku kan lagi nyetir"
__ADS_1
Febby hampir saja tersedak air liurnya sendiri saat mendengar kalimat yang baginya menjijikkan tersebut.
"Stop . Turunin gue disini!!" akhir dari kekesalan Febby yang belum terjawab.
Ryan masih diam.
"Gue bilang stop" nada bicara nya meninggi lagi.
Karena Ryan tak kunjung berhenti dan menjawabnya, Febby berusaha melepas sabuk pengaman miliknya.
Melihat itu Ryan panik dan berusaha menangkis tangan Febby.
"Kita lagi dijalan Fe. Jangan kayak gini, please!" Tegas Ryan.
"Lepasin. Gue mau turun"
Ryan berhasil menahan tangan Febby, agar sabuk pengaman nya tidak terlepas.
"Elo nggak usah sok kenal sama gue. Dan gue butuh penjelasan dari elo. Darimana elo kenal sama mami gue. Dan kenapa elo bisa dirumah gue sepagi ini." Febby mengucapkan itu dengan cepat.
"Oh, atau jangan jangan selama ini elo udah nguntitin gue. Iya?? " sarkasnya penuh curiga.
"Ya... Wajar dong kamu kan cewek aku, emang salah kalo jemput pacar sendiri? " jawab Ryan dengan santai dan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Percaya diri banget nih orang" batin Febby meronta. Ingin rasanya dia melompat saja dari mobil mewah yang sedang membawa nya saat ini. Semua itu benar-benar membuatnya kesal.
"Nggak usah sok akrab deh. Gue nggak kenal sama elo. Dan kita bukan pacar! Gue bukan pacar elo. Jadi please, stop ganggu hidup gue. Jauh-jauh dari hidup gue. Paham elo!! " Febby menekankan setiap katanya.
*Braakk Ciiiiiiiittttttttttttt*
Ryan membanting stir dan memberhentikan mobilnya.
Ditatapnya lekat-lekat wajah Febby yang masih terkejut akibat rem dadakan yang dilakukan oleh cowok itu.
Ditengah degup jantungnya yang masih berdenyut kencang, Ryan mendekat kearah Febby.
Cewek tomboy itu refleks mengelak, mepet hingga ke kaca pintu mobil tersebut. "e... elo... mau apa?" lirihnya terbata, karena gugup. Namun Ryan semakin dekat, bahkan kedua tangannya mengunci pergerakan tubuh Febby.
Kedua telapak tangan Febby menahan dada cowok itu secara spontan, dan berusaha mendorong nya.
Namun gagal.
Air muka Febby sudah merah matang, bagai tomat goreng, menahan canggung diantara keduanya.
Berbeda dengan Ryan yang tersenyum licik melihat kerisauan diwajah gadis pujaannya itu.
"Apa kamu udah lupa" ucapannya terputus sembari bola matanya meneliti setiap inci wajah Febby.
__ADS_1
Dia tomboy, berambut pendek, berkulit putih, hidungnya mancung dan sedikit lebar, bibirnya seksi dan....
"Kalau...." sambungnya lagi sembari terus memperhatikan wajah gadis dihadapannya itu.